Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Catatan

Orang Jawa Desa Nyoba “Menu Aneh” Warung Nasi Padang, Lidah Menjerit dan Langsung Merasa Goblok Seketika

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
15 Maret 2026
A A
Orang Jawa desa pertama kali coba menu aneh (gulai tunjang) di warung makan nasi padang (naspad). Lidah menjerit dan langsung merasa goblok MOJOK.CO

Ilustrasi - Orang Jawa desa pertama kali coba menu aneh (gulai tunjang) di warung makan nasi padang (naspad). Lidah menjerit dan langsung merasa goblok. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Ada menu di warung makan nasi padang (naspad) yang awalnya tampak aneh bagi orang Jawa (dari desa pelosok pula) seperti saya. Setelah coba-coba menu tersebut untuk pertama kalinya, lidah saya menjerit dan mata terbelalak saking kagetnya, sekaligus langsung merasa goblok sendiri. 

***

Jujur saja. Lidah Jawa nan desa saya baru benar-benar merasakan nasi padang itu ya baru dua tahun terakhir sejak pindah kerja ke Jogja. Itu pun karena untungnya, dalam banyak kesempatan, nasi padang kerap menjadi menu makan siang kantor. 

Sementara selama ini, lidah saya lebih sering mencecap makanan-makanan dengan variasi menu dan rasa terbatas. Mulut saya lebih banyak mengunyah telur dadar, penyetan lele, nasi pecel, atau paling sering jelas mie instan campur nasi. Pokoknya makanan-makanan yang masuk budget makan harian lah (Rp10 ribu ke bawah). 

Pertama kali makan nasi padang (naspad) akhirnya relate dengan perdebatan banyak orang, tapi menu terbatas

Saya bukannya tidak pernah mendengar kalau di semesta ini ada kuliner bernama warung nasi padang. Saya sudah tahu sejak kuliah hingga bekerja di Surabaya (2017-2023). 

Hanya saja, waktu itu kalau disuruh milih “mau makan apa?”, saya tidak akan memasukkan nasi padang dalam daftar makan harian. Alasannya, sebagai orang Jawa, saya takut lidah saya tidak cocok dengan selera Sumatera. Lebih dari itu adalah persoalan waswas: takut menyesal kalau “kemahalan”, seperti cerita narasumber, Gandika, dalam tulisan, “Pertama Kali Makan di Warung Nasi Padang: Jadi Katrok, Kenyang dalam Penyesalan, Hingga Obati Nasib Malang Masa Kecil“. 

Baru ketika di Jogja itu lah saya akhirnya tahu wujud asli nasi padang. Dan saya akhirnya bisa relate dengan perdebatan banyak orang tentang naspad: nasi dalam bungkusan naspad memang benar-benar bikin perut jembling saking banyaknya. Selain itu, ternyata setelah membandingkan makan pakai sendok dan tangan, lebih nikmat pakai tangan. 

Sensasi makan pakai tangan itu, selain bisa muluk nasi dalam kepalan besar, juga memberi kenikmatan maksimal dari jilatan lidah terhadap bumbu-bumbu yang tertinggal di ujung-ujung jari. 

Hanya saja, menu yang saya santap di kantor masih terbatas “itu-itu saja”. Paling sering justru telur dadar dan perkedel, ayam bakar, dan sesekali rendang. 

Ketidakpuasan pada porsi rendang dan perkenalan pada sebuah “menu aneh”

Beberapa teman, termasuk istri saya, agak bingung kenapa di antara pilihan menu yang ditawarkan kantor saya justru sering menomorakhirkan rendang. Padahal itu merupakan salah satu menu andalan di warung makan nasi padang. 

Saya sepakat soal cita rasa. Bagi lidah Jawa saya, rendang memang nggak ada obat. Masalahnya, saya merasa porsinya tidak imbang: nasi melimpah tapi lauknya hanya sebutir rendang yang bisa habis dalam dua-tiga kali gigit. 

Maka saya cari lauk yang secara porsi seimbang dengan nasi. Ya tahu diri, Rek, masa minta tiga butir rendang atau rendang+telur, apalagi rendang+ayam? Kalau pakai duit sendiri, silakan. Tapi kan saya jelas milih makan di kantor dengan alasan efisiensi belanja makan harian. 

Eksplorasi menu naspad saya memang seterbatas itu. Sampai akhirnya istri saya memberi tahu kalau ada menu lauk yang perlu saya coba. Sebab, itu menjadi salah satu menu favorit istri saya yang sejak SMA sudah terbiasa makan nasi padang. Menu yang, waktu saya lihat dari foto dan video, tampak berwujud aneh dan nggilani. 

“Menu aneh” di warung nasi padang (naspad), tapi kok menggugah selere dari lihat cara orang menyantapnya

Nama menu tersebut adalah gulai tunjang. Duh, memang, bagi teman-teman pembaca jelas menu tersebut adalah menu mainstream. Tapi bagi lidah Jawa nan desa saya yang baru belakangan terliterasi dengan khazanah kuliner nasi padang, tampilannya agak aneh. Teksturnya terlihat kenyal-kenyal nggilani. 

Iklan

Karena reaksi skeptis saya terhadap gulai tunjang, istri saya lantas menunjukkan beberapa video food vlogger yang tampak menikmati betul gulai tunjang. 

Sensasi kenyal saat digigit, juga baluran bumbu gulai yang kuning kental, cukup berhasil menggugah selera. Saya bilang “cukup berhasil” karena saya masih skeptis: takut rasanya aneh, seaneh wujudnya.

Maka, istri saya—sebagai orang Jawa penikmat gulai tunjang—mendorong saya: harus mencoba salah satu menu favoritnya  dalam khazanah warung nasi padang tersebut.

Ragu melihat wujudnya di piring, kaget saat mengunyah, hingga langsung merasa goblok

Alih-alih menjajal gulai tunjang bersama istri (karena kami lebih sering berburu bebek goreng enak), pengalaman pertama kali saya makan gulai tunjang justru terjadi di Jakarta pada Januari 2026 lalu, saat dalam penugasan kerja. 

Saat itu, dari sekian stand yang berjejer di food court Istora Senayan, rekan saya tergoda dengan sebuah stand warung makan padang. Ia lebih tergoda dengan menu jengkol sambal hijau. Saya ikut saja. 

Melihat menu-menu yang ditata dalam etalase, awalnya saya hanya ingin pesan menu “standar-standar” saja. Rendang atau ayam bakar lah. 

Namun, ketika melihat tumpukan tunjang, muncul dorongan kuat: kali ini harus coba. Dan menu itu lah yang akhirnya saya pesan. 

Saat melihat seonggok tunjang di sudut piring, dengan teksturnya yang kenyal dan gulai kuning pekat, saya justru takut alih-alih tergiur. Ragu kalau lidah saya tidak akan cocok. Itu lah kenapa, sebagai jaga-jaga, saya tetap memesan telur dadar.

Dan setelah gigitan pertama, lidah saya menjerit, mata saya terbelalak. Bajilak, ternyata istri saya benar: gulai tunjang di warung makan padang memang senikmat itu. 

Persis setelah gigitan pertama itu, saya langsung menyantapnya dengan lahap. Saya menikmati setiap gigitan dan tekstur kenyalnya. Membayangkan diri saya adalah seorang food vlogger yang tengah menyantapnya dengan penuh penghayatan. 

Selepas tandas, saya langsung merasa goblok. Kok bisa saya sangsi dengan rekomendasi istri saya perihal betapa nikmatnya gulai tunjang. Hanya karena secara tampilan tampak sebagai menu aneh. 

“Apa kubilang…,” begitu respons istri melalui sambungan video call saat saya bercerita akhirnya mencicipi gulai tunjang untuk pertama kalinya. Dan sejak Januari 2026 itu, hingga sekarang, alasan kuat kenapa saya pergi ke warung makan nasi padang tidak lain adalah: karena tiba-tiba saja, di suatu siang yang mendung di Jogja, saya terbayang-terbayang tekstur kenyal, lembut, dan gulai kuning pekat yang gurih. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Orang Minang Merantau ke Jogja: Iman Kuliner Saya Runtuh karena Gula Jawa, Rendang Asli jadi Terasa Asin Saja atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 15 Maret 2026 oleh

Tags: gulai tunjanglauk padanglauk warung padangmenu warung padangNasi Padangnaspadpilihan redaksiwarung makan padangwarung nasi padang
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Derita orang Jember kerja di Jakarta: teralienasi karena dianggap tertinggal MOJOK.CO
Urban

Orang Jember Kerja di Jakarta: Mencoba Berbaur tapi “Tersisihkan”, Dianggap Tertinggal dan Tak Tersentuh Pendidikan

16 April 2026
Ribetnya punya mobil di desa. Bisa menjadi musuh masyarakat perkara parkir. Rawan jadi korban iseng bocil-bocil nakal MOJOK.CO
Catatan

Repotnya Punya Mobil di Desa: Bisa Jadi “Musuh Masyarakat” Perkara Parkir dan Garasi, Masih Rawan Jadi Korban Kenakalan Bocil-bocil

15 April 2026
kuliah, wisua, sarjana di desa.MOJOK.CO
Edumojok

Jadi Sarjana di Desa, Bangga sekaligus Menderita: Dituntut Bisa Segalanya, tapi Juga Tak Dihargai Tetangga dan Dicap “Beban Keluarga”

15 April 2026
Pasang WiFi di rumah desa. Niat untuk kenyamanan dan efisiensi pengeluaran keluarga malah dipalak tetangga MOJOK.CO
Sehari-hari

Pasang WiFi di Rumah Desa Boncos: Password Dipalak-Dicolong Tetangga, Masih Dicap Egois kalau Mati Disuruh Gali Kubur Sendiri

14 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

kos eksklusif, jakarta, desa, kos.MOJOK.CO

Kabur dari Desa dan Memilih Tinggal di Kos Eksklusif Jakarta demi Ketenangan Batin, Malah Makin Kena Mental karena “Bahagia” di Kota Cuma Ilusi

15 April 2026
Sigura-gura, Malang, slow living.MOJOK.CO

Omong Kosong Slow Living di Malang: Pindah Kerja Berniat Cari Ketenangan Malah Dibikin Stres, Nggak Ada Bedanya dengan Jakarta

11 April 2026
Gaji Jakarta 12 Juta Bikin Gila, 3 Juta di Magelang Hidup Waras MOJOK.CO

Daripada Menyiksa Diri Hidup di Jakarta dengan Gaji 12 Juta Sampai Setengah Gila, Pindah ke Magelang dan Hidup Waras Cukup dengan Gaji 3 Juta

16 April 2026
Bupati dan Walikota yang Korupsi Itu Lebih dari Sekadar Mengerikan MOJOK.CO

Bupati dan Wali Kota yang Korupsi Itu Lebih dari Sekadar Mengerikan

13 April 2026
Orang Jakarta pilih bayar iPhone dengan cicilan

Tren “Aneh” Orang Jakarta: Nyicil iPhone Bukan karena Butuh, Alasannya Susah Dipahami Orang Miskin

14 April 2026
Nasib pekerja gen Z dicap lembek oleh milenial

Gen Z Jadi Kambing Hitam Generasi Senior, Dicap Lembek dan Tak Bisa Kerja padahal Perusahaan yang “Red Flag”

16 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.