Saya mendukung Conor McGregor. Bukan karena dia hebat atau saya terpukau keandalannya di pertarungan Mixed Martial Art, tapi karena mayoritas mendukung Floyd Mayweather.

Sudah beberapa bulan sebelum pertandingan ini, promosi sungguh gencar. Ada yang bilang pertandingan terbesar abad ini. Perang urat syaraf diviralkan sebagai pemanasan pertandingan sesungguhnya. Rekam jejak dua petarung dibuka.

Mayweather 49 kali bertanding tanpa kalah. McGregor 24 kali bertanding MMA, 21 kali menang dan 3 kali kalah. 18 dari 21 kemenangan selesai dengan pukulan. Selain mendapat julukan Money karena kekayaannya, Mayweather juga mendapat panggilan pretty boy karena wajahnya jarang terkena pukulan dan jarang lebam usai pertandingan—bukti pertahanan Mayweather salah satu yang terbaik di dunia. Jadi, digorenglah bahwa McGregor yang agresif dengan pukulan mematikan akan menghadapi petinju ultra defensif yang hebat.

Gorengan bertambah gurih karena McGregor kebetulan bergaya kidal. Ada beberapa pertandingan Mayweather yang kerepotan karena lawannya kidal, walau akhirnya menang. Beberapa yang saya lihat adalah melawan Zab Judah dan Manny Pacquiao. Dua pertandingan lagi yang menurut saya Mayweather kerepotan adalah melawan Oscar De la Hoya dan Miguel Cotto. Tentunya ini Cotto tanpa Makassar. Duh, garing.

Manny yang beraktivitas dengan dominan kanan tetapi bertanding dengan gaya kidal. Sebaliknya, Oscar dan Cotto bertanding dengan gaya orthodox tapi dalam kehidupan sehari-hari mereka adalah orang kidal. Jadi, pukulan jab mereka, adalah pukulan tangan dominan. Ini sangat merepotkan.

Masuklah bumbu, apakah Mayweather sanggup menghadapi petinju kidal dengan pukulan mematikan?

Hasilnya bisa kita lihat bersama, McGregor kalah TKO ronde 10. Saya merasa seperti tertipu iklan-iklan sebelum pertarungan.

Ternyata McGregor hanya mengandalkan double jab dan one-two punch. Beberapa body blow, hook dan upper cut terkesan seadanya. Variasi-variasi pukulannya sangat monoton. Bagaimana mungkin hanya mengandalkan pukulan lurus melawan Mayweather yang kondang dengan swayback dan gerakan yang cepat.

BACA JUGA:  Buku-Buku di 2016 yang Menyenangkan Hati

Saya hanya melihat McGregor memberikan perlawanan pada ronde 1-3 saja. Sisanya sungguh pertandingan yang aneh. Apalagi ketika masuk ronde 8-9, McGregor sudah sempoyongan seperti pria habis malam pertama. Di promosi pertandingan sih latihannya seolah siap jadi cardio machine. Kenyataannya pahit, Bung. Sesak nafas sejak paruh pertandingan.

Usai pertandingan sempat saya baca McGregor ngomong harusnya wasit tidak menghentikan pertandingan. Yaelah, Bro. Sadar diri kenapa.

Komentar kemudian bermunculan. Ya jelas McGregor kalah karena pertandingannya tinju, coba tanding MMA. Ya ngapain juga dia mau. Apakah McGregor juga mau tanding banyak-banyakan jempol di status FB lawan Iqbal Aji Daryono? Pasti dia juga kalah. Atau siapkah McGregor adu seksi-seksian gigi lawan Agus Mulyadi? Salah dia sendiri kalau mau.

Tapi ya bayarannya lumayan lawan Mayweather. Bisa kali McGregor dapat kurang lebih satu triliun rupiah. Kalau lawan Iqbal dan Agus dapat apa? Hehehe.

Bukan pertandingan yang saya sesalkan. Namun betapa mudahnya saya termakan iklan promosi tersebut. Saya yakin orang-orang yang membuat iklan itu dibayar mahal agar Pay Per View pertandingan laris. Mirip-mirip dengan Iqbal Aji Daryono sang Jokower garis keras yang bisa mendulang Rp200 juta sekali posting di FB.

Bagi saya, promosi pertandingan tinju tadi tak ubahnya sebuah hoax yang dibikin seolah masuk akal. Sudah kadung percaya, eh ternyata tidak benar semua. Hal-hal demikian beredar kencang di sekitar kita dalam berbagai bentuk. Ya iklan, advertorial, broadcast WA, meme, infografik dan lain lain.

Dalam bentuk iklan, banyak kita lihat iklan melecehkan fisik dan tetap laku terjual. Lihatlah iklan pemutih yang digembar-gemborkan bisa bikin kulit jadi putih dan disisipi kalimat, putih itu cantik. Lalu dipasarkan di Indonesia yang mayoritas berkulit sawo matang. Bintang iklannya indo atau keturunan Asia Timur. Hadeuuuh … ya pasti emang sudah putih dari sononya, keleeeus.

BACA JUGA:  Zen RS: Keple van Karangmalang

Iklan berbau perundungan berikutnya adalah urusan tinggi tubuh. Kalimat saktinya, tumbuh tuh ke atas, gak ke samping. Luar biasa. Ajaran melakukan fat shaming disebarluaskan di berbagai media dan produknya tetap laku. Tidak ada yang protes, woi, itu kan fat shaming!

Dari usai pilpres 2014 sampai saat ini, rasanya informasi memikat ala-ala promosi pertandingan McGregor vs Mayweather kian banyak.

Saya paling capek kalau sudah dijapri keluarga atau teman tentang sebuah meme atau broadcast tentang ekonomi. Kerap kali isinya tidak masuk akal dan dipercayai sebagai kebenaran. Banyak sekali. Entah apa yang dicari dengan menyebarkan informasi-informasi embuh tersebut. Untuk apa? Kok ya mau-maunya jadi loper kepentingan orang dengan gratisan begitu. Loper koran aja dibayar. Ini sudah tidak dibayar, kuota internet kita kemakan, lalu berujung ribut antarteman dan keluarga. Padahal ya apa yang terjadi tidak ada efeknya sama hidup kita sehari-sehari.

Karena itu mari kembali waras. Mengunyah banyak informasi dan mengasah logika. Mari kembali membaca buku-buku yang bagus dan bukan mengandalkan WA group untuk mendapatkan informasi. Kunyah baik-baik segala informasi yang begitu deras menimpa kita dari berbagai kanal, agar tidak mudah tersihir layaknya melihat promosi pertandingan McGregor vs Mayweather yang menurut saya kualitasnya mengecewakan.

Sebagai penutup, saya kutip sabda dari Zen RS, “Rendahnya minat baca meningkatkan minat berkomentar.” Dan sesungguhnya pertarungan terbesar bukanlah McGregor vs Mayweather, melainkan jihad melawan diri sendiri.

Komentar
Add Friend
No more articles