Saya tidak akan bawa-bawa dalil agama perkara tuduhan mesum. Bukan karena tidak ingin, tapi malas kalau nanti ditanya lebih lanjut sama Arman Dhani. Pusing jawabnya. Saya juga tidak akan membahas multiplier effect industri rokok terhadap perekonomian negeri ini. Saya hanya ingin menimbang sikap adil banyak pihak mengenai iklan, pabrik, rokok dan semua yang terkait.

Iklan rokok dibatasi banyak hal. Jam tayang, tidak boleh ada adegan merokok, tidak boleh ini dan itu. Aturannya lebih keras dari iklan consumer product lainnya. Alasannya, rokok membahayakan kesehatan bahkan jiwa. Menurut riset demikian. Saya tidak akan mendebatnya. Keinginan saya berdebat selalu turun saat habis gajian. Mungkin kalau saya menulis ini di akhir bulan jadinya akan lebih emosional.

Mari membandingkan iklan rokok dengan iklan motor. Untuk produk motor, tidak ada batasan jam tayang, tidak ada aturan macam-macam. Lihatlah iklan motor menggunakan adegan mengangkat roda depan, stopping sampai angkat roda belakang, zig-zag di antara mobil, melompat halangan, hingga menarik lawan jenis (tidak sedikit yang tidak mesum). Maaf, yang terakhir tidak sedang menyindir Agus Mulyadi. Piss ya, Gus. Iklan motor juga menggunakan bintang-bintang tenar yang seolah naik motor. Entah mereka punya SIM C atau cuma akting.

Mari melihat angka statistik kematian di jalan raya. Tiap jam 3 nyawa melayang di Indonesia. 70-an nyawa per hari, 2100 jiwa per bulan, 21.420 jiwa per tahun. 60-70 persen yang meninggal adalah pemotor. Dari total pemotor yang meninggal 17-20 persen adalah pemotor usia dini yang tidak punya SIM dengan usia di bawah 15 tahun.

Sekarang cek populasi motor. Dalam beberapa tahun ke depan, total populasi motor nasional akan menembus 100 juta unit. Tidak lama lagi. Prediksi saya, dengan penjualan 7 juta unit motor per tahun, 2-3 tahun lagi akan tercapai. Berapa jumlah personel polisi se-Indonesia? Saya cek wikipedia, tahun 2011 jumlahnya di bawah 400 ribu personel . Kalau difokuskan hanya polantas saja, bisa-bisa kurang dari 200 ribu.

Apa yang terjadi dengan statistik kematian dan ketimpangan populasi motor versus personel kepolisian? Negara tidak hadir. Potensi kriminal menggunakan motor akan meningkat karena jumlah polantas tak mampu mengendalikan jumlah kendaraan yang ada.

Sering melihat motor tanpa plat nomor, tanpa lampu, pengemudi tidak menggunakan helm? Itu hanya puncak gunung es. Bayangkan saat total populasi motor 100 juta unit, ada orang sinting yang bikin geng motor nasional dengan jumlah 1 persen saja dari total populasi. Itu satu juta unit! Jauh lebih banyak daripada jumlah polantas nasional. Mereka bisa melakukan tingkah kriminal apa saja dengan skala nasional. Saat tidak ada efek jera, jumlah anggotanya akan bertambah.

Apa pernah ada pelarangan iklan motor dengan statistik sebrutal itu? Apa pernah ada foto korban motor celaka disematkan di tubuh motor atau sekalian dalam iklannya? Tidak! Tidak ada yang peduli. Mengapa? Mungkin karena motor tidak menyebabkan kanker, gangguan kehamilan dan janin.

Beda sekali nasib motor dengan rokok. Produksi motor memecahkan rekor maka mereka akan memperoleh julukan pahlawan ekonomi. Produksi rokok meningkat, pemiliknya akan dicap kaya karena menjual racun.

Itu baru perbandingan dengan motor. Lalu bagaimana dengan consumer product lainnya yang juga membahayakan kesehatan? Misalnya soft drink. Berapa sendok gula yang ada dalam kaleng soft drink 300 ml? Bayangkan republik yang masyarakatnya mengkonsumsi karbo jahat bernama nasi 3 kali sehari masih dicuci otak minum soft drink sebagai budaya. Diabetes mengintai negeri ini. Indonesia penderita diabetes nomor 6 di dunia. Tapi tidak ada foto penderita diabetes di karung atau plastik kemasan beras dan kaleng soft drink.

Apalagi? Junk food. Makanan dengan kalori tinggi dengan serat dan kandungan gizi yang rendah. Diiklankan dengan bebas merdeka seolah makanan itu sungguh sehat bagi anak-anak. Obesitas pada anak juga sesuatu yang perlu diwaspadai di Indonesia. Sekali lagi, tidak ada yang protes. Mungkin karena makanan ini dari barat jadi tidak perlu protes. Pokoknya apapun yang berbau neolib pasti benar, halah.

Ya, mungkin rokok memang mengganggu kesehatan dan mengancam jiwa seseorang. Tapi tidak hanya rokok. Banyak juga berserakan ‘senjata pemusnah massal’ yang tidak diatur iklannya, apalagi peredarannya. Semoga hal-hal seperti ini segera menjadi perhatian pemerintah. Pak Jokowi!!! Apakah anda membaca tulisan ini? Yakalee presiden nyasar baca Mojok.co.

Sebagai penutup, sebelum saya dibuli karena dikira perokok, saya perlu jelaskan bahwa saya adalah mantan perokok. Tahun ini adalah tahun keenam saya berhenti merokok.

  • Moh Mahfud

    hahaha…. saya pensiunan perokok dari 7 bulan yang lalu.

  • Syauban Anas

    Itulah, saya sendiri juga heran kenapa perokok selalu di diskriminasikan ? jika di fasilitas publik, tempat merokok tak lebih sebagai tempat penyiksaan dengan fasilitas seadanya

  • Syauban Anas

    Itulah, saya sendiri juga heran kenapa perokok selalu di diskriminasikan ? jika di fasilitas publik, tempat merokok tak lebih sebagai tempat penyiksaan dengan fasilitas seadanya

  • uamirdejavu

    jd teringat pilem thank you for smoking ye!

  • Anang Saparin

    Tulisan yang mencerahkan.. 😀

  • E Permana

    bagus tuh kalo semua produk di kasih gambar, agar konsumen hati-hati

  • febrian

    Iklan ini sempat menggegerkan tak hanya di khalayak umum, tapi juga internal para pekerja kreatif di industri ‘neon box – spanduk’ Indonesia (advertising). Tapi pembahasan panjang lebar luar biasa nya lebih ke masalah pesan yang disampaikan. Etika periklanan yang terbentur dengan etika non periklanan (konteksnya kehidupan sosial). Kreativitas yang terbentur dengan moral dan hati nurani. Subliminal message yang seringkali tak bisa dilihat dengan mata telanjang, tapi tak terasa sudah menyusup sampai sumsum tulang belakang, dan hidup rukun dengan persepsi. Ya, kayak kuntilanak yg nemplok di punggung orang yang pipis sembarangan, ga pernah keliatan. Tapi arah tulisan mas Kokok ini bukan kesana, dan pasti mas Koko sudah paham luar biasa masalah komunikasi…saya hanya sedikit menambah ‘kepopuleran’ iklan ini, biar makin hot.

    Iklan rokok di negara kita memang makin dibatasi sana sini, itu langkah awal saja, karena memang pada akhirnya akan ditiadakan sama sekali. Ya Anda tidak salah baca, arahnya memang untuk ditiadakan sama sekali, adilkah? Kalau hal itu dilakukan oleh pemerintah sekarang juga, gila! gila! gila! Ini sangat tidak adil, untuk siapa? Untuk ratusan ribu mungkin jutaan orang yang hidupnya tak bisa lepas dari peran industri tembakau ini. Yup, alasan yang sama persis mas Kokok ungkapkan / tautkan di artikel di atas (multiplier effect industri rokok terhadap perekonomian negeri ini), vice versa. Perekonomian tembakau masih terlalu kuat mencengkeram negri ini, itulah kenapa pemerintah belum bisa melarang iklan rokok sepenuhnya. Di industri periklanan pun, klien rokok adalah klien yang dipuja dan disayang-sayang. Syuting iklan ke belahan bumi manapun, saya ulang…belahan bumi manapun, tidak masalah, kapan lagi?. Masturbasi kreatif. Entah sampai kapan negri ini bisa menemukan substitusi pemasukan dari industri tembakau, sampai saat itulah iklan rokok ini ada.

    Ternyata saya baru menangkap isi artikel di atas, aduh…maaf, perbandingan antara beberapa hal yang sama buruknya, . Mungkin saya akan milih PERGI ke pasar naik motor daripada naik rokok, atau lebih memilih junkfood pas LAPAR daripada rokok, atau minum softdrink kalau HAUS daripada milih rokok. Eh kok rasa-rasanya aneh ya kalo dibanding-bandingkan, ga adil donk? Tapi sehat di tangan masing-masing, kalau mati di tangan Tuhan.

    Endesbray endeskay, salam rukun.

  • Arie M. Prasetyo

    konteks antara judul dan konten serasa dipaksakan. just my two cents.

  • tahun keenam sing konangan, sing orane pirang tahun haha

  • Iswahyudi Azrul Hartono

    Terus tujuan tulisan ini opo yo?

  • Arwena Aragorn

    Gk cerdas tulisan nya

No more articles