Presiden Jokowi memasang target luar biasa untuk swasembada pangan: tercapai dalam tiga tahun. Komoditas yang konon kabarnya jadi target adalah padi, jagung, kedelai dan gula. Entah mengapa, saat berita ini sedang marak di berbagai media, yang terpikir oleh saya adalah tulisan Rahung Nasution yang pernah saya baca di laman facebook Puthut EA.

Rahung menulis jawaban atas pertanyaan Presiden Jokowi, mengapa kuliner kita tidak mendunia. Rahung, yang menyebut dirinya Koki Gadungan, dengan gaya yang ringan tapi menusuk ke ulu hati, menjelaskan dengan sederhana: mindset. Selama memasak dianggap kemampuan pinggiran, pekerjaan rendahan, dan hanya skill untuk orang suruhan, maka selamanya dunia kuliner Indonesia tidak akan maju. Selama pelajaran memasak hanya menjadi ekstra kurikuler tanpa mensejajarkannya dengan pelajaran sains atau matematika, maka penghormatan terhadap skill yang langka ini akan tetap rendah. Demikian juga jika mindset pendidikan SMK hingga kuliah yang terkait tata boga melulu menjadikan makanan barat sebagai pelajaran utama, dan terus mengesampingkan khazanah masakan lokal, maka selamanya kuliner kita akan kesulitan untuk mendunia.

Lalu apa hubungan Rahung dengan swasembada pangan? Penghormatan Si Koki Gadungan terhadap keberagaman bahan pangan dan cara pengolahan lokal adalah solusi bagi permasalahan perut nasional.

Variasi makanan lokal dengan asupan karbohidrat, protein dan serat sungguh beragam. Tapi politik beras menghancurkannya. Rahung adalah satu dari sedikit orang yang mendedikasikan sebagian hidupnya untuk mempromosikan variasi makanan, dengan memanfaatkan berkah alam yang ada di negeri ini.

Saat ini, lahan untuk produksi padi mencapai 13 juta hektar. Produksi Gabah Kering Giling (GKG) mencapai 70 juta ton per akhir 2013. Jika GKG tersebut diolah menjadi beras, hasilnya adalah 35-37 juta ton. Dibagi 240 juta penduduk RI, akan keluar angka konsumsi beras per kapita per tahun 140-an kg. Ini adalah konsumsi karbo beras terbesar di dunia. Republik besar ini bisa terjepit bahaya diabetes di masa yang akan datang. Politik beras sungguh telah mencapai titik nadir.

BACA JUGA:  Jokowi Stop Kontrak Karya Freeport

Rata-rata negara ASEAN konsumsi berasnya sudah di bawah 100kg/kapita/tahun. Jepang mungkin saat ini sudah di bawah 70 kg. Negara tersebut mengganti asupan beras dengan karbohidrat lain seperti kentang, ubi-ubian, gandum, dan lain sebagainya.

Lalu apa yang seharusnya dilakukan Indonesia? Tentunya memanfaatkan yang ada di republik yang luas ini: Sagu. Rahung beberapa kali ngetwit dan menulis tentang papeda kuah kuning, yang terbuat dari sagu, dengan lauk ikan.

Mengapa sagu? Sagu adalah tanaman yang dapat ditanam 365 hari dalam setahun. Dapat ditanam di lahan gambut tanpa merusaknya seperti yang dilakukan perkebunan sawit besar saat ini. Produktivitas per hektarnya 15-40 ton pati kering sagu. Untuk memenuhi kebutuhan karbohidrat se-Indonesia secara berkelanjutan, saya perkirakan hanya butuh 4-5 juta hektar lahan sebagai tambahan lahan sagu yang sudah ada.

Di tangan Rahung, sagu dengan lauk ikan akan memiliki variasi tak terbatas. Tinggal masalah komunikasi ke publik saja, bahwa sagu ini trendy, sehat, dan kelas menengah ngehek akan berbondong-bondong memakannya.

Kembali ke ide dasar yang ditulis Rahung tentang kuliner RI yang tidak mendunia: mindset. Harus ada upaya ‘cuci otak’ habis-habisan untuk mempromosikan sagu. Jokowi harus tahu ini. Harus!

Bayangkan, Indonesia lepas dari politik beras. Lalu muncul kedai/kafe/resto dengan menu papeda berikut variasi ikan laut yang harga ikannya makin terjangkau, karena pencurian ikan dihajar habis oleh negara. Benar-benar menu negara maritim, kan?

Dengan memasyarakatkan pengolahan dan konsumsi sagu dalam negeri, secara otomatis kita akan memiliki cadangan pangan karbohidrat kompleks untuk jangka panjang. Tahun 2030-2035, jumlah penduduk Indonesia akan mencapai 400 juta jiwa. Jika semuanya sangat tergantung beras, celaka sudah. Maka mulai sekarang, penting sekali untuk memulai kampanye Memasyarakatkan Sagu, Menyagukan Masyarakat.

Satu lagi, sagu juga dapat diolah menjadi gula. Malaysia sudah memproduksi gula cair dari sagu di lahannya yang tidak seberapa dibandingkan RI. Dengan menanam sagu untuk produksi gula, Indonesia tinggal membangun industri turunan pengolahannya. Ujungnya adalah industri gula dalam negeri dengan kombinasi tebu dan sagu.

BACA JUGA:  Mengapa Selalu Nyinyir dengan Cina?

Ini saya baru bicara sagu, sama sekali belum bicara khilafah, eh, umbi-umbian lain sebagai solusi pangan. Masih ada Ubi Yahukimo, bread fruit alias Sukun, Talas, Singkong, dan masih banyak lagi. Rahung pasti mampu mengolahnya menjadi variasi yang tidak kalah dahsyat dibanding sagu.

Sama dengan berkah Tuhan dalam bentuk tanam-tanaman yang begitu kaya di Indonesia, potensi anak bangsa seperti Rahung seringkali dipandang sebelah mata dan dipinggirkan. Kalah dengan chef yang sering muncul di televisi demi rating tinggi. Negara harus hadir untuk melindungi sumber daya lokal yang unik ini.

Semoga Pak Presiden membaca Mojok.co.

No more articles