MOJOK.COMenjadi orang Minang zaman sekarang itu sulit, tapi harus terus diusahakan….

Dalam beberapa waktu terakhir ini, tampaknya nasib sedang tidak berpihak kepada orang-orang Minang, hal yang saya rasa cukup langka terjadi. Posisi kami yang berseberangan dari pusat segala kontestasi dan keramaian di Pulau Jawa meletakkan kami cukup jauh dari spotlight peristiwa-peristiwa terkini. Lagi pula, pepatah adat basandi sarak, sarak basandi kitabullah yang dipegang teguh oleh orang-orang Minang lama amat menyiratkan pentingnya pembenahan yang bersifat ke dalam terlebih dahulu ketimbang langsung ke luar.

Lalu masalah identitas, kelihatannya tidak perlu diragukan lah, orang-orang Minang bangga dan memegang tinggi identitas kebudayaannya. Orang-orang Minang akan menyebut sesamanya sebagai urang awak yang di dalam frasa tersebut terkandung sebuah ikatan yang kuat di antara satu orang Minang dengan yang lainnya. Budaya kebersamaan juga semakin menguatkan kebanggaan terhadap identitas tersebut, dengan sebuah mindset bahwa dengan kesamaan identitaslah, kebersamaan di antara mereka bisa terjalin.

Oleh karena itulah, hari sial yang amat sial bagi orang-orang Minang yang cenderung menjauhkan diri dari berbagai kontestasi dan peristiwa serta memegang teguh identitasnya adalah ketika mereka ditimpa masalah yang berhubungan dengan identitasnya. Hal sedemikian membuat orang-orang Minang kepanasan seakan digoreng sehingga akhirnya menjadi… crispy.

Memang masalah rendang krispi itu amatlah pantek dan kanciang. Rasanya baru beberapa bulan (atau tahun?) ketika pamor bule naik melalui Kvitland yang dengan jemawanya menghargai nasi padang sebagai makanan favoritnya, sekarang datang pula dua kritikus makanan yang juga sama-sama bule, tapi kini dengan pongahnya mendeklarasikan bahwa rendang ayam kulitnya harus krispi. Padahal, menurut definisi Google, crispy berarti sebuah keadaan makanan di mana permukaannya “kering” dan “rapuh”, bertolak belakang dengan penyajian rendang yang kuncinya terletak pada dedak dan santan.

Baca juga:  Yoga dan Spiritualisme Karbitan

Apalagi rendang yang dikritik oleh dua kritikus itu disajikan dengan cara Melayu, yang kerap lebih dekat dengan penyajian bernama “rendang tok”. Rendang ini jika dibandingkan dengan rendang Minang di Sumatera Barat, agak-agaknya setara dengan peralihan antara kalio (kari) dan rendang—atau dalam kata lain, rendang basah yang dedaknya masih terasa seperti kalio. Otomatis, mengharapkan rendang ayam ala Melayu untuk menjadi krispi itu sama seperti mengharapkan Pak SBY melarang Mas AHY ikut dalam kontestasi politik Indonesia.

Dikiranya, cobaan untuk orang-orang Minang sudah berhenti sampai di situ. Kenyataannya? Entah baru berapa hari setelah bising-bising rendang krispi itu, sebuah masalah yang rupanya sudah terjadi beberapa hari sebelum bising-bising tersebut mencuat ke permukaan.

Dalam event Anne Avantie Fashion Show 29 Maret lalu, Sophia Latjuba yang pernah menjalin hubungan sama Arien NOAH itu tampil dengan busana kebaya adat Minang yang lengkap dengan suntiang (hiasan kepala) di kepalanya.

Lalu, apa masalahnya? Yah, busana yang dirancang oleh Anne Avantie itu gagal dalam merepresentasikan pepatah adat basandi sarak, sarak basandi kitabullah di atas. Busana tersebut terlalu ketat dan terbuka untuk bisa dikatakan sebagai busana adat Minang. Bukan main, busana yang cukup seksoy itu mengundang kritik keras di kalangan budayawan dan orang-orang Minang konservatif: Bundo Kanduang Sumatera Barat hingga berencana melakukan somasi terhadap Anne Avantie, dan Kepala Dinas Kebudayaan Sumatera Barat pun mengkritik rancangan busana tersebut.

Tambah lagi, setelah menggunakan suntiang yang memang besar itu, Sophia malah menyatakan “tidak mau menikah dengan orang Padang.” Ini sungguh heuheuheu sekali karena Ariel NOAH memiliki ibu seorang Minang, yang bermakna secara garis keturunan Ariel adalah orang Minang. Hahahah. Eh mereka masih pacaran nggak, sih?

Baca juga:  Rendang Crispy Mempersatukan Indonesia-Malaysia

Ya Allah, cobaan apa yang sebenarnya tengah Engkau berikan kepada orang-orang Minang? Bukan sekali, tapi dua kali, identitasnya digaruk oleh orang luar. Kalau kata ibu saya yang merupakan orang Minang generasi lama, orang-orang Minang sekarang jauh lebih terbuka (baca: rentan) terhadap asimilasi budaya luar. Fenomena ini menyebabkan setidaknya dua hal: munculnya kecenderungan untuk orang luar yang benar-benar luar (seperti bule dll.) tidak mengindahkan budaya asli dan pikiran-pikiran bahwa nilai-nilai kebudayaan yang lama itu bersifat konservatif sehingga perlu dimodifikasi sehingga sesuai dengan nilai-nilai modern.

Tetapi, modernisasi kebudayaan itu kan sebuah keniscayaan, apalagi jika sebuah masyarakat berkeinginan untuk menjadi sebuah masyarakat global. Menjadi sekumpulan eksklusivis yang menganggap bahwa nilai dan norma yang masa berlakunya sudah ada semenjak zaman neneknya nenek moyang adalah suatu hal yang tidak bisa diganggu-gugat adalah hal terakhir yang diinginkan oleh sebuah masyarakat global. Dalam prinsip tersebut, tentu saja keberadaan busana Minang yang dinilai mengumbar aurat dan ketidaktahuan orang luar tentang hakikat sebuah sajian adat adalah hal-hal yang wajar saja.

Mempertahankan nilai-nilai kuno adat yang berlaku di tengah modernisasi juga utopis, kelewat optimis, sehingga menjadi naif. Rasanya tidak perlu lagi saya menjabarkan ini itu tentang bagaimana sebuah masyarakat modern mengharapkan adanya revolusi menyeluruh terhadap nilai-nilai kuno adat sehingga bisa muat dengan era modern yang sekarang sedang merajalela.

Nah, di tengah kemelut untuk memilih mana yang harus dilakukan itu, tanpa sadar kita malah membiarkan hal-hal yang lebih besar terjadi. Transaksi jual beli dan sewa-menyewa pulau-pulau di Sumatera Barat misalnya, yang sebenarnya mungkin bisa dimanfaatkan masyarakat asli. Oh, tunggu, kalau itu sih sudah dari dulu.

Ya Allah, sumpah, cobaan apa yang tengah Engkau berikan kepada orang-orang Minang?