Jangan nilai seseorang dari penampilan luarnya, tetapi dari apa yang ada di dalamnya (hati, dompet, dan otak).

Kalimat di atas tentunya sudah sering kita dengar sekaligus kita amini. Kalimat yang merupakan penjelasan dari pepatah jangan nilai buku dari sampulnya, tapi dari harganya tersebut muncul tentunya dari keadaan nyata yang terjadi di masyarakat. Orang-orang sering terpukau pada penampilan luarnya saja dan melalaikan esensi terpenting, yakni perilaku dan pemikirannya.

Tetapi, penampilan saya rasa penting juga, apalagi menilai sebuah buku. Tentu tidak bisa kita bayangkan, buku bestseller 24 Jam Bersama Gaspar, misalnya, akan kehilangan ke-Gaspar-annya jika sampul buku bukannya bergambar seseorang yang sedang naik motor gede, melainkan laki-laki ber-hoodie sedang membaca komik Detektif Conan di depan minimarket, sebut saja Indoapril, yang di atasnya ada tulisan besar “Buka 24 Jam”. Memang sampul yang kedua sejalan dengan judul bukunya, tetapi tentu tidak lebih nyeni dibanding yang pertama kan?

Penampilan memang penting, bahkan saking pentingnya, pada tahap tertentu bisa memperlihatkan seperti apa pribadi ataupun identitas penggunanya.

Seorang anak yang di atasnya memakai baju hem putih dan bawahan celana berwarna biru bisa dipastikan seorang siswa SMP. Seorang lelaki yang memakai jas lab putih, berkalungkan stetoskop, sepatu Nike, dan berwajah tampak muda bisa dipastikan adalah mahasiswa ko-as. Seorang perempuan dengan hijab pink kece dan gamis polkadot bisa dipastikan adalah seorang selebgram wannabe yang sedang menanjak tangga kemapanan sosial.

Salah satu yang jarang dibahas masalah prejengannya adalah wartawan. Kalau beliau ini adalah seorang reporter televisi yang mau liputan live, prejengannya sudah pasti seragam yang sesuai dengan warna partai stasiun televisi bersangkutan. Kalau wartawan radio ya nggak perlu pusing mikir prejengan, laporan sambil koloran pun tak ada yang tahu kecuali dirinya dan Tuhan.

Sedangkan ketika liputan, baik wartawan televisi, radio, cetak, maupun online memiliki semacam starter pack wajib: kaus, celana, sabuk, tas, sepatu/sendal gunung, kartu pers. Untuk starter pack tambahan ada topi/kupluk, kacamata, jaket, kacamata hitam.

Setelah wartawan, ada lagi yang prejengannya jarang dibahas, yakni prejengan anak wartawan itu sendiri. Padahal prejengan anak wartawan adalah salah satu genre fesyen yang sepatutnya dicontoh karena sangat sejalan dengan prinsip ekonomi.

Soal ini saya punya sumber valid. Teman saya, Akbar namanya, bapaknya adalah seorang wartawan televisi setelah sebelumnya menjadi wartawan radio di Jakarta dan Yogya. Akbar bukan orang yang melek fashion, makanya dia tidak begitu acuh soal sandang. Asalkan nyaman dibadan, cukup.

Pengeluaran Akbar untuk membeli sandang dalam setahun di bawah 400 ribu. Itu pun terpksa beli karena ada acara kampus. Sedangkan menjelang Lebaran, karena dipaksa orang tua ia membeli sepotong hem dan sepotong jeans. Daripada pakaian, Akbar lebih suka menghabiskan uangnya untuk buku dan makanan. Akbar adalah orang hemat. Jadilah seperti Akbar.

Lalu apa spesialnya prejengan si Akbar ini? Mari bedah isi lemarinya, lalu cermati prejengan bagian atas. Lupakan bagian celana dan sempak karena celana dan sempaknya hanya 8 potong. Sedangkan bagian atas lemari berisi baju, kaus, dan saudara-saudaranya mencapai lebih dari 30 potong.

Bagaimana bisa? Katanya hemat?

Ini rahasianya.

Bukan, Akbar bukan orang yang suka ikut kampanye partai demi mendapatkan kaus warna warni. Sekitar 60% baju milik Akbar adalah “oleh-oleh” bapaknya ketika liputan, yang mana kebanyakan adalah kaus polo dengan kualitas tinggi dan GRATIS. Selain itu kaus polo ini spesial karena nggak akan pernah bisa dibeli di distro, dan dihiasi logo “terkenal” yang membuatnya sering disalahsangkai oleh orang lain.

Contohnya, kaus polo panitia Volly Proliga sempat membuat Akbar dikira sebagai anak hits dunia pervolian, padahal service bola saja mencla-mencle. Doi juga punya kaus polo klub sepak bola Pro Duta FC (tidak berafiliasi dengan Sheila On 7) dan sempat dikira official-nya. Kali lain dia sempat ditanya kapan jadwal Shaheer Sheikh datang ke Yogya gara-gara memakai kaus polo dengan logo televisi yang sering menayangkan serial India, yang mana merupakan tempat bapaknya bekerja. (Duh ketahuan!)

Tapi, tak selamanya kaus polo berlogo memberi kisah-kisah lucu tapi garing kepada Akbar. Kali lain ketika sedang memotret sebuah acara karnaval memakai kaus polo berlogo TV tadi, Akbar pernah ditanya kapan sekiranya hasil liputannya akan ditayangkan. Sontak Akbar pun sok-sokan, berpura-pura menjadi ayahnya. Hasilnya si penanya mengganjar Akbar dengan info terkait spot-spot bagus yang bisa digunakan untuk mendapat hasil gambar terbaik.

Kembali ke lemari Akbar. Setelah 60% kaus sponsor, 25% kaus lain ada di sana berkat rasa ibanya kepada teman-teman kuliah maupun organisasi yang mengadakan fund raising dengan berjualan kaus. Akbar orang dermawan. Selama baju yang ia beli demi kepentingan sesama, ia rela mengeluarkan duitnya. Sekali lagi, jadilah seperti Akbar.

Nah 15% sisanya adalah baju yang cuma dibeli atau dijahit menjelang Lebaran. Kebanyakan batik dan paling-paling digunakan ketika acara resmi atau Jumatan saja. Dalam kesehariannya, yang 60 % tadilah yang sering dipakai.

Ya, Akbar memang tidak fashionable, tidak kekinian dalam urusan prejengan. Namun, setidaknya Akbar besyukur punya bapak wartawan yang selalu menyuplainya dengan pakaian gratis tapi nyaman plus high quality, meski kadang dia tidak bisa dibedakan dari sales ketika hari itu ia memakai kaus berlogo provider komunikasi.

Begitulah kisah Akbar yang sebenarnya adalah saya sendiri.

No more articles