Dedek Akhi Ronny Setiawan yang baik, apa kabar hari ini? Syukurlah jika baik-baik saja. Saya yakin, kemarin lusa adek pasti tidak bisa tidur karena khusyuk sholat hajat dan sholat tahajud dengan berlinang air mata. Alhamdulillah, akhirnya harapan itu terwujud juga. Saya ucapkan selamat. Semoga besok-besok nggak ada lagi drama DO-DO-an ya, Dek.

Gimana, ya, drama itu saya rasa kelewat heboh, padahal sebenarnya garing banget. Kalau saya pengen membela, rasanya yang dibilang “perjuangan” sama pendukung Dek Ronny itu nggak heroik-heroik banget. Tapi kalau nggak ikut tanda tangan petisi, kok, ya, kasihan sama Dek Ronny. Masa cuma gara-gara status fesbuk tiba-tiba dituduh melakukan tindak kejahatan yang memanfaatkan teknologi, mana suratnya langsung diantar ke rumah macam surat thalaq begitu.

Ya, saya paham, diputus secara sepihak itu nggak enak. Perih. Makanya saya dukung Dek Ronny…

Saya kira ada pelajaran penting yang bisa kita tarik dari drama mengharu biru yang tiba-tiba menjadi seolah jihad fisabilillah itu. Pelajaran ini tentu untuk Dek Ronny, tapi lebih penting lagi untuk Pak Rektor.

Begini, Pak Rektor. Dalam Catatan Seorang Demonstran, Soe Hok Gie, aktivis yang jejaknya barangkali ditiru oleh mahasiswa Bapak itu, pernah berpesan, “Guru yang tak tahan kritik boleh masuk keranjang sampah. Guru bukan dewa yang selalu benar, dan murid bukan kerbau.”

Sebagai guru besar di bidang penelitian pendidikan, Bapak pasti sangat setuju dengan kalimat tersebut. Kalimat itu juga sering lho digunakan oleh Profesor Arief Rahman Hakim, pakar pendidikan dari kampus Bapak yang saya segani. Dan karena ingat kata-kata itu, saya kok merasa Pak Rektor sebetulnya hanya sedang bernostalgia saja, membayangkan masa-masa 30-40 tahun lalu ketika blio masih unyu. Barangkali nostalgia itu dirasa dapat menjadi antidot untuk hari-hari Pak Rektor yang begitu sibuk, sehingga khilaf mengirim surat DO yang kemarin itu.

Oh iya, Pak Rektor, coba tengok deh lemari di rumah Bapak. Jika tidak sempat, bolehlah minta tolong putra-putri Bapak untuk memotretnya dan mengirimnya via WhatsApp. Di lemari itu, barangkali ada sebuah piala yang begitu Bapak bangga-banggakan. Sebuah piala yang Bapak peroleh pada tahun 1977 sebagai mahasiswa teladan dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia saat kuliah di IKIP Ujung Pandang.

Nah, sekarang saya curhat dulu, ya, Pak. Jadi, walaupun jalan saya menuju lulus agak kelam, gini-gini saya juga pernah jadi mahasiswi berprestasi di kampus lho, Pak. Saya tahu, rasanya bangga sekali. Dulu sih tujuan saya sederhana, saya sadar nggak bakal bisa ikutan Miss Universe kayak Mbak Elvira Devinamira karena lomba berbikini syar’i belum ada. Untuk itulah kemudian saya mencoba menjadi mahasiswi berprestasi biar punya kenangan yang nggak buruk-buruk amat.

Tapi, ya, prestasi saya nggak jauh dari model itung-itungan sertifikat seminar, konferensi hura-hura di hotel bintang lima, atau basa-basi presentasi karya tulis yang hasilnya sama sekali nggak ngefek buat mengatasi akar kemiskinan di masyarakat. Tentu beda jauh sama Bapak.

Sebagai mahasiswa teladan tahun 70-an, Bapak juga tentu ingat nama-nama seperti Hariman Siregar, Syahrir atau Aini Chalid, dong. Kalau agak lupa, saya ingatkan kembali bahwa mereka itu adalah aktivis dewan mahasiswa, seangkatan Bapak juga, kok. Dan tahun ketika Bapak menjadi mahasiswa teladan itu adalah era di mana Orde Baru yang penuh tipu mulai mewabah. Serikat-serikat buruh dibubarkan, sementara korupsi dan gaya hidup mewah di kalangan elit tambah mencolok. Kala itu, WS Rendra masih suka marah dari panggung ke panggung dengan Mastodon dan Burung Kondor.

Kata Rendra: /Di hari senja mereka menjadi onggokan sampah/ Dan di malam hari mereka terpelanting ke lantai/Dan sukmanya berubah menjadi burung kondor

Sampai sekarang, saya masih ngeri membayangkan bagaimana sukma burung kondor itu, Pak. Sepanjang 1974 dan 1975, Hariman Siregar dan kawan-kawannya itu diadili. Beritanya diliput besar-besaran di semua koran. Saya yakin, Bapak pasti tahu. Saya baca di Wikipedia, Bapak juga mantan aktivis HMI. Sebagai kader-kaderan di HMI, saya tahu betul, Kanda, bagaimana iklim pergerakan dan tradisi keilmuan HMI Cabang Makassar. Mereka adalah salah satu cabang yang paling disegani hingga hari ini.

Oh, Bapak ingat Arief Budiman? Lagi-lagi seangkatan juga sama Bapak. Apalagi sekarang blio juga jadi akademisi kayak Bapak. Dulu blio pernah menggagas “Gerakan Golput” saat menyambut Pemilihan Umum tahun 1971. Halah, itu lho aktivis pimpinan gelombang “Mahasiswa Menggugat” yang berani-beraninya mendatangi Ketua Komisi Empat yang dibentuk untuk menyidik kasus korupsi pejabat. Ia temui langsung mantan Perdana Menteri tahun 1950-an, Wilopo, untuk menawarkan bantuan kalau-kalau Pemerintah nggak becus nanganin kasus para elit Orde Baru itu. Mahasiswa angkatan Bapak zaman dulu serem-serem ya, Pak?

Makanya, saya jadi heran, kok kemarin itu Bapak kepikiran sampai mengeluarkan surat DO untuk Dedek ketua BEM merangkap aktivis dakwah yang teramat lugu itu. Lha wong masa muda Bapak pasti juga lebih vokal dari dia. Kenapa sih, Pak? Apakah Bapak sedang ada masalah pribadi yang serius? Senjakala apa yang membuat Bapak baper berkepanjangan?

Apa beratnya, sih, tuntutan mereka itu? Lha wong tuntutannya itu kan tuntutan umum yang ndak nganeh-nganehi. Cuma lahan parkir yang kisruh, carut marut beasiswa PPA/BBM, keringanan pembayaran UKT, isu anggaran KKN. Ya Rabb… itu kan isu-isu yang dibicarakan di semua kampus keles. Kampus-kampus yang kebingungan mengatur anggaran, sebab tata kelola pendanaannya harus mandiri macam perusahaan profit-oriented. Bapak sepertinya perlu curhat ke rektor-rektor lain yang woles-woles saja menghadapi mahasiswa kualitas kekinian itu, deh.

Pak Rektor tuh sebenarnya cukup membukakan kantor rektorat, ngasih janji kalau tuntutan mahasiswa pasti akan dibawa ke rapat para pimpinan, dan tidak lupa minta didoakan agar tuntutan mahasiswa itu terkabul. Mahasiswa zaman sekarang diberi wajah manis dan janji-janji begitu juga sudah cukup kok, Pak. Paling-paling mereka keluar dari rektorat dengan mengucap, “Alhamdulillah…”, “Masya Allah tuntutan kita ditanggapi positif oleh pihak rektorat…”, atau “Insya Allah…”

Aktivis kampus sekarang itu saleh saleha. Mereka juga ndak seseram zaman Bapak muda dulu. Sekarang mereka nggak perlu nyari cara buat ketemu Menteri juga udah diajak makan malam sama Presiden. Nggak usah repot nawarin audiensi ke Komisi Pemberantasan Korupsi juga udah langsung jadi pembela utama partai dakwah. Kalau lagi rapatpun pada nyambi maen COC atau Duel Otak. Nggak angker babar blas! 

Kalau cuma nyebar broadcast konsolidasi, terus ngumpul bikin rencana aksi, lha kan biasa banget tho, Pak. Itu memang kerjaannya anak BEM. Kalo latihan taekwondo atau drum band, ya itu kerjaan unit kegiatan mahasiswa yang lain. Zaman Bapak muda dulu, ribuan mahasiswa bahkan menyebar selebaran seruan aksi ketika menentang Perdana Menteri Jepang, Tanaka, yang saat itu akan memperluas investasinya dari Bangkok ke Jakarta.

Bahkan, Brian May, dalam The Indonesian Tragedy bilang,”…Para kriminal dari sudut-sudut Jakarta menggabungkan diri dengan mahasiswa, dan selama dua hari Jakarta diguncang kekerasan kerusuhan…” Wuih, nekat-nekat betul.

Mahasiswa sekarang mau rapat aja susah nentuin jam, Pak. Pada sopan dan sungkan bolos kuliah karena kebijakan negara yang industrialis ini maunya buru-buru mencetak calon buruh hingga mahasiswa yang mikirin konsep ideopolstratak itu. Aduh… nggak penting pastinya.

Buat Dek Ronny, saran Kakak nggak banyak kok. Besok-besok, kalau pengen bikin gebrakan coba yang lebih berkelas. Di BEM-nya ada kajian badan anggaran? Kajian strategis yang terkait tuntutan hukum untuk dosen yang ingin Adek usut tuntas itu sudah jalan atau belum? Nah, mbok itu diberesin dulu, jadi besok-besok kalau nyetatus bikin geger di fesbuk itu bukan cuma gawat darurat-gawat darurat. ‘Kan gawat beneran kalau kamu sampai di DO.

Tapi, ealaaahh, cuma drama.

No more articles