_atrk_opts = { atrk_acct:"3c3Os1rcy520uW", domain:"mojok.co",dynamic: true}; (function() { var as = document.createElement('script'); as.type = 'text/javascript'; as.async = true; as.src = "https://certify-js.alexametrics.com/atrk.js"; var s = document.getElementsByTagName('script')[0];s.parentNode.insertBefore(as, s); })();
Rubrik: Kolom

Meluruskan Makna ‘Woman Supporting Woman’

/kal/kolom/meluruskan-makna-woman-supporting-woman/amp/

Kita mulai ujian tertulis soal woman supporting woman hari ini.

Kasus pertama. Seorang muslimah mengumumkan pernikahan suaminya yang kedua. Dengan terbuka, lewat akun Facebook, ia memosting foto bahwa ia sendiri yang mengantar sang suami pergi akad dengan istri muda. Baginya, ia adalah calon bidadari surga, sebaik-baik istri yang tengah menjalankan ketaatan agama kepada suami.

Tentu saja banyak perempuan yang tak sepakat dengan poligami merespons dengan berbagai pendapat. Jika ada yang mengatakan menerima pilihan pasangan untuk poligami adalah bentuk ketertindasan, apakah artinya para perempuan yang menolak poligami ini tidak mendukung sesama perempuan?

Sudah mulai pusing? Baik. Mari kita lanjut ke kasus kedua yang seringkali didiskusikan secara serampangan: representasi perempuan dalam politik elektoral.

Seorang perempuan politisi dari partai besar di Indonesia ketahuan korupsi. Masyarakat mulai bercakap-cakap bahwa representasi perempuan dalam politik itu tak penting. Toh, sama saja tuh! Akhirnya korupsi-korupsi juga.

Perempuan politisi yang dimaksud juga berasal dari keluarga pendiri partai. Sebagai perempuan, ia dengan mudah mengalahkan kompetitor laki-laki dalam partai yang sama. Tentu saja karena oligarki.

Apakah kita harus berhenti mendukung perempuan hanya karena ada perempuan politisi yang korupsi? Jika kalian semakin pusing, saya tambah satu kasus lagi.

Seorang perempuan dengan sadar menjalani hubungan dengan laki-laki yang masih terikat hubungan legal dengan istrinya. Kalian mengenal istilah popular “pelakor” untuk menyebut situasi ini meski saya tidak senang memakai istilah tersebut.

Istri sah lalu spill foto-foto dan identitas perempuan itu lewat media sosial hingga mendapat respons yang riuh dari kaum emak-emak. Aduh, istilah “emak-emak” juga hari ini sangat peyoratif. Selalu dihadirkan dalam nuansa gosip dan keributan, padahal emak-emak di dunia nyata adalah sosok produktif dan pahlawan keluarga.

Baik, kembali pada kasus. Dari kejauhan, akan tampak sesama perempuan saling mencakar. Ada tim istri sah, ada tim mbak perempuan yang lain. Lalu, woman supporting woman pun akan disimpulkan sebagai sebuah mitos.

Woman supporting woman adalah sebuah kesadaran bahwa perempuan sebagai kelompok rentan mesti saling mendukung kelompok rentan lainnya. Kesadaran ini memiliki kepercayaan, bahwa pengalaman tubuh dan pengalaman sosial perempuan lebih mudah dipahami oleh sesama perempuan.

Perempuan mengalami menstruasi, hamil, melahirkan, menyusui, dan pengalaman-pengalaman ini lebih bisa dirasakan sesama perempuan. Perempuan mengalami nggak enaknya ditanya kapan kawin, kapan hamil, dicap nakal karena pulang malam dan dicap penggoda laki-laki karena status lajang atau janda.

Seharusnya perempuan bisa lebih mudah bersolidaritas untuk pelecehan dan stigma yang menimpa perempuan dalam kultur masyarakat yang menindas itu karena mengalami kesulitan yang senasib.

Pada kasus pertama, tentang perempuan yang menerima pilihan suami untuk poligami, tugas “empowering” adalah memeriksa kesadaran perempuan dengan utuh. Bukan untuk merendahkan pilihan perempuan yang menerima dipoligami, melainkan untuk mengedukasi sesama perempuan bahwa perempuan boleh memiliki keputusan serta boleh tak sepakat dengan pasangan.

Jika poligami terjadi karena perempuan didoktrin sebagai pihak yang tak boleh melawan keputusan suami, atau perempuan didoktrin ia akan mendapatkan pahala dan ketaatan yang tertinggi hanya melalui poligami, tentu saja perlawanan terhadap doktrin itu adalah hal yang benar.

Dalam kasus ini, tidak mendukung perempuan dipoligami adalah wujud perlawanan kepada dominasi yang menindas kesadaran dan pilihan perempuan.

Kasus kedua, perempuan politisi yang berasal dari keluarga partai besar itu bukan subjek yang lemah. Ia memiliki kekuasaan, modal dan popularitas yang taken for granted tanpa harus melalui perjuangan yang berarti.

Jika tokoh ini memiliki kompetitor perempuan lain yang benar-benar berproses dari bawah dengan membawa aspirasi politik kaum perempuan, kita tahu ke mana dukungan mesti kita berikan. Bahkan jika tokoh ini memiliki kompetitor laki-laki yang benar-benar berproses dari bawah dengan membawa aspirasi politik perempuan, kita mesti mendukung laki-laki yang bervisi daripada representasi perempuan yang berasal dari struktur yang menindas.

Contoh paling umum yang kerap kita temui adalah perempuan istri dari bupati yang mencalonkan diri sebagai bupati daerah karena suaminya tak bisa lagi mencalonkan diri. Apakah representasi perempuan ini mewakili aspirasi politik perempuan yang lemah? Atau sebatas perpanjangan kepentingan politik struktur yang berkuasa atau bahkan perpanjangan kepentingan politik suami?

Pada kasus ketiga, sekali lagi, kita mesti memeriksa siapa penindas yang sesungguhnya. Perempuan yang dengan sadar menjalin relasi dengan laki-laki yang memiliki pasangan legal tentu tak perlu dibela. Tapi, terhadap perisakan data pribadinya di internet, ia tetaplah korban.

Jangan lupa, ada sosok laki-laki tak bertanggung jawab serta mengingkari komitmen yang juga mesti didiskusikan, bukan hanya mempertebal stigma kepada perempuan lajang.

Ketika saya ditanya, sebagai perempuan, hal apa yang bisa kita lakukan untuk “support woman”?

Yang saya terapkan pada diri sendiri adalah berkomitmen pada hal-hal paling kecil dalam kehidupan kita. Misalnya, saya mempekerjakan Pekerja Rumah Tangga perempuan yang tengah hamil. Saya memberi keleluasaan padanya untuk mengganti jadwal kerja jika sewaktu-waktu ia mesti ke rumah sakit untuk kontrol kehamilan.

Saya juga kerap membuka obrolan dengannya soal kesehatan reproduksi dan hak-hak perempuan. Aktivitas sederhana semacam ini sesungguhnya adalah peristiwa politis untuk mengadvokasi hak sesama perempuan.

Laporan penelitian dari Harvard Business Review berjudul Men and Women Need Different Kinds of Networks to Succeed menemukan bahwa perempuan yang berhasil mencapai posisi kepemimpinan tertinggi dalam karier cenderung memiliki mentor sesama perempuan yang memberi informasi pribadi tentang kultur perusahaan terhadap pekerja perempuan sehingga mereka bisa mempersiapkan strategi interview dan negosiasi dengan tepat.

Hal yang sangat masuk akal, karena satu lembaga dengan dominasi maskulin yang menganggap rendah kemampuan perempuan selamanya tidak akan percaya kepada kemampuan perempuan. Kita hanya bisa melakukan perubahan struktural dan kultural lewat woman supporting woman!

Norma lama mengajarkan sesama perempuan untuk saling berkompetisi. Para perempuan dididik sinetron televisi untuk saling mencurigai, saling menyalahkan dan saling menjatuhkan. Woman supporting woman ingin membuktikan bahwa sesama perempuan dapat saling bekerja sama dan saling mendukung untuk menguatkan perempuan yang selama ini dianggap lemah.

Bisa, pasti bisa.


Kamu bisa baca kolom Kelas-Kalis lainnya di sini. Rutin diisi oleh Kalis Mardiasih, tayang saban Minggu.

Leave a Comment