Kolom: Jarak Beyonce dan Nazanin Sebagai Pertanyaan Pembuka

Untuk membuka kolom pertama yang akan muncul tiap pekan ini, saya ingin mengajak kalian semua untuk merenungi sesuatu bernama jarak. Kali ini bukan tentang rindu, melainkan jarak yang membangun jurang.

Pada bulan April 2019, Netflix merilis sebuah film dokumenter musik berjudul Homecoming. Film itu mendokumentasikan Coachella Valley Music and Arts Festival 2018 yang mencatat penampilan Beyonce, penyanyi perempuan kulit hitam pertama, yang menjadi headline dalam festival musik terbesar di Amerika itu. Beyonce adalah penulis, produser sekaligus director untuk Homecoming.

Dari awal hingga akhir, dokumenter Homecoming membuat saya merinding. Akan tetapi, satu fragmen yang paling berkesan, barangkali adalah ketika Jay Z, suami Beyonce mengapresiasi istrinya yang begitu detail dan perfeksionis. Beberapa bulan sebelum festival, Beyonce hamil. Tapi dia tetap berlatih dengan enerji terbaiknya, mengkurasi koreografi, hingga mengurus sendiri detil kostum dan tata panggung.

“I have worked very hard to get to the point where I have a true voice and at this point in my life and my career i have a responsibility to do whats best for the world and not what is most popular.”


Itu jawaban Beyonce, yang ditulis dalam kepsyen akun Instagram ibunya, Tina Knowles Lawson, perihal mengapa Queen B begitu total dalam pekerjaan yang akan dicatat sejarah kali itu.

Saya mengagumi energi perempuan. Orang-orang melawak soal perempuan tak bisa angkat galon, di saat perempuan bahkan bisa mengejan lalu mengeluarkan anak manusia dari sebuah lobang sempit di tubuhnya.

Baca juga:  Membayangkan Rekonsiliasi Kultural Moeldoko-AHY sebagai Sesama Jebolan Akmil

Berbulan-bulan sebelumnya, anak manusia itu bahkan di bawa-bawa kemana pun si induk pergi. Sedang tidur pun nggak bisa ditaruh sembarang tempat, tetap nempel dalam perut simboknya. Masih mau lawak perempuan lemah?

Saya mengagumi energi perempuan. Saya suka perempuan yang tertawa lepas. Saya terobsesi pada tawa Soimah yang menggelegar di layar kaca, juga tawa patah-patah ala Mamah Dedeh. Saya takjub pada perempuan yang menyanyi sambil menari berjam-jam penuh tenaga seperti Beyonce.

Saya suka para ibu pedagang di pasar yang telah meninggalkan rumah selepas subuh lalu berceloteh dalam kegiatan tawar menawar harga dagangan hingga tengah hari. Saya mencintai perempuan seniman dengan enerji magis yang terpancar dari panggung.

Saya tak habis hormat pada riwayat ibu untuk menghidupi saya dan keluarga: berdagang ini tak laku, ganti berjualan itu. Mencoba satu peruntungan tak laku, ganti peruntungan lain.

Saya suka perempuan ibu rumah tangga yang sudah jumpalitan sejak pagi sambil mengomel kepada anak yang lupa menaruh kaos kaki atau suami yang tak sekalian mencuci piring kotor. Saya suka para perempuan pekerja di sekolah, di kantor, di lautan, di ladang, di udara dan di jalanan dengan segala detail, kreativitas dan geraknya.

Dan, siapa yang tidak terseret tatapan Najwa Shihab, perempuan favorit netizen, yang tajam dan berpotensi menenggelamkan segala kebohongan politisi itu?

Baca juga:  Komunitas Vegan Tolak Video Mardigu karena Isinya Daging Semua

Saya suka daya hidup perempuan. Itulah mengapa saya melawan hal-hal yang membuat daya itu padam.

Teman saya seorang perempuan sarjana seni berbakat. Ia manis dan periang. Tapi, setiap hari neneknya melontarkan kata-kata buruk padanya. Ia disebut jelek, hitam, gendut sehingga sebaiknya segera setuju saja jika kelak ada laki-laki yang “mau” padanya daripada nggak bakal laku.

Teman saya menelepon sambil menangis dan mengatakan senyuman sudah lama tak muncul di wajahnya. Saya tak pernah habis pikir ada nenek atau ibu yang menjelek-jelekkan fisik anaknya sendiri, padahal mereka sendiri yang mewariskan gen fisik kepada keturunan mereka.

Nazanin, seorang gadis di Afghanistan berusia kurang dari 10 tahun ketika ayahnya menjual dirinya untuk dinikahkan. Dia tak pernah bersekolah karena perang bertahun lamanya. Ketika Afghanistan mengalami bencana kekeringan pada 2018, keluarga itu menanggung banyak hutang dan ayahnya menganggap anak perempuan sebagai satu-satunya aset sebab dalam tradisi mereka ada “harga pengantin” untuk membeli anak perempuan. Gadis ini bahkan belum sempat punya mimpi.

Seorang gadis disabilitas keterbatasan intelektual berusia 13 tahun di Jawa Timur diperkosa oleh kakek tetangga berusia 70 tahun. Pada siang celaka itu, pelaku mengancam akan menggorok leher korban jika ia berani berteriak atau melaporkan kekerasan seksual tersebut. Malang, selain menyintas trauma, korban juga tertular penyakit sipilis dari pelaku. Bertahun-tahun, ia mengalami kesakitan pada vaginanya.

Baca juga:  Kolom: Pulang

Ada banyak perempuan yang takut untuk sekadar tersenyum, kali ini karena internalisasi penafsiran agama yang menganggap ekspresi perempuan sebagai sumber segala bencana.

Kalau ada banjir, gempa, bencana alam, itu karena moral perempuan akhir zaman yang telah rusak! Tambahkan teks bahwa penghuni neraka paling banyak adalah perempuan sebagai materi ceramah agar perempuan tak bisa ke mana-mana!


Ada perempuan yang seluruh hidupnya tiba-tiba didefinisikan sebagai pelayanan, ketaatan, ketundukan, membuat dirinya kehilangan kesadaran, inisiatif dan kehilangan diri sendiri yang sesungguhnya.

Ada perempuan dengan pancaran enerji tak masuk akal seperti Beyonce, yang dengan imajinasi dan kerja keseniannya mampu menunjukkan pengalaman ketertindasan orang kulit hitam, bukan dengan cara mengiba dan memelas, melainkan memfestivalkan budaya bangsanya secara terhormat di panggung paling akbar se-Amerika.

Di lain tempat, ada perempuan yang tubuh dan jiwanya tampak hidup, namun sejatinya sudah lama mati, bahkan sejak usia kanak-kanak….

Ingat, kan, kalau di awal tulisan, kita sedang bicara perihal jarak? Jarak itu yang saya maksud, dan kita bisa bertanya mengapa.


Artikel ini adalah rilis perdana kolom Kelas-Kalis yang akan rutin diisi oleh Kalis Mardiasih. Tayang saban Minggu.