MOJOK.COMain media sosial membawa sejumlah pengalaman baru yang nggak semuanya menyenangkan. Kadang bisa mendatangkan teman baru, nggak jarang juga bikin teman lama jadi musuh.

Sebagian besar anak ‘90-an mungkin udah main medsos dari SMP. Mulai dari jaman Friendster sampai setiap hari memantau IG story temen jaman sekolah yang setiap hari mengekspos drama rumah tangganya buat digunjing di grup WhatsApp geng. Dalam belasan tahun itu, ada banyak sekali pengalaman aneh yang saya alami. Tapi, ada tiga cerita yang mau saya bagi karena paling bikin migren kepala.

Pertama, ini pelajaran buat semua perempuan yang mau jadi penulis atau pemimpin. Tantangan perempuan di bidang ini memang berbeda dari laki-laki.

Perempuan yang tampil di acara televisi dengan suara tegas, misalnya, pasti dapat komentar, “Ngegas banget sih, Mbak. Emosian ya? Lagi PMS ya?”

Komentar semacam itu tidak akan muncul pada laki-laki yang bicara dengan gaya apa pun. Bahkan, lelaki yang bicaranya ngegas akan tampak lebih jantan. Ya memang ada perkecualian. Kalau levelnya sudah ajaib seperti memaki-maki orang tua kayak kelakuan Arteria Dahlan atau jubir FPI Munarman yang nyiram air ke Pak Thamrin Amal Tomagola, itu sih bukan ngegas lagi, tapi berbakat bikin malu diri sendiri.

Suatu ketika, saya mempublikasikan tulisan saya yang mengangkat topik agama. Tulisan itu mengundang komentar dari netizen semisal, “Jilbaban belum bener, nggak usah nulis soal agama deh, Mbak.”

Kebetulan ketika itu avatar Twitter saya memakai foto saya dengan kerudung diikat ke belakang.

Baca juga:  Begini Rasanya Kebanjiran Mensen Hanya Karena Kamu Bernama Agus

Minggu berikutnya saya menulis tema baru. Sebelumnya saya sudah lebih dulu mengganti avatar Twitter dengan foto saya dengan kerudung terjulur panjang. Saya pikir semua akan baik-baik saya karena kini akun saya sudah kelihatan solehah.

Lalu muncullah komentar, “Pakai jilbab besar kok pemikirannya sesat. Copot saja deh, Mbak, jilbabnya.”

Sampai sini saya jadi bingung, apa maunya orang-orang itu? Perempuan nih ya, kalau belum pakai jilbab, ditanya agamanya apa lah, kapan pakai jilbab lah. Kemudian, setelah pakai jilbab, malah disuruh copot. Saya rasa memang aslinya mereka hanya tidak suka mendengar gagasan perempuan.

Kalau kamu penulis laki-laki, kamu nggak akan dapat komentar soal penampilan. Wong ustaz laki-laki di Indonesia, yang pakai topi penjaga vila sampai topi reggae sambil konvoi motor gede, mereka malah dianggap ustaz gaul kok.

Kedua, masih terkait profesi saya sebagai penulis. Beberapa tulisan saya yang bertema agama dan perempuan terkadang memang bikin rame. Suatu hari satu tulisan yang mengkritik pimpinan salah satu ormas agama lagi-lagi memancing keributan. Biasa lah, fans berat si pimpinan ormas tidak bersedia kalau pimpinannya dikritik.

Akun instagram saya tiba-tiba banjir komentar ujaran kebencian. Derajatnya mulai dari makian, body shaming, hingga ancaman dikeroyok rame-rame. Peristiwa semacam ini bukan peristiwa pertama yang saya alami, jadi saya sudah bisa tenang menghadapinya.

Di DM Instagram kemudian masuk satu pesan dari akun bergambar bendera hitam dengan tulisan huruf Arab.

“Di mana rumahmu Hai betina! Mau kamu saya perkosa?”

Widih. Saya tidak takut, malah penasaran, “Ini kok antara gambar profil yang penuh pahala sama komentar ke orang nggak nyambung gini?”

Baca juga:  Biasain Mikir Sebelum Komentar!

Saya coba tengok feed Instagram laki-laki itu. Ternyata bukan anonim seperti kebanyakan akun yang tugasnya khusus neror orang. Akun laki-laki ini terkadang mengunggah foto bersama istri dan anak-anaknya lengkap dengan caption yang masya Allah tabarakallah. Postingan semacam itu berselang-seling dengan unggahan dagangan madu.

Saya lagi-lagi jadi menyimpulkan, wajah orang di media sosial memang bisa bermacam-macam. Di unggahan yang tampak di publik, citra diri dan keluarga harus dijaga. Tapi di belakang layar, bisa maki-maki orang sambil sesekali intip-intip selebgram cakep.

Cerita yang ketiga ini paling aneh: Saya dikatain biadab oleh teman sendiri hanya karena mengkritik seorang buzzer politik. Artinya, si teman ini lebih membela buzzer politik dan tidak peduli bahwa kami berteman.

Saya ini aslinya baperan. Selama beberapa hari saya berpikir, kok bisa ya orang yang kita kenal di dunia nyata bisa bilang biadab ke kita hanya karena belain buzzer? Bahkan ia ikut mengeroyok kita agar buzzer lainnya turut mem-bully.

Saya akhirnya unfollow si teman. Bukan apa-apa sih, pengalaman itu ternyata lumayan traumatis. Walaupun di linimasa dia posting yang manis-manis, ternyata saya terus ingat pengalaman pahit itu. Begitulah Aquarius. Kami mudah memaafkan, tapi sori-sori, kami tidak mudah melupakan.

Jadi, apa pengalaman anehmu selama main media sosial?

BACA JUGA Berdebat di Sosial Media yang Kadang Mengasyikkan Kadang Menyebalkan atau esai KALIS MARDIASIH lainnya.



Tirto.ID
Loading...

No more articles