Jika Hamid Basyaib menyebut bahwa “Catatan Pinggir” Goenawan Mohamad lebih suka mengajukan pertanyaan dibanding memberi jawaban, saya kira Mojok adalah pertanyaan itu sendiri. Mojok lahir sebagai pertanyaan. Kita tak perlu mengajukan pertanyaan dalam tulisan-tulisan kita di situs ini karena Mojok bagian dari pertanyaan itu sendiri.

Matinya pertanyaan tentu saja akan membuat heboh. Juga membuat bodoh. Ketika sudah tidak ada pertanyaan, sejatinya berakhirlah kehidupan. Selain itu, terlalu banyak orang yang bergantung pada pertanyaan sehingga jika pertanyaan mati, orang tak bisa berbuat apa-apa.

Mungkin inilah yang dirasakan banyak orang ketika Mojok mati sebentar. Orang kebingungan mencari dan melontarkan pertanyaan. Dalam artian pertanyaan yang jenaka, menggugah, dan cenderung mengolok-olok diri sendiri. Nyaris tak ada media selihai Mojok dalam mentertawakan dan mengumpat dirinya sendiri dalam waktu yang berimpitan.

Lalu kini Mojok hidup lagi. Kalau kita harus menerka-nerka kenapa Mojok mati hanya sebentar, semua orang bisa saja menyebut kalau ini bagian dari strategi pemasaran. Atau bisa jadi, setelah dimatikan, Mojok mendapat investor besar yang mengharuskan Mojok hidup lagi. Atau bisa juga terlalu banyak yang mewek atas matinya mojok sehingga Kepala Suku tak tega dan menghidupkan lagi situs ini.

Sialnya, aneka macam spekulasi itu sama sekali tak diberi ruang untuk menemukan jawabannya. Semuanya berujung pada spekulasi. Pada pertanyaan-pertanyaan. Mungkin Mojok memang dilahirkan sebagai sebuah pertanyaan.

Mumpung bulan Ramadan, mari kita berpikir positif aja. Mari kita anggap matinya Mojok selama beberapa hari merupakan bagian dari cara media ini untuk melakukan tetirah. Ya, mungkin sama dengan yang sedang dilakukan si Kepala Suku di Pulau Dewata sana.

Tetirah menurut saya adalah kunci. Orang, lembaga, bahkan situs media, jika ingin tumbuh besar harus melakukan tetirah. Dalam bahasa Arab disebut khalwat. Dalam bahasa sederhananya disebut menyepi. Mengasingkan dari ingar bingar duniawi. Ingat, Nabi Muhammad saw. pernah melakukan khalwat. Yakni ketika beliau tetirah di Gua Hira hingga akhirnya mendapatk wahyu pertama, Surah Al-Alaq.

BACA JUGA:  Betapa Susahnya Menjadi Pembaca Sekaligus Penulis di Mojok

Beberapa hari lalu saya melakukan reportase ke salah satu tempat khalwat yang ada di Malang. Di pondok pesantren ini tidak diajarkan ilmu tentang agama. Para santri hanya melakukan khalwat dengan cara menyepi. Ada banyak pilihan, khalwat selama satu minggu hingga yang paling lama, enam minggu. Di sini, para santri melakukan refleksi dengan cara berzikir dan memikirkan kebesaran Tuhan. Dengan refleksi, biasanya santri menjadi ingat apa kesalahan yang mereka lakukan dan seperti apa buruknya hati mereka dalam kehidupan sehari-hari.

Aneka macam kesalahan itu tidak boleh ditertawakan, sebagaimana kebiasaan Mojok selama ini, tapi diresapi, lalu diperbaiki. Setelah khalwat, biasanya santri menjadi lebih alim, lebih bijaksana, tidak suka marah-marah, lebih dekat, dan selalu bertawakal kepada Tuhan.

Sebagai pembaca tidak setia Mojok, saya membayangkan Mojok melakukan khalwat ketika mati beberapa saat. Sehingga ketika hidup lagi, bisa menjadi media yang lebih baik. Yang tak hanya banyak akal, tapi semakin banyak nakalnya. Dalam artian, kian banyak mengibuli pembaca seperti tulisan terakhir Kepala Suku sebelum situs ini mati sementara.

Kita sudah kadung percaya media ini tutup karena orang yang tak suka dengan keberadaan Mojok. Sampai ada yang mengirim kepala kambing segala. Eh, di akhir cerita ternyata itu fiksi belaka. Semoga Mojok semakin sering membuat tulisan yang nggateli semacam ini agar akal kita semakin banyak dan tidak terlalu serius.

Setelah tulisan ini ngelantur ngalor ngidul, lalu apa hubungan Mojok dan Goenawan Mohamad? Ya, maksud saya, sudah seharusnya Mbah Goen melakukan tetirah untuk banyak hal. Pertama, tetirah dari mengunggah foto yang bikin ribut.

Baru-baru ini, di akun Twitternya ia mengunggah foto Amien Rais yang sedang menunduk. Seperti orang ketiduran. Mbah Goen menulis caption seperti ini: “Tegaklah, Mas Amien Rais. Anda terima Rp 600 juta tapi belum tentu bersalah. Kita tak boleh cepat mencerca, bukan?”

BACA JUGA:  Cara Merawat Sepatu Agar Selalu Bersih dan Awet

Sekilas caption foto ini seolah membela Amien Rais. Tapi, netizen justru mencerca Mbah Goen. Ia dianggap telah melakukan pemelintiran gambar dan merendahkan tokoh Reformasi itu. Bahkan Hanum Rais, anak Amien Rais, mengkritik pedas. Hanun menulis: “Foto ini Anda ambil dr foto sy, anda crop,lalu Anda beri caption tendensius. Itu ayah sy berzikir menunggu kelahiran putri sy. Ahli Fitnah.”

Selain soal unggah-mengunggah gambar, Mbah Goen menurut saya perlu tetirah dari rubriknya: “Catatan Pinggir”. Rubrik ini sudah berumur puluhan tahun, tapi setelah Tempo bangkit lagi pasca-Reformasi, belum pernah tetirah. Sehingga begitu-begitu saja, membuat bosan saya sebagai pembaca.

Bolehlah sebulan dua bulan rubrik “Catatan Pinggir” di halaman paling belakang majalah Tempo itu diisi tulisan orang lain. Atau diisi apalah yang lucu, yang tidak bikin sepaneng seperti ketika membaca tulisan Mbah Goen. Dengan tetirah tersebut, kita berharap tulisan di “Catatan Pinggir” semakin segar, semakin banyak akal. Maksud saya, banyak akal yang menulis di rubrik ini, tidak hanya Mbah Goen saja.

Mbah Goen, sudah waktunya Anda tetirah. Tapi, kalaupun Anda terus menulis di situ, tidak masalah. Toh, itu media yang Anda dirikan sendiri.

Salam khalwat.

Komentar
Add Friend
No more articles