Membaca dua tulisan sebelum ini, yang ditulis oleh dua Muhammadiyah garis keras teman saya seorganisasi dan sealma mater itu, memberi impresi kecil pada saya bahwa ajakan membentuk Muhammadiyah garis lucu justru memunculkan perdebatan tidak lucu.

Tentu ini menurut kacamata saya (yang NU dan berencana akan pindah ke Abangan). Perdebatan itu bukan hanya tidak lucu, bahkan sudah termasuk dalam kategori menolak untuk lucu.

Dalam hati saya bisa saja berdehem sambil nyinyir, “Menyedihkan sekali hidup kalian,” tapi, buru-buru saya tersadar bahwa saya baru saja menambah diskusi tidak lucu itu dengan tulisan yang juga tidak lucu.

Alangkah menyedihkannya hidup saya. Sudah NU, tidak lucu, menanggapi dua tulisan Muhammadiyah yang tidak lucu lagi. Ini persis seperti daftar ketidaklucuan yang dibikin oleh dua organisasi besar ini—tentu menurut gojekan saya bersama teman-teman saya, termasuk dua orang Muhammadiyah di atas, saat kami terlibat dalam pertemanan intens semasa kuliah di satu alma mater dan satu organisasi.

Dalam sebuah percakapan tentang NU-MU kami yang penuh gojek, atau tepatnya saling ejek, seorang teman yang Muhammadiyah melakukan serangan gojeknya.

“Orang yang masih bodoh itu biasanya NU. Jika ia sudah terdidik (pendidikan formal) alias sudah pandai, ia biasanya akan pindah Muhammadiyah.”

Seorang teman yang NU segera menimpali,

“Kamu belum selesai! Jika NU sudah pandai atau pintar, ia memang akan masuk Muhammadiyah. Tapi, jika ia terlalu pintar, ia akan menjadi NU lagi. Lihat itu Amin Abdullah, Dawam Raharjo, Munir Mulkan: mereka ‘dikeluarkan’ dari Muhammadiyah.

“Belum lagi gojekmu barusan menandai fakta implisit: pada dasarnya semua orang Indonesia itu NU, hanya perjalanan hidupnyalah, plus didikan orang tua, yang membuatnya bisa masuk Muhammadiyah.”

Sang Muhammadiyah lain menimpali. Kalau yang ini (agak) lucu.

“Eits, tunggu dulu, Kamu juga belum selesai. Gojekmu juga menandai fakta implisit berikutnya. Jika kamu asumsikan bahwa orang Indonesia pada dasarnya secara genetis adalah NU, ijtihad terbesar dan paling berhasil Muhammadiyah adalah justru melahirkan NU. Kau kan tahu, NU adalah respons balik atas munculnya modernisme Islam, khususnya Indonesia.”

BACA JUGA:  Mark Twain, Punk, Bakwan

Sang NU lain—yang kami tahu tidak pernah mau salat Jumat di Masjid Kampus UGM karena dianggap tidak syah; ia juga satu kampung dengan salah satu Muhammadiyah yang ditunjuk di awal tulisan ini—segera menyodorkan pendapatnya. “Bagaimana mau menumbuh-kembangkan ‘ijtihad’ jika sekolah Muhammadiyah di seluruh Indonesia tidak melahirkan orang yang cakap berbahasa Arab dan menguasai atau menimal bisa membaca Kitab Kuning?”

“Ah kalian memaknai ijtihad secara tekstualis,” sergah Muhammadiyah lain yang sengaja meng-gondrongkan rambutnya yang sedikit lucu itu. “Bukankah memiringkan saf salat, menciptakan pengajaran agama bermeja-bangku, memakai celana panjang, dan lain-lain itu ijtihad yang nyata?” “Tidakkah kalian insyafi itu, hai, teman-teman NU-ku?”

“Belum lagi jika ini ditambah dengan pendirian rumah sakit, universitas Islam, panti asuhan, sekolah umum berbasis agama di seantero Indonesia. Ini jika mau, dimasukin dalam ijtihad Muhammadiyah. Eh, yang terakhir ini mekso, ding! Tapi, itu yang dibutuhkan umat saat ini, Bung! Bukan malah tersudut, memperbanyak wirid, dan memeriahkan kuburan. Catat itu, ya!”

Sebenarnya kami yang Muhammadiyah maupun NU sangat tahu, ajakan atau tepatnya kegelisahan ihwal pembentukan garis lucu, baik di Muhammadiyah maupun NU yang akhir-akhir ini semakin “serius” sebenarnya adalah ajakan untuk bersikap tidak bersikap kaku, tegang, dan bahkan bersungut-sungut dalam menanggapi perbedaan pendapat—hal yang belakangan semakin “menegangkan”. Juga kami tahu, orang berkarakter lucu itu tidak mengenal organisasi. Itu poinnya.

Tapi, teman kami yang NU satu ini, yang maksudnya adalah saya sendiri (tapi jangan keras-keras suaranya), tetap tidak bisa terima.

“Kamu boleh tidak menerima bahwa NU tidak lebih lucu daripada Muhammadiyah, tapi kalian pasti tidak bisa menyanggah bahwa cerita semacam ini tidak akan kalian temui selain di NU ….”

***

Alkisah, seorang santri sedang menyetorkan bacaan surat Al-Ikhlas-nya pada seorang kiai yang duduk tepat di depannya.

BACA JUGA:  Belajar dari Dia yang Salat Pakai Bahasa Indonesia

Qul huwallahu ahadu,” sang santri mulai melafalkan. Sang kiai segera menginterupsi dan membenarkan kesalahan bacaan Quran santrinya, yakni karena melanggar tanda waqof pada akhir ayat surat qulhu tersebut. Sang santri harusnya melafalkan ahad, bukan ahadu.

Ahad, bukan ahadu,” sang kiai meminta.

Qul huwallahu ahadu.”

Ahad, bukan ahadu. Ulang!”

Qul huwallahu ahadu.”

Ahad, bukan ahadu. Ulang lagi!”

Tidak terlalu yakin, sang santrinya mengulang dengan tepat. Sang kiai segera mempersiapkan tangannya.

Qul huwallahu ahad—” Belum selesai sang santri melafalkan, sang kiai segera menjulurkan tangan dan memegang bibir santrinya.

“Nah, begitu. Sampai situ saja, ahad. Bukan ahadu.”

Pelan-pelan sang kiai melepaskan jari-jarinya dari bibir santri tersebut. Tiba-tiba terdengar suara,

—du.

Komentar
Add Friend
No more articles