• 24
    Shares

MOJOK.CO – Seorang sufi bernama Omar Tarragona dihadapkan ke depan seorang raja yang berkuasa. Nyawa Omar dipertaruhkan ketika ia menyampaikan hakikat “kebenaran” di depan raja.

Seorang sufi, oleh masyarakat, dikenal sebagai seorang pencari kebenaran. Ia adalah seorang yang bergelut, berjuang keras, dan akhirnya menemukan “hakikat” kebenaran dan kenyataan. Suatu hari, seorang raja yang lalim, bodoh, dan sekaligus tamak yang menguasai Kota Murcia di wilayah Spanyol yang bernama Rudariq benar-benar menginginkan kebenaran seperti yang dimiliki oleh seorang sufi.

Ia ingin memiliki ilmu hakikat kenyatan. Saking kuatnya keinginan untuk memiliki kebenaran ini, ia ngotot menyuruh anak buahnya mencari seseorang yang dianggap telah mencapai dan memiliki pengetahuan tentang hakikat kenyataan.

Anak buah dan para pengawal raja segera menyebar ke seluruh penjuru kota dan desa. Tidak beberapa lama, berdasar informasi yang berkembang di masyarakat, mereka menemukan seorang arif yang secara bulat dikatakan oleh masyarakat telah memiliki pengetahuan tentang hakikat kenyataan dan kebenarannya.

Orang ini dikenal dengan nama Omar El Alawi Tarragona, seorang sufi besar dari wilayah Tarragona. Omar, oleh para pengawal raja kemudian ditahan dan dihadapkan kepada Raja Rudariq.

“Aku telah memutuskan dan menitahkan bahwa kamu harus mengatakan dan menyerahkan “kebenaran” kepadaku dalam sebuah bahasa yang bisa aku pahami. Jika kamu gagal dan tidak sanggup mengatakannya kepadaku, maka nyawamu akan menjadi gantinya,” kata raja Rudariq kepada Omar dengan nada mengancam.

“Apakah Raja sering melihat sebuah pengadilan. Ya pengadilan di mana pun tempatnya. Seperti umumnya terjadi di pengadilan jika seorang yang ditahan mengatakan tentang sebuah kebenaran dan hingga pengadilan berakhir bila pernyataannya tidak mendapat sanggahan yang membuatnya dinyatakan berbohong, bukankah ia akan dibebaskan?” tanya Omar.

“Ya benar. Memang seperti itu,” timpal raja.

“Jika memang demikian, apakah raja bersedia jika saya meminta didatangkan tiga saksi yang akan mendengar percakapan antara saya dan paduka? Jika permintaan saya dipenuhi, bukan hanya satu kebenaran akan saya berikan kepada paduka, melainkan saya akan berikan tiga kebenaran kepada paduka,” kata Omar.

“Apakah kamu sudah berpikir matang-matang,” kata Raja. “Jika kau mengatakan kebenaran, kami harus puas dengan seluruh pernyataanmu. Kamu harus menyertakan bukti-bukti kebenaran seperti yang akan kamu katakan, bahwa kebenaran yang kamu katakan adalah memang kebenaran yang berdasar kenyataan.”

“Untuk Raja seperti Anda,” kata Omar, “saya akan katakan bukan hanya satu kebenaran, melainkan tiga kebenaran. Dan saya yakin, bahwa kebenaran yang saya katakan memiliki bukti yang tidak mungkin disangkal oleh siapa saja. Dan oleh karenanya pasti benar adanya.”

“Awas Jika kamu berbohong,” ancam raja, “Nyawamu sungguh benar-benar akan menjadi taruhannya.”

“Terserah Paduka saja,” timpal Omar pasrah.

“Baiklah kalau seperti itu. Aku akan segera memanggil orang-orang sebagai saksi bagi percakapan kita,” tambah sang raja.

Tak begitu lama, para pengawal raja telah membawa tiga orang yang akan dijadikan sebagai saksi percakapan Raja Rudariq dan Omar Tarragona. Bahkan tidak hanya itu, pengawal juga mengundang beberapa penasehat kerajaan mendatangi aula kerajaan. Setelah menceritakan duduk perkaranya pada tiga saksi yang juga didengarkan para penasehat raja, Raja Rudariq akhirnya menitahkan perintahnya,

“Hai Omar, sufi besar dari daerah Tarragona, seseorang yang memiliki dan mengetahui rahasia kebenaran hakikat kenyataan, sekarang katakanlah tentang tiga kebenaran yang sudah kau janjikan!” seru raja kepada Omar.

“Kebenaran pertama,” kata Omar, “Aku adalah seorang sufi bernama Omar dari Tarragona. Kebenaran kedua adalah Paduka telah menyetujui bahwa jika perkataaan yang saya katakan adalah benar maka Paduka berjanji akan melepaskan saya. Kebenaran ketiga adalah Anda sangat ingin mengetahui “kebenaran” hakikat kenyataan seperti yang bisa Anda cerna dan pahami dari saya. Itu saja.”

Sang Raja melongo melihat Omar.

“Apakah perkataan saya benar?” Tanya Omar.

Tak ada jawaban atas pertanyaan Omar. Omar pun bergegas meninggalkan ruangan.

***

Dinukil, disadur, dan dikembangkan dari Idries Shah, “Tale of Dervish”, E.P Dutton & Co., New York, 1969.

  • 24
    Shares


Tirto.ID
Loading...

No more articles