“Sekali lagi kami mohon dengan sangat agar Syekh berkenan hadir di Jakarta, turut serta dalam majelis doa 40 hari berturut-turut yang akan disiarkan tujuh televisi nasional. Supaya dolar segera merosot sampai ke bawah ceban, Syekh.” Begitu kalimat penutup dari perwakilan panitia gelaran Doa Bersama 270 Rakyat Indonesia, yang sepagi itu sudah datang ke kediaman Syekh Abu Hayyun di Jogja.

Syekh terdiam sesaat. Sambil refleks memelintir-melintir jenggotnya, dia menjawab sehati-hati mungkin. “Hmm… begini ya, Mas. Saya setuju, yang namanya berdoa itu harus. Allah juga memerintahkan agar kita berdoa. Tapi kerangka pemahamannya mbok kita benahi dulu.”

“Dibenahi gimana, Syekh?”

Syekh menyeruput kopi kentalnya yang berkomposisi 75% arabika dan 25% robusta itu. Setelah menghela napas, Syekh kemudian menyambung lagi. “Beberapa tahun terakhir, sikap-sikap beragama kita kok sepertinya semakin nganu ya Mas….”

“Nganu gimana, Syekh?”

“Nggg… ini jangan tersinggung lho, ya. Begini. Misalnya, tren sedekah brutal merebak di mana-mana. Muncul ajaran agar kita tidak tanggung-tanggung dalam bersedekah. Pokoknya rekening dikuras habis sampai ke kerak-keraknya, untuk disedekahkan. Tujuannya apa? Agar Allah mengembalikan uang yang kita sedekahkan itu puluhan kali lipat. Jadi, kita bersedekah dengan orientasi profit. Kalau begini…”

“Lho.. apa sedekah itu jelek, Syekh?” Wajah si anak muda mengernyit protes.

“Sedekah jelas baik. Sedekah yang buanyak juga sangat baik. Itu salah satu amalan utama dalam Islam. Tapi ingat, Kanjeng Nabi pun melarang ketika Abu Bakar yang bermaksud menyedekahkan keseluruhan hartanya. Nabi memintanya agar tetap menyisakan kecukupan bagi keluarga yang ditanggung. Itu pertama. Kedua, memang tradisi sedekah sekarang jadi massif. Itu fakta menggembirakan. Persoalannya, banyak orang justru melupakan nilai dan esensi sedekah. Amal saleh yang semestinya dijalankan untuk melayani orang lain, berubah jadi sekadar alat untuk melayani diri sendiri.”

“Mmm..  maksudnya, Syekh?”

“Apa yang diajarkan di forum-forum itu saat mengajak bersedekah? Keikhlasan berbagi? Menolong dan melayani sesama? Iya, itu semua tetap disebut. Tapi titik berat ajaran sedekah brutal dan semacamnya adalah harapan pengembalian modal yang berlipat. Maka nggak heran, yang paling sering disebarluaskan adalah cerita-cerita kesuksesan bisnis yang berbekal sedekah brutal.”

“Tapi kan memang Allah berjanji membalas kebaikan kita berlipat-lipat to Syekh?”

“Betul, betul. Saya juga tidak sedang membantah itu kok, Mas. Saya cuma mempertanyakan perkara prioritas niat. Ibarat menanam padi, kita pasti dapat bonus rumput. Baik padi maupun rumput semua-muanya jadi hak kita. Tapi yang sedang tren di zaman ini, kita ramai-ramai menanam padi sambil berharap panen rumput. Padinya sendiri malah nanti-nanti. Jadi, problem di sini adalah problem prioritas.”

Si panitia tercenung. Syekh Abu Hayun meraih gelas kopinya. Tersadar dari lamunannya, si panitia segera mengangkat gelas kopinya sendiri. Mak-sruput, kedua lelaki beda generasi itu menghirup kopi mereka beberapa kali.

Dunia tahu, ketika kopi sudah diseruput, maka semesta akan bersiap menerima perubahan.

***

“Tentang doa itu ya, Mas,” Syekh Abu Hayyun melanjutkan. “Agama kita mengajarkan keberimbangan. Ada kebaikan dunia, ada kebaikan akhirat. Ada hablumminallah, ada hablumminannas. Ada ajaran peningkatan kualitas ruh dan akal, tapi ada juga tuntunan menjaga mutu jasad jasmaniah. Nah, terkait doa, ada perintah tentang berdoa, tapi juga ada penegasan tentang ikhtiar. Usaha.”

“Waini…” Si panitia membetulkan letak duduknya.

“Allah memang berjanji mengabulkan doa makhluk-Nya. Tapi dari sononya Dia juga sudah menetapkan qadar.Sunnatullah. Alias ‘ukuran-ukuran’. Misalnya: Belajar bikin pintar. Olahraga bikin sehat. Makan bikin kenyang dan bertenaga. Bekerja keras bikin sejahtera. Nah, jika manusia cuek sama aspek sunnatullah tersebut, kita bukan cuma akan terpuruk dalam fatalisme dan kepasifan brutal dalam menjalani hidup, lebih dari itu, ilmu pengetahuan akan macet, mustahil berkembang.”

“Waduh. Segitunya, Syekh?”

“Saya ambil contoh. Saya pernah agak bete dengan seorang teman. Gara-garanya dia menyalahkan seorang juragan yang mobilnya ngguling di sebuah tanjakan. Padahal sudah diwanti-wanti sebelumnya kalau mobil itu remnya sedang bermasalah. ‘Wah, ya wajar lah dia ngguling. Dia orangnya pelit sama buruh-buruhnya,’ kata teman saya. Saya njenggelek. Saya bilang, mau dia kasih gaji lima kali lipat ke karyawan, kalau mobil yang remnya blong masih dia setir ya tetep saja bakalan ngglundung. Kalau pola pikirnya macam teman saya itu, ilmu otomotif nggak perlu dipelajari.”

“Hahaha! Syekh kok tega amat komennya….”

“Harap diingat, bagaimana Nabi SAW memberikan solusi untuk seorang lelaki yang dihimpit kekurangan. Nabi meminta para sahabat untuk membeli barang-barang si lelaki itu yang tak seberapa. Hasil penjualannya, separuh untuk beli makanan bagi keluarga si lelaki, dan sisanya buat beli kapak. Ya, Nabi memerintahkan agar orang itu pegang kapak, mencari kayu bakar, menjualnya ke pasar! Nabi memerintahkannya untuk bekerja! Kerja, kerja, kerja!”

“Wah kayak pernah dengar slogan itu, Syekh?”

“Hus! Nggak usah dibahas. Kembali lagi ke topik. Islam meletakkan ‘ikhtiar’ pada posisi mulia. Islam meletakkan ‘ilmu pengetahuan’ pada maqam yang tak kalah mulianya. Maka, kita mengenal zaman keemasan peradaban Islam, kejayaan Daulah Abbasiyah, yang perpustakaan Baitul Hikmah-nya berisi jutaan buku itu. Itu ya karena umat Islam zaman itu belajar gigih, bekerja keras, dan menjunjung tinggi ilmu pengetahuan! Bukan karena melulu menghabiskan waktu dengan doa, zikir, dan sedekah tok!”

“Waduh! Syekh kok malah menghina doa, zikir, dan sedekah??”

“Heh, heh, heh! Sampeyan ini sudah ngopi kok masih saja gagalpaham? Jangan salah, saya memuliakan doa, dzikir, dan sedekah. Tapi ya dalam porsi kemuliaannya masing-masing. Bukan dipakai sebagai sebagai satu-satunya cara menghadapi segala perkara di muka bumi. Mengatasi persoalan ekonomi global yang kompleks—yang perlu dibedah secara rasional dengan ilmu pengetahuan—semata dengan doa, bisa-bisa justru jadi penistaan terhadap ayat-ayat dan hukum Allah, Mas! Tapi….” Kalimat Syekh Abu Hayyun tiba-tiba terhenti.

“Tapi apa, Syekh?”

“Tapi ini buat sampeyan saja ya, Mas. Kalau orang-orang pada dengar, paling-paling saya langsung dibilang liberal lah, sekuler lah, antek Syiah lah, menghina ulama lah….”

Si panitia seketika terdiam. Di hadapannya, Syekh Abu Hayyun tampak menerawang jauh. Jauh sekali…

  • disqus_bee

    Makin lama kok mutu tulisan di mojok.co makin turun ya? Tulisan yg baru-baru makin banyak sesat pikir (logical fallacy). Entah itu sengaja atau sarkasme belaka, atau berburu rupiah dari klik? Semoga cuma perasaan saya saja. Dan semoga kembali lebih baik. Aamiin… ?

    • jingglang

      Anda tidak mengatakan ada logical fallacy di artikel ini. Tapi saya menangkap pesan implisit bahwa Anda menganggap ada logical fallacy di artikel ini. Jika apa yang saya tangkap itu benar, tolong tunjukkan dong! Biar saya belajar berlogika.

    • HHHH

      Logical fallacynya dimana?? tunjukin dong.

    • chantiks

      sesat pikir atau anda yang tidak paham sarkasme?

    • PW

      Iya mas perasaan aja kalik..

  • Pagelaran doa 270 juta rakyat Indonesia, Parade Tauhid, dll….
    Apa ini sejenis bentuk eksploitasi agama…?? Mudah2an salah duga…
    Mungkin ngga lama lagi akan ada rekening pahala….

    Ntar kalo ada Parade Truk Beriman jangan lupa mas Iqbal ikutan yaah… 🙂

  • chantiks

    Leh uga #kekinian

  • Syamsoel Hendratno

    Karena Tuhan berkuasa atas segala sesuatu, Berdo’a , bershedekah, sholat itu juga termasuk ikhtiar. Klo seorang ustadz mengajak kita berdo’a klo menurut saya wajar, tapi klo ustadz koq membahas masalah kebijakan finansial, moneter yang bukan bidang beliau jelas kurang kerjaan.

    • PW

      Ngajak doa ya wajar. Tapi kalo bilang dengan berdoa pasti harga dolar akan turun, itu yg ga wajar..

  • Rikian Wirantoputri

    Ah bagus kok tulisan ini

  • Basudewa

    Hahaha…tulisan sesat & mnyesatkan. Yg gagal paham adl penulis tdk mampu membedakan peran pemimpin dan ulama. Justru ktk ulama mngajak brdoa kpd ummat itu lah ug benar,smntara kebijakan moneter diserahkan kpn yg brwenang (pemerintah/pemimpin). Aneh jk ulama mncampuri kebijakan moneter atau fiskal yg bkn porsinya. Sbnrnta itu bisa mjd sindiran sgt dalam agar pemerintah lbh keras dlm usaha…shg bukan hanya omdo spt slogan PKI dg kerja..kerja…tanpa doa. Jd yg bodoh dan tdk tahu kenodohannya siapa ya? Rupiah jeblok tp pmerintah adem ayem…bener2 dah. Mau spt di Zimbabwe?

    • ﺭﺯ ﻫﻥﺩﺭﻭﻥ

      lha gimana pemerintah/pemimpin yang berwenang bisa kerja mas, lha wong yang diajak berdoa 40 hari berturut-turut itu 270 juta orang je, kan itu semua penduduk Indonesia? trus yang jualan ikan dan tempe di pasar siapa? yang manen padi siapa? yang markirin pesawat siapa? semuanya kan lagi berdoa…

    • rozan

      Doa itu tidak berkorelasi atau berhubungan sama sekali dengan kebijakan moneter. Jika masalah ekonomi, itukan seharusnya dijawab dengan ilmu ekonomi, bukan dengan doa. Berdoa atau tidak, tidak berpengaruh pada kebijakan moneter. Sindiran-pun takkan berpengaruh pada kebijakan moneter. Itulah kenapa fatalisme brutal kalo di yakini akan berakibat kehancuran ekonomi malahan. Kalo kita orang yang optimis, niscaya kita akan memilih berwirausaha, untuk meningkatkan perputaran uang sehingga bisa meningkatkan perekonomian. Doa itu dibutuhkan, ketika kita sudah berusaha dan kita boleh curhat kepada Tuhan Penguasa Jagat Raya.

  • de51

    kalau menurut saya..
    penulisnya yg gagal paham sama gayanya ustad Yusuf Mansur..
    kan emang udah gayanya begitu..
    terlalu berprasangka si penulis

    lagian salah redaksi jg yg dibilang Rasulullah melarang Abu Bakar u/ menginfaqkan seluruh hartanya..
    waktu di Perang Tabuk justru Rasulullah yg mengumpulkan para sahabat dan menghimbau u/ berinfaq mengingat sulitnya perang pada saat itu..

    syukurnya penulisnya ngga hidup di zaman itu..
    bisa2 nanti para sahabat yg sedang berfastabiqul khoirot itu dibilang riya dan ngga ikhlas karena mengharapkan imbalan syurga

  • Fransiskus Tunggul Manurung

    cukup rasional tulisan ini untuk pria lemah iman seperti saya hahaha

  • smurfin

    mari berdagang dgn bungkusan agama….cepat kaya cuk

  • slamet gundono mc quin

    agama seharga tempe menjes

  • Situasi di saat sekarang mirip sekali dengan cerpennya A. A. Navis tahun 1955, “Robohnya Surau Kami”. Saya sering menyebut umat Islam terjebak delusional. Nih, teknologi internet tempat kalian berdebat, lahir bukan dari doa-doa kosong, tapi usaha terus menerus. Gak usah bawa ayat, bawa hadist, yg hanya dihapal bukan diamalkan. Umat Islam semakin terbelakang bila seperti itu caranya.

    “Kalau ada, kenapa engkau biarkan dirimu melarat, hingga anak cucumu teraniaya semua. Sedang harta bendamu kaubiarkan orang lain mengambilnya untuk anak cucu mereka. Dan engkau lebih suka berkelahi antara kamu sendiri, saling menipu, saling memeras. Aku beri kau negeri yang kaya raya, tapi kau malas. Kau lebih suka beribadat saja, karena beribadat tidak mengeluarkan peluh, tidak membanting tulang. Sedang aku menyuruh engkau semuanya beramal kalau engkau miskin. Engkau kira aku ini suka pujian, mabuk disembah saja. Tidak. Kamu semua mesti masuk neraka. Hai, Malaikat, halaulah mereka ini kembali ke neraka. Letakkan di keraknya!” — Robohnya Surau Kami.

  • imam fauzi

    Menempatkan segala sesuatu tidak pada tempatnya = dholim

No more articles