Dulu kala, selama dua atau tiga tahun, saya seorang pencandu Twiter. Saya punya akun dengan follower terakhir cuma 1200. Tapi selain akun resmi itu, ada beberapa akun rahasia lain yang saya pegang. Tenang saja, bukan akun Jokowi atau Fahri Hamzah atau apa. Cuma akun-akun iseng, tapi cukup kriuk buat amunisi sepak kiri sepak kanan haha.

Dengan kehidupan saya yang berkutat antara ngetwit, kultwit, twitwar, dan kekhusyukan mantengi timeline, saya terkejut sendiri ketika pada sebuah malam yang penuh keagungan akhirnya saya memutuskan pensiun dari Twitter. Saya pun hijrah ke Facebook, sebuah hijrah yang kaffah.

Peristiwa sakral hijrahnya saya meninggalkan Twitter itu tentu dilandasi hidayah Tuhan. Dia Yang Maha Menguasai Dunia Nyata, Dunia Gaib, dan Dunia Cyber itu telah menunjukkan, betapa Twitter membawa mudarat bertumpuk-tumpuk. Nah, ini saya tuliskan sebagian kecil di antaranya.

Twitter memantik obrolan dangkal yang jauh lebih banyak dibanding Facebook!

Begini, Twips. Twitter berlanggam rock, sementara Facebook berlanggam keroncong. Sundari Sukotjo dan Mus Mulyadi jelas terasa lebih kontemplatif ketimbang para personil Deep Purple, misalnya.

Maka kita bisa melihat sendiri, betapa obrolan di Twitter adalah obrolan yang terlalu rancak, saling bersahut, dengan ritme yang sangat cepat penuh dentuman. Irama semacam itu merampas kesempatan kita untuk berpikir matang sebelum mencuitkan sesuatu. Lebih-lebih ketika twitwar. Twitwar pun tumbuh menjadi semacam Cerdas Cermat P4 tapi dalam format tarung bebas ala UFC.

Bandingkan dengan Facebook. Di Facebook, sebuah perdebatan bisa berlangsung berhari-hari. Bukan karena berkepanjangan, tapi lebih karena para ‘panelis’ masih memungkinkan untuk pergi makan siang dulu, atau mandi dulu, atau ngerokok dulu, atau sembahyang dulu, sebelum menjawab lawan debatnya. Itu mustahil terjadi di twitwar. Pergi sebentar saja dari twitwar bisa-bisa langsung di-nomensyen: “Aduh, dia ngilang…”.

Memahami gagasan yang utuh lebih enak di Facebook

Twitter memberikan kesempatan yang jauh lebih terbatas ketimbang Facebook untuk merunut suatu gagasan. Sebuah runtutan ide di Twitter akan dengan sangat gampang tertimbun celetukan-celetukan lainnya. Akibatnya, sangat sering terjadi munculnya tanggapan alias reply yang sepotong-sepotong, atas pemahaman teks yang juga sepotong-sepotong. Kebiasaan inilah yang secara signifikan membentuk mental generasi alay dengan kebiasaan memotong-motong. Apanya yang dipotong? Nah, itu kau pikir sendiri lah.

Delusi imam-makmum

Twitter adalah penipu paling ulung, karena dia menenggelamkan kita dalam kubangan delusi, dalam comberan halusinasi. Seorang twip akan mengkhayalkan dirinya setara imam sekte keagamaan, hanya karena dia punya follower 20.000, misalnya. Seolah ke-20 ribu akun itu adalah manusia semua, dan seluruhnya jemaat taat belaka.

Padahal yang terjadi sesungguhnya, ada sekian ribu akun yang mem-follow cuma untuk mencari sisi bolong si ‘imam’. Cuma biar bisa terus stand by, agar selalu siap mem-buli dia. Sekian ribu follower yang lain mem-follow cuma karena politik transaksional. Lihat saja pesan klise ini: “Folbek dong!”. Ya, si follower baru tersebut ngeklik fitur follow cuma karena mau cari follower juga! Lalu setelah terjadi saling follow, sebenarnya siapakah yang jadi imam, siapakah yang jadi makmum? Tak jelas. Tapi masing-masing terus mengimajinasikan diri tengah diikuti barisan prajurit yang setia dan penuh jiwa corsa.

Bandingkan dengan di Facebook. Follower yang asli bisa dipantau dengan simpel lewat jumlah klik jempol pada postingan-postingan. Kalau nggak mau jadi jemaat, ya nggak perlu nge-like. Simpel. Lah, fitur follow di Facebook bagaimana? Ah, itu kan fitur iseng aja. Waktu bikin itu Zuckerberg lagi PMS.

Menjunjung tinggi bahasa persatuan

Twitter adalah musuh besar guru pelajaran Bahasa Indonesia. Bayangkan saja, betapa tak berguna lelah-letih Bu Guru yang mengajarkan penulisan kata yang baik dan benar, ketika dengan alibi keterbatasan karakter lantas kalian dengan semena-mena ngetik “Ksini aj, q lg sndri nie.”

Iya sih, itu sisa-sisa peninggalan tradisi SMS purba. Tapi sejak munculnya hape qwerty, cuma Twitter yang masih secara konservatif menetapkan batasan jumlah karakter. Jadi.. masih ngerasa gahul jadi pasukan Twitter? Plis deeeh..

Tambahan lagi, Twitter pun memporak-porandakan hasil keterampilan mengarang yang telah diajarkan guru Bahasa Indonesia sejak SD hingga SMA. Sebabnya jelas, yaitu karena kalian lebih suka “mengarang” dengan urutan angka-angka di kala kultwit, alih-alih dengan paragraf! Mungkin para selebtwit sudah merasa menulis dengan baik, cuma dengan menyajikan kultwit sehari dua kali. Padahal silakan periksa, mana ada di antara mereka yang masih mengingat teknik organisasi gagasan berupa pemilahan paragraf, kohesi antara satu paragraf dengan paragraf yang lain? Tidak, tidak pernah ada paragraf di Twitter. Menangislah, Bu Guru…

***

Demikianlah. Dengan memahami empat poin saja di antara puluhan kesesatan Twitter, kita dapat langsung menyadari bahwa satu-satunya kelebihan Twitter hanyalah karena suksesnya gelar kopdar paling spektakuler abad ini, antara @redinparis dan @panca666 di Istora Senayan dua pekan lalu.

Maka tinggalkanlah Twitter sekarang juga, hai orang-orang yang menginginkan jalan kebenaran.

  • Saut Situmorang

    Saya tidak setuju dengan klaim bahwa “Twitter berlanggam rock, sementara Facebook berlanggam keroncong. Sundari Sukotjo dan Mus Mulyadi jelas terasa lebih kontemplatif ketimbang para personil Deep Purple, misalnya.”. Justru sebaliknya lah yang benar. Twitter itu berlanggam Keroncong makanya gak kontemplatif. Apanya yang kontemplatif dari musik Keroncong yang Mooi Indie itu!

    Tapi cobak dengar lagu “Soldier of Fortune” dari Deep Purple (bacanya “diip pepel” ya, BUKAN “diip parpel”!) dan kontemplasi liriknya:

    Soldier of Fortune (Deep Purple)

    I have often told you stories
    About the way
    I lived the life of a drifter
    Waiting for the day
    When I’d take your hand and sing you songs
    Then maybe you would say
    Come lay with me and love me
    And I would surely stay

    But I feel I’m growing older
    And the songs that I have sung
    Echo in the distance
    Like the sound
    Of a windmill going round
    Guess I’ll always be
    A soldier of fortune.

    Many times I’ve been a traveler
    I looked for something new
    In days of old when nights were cold
    I wandered without you
    But those days I thought my eyes
    Had seen you standing near
    Though blindness is confusing
    It shows that you’re not here.

    Now I feel I’m going older
    And the songs that I have sung
    Echo in the distance
    Like the sound
    Of a windmill going round
    Guess I’ll always be
    A soldier of fortune

    Yes, I can hear the sound
    Of a windmill going round
    I guess I’ll always be
    A soldier of fortune.

    I guess I’ll always be
    A soldier of fortune.

  • Saut Situmorang

    Apanya yang kontempaltif dari lagu ini?! >>> https://www.youtube.com/watch?v=tRk3EQSlpbQ

    • mas aik

      Setelah saya tonton sampai tamat, saya pikir dan saya rasa, dari tautan tembang Mus Mulyadi di atas, tidak didominasi oleh irama khas keroncong dimana suara “cak” dan “cuk” yang bersautan ‘njondil-njondil’ biasa terdengar beriringan dengan gesekan biola.
      Nyaris seperti irama pop menurut saya untuk tautan di atas.

      Mungkin yang dimaksud keroncong itu yang seperti ini kah? Biasanya ada embel-embel Lgm. atau Kr. di depan judul lagu.

  • Saut Situmorang

    Cobak bandingin dengan Deep Purple ini, baik musik maupun liriknya! https://www.youtube.com/watch?v=sJ5quMAjfs0

  • TheFJansen

    twitter hape senter, facebook hape layar lebar

  • Gugun Ekalaya

    Ngawur wae mbandingke Mus Mulyadi ama Deep Purple. Asal kau tahu, Deep Purple lah yang memberi hidayah cengkok gitarnya ke Bang Haji Rhoma Irama. Dan kita tahu Bang Rhoma tingkat keimanan melodisnya jauh di atas Saiful Jamil sekalipun bersatu dengan Nassar KDI. Tanyalah kawan Mahfud sang Bollywoodist itu.

  • avivalyla

    sejak dulu sy heran, apa sih enaknya nulis dibatasi 140 karakter ?
    hanya masohis yg bisa menikmatinya…

    • IOKTRGTMPL

      kalok maksud bisa tersampaikan dengan 140 karakter kenapa ndak? kayak yang sampeyan lakuin ini. saya hitung cuma butuh 104 karakter dan saya langsung paham maksudnya. sampeyan punya bakat jd masohis keknya 🙂

  • iuane

    Cuma buat akun aja…password nya dah lupa…mbuh…hahaha fb lebih pas buatku..mungkin lain buat kalian…hehehe

  • Saya Pake Facebook,.. Karena Di Twitter Seperti Sendirian Ngax Ada Teman ha ha 😀

  • Dani Dant

    tapi kak, ditwitter saya menemukan pujaan hati hahaha

  • Dwi Mulyaningsih

    Jiakakakaaaaa manut anjuran Syekh Abu Hayun ae ben padang dalané jembar bathuke

  • Berdiskusi memang tepat jika dilakukan di Facebook. Kita tidak perlu khawatir ketinggalan meski berhari-hari kita tidak mengikutinya. Sedang Twitter, 3 jam kita tinggalkan? Maka diskusi sudah terlewat jauhhhh. Apalagi banyak pengguna yg belum paham betul beda reply dan re-twitt.

  • bukan musik bukan seni rupa

    makasih ga, info yang membuat saya kembali dari jalan sesat.

  • Pingback: Mendukung Ibu Menyebarkan Hoax |()

  • Pingback: Orba Pantas dan Tidak Pantas Dirindukan |()

No more articles