Selamat pagi, Mas Tere Liye yang sehat sentausa dan terbebas dari asap rokok.

Kenalkan, saya pengagum Mas Tere. Saya sudah tuntas membaca salah satu novel Mas yang judulnya menghentak itu: Negeri Para Bedebah. Lebih dari itu, saya pun mengagumi postingan-postingan fanpage Mas Tere di Facebook. Rangkaian kata-kata yang nonstop muncul di sana, aduhai, penuh motivasi dahsyat yang membuat banyak orang selalu merasa super tiap kali bangun pagi.

Tapi sembari membaca kata-kata motivasi itu, beberapa kali ada yang ngganjel di ulu hati saya. Terutama terkait tulisan-tulisan Mas Tere tentang rokok.

Begini, Mas Tere yang paru-parunya bersih dan jantungnya kuat. Kemarin saya membaca salah satu tulisan Mas. Tulisan itu mengkritik para perokok yang bilang bahwa mereka merokok untuk membela petani tembakau dan buruh pabrik rokok.

Iya, saya setuju bahwa dalih pembelaan blablabla itu kadangkala agak lebay. Tapi melihat runtutan argumen Mas Tere sendiri, saya kok jadi bertanya-tanya, apa benar yang menuliskan postingan itu adalah juga penulis Negeri Para Bedebah?

Mas Tere mengatakan: “Keuntungan bersih PT HM Sampoerna tahun 2014 adalah 10,1 triliun rupiah. Kalau gaji kalian 10 juta/bulan, maka kalian butuh nyaris 1.000.000 bulan bekerja agar menyamai untung perusahaan rokok ini.”

Semua akan langsung paham, maksud Mas Tere adalah bahwa kekayaan pengusaha rokok jauuuuh di atas penghasilan para perokok. Juga bahwa semestinya orang miskin tidak memperkaya orang-orang yang sudah sangat kaya.

Memang, sekilas perbandingan itu masuk akal secara matematis. Tapi ya sekilas saja. Kalau sudah dua kilas, akan tampak jika sudut pandangnya agak memprihatinkan. Maksud saya, kalau memang mau konsisten memakai nalar perbandingan ala begituan, kenapa nggak sekalian Mas Tere pakai contoh pola-pola konsumsi yang lain?

Misalnya, sering sekali kita makan mie instan, kan? Nah, emangnya berapa bulan kita harus peras keringat, sampai duit kita bisa menyamai ketebalan dompet Anthony Salim? Hayo.

Kita juga terbiasa rutin mengonsumsi pulsa untuk menghidupi telepon genggam kita. Dih, itu mengerikan sekali ya, Mas? Coba, berapa ratus tahun kita harus banting tulang agar saldo tabungan kita bisa segemuk keuntungan Telkomsel dan Indosat?

Sekali lagi, logika matematikanya boleh sih. Tapi konteksnya wagu.

Itu bikin saya ingat bahwa memang ada aneka argumen dalam kampanye antirokok yang terlalu maksa. Misalnya, poin yang juga disebut Mas Tere Liye dalam tulisan yang sama: “biaya perawatan penyakit akibat rokok lebih besar daripada penerimaan cukai.”

Jargon yang satu itu pun sekilas tampak menggetarkan sanubari. Tapi pada ujungnya akan ketahuan kalau itu cuma fatwa yang berlandaskan iman antirokok semata, bukan didasarkan atas data dan fakta.

Barangkali Mas Tere bisa memeriksa ulang, lantas menemukan informasi bahwa cukai tembakau sepanjang tahun 2014 terkumpul lebih dari Rp 130 Triliun, sementara alokasi untuk Kementerian Kesehatan pada RAPBNP 2015 cuma Rp 51 Triliun. Wew, lalu dari mana ceritanya biaya perawatan kesehatan lebih besar ketimbang cukai?

Oke, kita mundur agak jauh ke tahun 2011. Waktu itu cukai tembakau menyumbang kas negara sebesar Rp 77 Triliun. Sementara, menurut Nota Keuangan APBNP 2011, anggaran untuk Kementerian Kesehatan kurang dari Rp 30 Triliun. Nah loh, nah loh, nah loh.

Kasus-kasus meleset nalar seperti dua di atas tadi sebenarnya cuma sebagian saja lho, Mas. Masih banyak yang lain-lain. Tapi saya sambung kapan-kapan saja, mungkin sambil kita buka puasa bersama.

Selebihnya, saya yang daif ini mau sumbang saran: jika Mas Tere Liye dan teman-teman yang lain ingin habis-habisan kampanye antirokok, mending pakai saja landasan teori kesehatan standar seperti biasanya. Bahwa rokok mengandung racun tikus lah, bahan bakar roket lah, dan semacamnya.

Cukup itu saja, saya kira. Nggak perlu neko-neko pakai perbandingan matematis yang rentan jadi bumerang. Nanti kalau ketemu orang-orang jeli kayak Cak Rusdi Mathari atau Arman Dhani, bisa-bisa Mas Tere malah jadi malu sendiri.

Dan di atas itu semua, saya yakin Mas Tere pun tidak akan rela melihat rakyat Indonesia punya kualitas paru-paru kelas wahid, tapi di saat yang sama kualitas nalarnya kelas nganu.

Kira-kira demikian ya, Mas. Semoga Mas Tere Liye tambah jaya di darat, laut, dan udara.

  • Dommy Makati

    Sebenarnya, merokok dan tak merokok itu pilihan. Terutama milih waktu dan tempat yang tepat untuk merokok.

  • Eko Bambang Trivisia

    keduanya sama-sama keras kepala :v

  • Ardhani Irfan

    Urun rembug. Saya kebetulan sedang belajar ekonomi kesehatan. Agak wagu juga kalau hanya menganggap bahwa anggaran kesehatan itu hanya melekat pada kementerian kesehatan mase. Anggaran kesehatan dari APBN dan APBD di Dinas Kesehatan Propinsi dan Kab/Kota itu lepas dari Kemenkes loh mas. Itung aja jumlah propinsi dan kab/kota di Indonesia ada berapa, belum lagi rumah sakit dengan status Badan Layanan Umum yang mengelola anggarannya sendiri. Jadi amat sangat wajar kalau data itu benar ( tapi yo mbuh wong saya juga belum pernah ngitung pastinya berapa). Bagi saya sih sah-sah saja merokok atau tidak merokok, dan debat pro dan anti rokok, yang penting asapnya gak kena saya. Merokok lah yang santun.

    • Hasan Hasan

      Itu betul sekali. Biaya perawatan kesehatan itu tidak melekat pada nilai APBN. Kalau begini lihatlahnya, hehehe, nanti akan ada yang bilang GDP indonesia itu adalah APBN. Nggak paham ekonomi, atau mungkin pas pelajaran ekonomi yg nulis ini nggak masuk.

    • iqbal aji daryono

      Wokesiaaap. Mas saya tanya beneran krn mmg gak paham. Kalo yg dr APBN, pengeluaran kesehatan selain dr Kemenkes tu di pos apa ya?

      Kalo yg dr APBD gak relevan utk dibandingkan sm pemasukan cukai ke negara. Pembandingnya mestinya PAD.

    • Ardhani Irfan

      Mase pernah nulis, “Pemerintah dan masyarakat Indonesia rata-rata harus mengeluarkan biaya sekitar 186 triliun per tahun untuk mengobati dan menangani berbagai penyakit yang ditimbulkan akibat dampak rokok. Jumlah tersebut tiga kali lipat dari pendapatan cukai rokok resmi sebesar Rp 62 triliun yang diperoleh pemerintah tiap tahunnya.” Nah kalo dari kutipan yang mase tulis sebelumnya kan jelas menyebutkan bahwa Pemerintah dan Masyarakat, jadi saya kira kurang pas kalau kemudian mase cuma membandingkan dengan anggaran kesehatan di Kemenkes. Setau saya, (ini setau saya lho, tidak mewakili aliran manapun) biaya sebesar itu komponennya bukan hanya biaya pengobatan akibat asap rokok. Contekan yang saya punya tahun 2010 biaya perawatan medis untuk penyakit akibat rokok kurang lebih 2,11 trilyun, kemudian kenapa angkanya jadi fantastis (kalau dikutipan mas, 186 trilyun), itu karena dihitung berdasar perkiraan kerugian ekonomi akibat kematian maupun kecacatan yang disebabkan penyakit akibat asap rokok. Karena asumsinya kebanyakan perokok itu tulang punggung ekonomi keluarga. Tapi saya yakin gak ada hitungan yang tepat persis, lha wong sensus penduduk versi BPS dengan jumlah penduduk di Dirjen Catatan Sipil aja ga pernah sama. Hitungan ini pas atau enggak ya masih debatable dan gak bakalan selesai. Debat yang seheroik sholat taraweh itu 11 atau 23 rokaat. suwun…

      • iqbal aji daryono

        Ini sumber angka fantastis itu tadi mas. Untuk penanganan, katanya.

        http://m.republika.co.id/berita/nasional/umum/11/08/23/lqdji0-rp-186-triliun-biaya-kesehatan-yang-dikeluarkan-masyarakat-garagara-rokok

        Justru pembandingan angka tsb yg saya kritik kan. Kalau mas ardhani menyebut jg ttg multiplier effect dr penyakit akibat rokok, mestinya pembandingnya bukan cm cukai. Tp jg multiplier efek dr ekonomi tembakau (itu sdh sy tulis di tulisan sy ttg cukai itu kan)

        Kenapa sy membandingkannya cm dg alokasi dana utk kemenkes? Ya karena dana kemenkes itu “pengeluaran negara”, sedangkan cukai itu “pemasukan negara”. Kalau pengeluaran masyarakat dilibatkan, mestinya pemasukan masy jg dilibatkan.

        Makanya kan sy tanya, adakah elemen pengeluaran lain DI APBN terkait risiko merokok ini selain utk Kemenkes (yg sbnrnya jg cm sedikit persen yg utk rokok)? Kalau ada, saya kepingin tau. Tp kalo gak ada, sy kira itungan syaa di tulisan saya ini sdh lumayan relevan :’)

  • Semleho

    punya kualitas paru-paru kelas wahid, tapi di saat yang sama kualitas nalarnya kelas nganu.
    beh moco seng terakhit iki sak naliko njomplang nyang ngarep awakku…

    • gatal ikut ngetik di mojok.co gara gara quote ini mas saya…ampe nangis saya mengulang 2 kali kalimat ini di depan istri saya karena terbahak bahak…(soale saya merokok )

      • iqbal aji daryono

        Meski gak merokok pun harusnya ttp memperjuangkan kesehatan nalar kok mas hahaha. Harusnya lhooo :p

  • Hasan Hasan

    Mas, biaya perawatan kesehatan itu bukan cuma APBN. Ah, mas satu ini pernah belajar ekonomi atau nggak sih?

    Kacau banget nih, jauh banget ke Australia, hal sekecil ini nggak ngerti. Nalar sih nalar mas, tapi pengetahuan dasar begini nggak ngerti ya sama dengkulnya dgn orang2 berdebat di warung.

    • hde226868

      haha, biar nyambung, gangguan kesehatan itu bukan cuma disebabkan oleh rokok, bisa jadi kerana stress danlainlain

    • iqbal aji daryono

      Oke mas biar dengkul saya tetap mulus, yuk gabung ke komen2an saya dg mas Ardhani di atas 😀

      Saya nanya beneran lho itu hehehe

  • Deshinta Putri Mulya

    “cukai tembakau sepanjang tahun 2014 terkumpul lebih dari Rp 130 Triliun, sementara alokasi untuk Kementerian Kesehatan pada RAPBNP 2015 cuma Rp 51 Triliun.”.. haha..aku susah mengcounter ini bal…walopun “biaya kesehatan yang sesungguhnya” pasti lebih besar dr anggaran pemerintah itu… jadi ada ide… oke deh.. yg perokok boleh ngrokok (asal jangan deket2..ups!) ..tapi cukainya buat nambahin anggaran kesehatan yaaaaaa

    • iqbal aji daryono

      Biaya kesehatan yg sesungguhnya ya dr masyarakat kan Des. Dan kalo itu mau diangkat, tentu gak paralel perbandinhannya kalo cuma sama pendapatan cukai. Sebab kalo cukai itu pendapatan utk negara. Kalo mau dibandingkan dg “pengeluaran masy” maka yg diangkat mestinya bukan cukai utk negara tp “penghasilan masy dr rokok” dan itu bueasar bgt.

      Kalo soal dana cukai buat kesehatan mah dr dulu jg udah jalaaaan. Itu mmg salah satu peruntukan dana cukai sesuai UU. Yg melanggar UU tu dana cukai utk kampanye antirokok. Itu banyak dilakukan 😀

      • Deshinta Putri Mulya

        Haha… kalimat terakhir..gak ada tanda “like” ya di mojok ? Well… sulit emang dua keyakinan berbeda untuk disatukan… :-p

        • iqbal aji daryono

          Walah mosok alumni SMP 5 mau ngelike pelanggaran Undang2. 😀

          Kalau soal “apakah rokok membunuh”, tampaknya itu mmg wilayah iman hahahaha.

          Tapi kalau soal logika matematika ttg jargon “cukai lbh kecil dr ongkos risiko rokok” sih bukan wilayah keyakinan des. Itu wilayah rasional yg gampang diverifikasi secara logic. Kecuali mmg yg dipakai emosi, ya gak bakal ketemu wong nalar dikesampingkan :’)

  • Anky Prasetya

    Saya kok ya setuju sama penulis. Kampanye anti rokok dengan argumentasi ekonomi emang absurd. Ya jelas lebih buanyak keuntungan daripada kerugiannya.

    Dengan argumentasi yang sama, seharusnya narkoba dilegalkan saja. Karena narkoba itu secara ekonomis untungnya gueddddhe lho. Persetan lah sama semua efek negatif.

  • Sentit

    Yang pada bilang mas Iqbal ndak ngerti ekonomi, kalian pakar ekonomi? Lalu sudah berbuat apa untuk negaramu (yang segala sesuatunya makin hari makin aduh) ini?
    Saya sangsi, jangankan berbuat untuk negara, bikin tulisan yang bisa mojok aja belum tentu mampu. Ah, kalian ini…

    • Hasan Hasan

      Mojok itu apa ya? Wakakakakk…. sekelas Kompas? Tempo? Aih, PD banget orang ini. Yg nulis di koran nasional saja selow, bro… Gw nyasar ke sini cuma gara2 twitter mojok suka banget numpang makai nama2 top di twitternya, biar ngikut top kayaknya.

      • Sentit

        oalah masnya…masnya bilang Mojok itu apa, tapi kok ya kasih atensi ke sini. Kliatannya masnya pinter tapi kok… 🙁

        • Hasan Hasan

          Wakakak… mau tahu kenapa saya mampir di sini? Karena kalian nyatut nama2 terkenal di judul, lantas di tweet berkali2, kemana2. Nggak PD, nggak punya massa, jadilah nyatut kan? Wuakakakak…

      • Semleho

        lek ngono kowe ndang minggato ko kene san… kene pancen panggonane wong rak terkenal, panggenane wong tukang mengkritisi tulisan” lebay koyo kowe kuwi. pokok mojok.co kie ndak penting lah lek mungsuh raimu kuwi.

      • iqbal aji daryono

        Pembacanya lebih banyak mojok drpd kompas mas. Silakan cek data :’)

  • Raizel

    Yha mz, terlepas dari itu semua, maksud dari kampanye antirokok itu baik kok. Supaya para perokok berhenti membunuh dirinya perlahan-lahan. Dan orang-orang di sekitarnya. Dan pahlawan – pahlawan di dompet mereka. Diperhatikan kok ngeyel…

    • iqbal aji daryono

      Maksudnya baik. Oke. Karena maksudnya baik, berarti boleh pakai cara2 ngawur bin pembodohan?

      • Arwena Aragorn

        Logika lo juga sempit, emang semua warga negara Indonesia dah di tanggung asuransi? Yg biaya pribadi gk dhitung mas kayak crisye yg kemo dsingapura, membuang devisa kan? Trus hilangnya hari kerja Ac sakit

  • Lib Flow

    Intinya adalah…?

  • Lanjar Cahyo Pambudi

    Saya setuju kampanye anti rokok, tapi tidak setuju jika menggunakan argumen lemah seperti yang dilakukan tere liye.
    Alasan saya untuk setuju anti rokok adalah bukan karena perkara ekonomi (karena saya bukan orang berlatarbelakang pendidikan ekonomi, biarkan yg ahlinya saja yg berbicara masalah ini), tetapi karena perkara kesehatan.

    Saya menggunakan data penelitian yg berjudul “Mortality in relation to smoking: 50 years’ observations on male British doctors” link : http://www.bmj.com/content/328/7455/1519. Disitu menunjukan bahwa :
    1. Pada dokter yang lahir antara 1851-1899. Hanya 68% perokok yang bisa survive hidup hingga usia 70, sedangkan nonperokok yang bisa survive hidup hingga usia 70 mencapai 82%
    2. Pada dokter yang lahir antara 1900-1930. Ada 26% nonperokok yang bisa tembus hidup sampe umur 90 tahun, sedangkan perokok, HANYA 5%!
    3. Setelah usia 70 tahun, terjadi perbedaan yang cukup signifikan, yaitu harapan hidup nonperokok 10 tahun lebih tinggi daripada perokok.

    Oke silahkan jika urusan hidup mati adalah hak individu, tapi saya yakin setiap orang pengen panjang usia harapan hidupnya, dan dari data diatas merokok dapat menurunkan usia harapan hidup.

  • awwgie.wordpress.com

    Membandingkan merokok dengan makan mie. Ya jelas gak apple to apple.
    Makan mie tentu saja mengenyangkan. Kalau merokok apakah mengenyangkan.
    Merokok merugikan kesehatan org lain. Apakah makan mie merugikan kesehatan org lain.
    Merokok tentu saja sebagai pemborosan. Apalagi para perokok kebanyakannya adalah masyarakat ekonomi menengah ke bawah.

    • Nikolas Pradana

      Ra mutu ra nyimak….yo seperti sampean ini yg dimaksud “nalarnya kelas nganu” dibaca lagi tulisannya jgn hanya sekilas dua kilas 😉

  • muhammad anis

    gue suka nalarnya, mas Iqbal. sebenernya kan mas Iqbal ini juga ga melarang para aktifis untuk gembar gembor kampanye anti-rokok, beliau cuma mencoba menggunakan nalar yang lebih apik. secara subjektif sih gue liat tulisan ini fine fine aja, malah bagus. (lagi-lagi menurut gue) alasan Iqbal kritis soal rokok ini karena banyaknya nalar kerdil yang berkeliaran dengan membawa argumen yang ga kalah kerdil dan framing ngaco, bukan berarti mas Iqbal dibayar oleh perusahaan rokok untuk ini.

  • mang toyib

    Sebenernya para perokok adalah orang yang goblog, ndableg dan bego(g), karena udah tau dibungkus rokok ada peringatan akan bahaya rokok, tapi tetep aja dilakukan.

    • pasifis

      mungkin bs diusulkan bungkus gula dikasih peringtan mengakibatkan diabetes. knalpot kendaraan bermotor menyebabkan kematian, biar yg bego,goblog,ndableg gk cuma yg merokok. dn dmn mn dikash peringtan bhaya.. biar lengkap.

  • Irvan Max Peters Rizkianto

    Penulisnya sudah ‘rusak’

  • Rex

    Baca ini dulu aja masnya penulis. (Login dulu tapi) http://reference.medscape.com/features/slideshow/e-cigarettes?src=wnl_edit_tpal&uac=130106HN#page=1

    Secara ilmiah, menggunakan metode ilmiah serupa yang mengatakan bahwa bumi bulat, bumi dan planet mengelilingi matahari, adanya komet halley, gravitasi kebawah, penemuan lampu pijar, maka ditemukan fakta bahwa merokok merusak badan. Versi WHO dan saintis tentu saja.

    Jadi boleh saja kan menganggap bumi itu datar, matahari mengelilingi bumi, berlawanan dengan ilmiah, tapi ya hanya sebatas boleh itu. Bukan berarti boleh lalu itu benar. Sehebat apapun argumentasi, ya rokok tetep bahaya. Demikian.

    • Arwena Aragorn

      Setuju mas… Analisa anda hebat sekali

  • Fajr

    kampanye anti rokok itu baik.. tapi bener juga sih, kalo kampanye nya pake data-data berupa angka, kudu jelas data dan perhitungannya bagaimana (kalo bisa sejelas-jelasnya), jadinya gak melebar kemana-mana, karena pada intinya kan mengkampanyekan anti merokok (atau stop merokok, atau jangan merokok, atau tidak merokok).. trus kasih solusi juga kalo nantinya kampenye anti rokok itu sukses mem-PHK kan para petani tembakau, buruh linting rokok dan rentetan pekerja yang berada dalam lingkarang bisnis rokok.. biar mereka punya mata pencaharian alternatif
    jadi kampanye anti-rokok sukses “menyehatkan” masyarakat, sukses pula “mensejahterakan” masyarakat..

    #colek me if i’m wrong

  • Arwena Aragorn

    Ni orang getol banget membela rokok ma perokok… Gw yg menyaksikan org2 yg menderita karena rokok emang gk punya simpati ma pabrik rokok…

  • Den Jamin

    Hahahaha nganu banget ini mas

  • Agung CW

    hiahahaha.. apik nek iki..
    dadi duwe jawaban nek dikroyok pegawe puskesmas sing teko ne jam 9

  • Fredy

    Bug dr statement matematis diatas ialah:
    – anggaran kesehatan tidak dirinci berapa yg digunakan untuk kesehatan paru2.
    – apakah anggaran tsb sudah mencover SEMUA biaya pengobatan paru2.
    – berapa rata2 biaya pengobatan penyakit paru2
    – berapa nilai ekonomi, total cashflow, terkait bisnis pengobatan paru2.

    #analis #programer

No more articles