Assalamu ‘alaikum, Ustadz Yusuf mansur. Mohon maaf mengganggu, di tengah kesibukan Ustadz yang tentu berjejal-jejal itu. Semoga Ustadz sehat, dan selalu dalam lindungan Allah SWT. Amin.

Ustadz Yusuf Mansur yang terhormat, hiruk pikuk beberapa hari terakhir mengingatkan saya akan sesuatu.

Dulu waktu masih bujangan, saya tinggal di kampung orangtua saya di Jogja. Kampung kami sangat islami. Masjid tak pernah sepi, pengajian dilangsungkan sering sekali. Pada hari-hari besar Islam, kami kompak bersama ketiga kampung tetangga. Tak terkecuali tiap kali takbiran keliling digelar menjelang Idul Fitri maupun Idul Adha.

Kami takbiran bukan macam orang-orang kota, Ustadz. Cukup berpawai jalan kaki membawa obor (atau kalau sekarang ya lampion), dengan sound system seadanya yang ditaruh di atas becak kayuh. Tapi semua tetap bersemangat mengikutinya, melantunkan takbir sekencang-kencangya. Terutama… ketika melintasi jalan di depan sebuah rumah, yang selalu menjadi rute wajib kami.

Rumah itu milik sebuah keluarga yang beragama lain. Meski keluarga itu orang-orang baik dan tak pernah mengganggu kami, namun bagi kami mereka seperti duri dalam daging, mengurangi karakter islami perkampungan kami.

Maka, tiap kali pawai takbiran melintasi depan rumahnya, kami berteriak lebih kencang, tetabuhan kami pukuli lebih keras, dan, ah, bahkan kadang kami berhenti sesaat sambil meneriakkan kalimat-kalimat Allah sekeras-kerasnya.

Saya tak tahu, apa yang sebenarnya ada di hati dan otak kami waktu itu. Mungkin kami berharap dia mendapatkan hidayah Allah dengan cara-cara itu. Mungkin kami sekadar ingin pamer kekuatan dengan sikap begitu. Entahlah.

Yang jelas, seiring waktu, saya menyesalinya. Saya sedih melihat diri saya sendiri. Saya kadang membayangkan, apa yang dirasakan oleh keluarga itu, oleh anak-anak mereka, tiap kali malam takbiran tiba. Sesedih apa mereka dengan kondisinya? Sesakit apa hati mereka? Seberapa tebal perasaan sebagai orang yang “berbeda” menancap di hati mereka?

Dan sekarang saya bertanya-tanya, seberapa islami perbuatan kami itu? Seberapakah derajat ittiba’ kami pada akhlak agung Rasulullah SAW tercinta? Benarkah yang kami lakukan itu adalah berdakwah, atau malah jangan-jangan…

***

Ustadz Yusuf Mansur yang terhormat,

Kasus yang kemarin hangat di media mungkin ada kemiripannya dengan cerita saya di atas. Iya, betul, tentang aturan berdoa di sekolah-sekolah itu. Setelah membaca informasi mulai twit-twit Ustadz, hingga tabayyun dari Ustadz dan klarifikasi dari Pak Menteri Pendidikan, saya menelusur ke banyak teman yang anaknya sekolah di SD negeri.

Ternyata benar. Meski tak semua, banyak sekolah menerapkan tata cara itu. Membuka pagi dengan bersama melantunkan Al-Fatihah dan doa “Robbi zidni..”, dan menutup jam belajar dengan Surah Al-‘Ashr. Indah sekali.

Indah, bagi yang muslim. Sebab, meski di tengah anak-anak itu ada murid non-muslim, berdoa ala Islam tetap dilakukan. Surah-surah dibaca keras, sementara di sudut-sudut beberapa anak terdiam.

Saya membayangkan, anak-anak yang masih polos itu pulang ke rumah, lalu bertanya ke orangtua mereka. “Ibu, kenapa semua teman di kelas berdoa dengan cara Islam? Padahal kan aku bukan Islam, Bu? Kenapa hanya mereka yang boleh berdoa dengan suara keras dan beramai-ramai? Kapan aku juga boleh lantang membaca doa? Bapak dan Ibu Guru menyuruh aku berdoa menurut cara kita. Tapi tetap saja aku cuma disuruh diam, berdoa dalam hati, setiap hari berada di tengah doa teman-teman yang keras sekali..”

Ah, Ustadz. Saya juga punya anak, umurnya masih 5 tahun. Entah bagaimana andai anak saya yang ada di posisi itu. Ia pasti akan merasa berbeda. Merasa dibatasi jarak tebal dengan teman-temannya. Merasa sepi. Dan, mereka masih anak-anak yang suci dan lugu. Lalu apa yang sebenarnya bisa kita harapkan dari semua itu?

Pasti banyak orang akan menjawab bahwa itu adalah pendidikan agama untuk anak-anak kita. Iya, saya setuju pendidikan agama penting untuk dikondisikan setiap waktu. Tapi bukankah masih ada pelajaran agama, masih ada musala di sekolah-sekolah, masih ada masjid-masjid dan TPA di kampung-kampung, masih ada ceramah-ceramah Islam di hampir semua stasiun televisi, masih ada orangtua mereka yang wajib memupuk akhlak islami anak-anak sejak dini? Apa iya yang demikian itu harus di sekolah umum, sekolah negeri, sembari mengorbankan perasaan anak-anak yang berbeda, yang sesungguhnya hati mereka juga selembut hati anak-anak kita?

“Ini adalah hak umat Islam sebagai mayoritas! Jangan sampai kita dijauhkan dari nilai-nilai Islam!” suara-suara terdengar. Masya Allah, sekeras itukah kita?

Kepala saya acapkali pening dengan pertanyaan-pertanyaan tentang itu, Ustadz. Kenapa kita di Indonesia selalu bersemangat memperjuangkan dan membela Islam hanya dari sisi eksistensial saja? Martabat, marwah, kehormatan, derajat kaum muslim yang harus lebih tinggi di depan orang-orang agama lain, pengakuan mereka akan keperkasaan kita, ruang-ruang publik yang harus kita dominasi, dan sebagainya dan sebagainya.

Alih-alih menjalankan agama dan “beragama”, rasanya kita kok jauh lebih giat dalam “memperjuangkan eksistensi agama”. Saya bingung, Ustadz…

Dalam kasus kemarin, ketika ada indikasi cara berdoa mau disesuaikan biar lebih mengakomodasi murid-murid dari agama lain (meski kemudian dibantah oleh Pak Menteri), Ustadz Yusuf sendiri berkomentar bahwa ide begituan tak lebih dari sebentuk “alergi dengan Islam dan simbol-simbol Islam.”

Lantas muncul juga Ibu Wirianingsih dari PKS yang menyebut ide Pak Anies Baswedan sebagai “test the water”. Uji coba akan respons umat Islam, untuk menelurkan kebijakan-kebijakan anti-Islam. Jika umat tenang-tenang saja, kebijakan anti-Islam diterapkan. Jika terjadi keributan, yang melontarkan isu ngeles seenaknya.

Astaghfirullah, benarkah seorang Anies Baswedan anti-Islam? Dan benarkah ide untuk lebih menjaga perasaan semua anak didik (iya, mereka masih anak-anak lho, Ustadz) adalah ide yang tidak islami? Benarkah ide untuk mengajari anak-anak kita agar bisa hidup berdampingan dan saling menjaga hati satu sama lain adalah ide yang tidak islami?

Jauh di atas itu, saya bingung, kenapa ya Ustadz, kok kita selalu menghidupi agama mulia ini dengan tumpukan-tumpukan rasa curiga dan syak-wasangka? Setiap saat yang kita lakukan adalah menegakkan kepala, menajamkan telinga, membuka mata lebar-lebar, waspada. Waspada. Awas, Kristenisasi di mana-mana. Awas, ada konspirasi untuk melemahkan umat Islam. Awas, kekuatan orang-orang kafir pelan-pelan sedang menjauhkan kita dari ajaran agama. Awas. Awas. Awas.

Ustadz Yusuf Mansur yang saya hormati, betulkah dengan cara penuh curiga itu kita sedang membela Islam? Apa bukan malah sebaliknya yang terjadi: orang semakin takut, ngeri, dan jauh dari rasa simpati kepada Islam?

Kadang saya berpikir, membela Islam semestinya tidak dilakukan dengan cara-cara macam itu. Jika kita seorang muslim, bersikap baik kepada sesama makhluk Allah, murah senyum, anti-kekerasan, cerdas dalam pikiran dan perbuatan, menjunjung tinggi moralitas dan ilmu pengetahuan, berkontribusi positif bagi lingkungan, berspiritproblem solver untuk banyak persoalan, lalu kita bangga dengan segala identitas keislaman kita,… maka sesungguhnya kita adalah pembela Islam. Orang akan terpesona melihat keislaman kita, dan dari situlah Islam menemukan pembelaannya yang paling nyata.

Tapi, ah, tentu akan banyak orang mengatakan saya teracuni pikiran liberal. Sekuler. Lalu muncul tuduhan bahwa saya diam-diam sedang berusaha melemahkan Islam. Begitu, bukan?

Aduh, lagi-lagi saya bingung, Ustadz. Tambah bingung. Sudikah Ustadz memberikan nasihat untuk saya?

  • oca

    Saya sering mengikuti tulisan2 mas iqbal di sini. Namun dr semuanya, tulisan ini yg paling…..hm.. mirip dng pengalaman saya ketika sd. Trimakasih sdh menuliskannya.

  • bas uedan

    ora ndongo yo ora pathe’en kok. biar sekalian yang liberal banget. kan hak asasi….pancen tokoh tokoh sing sekolahe duwur duwur, nang luwar negri ki pikirane kadang wis luwih pinter. suara orang pinter, suara tuhan.

  • Danang Yunanto

    saya tanya pada anda apa komentar anda tentang pelarangan jilbab di beberapa sekolah di bali? bagaimana dengan pembantaian umat islam di daerah yang minoritas muslimnya? buka hati buka telinga…. sebaiknya sebagai muslim kita kembali ke quran dan sunnah…. kita mencontoh rosulullah dalam toleransi dengan umat lain.

    • kurniawan

      Bukannya sudah clear masalah jilbab di Bali….pembantaian umat islam daerah minoritas maksudnya di Ambon? Atau dimana? Kalo di Ambon..popularitas berimbang…..dan yang perlu diingat kita hidup di negara bukan negara Islam yang didirikan oleh pahlawan2 yang beragama Islam taat…

    • zulfikar

      orang bijak selalu mengatakan : jika kamu tidak suka diberlakukan seperti itu, jangan berlakukan orang lain seperti itu..
      kalau kita membalas mereka apakah kita jafi lebih baik dari mereka?

    • yoga

      Aceh Indonesia bukan mas??? Itu juga menerapkan aturan sendiri, tapi kan tujuannya baik. Utk menjaga ketentraman umat yang lain supaya tdk terjadi hal2 yg tdk diinginkan. Sama dgn dibali pasti tujuannya seperti itu juga. Apakah mas danang pernah hidup dibali??? disana tempat ibadah berdampingan dan saling menyerukan kalimat2 doa dgn keras, tapi tetap saja hidup rukun. Apakah mas juga tau kalo dibeberapa t4 dibali, ibadah dilaksanakan disatu tempat yg sama dan diatur sedemikian rupa utk bisa melaksanakan ibadahnya masing2. Masyarakat bali juga tdk menolak kebudayaan asing yg dtg kebali, krn kita sama2 manusia dan harus saling menerima diciptakan dalam berbagai keragaman suku, ras, agama dan bangsa. Yakinlah bahwa kita itu sama2 punya hak untuk hidup dan punya kewajiban untuk saling membantu satu sama lain. Demi kembalinya kejayaan bangsa dan negara kita INDONESIA. Semoga semua bisa mengerti, krg lebihnya mhn maaf yg se besar2nya.

      • Ampon Yan

        Bos? anda orang Indonesia bukan sih? aceh itu daerah istimewa. mangkanya di beri kebebasan untuk menjalankan syariat islam.

        • Cinta

          Bukannya Aceh Bukan lagi daerah istimewa ? Daerah Istimewa sekarang hanya ada di Yogyakarta. Aceh bukannya jadi Provinsi Nangroe Aceh Darusalam ya ?????

          • kiyep

            Aceh Daerah Otonomi Khusus makanya perda tentang qanun dan adanya parpol lokal diperbolehkan disana…cuma referensi

        • welly

          kalo papua dan daerah lain yang mayoritas kristen ato bhuda seperti di pontiank berati boleh dong bikin otonomi daerah? kan aceh boleh. masa yang alen gak boleh.

          • Ismi Laila Wisudana

            Sila dibuat kalo menginginkan otonomi khusus lainnya, tp yg hra diingt utk bikin otonomi itu jg bukan perkara sepele. Hrs ada yg berani perang2an dulu, buat perjanjian MOU dulu, dll.

          • Bambang Tedja

            Di semua daerah skrg sdh otonomi om

      • Ismi Laila Wisudana

        Saya di Aceh di negeri yang bersyariat Islam, di negeri kami yg ada otonomi khususnya nggak ada tuh meributkan masyarakat non muslim utk nggak boleh ini nggak boleh itu. Silahkan berbuat apapun asal tdk mengganggu khdpn muslim saja. Ckp menghormati msg2, udh itu aja. Makanya agak heran kok yg di luar jd mcm2 timbul peristiwa dan pemberitaan.

        • oon joni

          Nggak meributkan, cuma yang non muslim nggak bolah bangun tempat ibadah, nggak boleh ada pemuka agama lain yg khotbah di tempat umum, semua perempuan harus dikarungin seluruh badan. Dan nyatanya Aceh nggak lebih maju, nggak lebih makmur

      • YESUS

        aceh = bali tujuannya baik??? korelasinya di mana GobloK??

    • Danang Yunanto

      saya sangat setuju toleransi antar umat beragama adalah hal yang sangat penting… saya justru menambahkan umat islam di indonesia atau dimanapun adalah umat yang paling toleransi,,khususnya di indonesia, walaupun mayoritas tetapi tetap bisa berdampingan dengan damai dengan agama lain, itu karena ajaran islam itu sendiri yang selalu mengajarkan toleransi. Saya justru prihatin dengan negara lain contohnya myanmar yang diskriminasi terhadap muslim rohingya,,, sehingga saya mengambil kesimpulan jika umat islam mayoritas maka akan tercipta kedamaian tetapi jika minoritas maka akan terjadi diskriminasi, dikejar kejar bahkan dibinuhi…..sudah banyak contohnya : thailand, myanmar,india bahkan palestina.

      jadi berintunglah anda umat minoritas yang hidup di negara mayoritas muslim, karena umat muslim akan selalu menghargai umat lain sebagai pengamalan ajaran agama kami.

      • reza

        Maaf mas, pengamalan agama saya mungkin belum bisa menyamai anda, tapi saya kurang setuju sama kesimpulan anda jika kedamaian tercipta di negara mayoritas muslim. Definisi kedamaian menurut anda bagaimana? Setahu saya, negara paling aman dan sedikit korupsi ada di eropa. Maaf saya lupa nama negaranya, tapi yang saya tahu pasti negara tsb didominasi oleh atheis. Iran dan Iraq negara yg didominasi muslim, apakah mereka skrg lagi berada di dalam kedamaian? Alangkah lebih indahnya jika kita hidup dalam bertoleransi. Kita tinggal di negara bukan islam dan tidak untuk berubah menjadi negara islam. Kita tinggal di negara demokrasi mas. Mohon nasihat dari pihak lain juga, agar bisa sama-sama mengoreksi diri

        • tari

          Iya kita berada di negara demokrasi tapi kita juga negara yang berdasarkan ketuhanan yang maha esa yang masih ada pengaruh agamanya. Ingat kita bukan negara sekuler dan tidak akan menjadi negara sekuler.

          • harismo

            bukan negara sekuler? yakin? beneran yakin? ga abis pikir..

        • Ardodo

          Yaelah gan, kan udah ada instruksi untuk berdoa menurut agama masing-masing. Kenapa masih diributin sih gan? kurang toleran ya gan?

      • welly

        yakin? 2009 saya natalan di palestina, dan di hadri oleh mahmud abas (satu ruangan loh dengan saya), tapi anehnya di indonesia bisa-bisanya ada larangan mengucapkan selamat natal. artinya kita bukan kalau

        anda menyimpulkan kalo di dominasi umat islan akan damain sebut coba kasi reverensi negara islam saat ini yang layak jadi panutan.

        pada dasarnya kita semua sama, kita ini manusia mo islam mo atheis, mo nasrani mo bhuda sama aja, klo yang hatinya busuk yah busuk, kalao hatinya bener yah bener. gak ada hubungan sama islam bro, buktinya negara islam ribut melulu, rakyat gak sejahtera dan berantakan, hukum tidak adil dan sebagainya. kalo anda gak percaya bilang kesaya saya kumpulin infonya ke mas

        • Delano Hernaz

          Hmm, maaf Mas Welly, tapi argumentasi Anda tentang “negara islam ribut melulu” terlalu digeneralisir dan terkesan agak2 stereotyping ala media2 barat yang islamophobia, Anda harus tahu negara – negara Islam di timteng itu ribut nya bukan karena umat islam disana membabi-buta menindas yang non-muslim tetapi karena “sistem demokrasi” yang disodorin sama USA dan sekutunya selepas invasi mereka di Afghanistan, Irak, Suriah, Mesir, Palestina, dll dimana pejabat2 baru yang mengisi pemerintahan bukan rahasia lagi direkomendasikan oleh CIA. Malah sejarah membuktikan betapa berdarah2nya sejarah negara yang mayoritasnya non-islam ambil contoh di Eropa, sampai ada fase sejarah mereka yang bernama “The Dark Age” (cek google). Sampai mereka akhirnya belajar dari peradaban Islam di Andalusia (Spanyol) akhirnya baru mereka bisa jadi bangsa yang “beradab” (Renaissance Age). Lihat contoh di South Africa, dimana minoritas yang non-muslim menindas orang2 Afrika berabad2 dengan Apartheid mereka. Anda bilang negara Islam tidak sejahtera? Lantas kalau begitu kenapa ya USA dan sekutunya sampai “jilat2” Raja Saudi Arabia, walau saya pribadi jujur saja sebagai muslim gak suka sama Raja Saudi Arabia yang “Islam KTP”gitu. Coba cari artikel di Google, dimana Saudi Arabia memegang kunci bagaimana dengan satu kebijakan aja dia rubah harga minyak atau dia stop kebijakan ekspor minyak ke USA dan sekutunya, bisa langsung collapse ekonomi se-global. Lihat di Myanmar, mayoritas Buddha, tapi biksu2nya ngebantai umat Islam. Lihat di India, mayoritas Hindu, tapi ngebantai umat Islam, bahkan dlm bulan desember ini, petinggi hindu di India mau rencanain konversi umat Islam ke Hindu secara besar2an dengan cara apapun termasuk kekerasan dan intimidasi. Ini baru secuil aja penggalan2 fakta tentang apa yang terjadi sebenarnya, so let’s balance the view, don’t start pointing blames to others and act like you know everything, be wise… .

          • Lukman Jahja

            Islamophobia memang masalah…namun kalau dibalas dengan phobia umat Islam terhadap agama yg berbeda?

        • Dudung

          Coba anda cari di google negara Brunei Darussalam. Negara Islam yang kaya, aman, damai dan makmur.

      • Yvonne

        Referensi anda minim sekali jika anda mengatakan minoritas beruntung tinggal di mayoritas muslim. khususnya dlm hal ini Indonesia (kejadian kecil sampai besar spt 98). Dan mengenai India, hahaha..justru umat hindu nya jauh lbh peaceful minded, muslim nya yg suka neror mah!
        Selain Turki, maka pernyataan anda itu salah besar dan saya gak tau news apa yg suka anda baca tapi mungkin news2 yg islami gitu jd pemberitaannya tdk di tengah2.
        Saya tidak mengatakan semua muslim demikian adanya karena saya pun memiliki banyak teman maupun saudara yg muslim, dan mereka adalah orang2 yg baik.
        Tetapi patut diakui kalau muslim sebagian besarnya sangat tidak mudah ikhlas dan suka menyalahkan sebaliknya.(slh satu contoh saya msh ingat bbrp thn lalu waktu kjadian pemboman di boston, komen yg datang dari muslim kebanyakannya adalah kalau tidak bilang “ya wajarlah amerika bunuh brp org islam..itu gak sebanding” atau “rasain” atau “itu mah konspirasi” bla bla bla..) segitu bencinya dgn amerika, tapi tolong ditanya langsung sama muslim yg tinggal di amerika,khususnya yg orang indonesia yaa jd kan lbh pas.. saya tinggal di amrik 9 tahun dan muslim disana mendapat perlakuan yg sama dari pemerintah, bahkan dapat subsidi ini itu, asuransi kesehatan gratis,sekolah gratis, malah org amrik nya yg kudu bayar ini itu dan byr pajaknya jg gede, secara di sana sistemnya ya gitu jd yg kaya subsidi yg susah an. Coba tanya yg udah pada punya anak disana, ke rs tiap bulan cek up sampe ngelahirin ada dibedain gak ama pasien2 yg lain, ngurus kewarganegaraan anaknya jg gampang.
        Miris rasanya mengetahui orang2 yg sudah merasakan situasi nya pun memilih diam dan tidak menjelaskan sementara teman2 muslim di Indonesia begitu dalamnya menanam kebencian.

        • nusantara jaya

          Kapan ya perang dunia ke III dimulai, agar orang-orang yang gelap mata, tidak bisa menerima sesuatu diluar keyakinannya dan yang selalu menimbulkan kekacauan agar lenyap dari muka bumi ini, hingga tercipta kedamaian hidup di dunia dan terbebas dari kemunafikan

          • Dudung

            Akan tiba saatnya, disebut “Armageddon” oleh orang barat.

      • geishaa

        yang phobia duluan siapa ya? eitssss…… ane mah kagak ah….

    • evernibo

      Dimana mas yg ngelarang umat muslim tidak boleh berjilbab?? Yang saya temui malah di bank bni dan ga cuman di bni bali.. Di kaltim pun begitu meng”harus”kan semua karyawannya tidak terkecuali untuk mengenakan jilbab dan baju koko. Apa ini yg dinamakan toleransi. Mungkin kalo disuruh berpakaian sopan dan pantas ya gpp. Ini beneran loh kejadian pada pacar saya dan temen2 dibali.

    • welly

      lol setau gua malah yang pake jilbab dibali malah dapet kompensasi untuk gak pake helem, kurang toleransi apa tuh.

    • insaneinside90

      Bukan cuma jilbab kali, kalung salib pun ga boleh di kelihatan. Padahal fungsi awal seragam sekolah itu kan agar semuanya serupa, tidak ada si kaya dan si miskin, tidak ada yg islam, kristen maupun satanist. Yg ada hanya pelajar. Itulah kenapa mengenakan atribut keagamaan di larang di Bali.

      Yg jd pertanyaan justru di Aceh (kampung halaman gw)
      Kenapa semua wanita harus berpakaian tertutup?

      • Doni Andreas

        Ah saya gak yakin anda orang aceh ,,sebangsat bangsatnya orang aceh pasti tau kalo menutup aurat itu wajib bagi perempuan,dan orang aceh gak mungkin nanya hal yg begini,,,jngan disamain sama kalung salib,,itu kan cuma simbol,,menutup aurat (jilbab) bukan atribut keagamaan,,,emng wajib,,,

        • insaneinside90

          sorry, kalo anda berpikir bahwa suku aceh itu monolith
          anda salah besar.

          I’m entitled and accountable to my own opinion.
          gw rasa ga adil memaksa wanita2 non muslim untuk memakai pakaian tertutup (without thier consent) cm karna wanita muslim harus berpakaian tertutup.
          In fact, gw jg ga setuju terhadap pemaksaan menggunkan jilbab thdp semua wanita muslim.

          Dimana makna berjilbab kalau cm didasari atas paksaan society?
          Gw masi ingat di awal 2000 ketika masih sedikit yg berjilbab. Waktu itu wanita yg berjilbab benar2 memiliki reputasi baik.
          Bandingkan sekarang? Reputasi mereka ga ada beda dgn yg ga berjilbab

          • Doni Andreas

            suku aceh asli itu 100% muslim loh,,kecuali suku pendatang yang tinggal di aceh tenggara dan sekitarnya itu ada yg non muslim tapi sangat sedikit jumlahnya,,

            gak pernah ada paksaan buat wanita non muslim memakai jilbab,,,pakaian pun begitu,,non muslim tidak harus memakai pakaian tertutup yang penting pakaian sopan,,coba deh main2 ke aceh liat apa ada etnis tionghoa yang pake jilbab?gak ada,,,

            makna berjilbab buat menutup aurat loh..emng perlu makna apalagi? hukum allah mana boleh ditawar…agama kami mewajibkan masa manusia malah mau membebaskan…ckckckck

          • insaneinside90

            Ya, saya seorang muslim, tp tidak di butakan oleh fanatisme sepeti orang aceh pada umumnya

            Saya punya yg namanya empati

            (sesuatu yg cukup jarang di miliki oleh umat muslim saat ini)

            Anda jgn ngajarin saya yg 100% orang aceh deh (Bokap Banda Aceh, Nyokap Langsa) ttg Aceh deh..

            Lawak bener..

            Etnis tionghoa jarang di jumpai di tempat umum karena aturan pakaian,hari biasa mereka jaga toko, akhir pekan mereka biasanya ke medan atau stay di rumah.

            Fakta lapangan beda dgn apa yg anda dengar.

          • Doni Andreas

            Yg kami lakukan bukan fanatisme,,itu emng ajaran agama ya jadi harus ditegakkan dong,,masa aturan buatan manusia kita jalani aturan allah kita biarin,,,

            Di aceh toleransi itu amat dijaga,,gak selamanya china itu ditoko,,dijalan naik motor juga banyak,,yg jualan nasi,kopi,dan sayur juga ada,,gak ada yg pake jilbab tuh,,anaknya sekolah pake rok pendek juga naik motor gak ada yg melarang,,,
            itu yg saya liat dilapangan,,mungkin anda berfikir lain terserah anda,,

          • BlueTuturuga Jakarta

            Maaf mas Doni Andrean… Kake saya Aceh.. Mama saya Aceh… Keluarga besar saya Aceh…. Saya Keturunan Aceh.. Tapi saya Non Muslim…. Dan setiap Hari raya saya.. mereka berkumpul dirumah saya untuk membantu dan memberikan selamat kepada saya… Bahkan om, tante, Sepupu dan Keponakan ikut seru mencari kado mereka….. Tapi Mereka tetap Islam yang Taat… tidak pernah ada bahasa Kristenisasi…. begitu juga Idul Fitri.. Kami yang non Muslim pun Berkumpul bersama dengan mereka dan merayakannya….sungguh indah hidup rukun…thks….. (Kel. Kami dari Daerah Pidi Aceh)

          • Doni Andreas

            ya memang gak ada diskrimanasi terhadap pemeluk agama lain di aceh,,walaupun mayoritas muslim di aceh bebas menjalankan ibadah bagi yg non muslim,,gak ada pemaksaan pake jilbab dll..intinya walaupun aceh menjalankan syari’at islam toleransi tetep terjaga di aceh…

          • Dudung

            Baca sejarah agama2 samawi. Semua wanita harus menutup auratnya. Kewajiban itu langsung dari Tuhan YME yang tertulis dikitab suci seluruh agama samawi.

      • Abdullah Umar

        Nah tu bung insane, bener apa kata bung doni. Jadikan ini sedikit pengetahuan buat anda, bahwa berpakaian tertutup (=menutup aurat) adalah perintah agama dan hukumnya wajib (harus dilaksanakan) bagi setiap muslim/muslimah. Dan ini adalah ibadah juga. Itulah mengapa org islam akan terganggu jika ada larangan mengenakan jilbab, krn itu berarti ibadahnya dihalang-halangi. smoga berkenan

        • insaneinside90

          Trus apa fungsinya baju SERAGAM??
          baju itu sengaja di bikin seragam untuk menghapus perbedaan antar murid.
          Lagian seperlu itukah memakai jilbab?
          Pada mulanya, perempuan di minta untuk menutup aurat untuk menghindari pelecehan seksual oleh laki2 di masa jahiliyah.
          Sekarang, mengingat bali daerah yg aman. Saya rasa tidak perlu memaksakan diri untuk mengenakan jilbab di sekolah.

          Malah seharusnya larangan menggunakan atribut keagamaan di aplikasikan di setiap sekolah negeri di Indonesia.

          • Dudung

            Seragam ada ko yang lengkap dengan jilbab. Jilbab bukan atribut tapi sebuah kewajiban.

      • Dudung

        jadi gak kelihatan ya? #otakmesum

  • Amalia Hakim

    Benar-benar valid sekaligus setuju banget sama kegalauan yg tertulis disini. Sekolah negeri walau kenyataannya mayoritas memang beragama Islam tapi kan gak seratus persen pelajarnya beragama Islam. Kalau mau pola berdo’a yg seperti itu di sekolah swasta Islami sepertinya jauh lebih tepat. Semoga segera Bapak Ustadz Yusuf Mansur memberi tanggapan tulisannya Mas Iqbal ini. Bukan malahan semakin ramai para oportunis sana sini dengan istilah-istilah baru “test water” lah…. jangan-jangan nanti akan ada lagi yang baru dan sok asik.

  • Yusmaharyadi

    teman….
    kenapa kau galau …???
    harusnya kau bangga bahwa umat ISLAM sedemikian sensitifnya dengan hal2 yang berhubungan dengan agama mereka.

    tak
    tahukah kau, hanya kitalah yang sebegitu cerewetnya dengan hal2 yang
    berkaitan dengan aqidah. lihatlah di timur, barat, selatan dan
    utara……. lihat…… hanya kita UMAT ISLAM yang selalu maju
    dideretan terdepan mempertahankan aqidah kita, iman kita….

    tak
    terhitung berapa juta jiwa yang tlah melayang demi mempertahankan agama
    ini…. jutaan, puluhan bahkan ratusan juta telah syahid karenanya

    akankah engkau lihat hal seperti itu terjadi di tempat lain…… ????

    mengapa engkau tidak bertanya kepada mereka…..
    mengapa kalian tidak seperti umat ISLAM….?
    mereka rela mengorbankan jiwa dan hartanya demi membela agamanya……

    mengapa engkau tidak bertanya kepada mereka…..
    mengapa kalian diam saja, ketika aturan agama kalian dilanggar?
    apakah kalian lebih takut kepada mahluk atau TUHAN yang telah menciptakan kalian

    mengapa engkau tidak bertanya kepada mereka…..
    sebegitu
    lemahkah iman kalian? atau TUHAN kalian tidak pernah memberikan
    aturan-aturan kepada kalian tentang apa yang harus dan tidak boleh
    dikerjakan….?
    tengoklah
    umat islam, mereka begitu cerewet apabila berkenaan dengan agamanya.
    bahkan hal-hal yang kalian anggap tidak penting di mata mereka sangat
    penting, karena saking takutnya mereka kepada TUHAN mereka

    teman…..
    janganlah
    karena atas nama toleransi beragama, kita singkirkan nilai-nilai islam
    dari kehidupan kita. justru kita harus bangga karena kita satu-satunya
    umat yang masih mempertahankan kemurnian agama ini, disaat umat-umat
    lain meninggalkan kemurnian agamanya ^_^v

    • Dara Agnesia

      Subhanallah jawaban yang sangat luar biasa 🙂 semoga yg lain mengerti. Harusnya kegalauan itu ia serahkan kepada Allah bukan bertanya kepada ustad.

    • Ahmad Irumisan

      gan, saya juga muslim. Menurut saya kalau kita mau dihargai maka kita harus menghargai orang lain. Jadi bukan perihal galau. Konteks disini adalah sekolah negeri sehingga semua orang punya hak sama dalam beribadah walau jumlah mereka minoritas. Kalau sekolah tersebut khusus seperti madrasah atau semacamnya itu hak mereka utk beribadah dalam agama mereka.

      • Ardodo

        Apakah sekolah-sekolah negeri selama ini melakukan pelarangan berdoa untuk agama di luar Islam mas? Kan ada instruksi untuk berdoa menurut agama masing-masing? Kurang toleran ya itu?

        • evonella

          Mas baca dong ah baik2 …mmg betul intruksi berdoa mnrt agama masing2…tp yg minoritas itu cuma diam mendengar yg mayoritas berdoa .sekolah negri kan bkn sklh yg berlabel agama.Jujur ank2 saya semua sklh dinegri…mrk sempat bingung ttg doa…tp skrg mrk sdh biasa kok dan malah sudah hafal doanya muslim klw disklh…bagi kami gk mslh…krn Tuhan itu maha mengerti…

    • jul

      Saya dulu di sekolah negeri dr sd smpe lulus,dan setiap berdoa selalu ada kalimat#sebelum kita memulai pelajaran hari ini marilah kita berdoa menurut agama masing2.selesai.amin.

      Saya kira bagian mana ya yg tidak ada toleransi beragama disekolahan negeri.
      Yg bilang semua sd negri kalo masuk kelas berdoanya diawali al fatihah,doa selamat dunia akhirat.sepertinya ehmmmm mengada ada ya…
      Mgkn hal ini adalah bagaimana cara orang2 tertentu menjadikan islam tampak seperti agama yg egois dan tidak toleran.

      Masi ingat benar saya dengan kata kata#sebelum kita memulai pelajaran kita hari ini marilah kita berdoa menurut agama masing2.selesai.amin

      Semoga ALLAH menjaga kita dari pemecah belah..
      Amin

    • Lukman Jahja

      umat Islam jangan sampai mencontoh pola pikir Nazi Jerman…. bahaya

  • Sigit Supriyadi

    Kalau dibiarkan bisa jadi aturan tertulis yg diterapkan di semua sekolah negeri di Indonesia. Bagaimana perasaan orang Indonesia yg mayoritas muridnya non muslim kalau harus gunakan aturan ini.

  • David Reinaldo

    Sekolah dan peraturannya, secara tidak langsung membentuk karakter murid yang juga identitas generasi indonesia kedepannya. Identitas bangsa berbanding lurus dengan apa yang sudah diperjuangkan, diperthankan, dan dijunjung sampai saat ini seperti contohnya pancasila. Selama usulan diatas tidak merusak dan menciderai nilai kebangsaan dan karakter bangsa ini, its ok. Satu lagi yang penting, Mudah2an setiap peraturan yang dibuat bisa dibarengi oleh fasilitas yang mendukung. contohnya: menunjuk suatu tempat yang sangat besar dan luas untuk mengadakan seminar yang isinya mengajarkan guru2 non muslim di sekolah pedalaman kalimantan, papua, daerah pelosok manapun atau daerah myoritas non muslim di indonesia seperti apa doa2, sikap dlam doa dan juga seperti apa cara melafalkan doa (sebab kesalahan membaca/menulis itu berakibat salah pengertian. resikonya mampu memicu fitnah, dan konflik lagi di bumi yang katanya bhineka tunggal ika ini). Hidup Indonesia

  • Su’ud Achmad

    Coba anak nya dimasukkan ke Sekolah katolik mas. Dijamin anak sampeyan disuruh berdoa dengan cara mereka. Kalo gak percaya cobain aja

    • sue prasetio

      kan dari awal nya ngomong sekolah negeri mas? kalau sekolah swasta emang beda mas

    • Dhika Kamesywara

      nah ga paham konteks kan.. kalo sekolah negeri ada embel-embel agama ga? misal sekolah negeri Islam? ada? kalo sekolah katolik ya jelas-jelas katolik -__-

  • Su’ud Achmad

    Coba lihat video ini mas: Pemurtadan anak-anak Muslim DI KEDIRI: http://youtu.be/vabh6lmsoV8

    • Nanang Sugiarto

      Apakah itu benar2 anak2 dari kaum muslimin? Kita harus hati2 juga dalam membroadcast atau beri statement karena sekarang kaum non muslim juga sudah menggunakan simbol2 spt kaum muslim spt memakai jilbab bagi wanita maupun kopiah bagi laki2 seperti halnya di Saudi Arabia apkh semua org Arab itu beragama Islam? kan sdh dari dulu ada kaum yahudi maupun nasrani mereka memakai kitab sucinya jg menggunakan bahasa Arab spt halnya kitab suci kita Al Qur’an. Mungkin selama ini mindset kita selalu berpikir bhw tulisan arab, memakai kopiah atau peci, jilbab itu sdh pasti Muslim/Islam…mari kita sama2 memperdalam lagi Keislaman kita sekaligus menjaga ukhuwah Islamiyah dan toleransi umat beragama…Untukmu agamamu dan untukku agamaku ….Hablumminallah dan Hablumminannas…Wallahu’alam Bisshowab…

  • Su’ud Achmad

    Coba juga masukin anaknya ke sekolah katolik. Dijamin tiap hari disuruh berdoa dgn cara mereka. Kalo gak percaya cobain aja

    • tuxofreak

      Kalo sekolah yg masing2 pake embel2 agama mah sama2 masing2nya. Kudu terima, sudah resiko. Nah, gimana kalau kasusnya di sekolah negeri? Keluhan dari siswa yang “kebetulan” minoritas wajar.

      • Su’ud Achmad

        apakah pulau bali ada embel-embel agama? misalnya pulau hindu bali? lalu apakah anda keberatan kalo di sana banyak sesajen dan bau dupa?

        sy bicara dalam konteks mayoritas dan minoritas yg secara panjang lebar dijelaskan di awal tulisan. saat dlm satu ruangan mayoritasnya muslim, ya berdoa sesuai tata cara muslim secara berjamaah. walaupun demikian, sepanjang pengalaman sy, blm pernah sekalipun kami menyuruh non muslim berdoa sesuai tata cara kami walaupun kami sedang berdoa bersama. sebaliknya salah seorang sahabat yg sekolah di sekolah umum (kurkulum sesuai DikNas) yg berlabelkan tokoh agama tertentu, wajib ikut berdoa sesuai tata caranya. itulah yg sy maksudkan.

        mohon koreksinya lagi kalo sy salah. mohon maap kalo sempat secara spesifik menyebut agama tertentu

        • welly

          lah kalo dupa kan emang sembhayang nye mereka, mas masa protes, kan yang nasrani dan muslim juga gak pernah liarang untuk ibadah dengan cara mereka disana. kita juga gak dipaksa bikin sesajen ato ikut caranya.

        • insaneinside90

          Bau dupa di permasalahkan, suara toa menggelegar 5x sehari ga boleh di protes.
          Dan lg bukannya islam yg mulai dgn embel2 rakyat mayoritas?
          Kemudian perlahan2 mau memaksakan bali untuk mulai mengadopsi gaya hidup ala arab?
          Gaya hidup itu yg mereka tolak. Mereka lebih memilih mempertahankan gaya hidup asli Bali dr pd digadai ala arab.

        • Ini pemahaman paling gagal yang saya pernah tangkep, masa protes karena di Bali banyak sesajen dan dupa. Klo anda ga tau itu caranya mereka berdoa, masa iya orang Hindu solat?

        • dhe sinto

          itu memang cara mereka berdoa mas, jgn dipermasalahkan…justru saya liat anda tidak memahami bahwa agama lain punya tata cara sendiri, begitu juga dengan muslim punya tata cara berdoa sendiri…tdk usah dibahas lg

      • wanita muslim

        Sedikit berbeda dgn sekolah, terjadi di instansi2 pemerintah, lembaga2, organisasi2 di daerah yg mayoritas nasrani. Swtiap kali ada acara, maka doanya adalah doa nasrani. Instansi, organisasi, dan lembaga2 itu jg umum seperti sekolah negeri. Tp krn mayoritasnya nasrani maka kami yg muslim ya hrs mengikuti itu. Tundukkan kepala utk menghormati momen berdoa tp dlm hati kami bberdoa dgn cara kami sendiri. Atau diam.

    • Su’ud Achmad

      Doa itu urusan antara makhluk dan pencipta Nya. Mau negri atau swasta sama saja. Namanya doa berjamaah ya pasti keras-keras. Lagipula doa diucapkan berulang2 & kadang keras2 itu tujuan nya spy saat sekarat kalimat2 itulah yg terucap

      • dhe sinto

        itu tau mas kl doa urusan antara makluk dan Tuhannya, trus kenapa masalah dupa dimasalahkan….itu tata cara umat hindu di Bali berkomunikasi dengan penciptanya…anda masih keberatan???

    • muhammad ahok

      Namanya juga sekolah katolik. Kalo gak suka ya jgn masukan anaknya ke sekolah katolik.
      Ini kasusnya kan bkn di sekolah islam, tp sekolah negeri.
      Sekolah negeri itu sekolah pemerintah. Nah pemerintahan kita ini menganut asas pancasila, bhinneka tunggal ika. Pemerintahan kita bkn negara islam.
      Sdh ngerti bedanya pak?

    • dhe sinto

      makanya jangan dimasukin sekolah katholik…ada2 aja pikirannya:)

  • Syamsul Arifin

    Saya bisa merasakan kegalauan penulis…tapi saya tetap sepakat dg ustadz yusuf mansur…bahkan tulisan penulis ini berefek kurang baik juga..karena tidak memahami betul maksud tulisan atau sweet yusuf mansur…program ironis 14

  • Rizqi Jong

    Hahaha… menarik!

  • Abdullah Umar

    Kalau anda membaca dan memahami perintah Al-Qur’an, meneladani Nabi SAW dan para salafus sholeh, anda tidak akan mempertanyakan kenapa kita harus mewaspadai tipu daya org2 yahudi dan nasrani tdh umat islam. Jelas sekali Al-Qur’an mnyebutkannya. Satu lagi, tulisan anda menunjukkan ketidaktauan anda ttg bgmn seharusnya akhlak seorang muslim kpd orang alim. Sy tebak ust. Yusuf Mansur tdk akan merespon tulisan semacam ini, dengan cara yg sama spt anda. Anda sendiri kalau mmg berniat baik seharusnya datang langsung atau berbicara secara pribadi dg beliau. Tafakurilah.

    • gastaman

      Setuju……

    • ita

      lagi2 yahudi… lagi2 nasrani…

      • kemarin saya kena sinus. pasti ini ulah wahyudi!

    • Fidi W

      Bukankan Ust. Yusuf Mansyur juga hanya sms ke Menteri , belum dibales sudah berkoar2 seakan tidak direspons, bukankan seorang Ust. justru harus peduli akan kebingungan dan pertanyaan2 Umat… kalau beliau sama sekali tidak peduli ke pertanyaan dan kebingungan Umatnya, terus apa Maknanya seorang Uztad ?

    • airiRin

      One big question.
      Apa salah orang Yahudi dan Nasrani sampai rasanya dibenci banyak orang muslim?

      • Abdullah Umar

        hmm.. gimana kalau pertanyaan dibalik, apa salah muslim sampai orang barat banyak yg alergi? tp saya tentu tdk akan bertanya spt itu, karena saya tahu tidak semua org barat spt itu. hanya beberapa segintir pemimpin yg dan mereka mempengaruhi rakyatnya dengan propaganda2 anti muslim. dan.. kalau kita tdk suka dengan perbuatan (beberapa) dari mereka karena perbuatannya, bukan berarti kita membenci mereka seluruhnya. kawan saya juga ada nasrani lho, dan saya tdk membenci mereka sama sekali,,

        • insaneinside90

          Setelah era perang dunia, kayaknya ga pernah deh org barat datang ke negara islam hanya sekedar untuk melakukan pembantaian terhadap umat muslim.
          Yg mereka lakukan adalah menjatuhkan pemimpin otoriter yg menekan/merampas HAM masyarakatnya.

          • Abdullah Umar

            itu dia yg saya maksud dg propaganda anti islam. mereka mengumumkan perang dg alasan membela HAM, nyatanya ada udang di balik batu. silahkan anda tanya org iraq, apa kehidupan mereka lbh sejahtera stl saddam digulingkan. dan apa yg dilakukan amerika stl iraq berhasil dikuasai, membantu perekonomian mereka? sama sekali tidak, malahan mereka memancing di air keruh.

          • insaneinside90

            Negara mereka ricuh karena antek2 saddam dan axis power lainnya mencoba merebut posisi yg di tinggalkan Saddam. Amerika bisa saja menghabisi mereka, hanya saja karena status mereka bukan militer melainkan militia, jd AS ga bisa seenaknya menghabisi mereka. Kalo saja mereka ga haus kekuasaan dan fokus membangun negara bersama2, mereka bisa bangkit dgn cepat.

            Saran saya, kurangi baca media ‘islam’ (Medianya PKS)

      • Doni Andreas

        Kebalik kali,,muslim mayoritas harus toleransi sama yg minoritas,,muslim minoritas kalo gak di bantai yang dijajah,,emng ada umat muslim yg bantai yahudi?emng ada umat muslim yg bantai nasrani,budha,hindu dll,,,sebaliknya banyak.,,

      • Ekaning Pratiwi

        Pernah tahu quotes nya Adolf Hitler kan? Coba cek di google kalo belum tau.

    • Iya benar kita harus mawas diri dan berSUUDZON TEROOOOSSSSSS

    • dhe sinto

      kok jadi yahudi dan nasrani dibawa2…jgn suka berprasangka buruk, itu juga ada di alquran

  • yang nulis kebanyakan bingung — sepertinya harus membuka banyak panduan dulu sebelum menulis — muslim kan? semestinya banyak belajar seperti yg diperintahkan agamamu ( instal sistem operasi diri muslim anda dengan software terbaik yang diberikan sang pencipta ) jgn terlalu banyak di instal dg software lain seprti blog FB twiter dll ?? sudahkah anda mempunyai prime time untuk software anda sebagai manusia berlabel muslim ? jangan-jangan khatam saja belum — ataupun kalo sudah, jangan2 belum khatam artinya — apalagi khatam membaca tafsirnya — sekiranya belum alangkah pantas anda mendapatkan banyak kebingungan — so mintalah nasehat pada diri sendiri anda dulu seblum menulis yang berpotensi dibaca banyak orang dan menularkan kebingungan kepada orang lain Nanti di massa depan anda akan menyesal 2 kali karena sudah menulis seperti ini…seperti menyesalnya anda sekarang karena merasa berbuat salah di masa lalu…

    • Cokro

      kasian pathetic banget nih orang.

    • Klo anda sendiri sudah minta nasehat pada diri sendiri dulu? apa masih keblinger nyamain orang dengan software?

    • pepsicola

      tolol banget nih orang, nyuruh buka panduan sebelum nulis, ngasih komentar aja gak bener. “Nanti di massa depan” duh!

  • harman

    “……maka sesungguhnya kita adalah pembela Islam. Orang akan terpesona
    melihat keislaman kita, dan dari situlah Islam menemukan pembelaannya
    yang paling nyata.” KEISLAMAN KITA TDK DITENTUKAN KE-TERPESONA-AN ORANG MELIHAT MELIHAT KEISLAMAN KITA, TAPI DITENTUKAN OLEH TUNTUTAN ALQUR’AN DAN HADIS…..SEKALIPUN DUNIA INI AKAN RUNTUH KITA HRS MELAKSANAKAN ISLAM SESUAI TUNTUNAN ALQURAN DAN HADIS …BUKAN SESUAI DGN TERPESONANYA ORANG LAIN

  • tungky

    gw dulu sekolah di negeri, dan gw sbg minoritas kerasa banget dibedainnya, sampe akhirnya gw lulus, gw melanjutkan sekolah ke sekolah katolik. yang sangat mengejutkan adalah, di sekolah katolik tempat gw sekolah, setiap murid secara bergiliran maju ke depan untuk memimpin doa dan dia berdoa sesuai agamanya, jadi kalau dia islam, ya berdoalah dengan cara islam didepan, kalau katolik ya silahkan berdoa dengan cara katolik. jadi semua kebagian sama rata. dan yang paling kerennya lagi, kita mempelajari semua agama, kita diajarkan bahwa semua agama itu baik, hanya individunya yang terlalu menganggap agama yang dipeluknya adalah yg paling benar, dan yang lain salah. gw tidak menjunjung tinggi sekolah katolik, hanya itulah fakta yang terjadi, gw harap disekolah negeripun bisa ada toleransi setinggi itu.

    • Ida Lumintu

      SD gw dulu di SD Katolik di Jember. Gw Islam, tentu gw juga minoritas di sekolah SD gw dulu bersama-sama dengan beberapa murid non-Katolik / Kristen lain (Hindu, Budha). Namun yang berbeda, tiap hari waktu itu gw harus berdoa doa Allah Bapa dan Salam Maria dari buku doa kecil bersampul kuning yang ada gambar Yesus disalib, yang wajib dimiliki setiap murid di kelas, pagi sebelum pelajaran dimulai dan siang sebelum pulang sekolah bersama-sama murid satu kelas. Setiap murid di sekolah gw dulu juga diwajibkan satu-persatu secara bergiliran setiap hari untuk memimpin doa di depan kelas, tetapi dalam kasus sekolah gw, doa yang dibacakan oleh pemimpin doa tetap doa Allah Bapa dan Salam Maria, tidak peduli dia bukan beragama Katolik. Mata pelajaran agama di kelas juga wajib mata pelajaran agama Katolik pukul rata untuk semua murid tidak terkecuali (gw masih punya bukti nilai mata pelajaran ini di raport SD gw). Setiap menjelang Paskah dan Natal, seluruh murid juga dilibatkan dalam latihan lagu-lagu rohani Katolik / Kristen yang gw juga masih hafal hingga saat ini. Setahu gw, di sekolah negeri, non-muslim tidak dipaksa untuk mengikuti pelajaran agama Islam di kelas, kalau dibedakan dan ditempatkan di kelas agama lain untuk murid non-Islam justru bagus menurut saya karena tidak dipaksakan untuk mengikuti ritual agama yang bukan dipeluknya.

      • Vo id

        Ya iyalah mas kalau sekolah katolik berdoa pake tata cara katolik.. yang ditulis di atas sekolah negeri lho, bukan sekolah dengan label keagamaan, mau apapun mayoritas yg ada disana, sekolah negeri adalah sekolah heterogen, semua berhak masuk, semua berhak merasa nyaman.

        • Ida Lumintu

          Vo id & Welly: Masak sih? Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas, pasal 12, ayat (1) huruf a, mengamanatkan, setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak mendapatkan pendidikan agama sesuai dengan agama yang dianutnya dan diajarkan oleh pendidik yang se-agama.

          Jadi ini untuk SETIAP satuan pendidikan. Kalau ada sekolah (baik sekolah negeri ataupun swasta keagamaan) yang memaksakan muridnya mengikuti ritual agama lain (mengucapkan secara lisan dan mengikuti gerakan fisik simbolik ritual agama lain tersebut seperti misalnya membuat gerakan tanda salib dengan tangan atau misalnya dipaksa melakukan gerakan shalat), itu artinya melanggar aturan UU Sisdiknas ini.

          Jadi, adalah tidak bisa dibenarkan kalau saat ini sekolah-sekolah Katolik / Kristen masih ada yang mewajibkan murid non Kristen / Katolik untuk berdoa atau mengikuti pelajaran secara Katolik / Kristen. Bisa melanggar UU di atas kalau begitu.

          Sebagian sekolah negeri memang memberlakukan tata-cara doa Islam dalam doa harian di kelas (tetapi tidak semua sekolah negeri memberlakukan tata-cara berdoa Islam tersebut). Sebagian besar sekolah negeri lainnya masih memberlakukan ketentuan doa menurut agamanya masing-masing.

          Dari tahun-tahun terdahulu (sebelum ada UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003) hingga tahun-tahun sekarang, tidak satupun murid non-Islam di sekolah negeri dipaksakan untuk melakukan ritual doa Islam tersebut (mengucapkan secara lisan maupun dengan gerakan2 fisik simbolik ritual agama Islam). Mereka hanya berada di kelas sambil diam dan atau berdoa menurut keyakinannya masing-masing jika doa dalam kelas adalah doa ritual Islam yang kebetulan mayoritas. Tidak ada paksaan apapun untuk mengucapkan doa secara Islam ataupun membuat gerakan-gerakan simbolik ritual Islam bagi mereka yang non-muslim ini. Ini tentu berbeda dengan ketika kalau saat ini masih ada murid non Katolik / Kristen yang dipaksa berdoa / belajar agama di kelas menurut ritual Katolik / Kristen.

          @Welly: Dulu gw sekolah di SD Katolik tahun 1980-an karena faktor keamanan, yaitu dekat dengan kantor Ibu saya yang berada di sekitar sekolah tersebut, sehingga kalau gw pulang-pergi sekolah gw bisa bersama Ibu gw. Jadi bukan karena faktor tidak mau bersekolah di sekolah umum / swasta Islam, tapi faktor keamanan. Orangtua gw juga tidak menyangka / tidak terpikir sebelumnya kalau kalau gw saat itu wajib ikut tata cara ritual doa dan belajar mata pelajaran agama katolik di SD gw saat itu. Mungkin dipikir mereka akan ada guru khusus yang menangani kebutuhan pendidikan agama murid non-katolik waktu itu di SD gw. Karena sudah terlanjur dan kebutuhan pengawasan keamanan, jadinya gw sampai lulus SD terus bersekolah di sana.

          Memang sih, tahun 1980-an belum ada UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003. Tetapi, setidaknya, pengalaman gw waktu SD dulu seyogyanya tidak boleh terulang untuk jaman sekarang. Untuk saat ini, fokus masalah untuk tata-cara berdoa harian bersama di sekolah-sekolah menurut gw justru bukan terletak pada praktik berdoa di sekolah-sekolah negeri (yang sudah wajar, tidak ada masalah menurut gw). Menyasar sekolah-sekolah negeri untuk permasalahan praktik doa harian bersama adalah salah sasaran dan tidak relevan. Masalah yang lebih relevan menurut gw adalah justru praktik pelanggaran UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003 tersebut di sekolah-sekolah swasta keagamaan jika masih ada / terjadi. Jadi, sasarlah fokus permasalahan secara relevan dan benar.

          • Relativeblue

            Bu Ida, belajarlah utk obyektif melihat berita, termasuk refrensi juga harus ada. Ini komentar saya buat Anda :

            1. Ibu sudah survey belum ke sekolah-sekolah negeri yg ada sekarang? Jaman saya SMA ditahun 2001 saja setiap hari Jumat wajib mengenakan seragam Muslim/ah (bagi yg non-islam pakai seragam biasa).. Laki-laki pakai baju koko, perempuan berkerudung, saya di SMAN daerah Halim, dan semua SMAN saat itu sama peraturannya. Nah, jaman sekarang pun saya lihat masih begitu. Ibu tidak berpikir bagaimana teman-teman saya yg non-muslim??? Pikirlah sendiri dengan nurani perasaan minoritas saat itu, dan itu terjadi di Sekolah Menengah Atas Negeri, berarti SEKOLAH UMUM. Nah, kalo disurvey secara fair, SEKOLAH UMUM dari tingkat SD s/d SMA menerapkan doa dengan cara Islam, seperti yg dimaksud Menteri Pendidikan, Bpk Anies Baswedan. Maka dari itu beliau mau merubah kebiasaan tersebut, karena di SEKOLAH UMUM, bukan hanya murid beragama Islam saja, tp juga ada Kristen, Katholik, Hindu, Budha, mungkin juga Kong Hu Chu.

            2. Masalah disekolah Swasta Katholik/Kristen ikut aturan menurut agama Kristen/Katholik menurut saya sah-sah saja. Karena itu memang Yayasan dirikan untuk kalangan Katholik/Kristen, walaupun tidak menutup kemungkinan murid beragama lain masuk sekolah itu UNTUK MERASAKAN KUALITAS pendidikan disekolah itu. Ya kalo mau masuk sekolah KRISTEN/KATHOLIK, mau ga mau, suka ga suka, IKUTI aturan mainnya. TIDAK USAH TERLALU NAIF, Bu.. Kalo ada murid NON-ISLAM yg mau sekolah di Al-Azhar, bukan kah semestinya memang harus mengikuti aturan disekolah tersebut??? Bener atau Betul???

            3. UU 20 Th. 2013 adalah untuk sekolah umum, Bu.. Coba bayangkan kalo sekolah dibawah yayasan mau diberlakukan UU tersebut : Yayasan yg mempunyai Sekolah Islam HARUS menyiapkan/menyediakan/memberi upah kepada guru/tenaga Pengajar Agama Kristen atau Katholik, Hindhu, Budha, maupun Konghu Chu. BEGITU PUN sebaliknya, SEKOLAH YAYASAN KRISTEN/KATHOLIK HARUS WAJIB MENYEDIAKAN GURU AGAMA ISLAM. Apa itu maksud Ibu??? Aneh kan jadinya..

            Esensi dari Artikel diatas adalah YANG TERJADI DISEKOLAH UMUM, Bu.. Baca dan pahami substansinya baik-baik. Jangan untuk memenangkan sebuah argumen yg berkaitan dengan ideologi, Ibu harus “lari pontang-panting” cari refrensi tp ga sesuai dengan substansi artikel yg disajikan, diskusi malah melebar kemana-mana..

            Salam,
            Indonesia

          • Ida Lumintu

            @Relative Blue:
            Pak, Anda tidak jujur mengatakan tentang Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003, yaitu tentang Sisdiknas, pasal 12, ayat (1) huruf a, yang mengamanatkan, setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak mendapatkan pendidikan agama sesuai dengan agama yang dianutnya dan diajarkan oleh pendidik yang se-agama.

            UU ini adalah untuk SETIAP SATUAN PENDIDIKAN, kata siapa hanya untuk sekolah negeri saja? Kalau masih ada sekolah swasta keagamaan yang melawan, maka akan terkena sanksi, contohnya sudah ada yaitu SMAK Diponegoro Blitar. Anda tidak perlu repot-repot menuduh saya cari referensi pontang-panting melebar ke sana kemari atau tidak mengerti substansi permasalahan yang dibicarakan di atas, karena memang ada contoh yang nyata tentang hal ini yaitu kasus SMAK Diponegoro Blitar.

            http://www.kpai.go.id/berita/kpai-cabut-izin-sekolah-yang-tak-beri-pelajaran-agama/

            SMAK Diponegoro Blitar menurut UU Nomor 20 Tahun 2003, tentang Sisdiknas, pasal 12, ayat (1) huruf a sudah melanggar aturan UU. Mestinya kasus-kasus pelanggaran UU semacam ini yang menjadi fokus perbaikan, karena jelas-jelas melakukan pemaksaan untuk melakukan ritual agama lain terhadap seseorang yang tidak meyakininya.

            Untuk sekolah negeri hingga saat ini, apakah pernah ada kasus pemaksaan terhadap seseorang untuk melakukan ritual agama lain yang dia tidak meyakininya? Coba bersikap jujur Pak, jangan melihat permukaan saja dan tidak perlu emosi seperti itu.

          • Relativeblue

            Dear Ibu Ida,

            Itu sampai saya screenshot link yang Ibu kasih dan saya block tulisannya. Oknum
            di KPAI memang ada yang MENUNTUT ke PEMERINTAH untuk sekolah SMAK Diponegoro
            dikenakan sanksi, tp bukan berarti PEMERINTAH, dibawah Departemen Pendidikan,
            MENGABULKAN TUNTUTAN tsb. Dengan kata lain TIDAK ADA SANKSI untuk SMAK
            Diponegoro. Jadi Ibu jangan men-generalisir berita menjadi PEMERINTAH
            memberikan sanksi.

            Kalau pun sampai dikemudian hari dikenakan sanksi, malah yang menjadi permasalahan
            baru untuk PEMERINTAH. Misalnya, ada lagi oknum di KPAI, anggaplah bernama
            Panjul, memperkarakan SMA Muhamadiyah atau Al-Azhar atau PB. Sudirman atau
            Global Islamic School (sebagai contoh) atau sekolah Islam lainnya harus
            dikenakan sanksi karena tidak memberikan kebebasan murid yang non-islam untuk
            mendapat pelajaran agama yang sesuai dengan agama yg dianutnya, berdasarkan UU
            no. 20 th 2003 psl 12 nomor A. Saya rasa tidak ada habisnya. Karena pada
            dasarnya sekolah swasta yang berbasis agama, dan biasanya dikelola oleh
            yayasan, memang memiliki visi khusus untuk mendirikan sekolah tersebut. Dan itu
            sah-sah saja.

            Lalu kalau demikian terjadi, apa tujuannya didirikan sekolah berbasis agama?
            Seperti Al-Azhar atau Sekolah Kristen/Katolik, bukankah jadi sama seperti
            Sekolah Umum? Bukankah dari awal pihak sekolah sudah mengeluarkan perjanjian
            antara pihak sekolah dan orang tua? Kalo sudah saling sepakat, lalu kenapa
            malah dipermasalahkan dikemudian hari? Kalau tidak setuju yah dari awal saja
            tidak usah masukan anaknya ke sekolah berbasis agama tertentu, beres kan?

            Kembali ke artikel yang ditulis diatas, Bu.. Hal diatas itu yang dibahas
            SEKOLAH UMUM, jadi tidak usah melebar ke UU bla bla bla, yg dibahas penulis itu
            tata cara berdoa yang menjadi kebiasaan di rata-rata SEKOLAH UMUM. Selain itu
            yang saya bahas sebelumya, yaitu penggunaan seragam sekolah dihari Jumat,
            mengenakan seragam muslim itu sudah menjadi kebiasaan, Bu (http://www.republika.co.id/berita/nasional/jabodetabek-nasional/14/07/26/n9b4da-penghapusan-seragam-muslim-ternyata-tanpa-sepengetahuan-ahok).
            Mohon dibaca baik-baik. Lagipula amati saja lingkungan sekitar Ibu tinggal.
            Masa masih menutup mata dengan perkataan Ibu : “Untuk sekolah negeri
            hingga saat ini, apakah pernah ada kasus pemaksaan terhadap seseorang untuk
            melakukan ritual agama lain yang dia tidak meyakininya?”. Sebelumnya
            pahami dulu arti kata ritual biar tidak ada selisih paham diantara kita (http://id.wikipedia.org/wiki/Ritual).
            Memang tidak ada pemaksaan Bu, tapi “mereka merasa dibatasi jarak tebal
            dengan teman-temannya” (saya beri tanda kutip, karena memang itu kutipan
            dari penulis dg bahasa yg saya rasa sangat tepat untuk menggambarkan kondisi
            psikologis anak).

            NB : saya tidak emosi kok..

            Salam,

            Indonesia Damai

          • Rio sang berkah

            karena bu ida sekolah di sekolah katholik ya pantas diajarkan doa2 itu
            hal itu sama juga kalo ada non muslim sekolah si Madrasah atau Al Azhar
            pasti disuruh baca alfatihah dulu…. topiknya jadi beda kalo bu ida
            membedakannya dengan sekolah negeri yg dibandingkan dengan sekolah
            katolik nya bu ida waktu kecil…… klo sekolah negeri ya harusnya
            netral..toh jaman sekarang sekolah negeri “sudah” cukup islami koq..tiap
            hari jumat pakai baju koko, pakai jilbab (bagi yg muslim) bandingkan
            20tahun yg lalu sekolah negeri harus pakai rok pas didengkul..anak laki2
            harus pakai celana diatas dengkul…..baju harus rapih dimasukan lengan
            pendek gak boleh di ‘okem’ dan pakai dasi, kaos kaki sebetis dan sepatu
            hitam. kalo sekarang???…coba lihat anak2 sekolahan negeri? apa
            serapih anak2 sekolah negeri 20th yg lalu?.. apa kita tega melihat apa
            yg dialami anak2 kita koq ga seperti kita pd masa kita kecil??…apakah
            agama kita ‘unfair’ pada jiwa2 muda yg baru tumbuh ini……. ya hati
            nurani milik kita masing yg dikaruniai Allah lah yg bisa menjawab hal
            tsb…… sudahkan apa yg kita lakukan sekarang terhadap anak2 kita
            ‘FAIR’ dibanding org2 tua kita dahulu memperlakukan kita??…….

          • Rengga

            Bagaimana jika keadaan terbalik? Kita sekolah dalam sekitar non muslim, sementara kita muslim?

          • kangmas harno

            Ya kalo anak ibu takut di ajak doa secara islami,sekolahin aja di sekolah kristen to bu…gitu aja dibuat repot…
            Kalo masalah yang laen…?? Itu cuma doa buuu…!!!
            Coba kalo muslim barat sebagai kaum minoritas,gak boleh ngediriin masjid,gak bolah pake atribut muslim,gak bolek sholat dll…apa gak lebih miris lagi buuuu…!!!

      • welly

        kalo masuk sekolah katholik kan artinya udah tau dong, busti doa cara katholik, kenapa gak masuk sekolah islam aja?

        • Ida Lumintu

          Vo id & Welly: Masak sih? Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas, pasal 12, ayat (1) huruf a, mengamanatkan, setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak mendapatkan pendidikan agama sesuai dengan agama yang dianutnya dan diajarkan oleh pendidik yang seagama.

          Jadi ini untuk SETIAP satuan pendidikan. Kalau ada sekolah (baik sekolah negeri ataupun swasta keagamaan) yang memaksakan muridnya mengikuti ritual agama lain (mengucapkan secara lisan dan mengikuti gerakan fisik simbolik ritual agama lain tersebut seperti misalnya membuat gerakan tanda salib dengan tangan atau misalnya dipaksa melakukan gerakan shalat), itu artinya melanggar aturan UU Sisdiknas ini.

          Jadi, adalah tidak bisa dibenarkan kalau saat ini sekolah-sekolah Katolik / Kristen masih ada yang mewajibkan murid non Kristen / Katolik untuk berdoa atau mengikuti pelajaran secara Katolik / Kristen. Bisa melanggar UU di atas kalau begitu.

          Sebagian sekolah negeri memang memberlakukan tata-cara doa Islam dalam doa harian di kelas (tetapi tidak semua sekolah negeri memberlakukan tata-cara berdoa Islam tersebut). Sebagian besar sekolah negeri lainnya masih memberlakukan ketentuan doa menurut agamanya masing-masing.

          Dari tahun-tahun terdahulu (sebelum ada UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003) hingga tahun-tahun sekarang, tidak satupun murid non-Islam di sekolah negeri dipaksakan untuk melakukan ritual doa Islam tersebut (mengucapkan secara lisan maupun dengan gerakan2 fisik simbolik ritual agama Islam). Mereka hanya berada di kelas sambil diam dan atau berdoa menurut keyakinannya masing-masing jika doa dalam kelas adalah doa ritual Islam yang kebetulan mayoritas. Tidak ada paksaan apapun untuk mengucapkan doa secara Islam ataupun membuat gerakan-gerakan simbolik ritual Islam bagi mereka yang non-muslim ini. Ini tentu berbeda dengan ketika kalau saat ini masih ada murid non Katolik / Kristen yang dipaksa berdoa / belajar agama di kelas menurut ritual Katolik / Kristen.

          @Welly: Dulu gw sekolah di SD Katolik tahun 1980-an karena faktor keamanan, yaitu dekat dengan kantor Ibu saya yang berada di sekitar sekolah tersebut, sehingga kalau gw pulang-pergi sekolah gw bisa bersama Ibu gw. Jadi bukan karena faktor tidak mau bersekolah di sekolah umum / swasta Islam, tapi faktor keamanan. Orangtua gw juga tidak menyangka / tidak terpikir sebelumnya kalau kalau gw saat itu wajib ikut tata cara ritual doa dan belajar mata pelajaran agama katolik di SD gw saat itu. Mungkin dipikir mereka akan ada guru khusus yang menangani kebutuhan pendidikan agama murid non-katolik waktu itu di SD gw. Karena sudah terlanjur dan kebutuhan pengawasan keamanan, jadinya gw sampai lulus SD terus bersekolah di sana.

          Memang sih, tahun 1980-an belum ada UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003. Tetapi, setidaknya, pengalaman gw waktu SD dulu seyogyanya tidak boleh terulang untuk jaman sekarang. Untuk saat ini, fokus masalah untuk tata-cara berdoa harian bersama di sekolah-sekolah menurut gw justru bukan terletak pada praktik berdoa di sekolah-sekolah negeri (yang sudah wajar, tidak ada masalah menurut gw). Menyasar sekolah-sekolah negeri untuk permasalahan praktik doa harian bersama adalah salah sasaran dan tidak relevan. Masalah yang lebih relevan menurut gw adalah justru praktik pelanggaran UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003 tersebut di sekolah-sekolah swasta keagamaan jika masih ada / terjadi. Jadi, sasarlah fokus permasalahan secara relevan dan benar.

          • novi

            Bu Ida, ortu ibu pasti salah masukan ibu ke sekolah. Krn klo katolik sdh diberitahukan sblmnya persetujuan menggunakan tata cara agama katolik. perbandingkan skolah basic agama dg yg agama jg bu. Bkn skolah negri. contoh al izhar, al azhar, madrasah. Bgitu loh bu…

          • Anon

            Pada dasarnya, ada perbedaan utama antara sekolah umum dan sekolah bukan umum: sekolah umum disubsidi jauh lebih besar menggunakan uang pajak yang diambil dari semua warga negara yang taat pajak (tanpa pengecualian agama), sedangkan sekolah bukan umum memungut sebagian besar biaya hanya dari yang bersekolah di situ dan dari yayasannya. Maka dari itu, sekolah yang umum sepatutnya diselenggarakan untuk kepentingan umum tanpa pandang agama.

          • Rio sang berkah

            bu ida salah klo membandingkan sekolah katoliknya dengan sekolah negeri… harusnya bu ida membandingkan sekolah berbasis agama ya dengan sekolah yg berbasis agama juga…. bu ida mw ngotot seperti apa jg namanya sekolah negeri orang ya tau nya sekolahan itu menampung anak2 semua agama.. klo sekolah berbasis agama ya ortu dr awal sudah tau pasti ada ajaran2 agama yg akan diajarkan.. jelas ya

          • amin

            Adik saya sekolah di SD PAB Muhammadiyah di Sunggal, Medan. Dia juga diajarin bahasa Arab dan membaca Al Quran. Orangtuanya yang non muslim tidak masalah karena sekolah itu dekat dari rumahnya. jadi kl masuk sekolah yg dikelola yayasan berbasis agama tertentu, orang yang mau masuk sekolah tersebut bila normal dan sehat tentu mengerti konsekuensinya. Apalagi bila ada perjanjian pihak sekolah dan orangtua murid yg yg akan sekolah, tentu saja perjanjian mereka juga merupakan Undang Undang bagi para pihak.

        • Ronnie Yazid

          wkwkwkwk…betul mas welly…
          gw muslim, sekolah di STM katolik, guru agamanya bruder dr belanda
          tapi gak ada tuh yg namanya baca doa Allah bapa dst..
          pelajarannya pun disebut pelajaran ketuhanan, bukan pelajaran agama katholik

      • Guest

        Vo id & Welly: Masak sih? Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas, pasal 12, ayat (1) huruf a, mengamanatkan, setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak mendapatkan pendidikan agama sesuai dengan agama yang dianutnya dan diajarkan oleh pendidik yang se-agama.

        Jadi ini untuk SETIAP satuan pendidikan. Kalau ada sekolah (baik sekolah negeri ataupun swasta keagamaan) yang memaksakan muridnya mengikuti ritual agama lain (mengucapkan secara lisan dan mengikuti gerakan fisik simbolik ritual agama lain tersebut seperti misalnya membuat gerakan tanda salib dengan tangan atau misalnya dipaksa melakukan gerakan shalat), itu artinya melanggar aturan UU Sisdiknas ini.

        Jadi adalah tidak bisa dibenarkan kalau saat ini sekolah-sekolah Katolik / Kristen masih ada yang mewajibkan murid non Kristen / Katolik untuk berdoa atau mengikuti pelajaran secara Katolik / Kristen. Bisa melanggar UU di atas kalau begitu.

        Sebagian sekolah negeri memang memberlakukan tata-cara doa Islam dalam doa harian di kelas (tetapi tidak semua sekolah negeri memberlakukan tata-cara berdoa Islam tersebut). Sebagian besar sekolah negeri lainnya masih memberlakukan ketentuan doa menurut agamanya masing-masing.

        Dari tahun-tahun terdahulu (sebelum ada UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003) hingga tahun-tahun sekarang, tidak satupun murid non-Islam di sekolah negeri dipaksakan untuk melakukan ritual doa Islam tersebut (mengucapkan secara lisan maupun dengan gerakan2 fisik simbolik ritual agama Islam). Mereka hanya berada di kelas sambil diam dan atau berdoa menurut keyakinannya masing-masing jika doa dalam kelas adalah doa ritual Islam yang kebetulan mayoritas. Tidak ada paksaan apapun untuk mengucapkan doa secara Islam ataupun membuat gerakan-gerakan simbolik ritual Islam bagi mereka yang non-muslim ini. Ini tentu berbeda dengan ketika kalau saat ini masih ada murid non Katolik / Kristen yang dipaksa berdoa / belajar agama di kelas menurut ritual Katolik / Kristen.

        @Welly: Dulu gw sekolah di SD Katolik tahun 1980-an karena faktor keamanan, yaitu dekat dengan kantor Ibu saya yang berada di sekitar sekolah tersebut, sehingga kalau gw pulang-pergi sekolah gw bisa bersama Ibu gw. Jadi bukan karena faktor tidak mau bersekolah di sekolah umum / swasta Islam, tapi faktor keamanan. Orangtua gw juga tidak menyangka / tidak terpikir sebelumnya kalau kalau gw saat itu wajib ikut tata cara ritual doa dan belajar mata pelajaran agama katolik di SD gw saat itu. Mungkin dipikir mereka akan ada guru khusus yang menangani kebutuhan pendidikan agama murid non-katolik waktu itu di SD gw. Karena sudah terlanjur dan kebutuhan pengawasan keamanan, jadinya gw sampai lulus SD terus bersekolah di sana.

        Memang sih, tahun 1980-an belum ada UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003. Tetapi, setidaknya, pengalaman gw waktu SD dulu seyogyanya tidak boleh terulang untuk jaman sekarang. Untuk saat ini, fokus masalah untuk tata-cara berdoa harian bersama di sekolah-sekolah menurut gw justru bukan terletak pada praktik berdoa di sekolah-sekolah negeri (yang sudah wajar, tidak ada masalah menurut gw). Menyasar sekolah-sekolah negeri untuk permasalahan praktik doa harian bersama adalah salah sasaran dan tidak relevan. Masalah yang lebih relevan menurut gw adalah justru praktik pelanggaran UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003 tersebut di sekolah-sekolah swasta keagamaan jika masih ada / terjadi. Jadi, sasarlah fokus permasalahan secara relevan dan benar.

      • Anita Wijaya

        Salah masuk sekolah ya bu? Gw non muslim, non katholik, non kristen. Anak g prnh g masukin ke sekolah katholik. Pas daftar ada surat pernyataan ” apakah anak anda bersedia mengikuti doa & acara yg berhubungan dgn agama katholik?”. Da jelas2 ditny begitu, knp msh protes? Klo ga bersedia ya silahkan pindah kesekolah lain. Blm sethn sekolah anak gw jg gw pindahin dr sekolah itu, pas dpt sekolah swasta yg multi agama. Pas ditny sama sekolah lama ( sekolah katholik) ” knp pindah mami?” . gw jawab “sy ingin menyekolahkan anak dgn agama yg sama dgn yg sy anut”. It’s no problem. Pihak sekolah lama menjawab dgn tersenyum ” tidak apa2 mami, itu sdh hak mami” . sampai skrg gw msh suka main ke sekolah lama ( sekolah katholik) itu & msh disambut dgn baik oleh guru2 & staf sekolah itu. Namanya aja sekolah ” katholik” bu, jd ya pake cara katholik. Beda dgn sekolah negeri. Dulu gw jg lulusan SD & SMP negeri. Tp sekolah negeri skrg sdh beda dgn yg dulu. Dulu mayoritas non muslim, berdoa sesuai agama masing2. Skrg seragam sekolah negeri sdh hrs memakai rok panjang & hijab. Seharusnya sekolah negeri itu multi agama.

        • bambang

          Di Indonesia memiliki budaya sendiri…terkait.toleransi beragama yg tdk bisa disamakan dg negara lain….jd brdo’a pake agama mayoritas itu mrpkan budaya kita….tdk mngkin dirobah lagi….contoh….di menado sy mempersilahkan.sewKtu acara seminar maupun training…..do’a pake agama mayoritas….di papua jg bgtu….di ntt jg bgtu….di bali….Jd kenapa hrs mempermasalahkan….sekolah ngri mayoritas islam….do”anya ya pake agama Islam….krna di Jawa dan Jakarya mayoritas Islam….bgtu ya mas….berilah pengertian kepada Anaknya..insya Allah mngerti koq….

      • nita novita

        mas kalo gak mau ikut tata cara dan peraturan sekolah tesebut monggo mas di sekolah Islam saja….pasti disitu diajarkan berdoa secara islam…kita harus mengikuti aturan dan kaidah dimana kita menjadi anggotanya…

      • ustad manyur

        labelnya aja sekolah ‘KATOLIK’, bandinginnya ya sama PESANTREN!! kalo sekolah negri bandinginnya sama sekolah swasta!! bego

      • Anggraeni Pryanka

        ya itu pntar-pintarnya kita saja untuk masuk ke sekolah/mencari ilmu di lingkungan yang bukan muslim mayoritasnya. kalau gak salah ada hadis yang mengatakan “TUNTUTLAH ILMU SAMPAI KE NEGRI CHINA” menuntut ilmu dimana saja di perbolehkan, mau di lingkungan non muslim pun di perbolehkan malah wajib/di haruskan supaya ilmu kita itu gk muter di situ saja bisa luas dan kita dapat mengetahui ritual non muslim yang sering sekali di lakukannya jadi kita bisa tahu gitu sebagai perbandingan dengan agama kita. “apa sih yang membuat mereka itu berbeda dengan kita ajarannya padahal agama itu sumbernya satu yaitu tuhan kenapa kok bisa banayak banget ajarannya”.ORT IBU IDA sendiri kenapa waktu awal masuk sebelumnya itu harus membuat perjanjian dengan sekolahnya, ngomong baik2 “pak, bu saya/anak saya ini non kristiani lebih tepatnya seorang muslim anak saya ini mau menuntut ilmu di sekolah ini, sekolah inikan sekolah non muslim jadi saya mohon dengan kebesaran hati bapak/ibu guru jangan pernah ajari anak saya tentang pelajaran agama selain muslim di selama sekolah ini dan tolong terima anak saya dengan baik dan jangan pernah di beda-badakan dengan murid lain.” itu seharusnya yang dikatakan oleh ortu situ pasti di iyakan dan pasti ada tapinya “tapi pak, bu berarti pelajan agama anak dan bapak gak ada nilainya gak papa di raport nanti akan di beri keterangan non-kristiani.” kalau gak orang tua situ bilang kayak gini kalau gak mau nilai di raport anda kosong bisa bilang seperti ini. ” eh gini aja pak, ibu guru saya akan membuat kesepakatan dengan wali murid yang beragama muslim untuk membayar lebih untuk memanggil guru agama muslim, agar anak saya juga dapat pelajaran agama dan nilai raportnya gak ada yang kosong terutama nilai agama. waktu dan tempat saya serahkan dan percayakan kepada sekolaH GITU…??.
        NGOMONG BAIK-BAIK PASTI MEREKA/PIHAK SEKOLAH AKAN MENGERTI. bukan malah nyalahin sekolahnya nanti ilmunya tambah gak bermanfaat itu dampaknya yang akan kota terima kalau kita nyalahin sekolahnya.
        satu lagi bukannya doa orang katholik itu ATAS NAMA TUHAN YESUS, BAPA, PUTRA, DAN ROH KUDUS. DAN DIAKHIRI DENGAN KATA AMIN HALLELUYA” bukan, soalnya saudaraku yang katholih berdo,a seperti itu dan isinya pasti ada kata-kata BAPA YANG ADA DI SURGA….”

  • joggy

    Pada dasarnya hak dan kewajiban warga negara itu tidak memandang pembedaan antara mayoritas dan minoritas. Itu yang seharusnya. Tp kenyataanya memang berbeda.
    Tulisannua bagus.

  • Hawky Hanover

    ssssstttt diam. Hiduplah rukun bro sist…. kalau gini terus gue milih jadi ateis lho nanti. tapi ateis yang tetap hidup rukun 😀

  • surya

    Saya dahulu sekolah di sekolah negri dan saya termasuk yg minoritas,tetapi saya tidak mempersoalkan mengenai doa secara islami karena saya sadar bahwa mayoritas murid adalah muslim. Mungkin hal itu akan menjadi persoalan apabila persentase murid muslim non muslim 50:50. Kita harus bisa flexibel,sehingga toleransi antarumat beragama bisa terus kita wujudkan. Intinya selama mayoritas murid adalah muslim,doa secara islami sah2 saja diberlakukan.

  • Ahmad Risani

    Sikap pak Anies dalam menyikapi keragaman di sekolah terlalu berlebihan. Selama ini umat manapun tak mempersoalkan masalah itu. Justru sikap penseragaman cara berdoa adalah tindakan berlebihan. Sekaligus kekolotan Pak Anies dalam membaca realitas masyarakat kita.

    Pak Anies terlalu terburu-buru menentukan sikap, dan terlalu jumud dalam memahami makna toleransi seutuhnya.

    Sayang sekali..

    • Cokro

      sama seperti Yusuf Mansur yang terlalu terburu-buru dalam menentukan sikap, ia terlalu jumud dalam memahami makna berita yang ia baca.

      Sayang sekali ya Ahmad Risani.

  • Tim Cahill

    Kalau begitu tinggalkan saja sekolah negeri, kenapa tidak ramaikan kembali surau-surau, MI, MTs dan MA. 🙂
    Islam tidak bisa dipisahkan dengan kehidupan, bukan masalah mayoritas atau minoritas.
    Islam sendirilah yang menjadi nadi kehidupan umatnya. Mau makan baca doa, mau belajar baca doa, mau naik kendaraan sampai mau masuk kamar kecil pun baca doa.
    Coba renungkan kegiatan baca doa bersama sebelum kelas dimulai. Liat lebih banyak mana manfaat dibanding mudhoratnya.
    Semoga Allah merahmati kita.

    • Danendra H

      Situ mau masuk ke kamar kecil baca doanya kenceng2

      Paham konteks ndak? Disini g ada yang ngelarang baca doa, hanya dilakukan agar saling menghormati dengan agama dan kepercayaan masing-masing, yakni sendiri-sendiri

  • prasetyo

    this just perfectly describe my perception nowadays…

  • O-Mar

    kalo masalah toleransi, menurut saya ya ambil baiknya saja. Boleh berdoa namun dengan khusyuk, tidak bermaksud untuk membedakan dgn non muslim, namun kebijakan ini seperti bkn masalah toleransi. Justru menjurus ke arah liberalisasi.

  • Ampon Yan

    saya tanya sama yang non muslim. jika sekolah negri di daerah mayoritas kristen ritual doanya kudu dirubah hanya karena ada satu dua murid muslim yang bersekolah disitu anda setuju gak?

    • Cinta

      Pada dasar dan kenyataannya adalah ketika mulai berdoa dan sang guru menyuruhnya berdoa sesuai kepercayan dan keyakinan masing masing. Jangan berandai andai yang gak pasti mas , tolong berorientasilah pada realita. Dan sebaiknya lihatlah sesuatu secara obyektif , bukan subjektif saja ya Mas Ampon Yan yang terhormat.

  • Firman Widitya

    Kenapa Tuhan menciptakan agama jika hanya untuk selalu diperdebatkan, menyebabkan permusuhan, saling hujat, saling menyalahkan, bahkan sampai terjadi peperangan…. untuk itukah agama diciptakan ??? Bukankah Tuhan Maha Pengasih dan Penyayang..lalu kenapa kita sebagai mahluk ciptaan-Nya justru sebaliknya..Mungkin sudah saatnya kita buka kacamata kuda kita masing”.. agar bisa lebih melihat dan meRASA ..lebih bisa menyelami apa maksut dibalik diciptakannya manusia dengan segala macam perbedaannya…

  • Abdurrahman

    Menegakkan toleransi bukan berarti mengorbankan akidah Tauhid kita. Soal anak-anak non-muslim yang mendengar doa-doa atau ucapan-ucapan Islami, biarlah itu menjadikah hati mereka terbiasa dengan ajaran Tauhid, kelak dewasa hati mereka semakin terbuka terhadap Hidayah tanpa paksaan sama sekali. Jika kita kembali pada Al-Quran dan Haditz bahwa Kemusyrikan (mempersekutukan Allah) adalah dosa besar yang diperingatkan berulang-ulang pada banyak ayat, maka kita perlu juga saling mengingatkan tentang itu kepada non-muslim tanpa paksaan sama sekali.
    Kita jangan terlalu hanyut dengan istilah “toleran” ini karena toleransi yang diajarkan Al-Quran adalah bahwa, tidak ada paksaan dalam beragama karena telah jelas berbedaan “yang haq” dan “yang batil.” Jadi, kita nasehatkan dulu tantang yang haq, yaitu Tauhid, setelah itu kembali ke keyakinan masing-masing tanpa paksaan.

  • kilo

    seandainya saya jadi anak2 yg di undang keperayaan hari besar selain islam, tertunduk dan diam mendengarkan doa2 dll, seperti undangan yg diberikan kpada bapak presiden !! lalu sya mengadu kepada orangtua sya tentang perasaan sya yg hanya diam dan tertunduk saat perayaan hari besar itu dilaksanakan tak terbayangkan bagaimna perasaan sya sebagai anak2 yg diundang keperayaan hari besar yg bukan hari besar kepercayaan yg sya anut…coba anda BAYANGKAN…sedangkan klo menolak undangan nanti disebut tidak toleran…

  • Anto Toyex Bibil

    Saya Kira Klo bicara soal negara islam atau demokrasi gak ada bedanya toh umat islam yang minoritas di negara lain yg katanya demokrasi dan memperjuangkan HAM toh harus mengikuti aturan yang ada di negara itu kadang sampai berhijab pun di cap teroris!!!! masih mending di sekolah indonesia yang agam non muslim boleh tidak mengikuti atau diam aja………di negara lain apakah yg non muslim boleh diam aja kadang malah dipaksa kalo nggak mau malah dihukum disiksa !!!!! jangan berkaca dari negara lain dari mayoritasnya non muslim

    • Cokro

      Anda tahu itu salah kan( ” negara lain yg katanya demokrasi dan memperjuangkan HAM toh harus mengikuti aturan yang ada di negara itu kadang sampai berhijab pun di cap teroris!!!” )

      Jika itu memang sebuah kesalahan, mengapa harus mengimplementasikan “kesalahan” dalam negara ita. Mengapa kita harus mengikuti yang salah ?
      ya pak Anto Toyex Bibil ?

  • Anto Toyex Bibil

    Kenapa harus diotak atik dar zaman pak karno samoai SBY doa disekolah itu2 aja nggak sampai bikin negara kacau
    walopun ada konflik berbau sara di indonesia toh masalhnya bukan soal cara berdoa di sekolah…….jadi selama ini doa yg dipakai disekolah tidak ada unsur memperkeruhb keadaan antara minoritas dan mayoritas

  • Rizal Saokori

    ckckckckck….
    sudah mulai terkotak2 dah, dengan argumen masing2 yg ujung2nya tafarraq….ckckck sukseslah,,
    sadar mas,jangan mw dipecah belah!!

  • ita

    saya dukung kebijakann pak anis. mending berdoa dengan bahasa Indonesia yg lebih universal. di Bali dan sebagian Indonesia timur saat islam menjadi minoritas. di kelas semua berdoa (awal dan akhir pelajaran) dengan doa non islam. murid islam (termasuk saya saat itu) hanya diam berdoa sendiri. kenyataan ini justru jauh berbeda seperti di jawa atau daerah mayoritas Islam lainnya. begitulah wajah Indonesia, dimana mayoritas akan selalu menghegemoni. maka saya mendukung kebijakan pak Anies. ustad yusuf mansur bertahun2 hidup di Jawa yg notabenenya mayoritas Islam, silahkan coba sekolahkan anak2nya di sekolah negeri di Indonesia timur, biar tau apa itu kebhinekaan dan bagaimana solusinya.

  • Wong KO(MUNIS

    AKu orang komunis tanpa agama tapi saya menghormati orang yang beragama. asal gak nyenggol aku aja.. nyenggol aku tak bacok gulune

  • Rizal Saokori

    Suatu saat juga mungkin anda akan mendukung jika azan diganti dengan kata2 yang lebih umum,,yang diterima oleh banyak pihak karena bukan hanya muslim yang mendengar suara itu lewat pengeras suara…

  • agung

    Masalah beginian gak bakalan selesai2 & akan terus ada karena mayoritas penduduk Indonesia adalah umat Islam sedangkan azas hukum negara kita adalah Pancasila, tentu gak berimbang sodara karena Pancasila mengatur banyak agama. Semoga kita bisa memahami nya

  • Dwityo Sd Trisno

    Jadi ingat kisah Pemimpin Kharismatik dan Legendaris PLO dan Palestina, Yasser Arafat…
    Seorang pemimpin politik, pemimpin negara, dan pemimpin umat yang bersahaja, kharismatik disegani bahkan oleh dunia Barat dan Israel… Seorang pemimpin yang sederhana, dan murah senyum, namun juga tegas, dan tidak pernah takut oleh Barat dan israel…

    Tahukah kita bahwa Yasser Arafat, setiap tahun selalu datang mengikuti ibadah dan perayaan Natal di Bethlehem bersama dengan umat Kristen Palestina dan Yahudi. Setiap tahun selalu datang, hingga 3 tahun terakhir sebelum wafatnya beliau, pemerintah Israel sampai harus melarang Yasser Arafat mengikuti ibadah Natal dan tidak mengeluarkan izin kepada beliau untuk mendatangi Bethlehem… Pun walaupun dilarang Israel, dan diancam akan ditangkap serta dipenjara jika Yasser Arafat datang ke bethlehem untuk menghadiri Misa Natal, beliau (Yasser Arafat) tetap datang, dan tidak mengindahkan larangan dan ancaman Israel. beliau tetap datang untuk berbagi dan memberikan teladan, menunjukkan respect, dan menunjukkan keteduhan kepada umat Kristen di Palestina dan Yahudi.

    Pun setelah beliau wafat, Mahmuod Abbas sebagai pemimpin PLO dan Palestina selanjutnya, tetap meneruskan kebiasaan Yasser Arafat untuk mengikuti ibadah dan perayaan Natal di Bethlehem setiap tahun… Sikap yang ditunjukkan oleh para pemimpin PLO dan Palestina ini, membuat masyarakat Kristen di Palestina dan Yahudi merasa aman dan sejahtera walaupun berada dibawah tekanan Israel, dan mereka menunjukkan respect yang luar biasa kepada beliau. Terbukti, saat Yasser Arafat wafat, seluruh umat Kristen Palestina dan Yahudi, menangisi kepergian beliau dan turut mengantarkan jenazah Yasser Arafat ke peristirahatan terakhirnya.

    Dan perlu diketahui, sejauh apapun bentrok yang terjadi antara Palestina dan Israel, tidak pernah sampai terjadi bentrokan antara umat Islam Palestina dengan umat Kristen Palestina serta umat Kristen Israel. Sungguh menakjubkan, ditengah konflik Palestina-Israel yang hampir terjadi setiap hari, ternyata tidak pernah ada konflik antar agama Islam dan Kristen disana. Bahkan sering diberitakan umat Kristen Palestina turut berjuang dan tewas dalam perjuangan intifada Palestina, serta banyak umat Islam Palestina yang mengungsi dan beribadah di Gereja umat Kristen Palestina… Sungguh, sebuah cerita dan pemandangan yang justru tidak terjadi di Indonesia…

    Pertanyaan saya, apakah keimanan dan aqidah Yasser Arafat serta Mahmoud Abbas salah? Apakah toleransi yang ditunjukkan beliau tidak sesuai aqidah Islam? apakah Yasser Arafat salah dalam menerapkan aqidah tersebut?

    Saya sampai berfikir, ilmu keislaman dan penerapan aqidah Yasser Arafat dan Mahmoud Abbas masih jauh daripada ilmu keislaman dan penerapan aqidah yang ditunjukkan Yusuf Mansur… sepertinya Yasser Arafat dan Mahmoud Abbas harus banyak belajar lagi dari Yusuf mansur, mengenai toleransi antar umat beragama..

    Sungguh, saya sangat merindukan suasana kerukunan antar 2 agama ini, dimana hal itu hanya saya rasakan semenjak tahun70an-90an saja… Saat ini, justru Indonesia yang terkenal dengan keharmonisan dan kerukunan, gotong royong, keramahan serta toleransi antar penduduknya sudah semakin hilang dan terkikis habis.

    • tyozzz

      presiden2 kita dari dulu juga selalu ikut acara natal nasional

  • Abdul Rahman Najamuddin

    Dulu rakyat palestine juga murah senyum, baik, pemurah, dan bersahabat kepada kaum yahudi sebagai pendatang (tahun 1943-1946), tp sekarang palestine negeri yg terjajah..

  • Rame euy….,, Nyang nulis mana nich kok ngga ada tanggepan….?? :p

  • Ali Arrahman Fahroughi

    Kalau anda, anak2 anda, dan keluarga anda enggan mendengar doa doa umat muslim, ya kenapa anda tidak sekolahkan saja anak anda di sekolah yang khusus agama kalian? Dimana bumi berpijak, disitu langit dijunjung. Anda hidup di negara yang mayoritas islam, ya anda harus ikuti adat istiadat serta budaya disini

    Sama halnya dengan kami umat muslim yang tinggal di negara minoritas seperti amerika, kita tidak bisa sembarangan beribadah, membaca al-qur’an di tengah jalan, dsb. Karena memang kami minoritas, dan kami ikut aturan pemerintahan amerika. Pilihannya hanya dua, take it or leave it. Tinggal disini dan ikut aturan, atau pindah ke negara lain yang sesuai agama kalian.

    Jangan karena anda minoritas, lalu membuat tulisan menya menye seperti ini, agar anda dapat dikasihani dan dapat dukungan. Jangan karena anda minoritas, lalu akhirnya indonesia yang sudah dari turun temurun mayoritas islam harus tunduk pada anda. Mana ada ceritanya mayoritas ikut ke minoritas? Seperti yang saya sampaikan diatas, pilihannya hanya ada take it or leave it

    Indonesia menjadi negara yang mayoritas islam tidak dengan perjuangan yang mudah. Para ulama, wali songo, dan pejuang muslim lainnya bersusah payah untuk menyebarkan agama islam ini ke seluruh pelosok indonesia. Toleransi memang toleransi, tapi tidak harus kebablasan seperti ini.

    • Ima RhoMayda

      “Kalau anda, anak2 anda, dan keluarga anda enggan mendengar doa doa umat muslim, ya kenapa anda “tidak sekolahkan saja anak anda di sekolah yang khusus agama kalian?”
      Karena mau masuk sekolah negeri.

      “Anda hidup di negara yang mayoritas islam, ya anda harus ikuti adat istiadat serta budaya disini”
      Apa itu? Bhinneka tunggal ika?

      “Sama halnya dengan kami umat muslim yang tinggal di negara minoritas seperti amerika, kita tidak bisa sembarangan beribadah, membaca al-qur’an di tengah jalan”
      Di Belanda, Belgia, Jerman, boleh. Di Jerman, orang sholat di stasiun kereta (di ruang terbuka) didampingi istrinya, oke2 saja. Tahu kenapa? Karena hak-hak berkeyakinan setiap penduduk (setiap penduduk tanpa kecuali) dilindungi.

      “Jangan karena anda minoritas, lalu akhirnya indonesia yang sudah dari turun temurun mayoritas islam harus tunduk pada anda. Mana ada ceritanya mayoritas ikut ke minoritas?”
      Tidak ada ceritanya memang. Pak Menteri juga tidak menyarankan berdoa secara Hindhu di sekolah negeri.

      “Indonesia menjadi negara yang mayoritas islam tidak dengan perjuangan yang mudah. Para ulama, wali songo, dan pejuang muslim lainnya bersusah payah untuk menyebarkan agama islam ini ke seluruh pelosok indonesia.”
      Betul. Islam disebarkan dengan penuh kedamaian, dengan perasaan sukacinta berkompromi dengan budaya lokal yang sudah ada jauh sebelumnya, menghindari gesekan. Ketika sudah besar, bukankah sudah selayaknya orang Islam semakin cinta damai?

  • tari

    Gini aja deh… gak usah meributkan sesuatu yang sebenernya g ada masalah sama sekali. Toh dulu doa keras2 juga gak ada masalah kan.. kenapa sekarang dipermasalahkan? Masalah udah clear dari pak anies sendiri kok anda malah buat2 masalah lagi. Aku lo punya teman nonis dulu pas tk dan SD… mereka juga menghormati… dan kami pun seperti itu menghormati mereka. Guru2 juga menghormati mereka… udah deh.

  • Hamba Allah

    Sepertinya kaum minoritas ini semakin melunjak ya, di kasih hati minta jantung. Well, semoga Tuhan melindungi agama yang benar.

    • Sepertinya anda makin lama ga mencerminkan kelakuan hamba Allah.

    • Salva Balesta

      iya nih om, soalnye mayoritas ngajarin rusuh trus ..katanya mayoritas..kudunya maju negaranya..bkin contoh yg baek, tuh negara mayoritas maju2 semua, nih indo negara mayoritas ngajarinnya korupsi, apalagi yg berbau selangkangan…rusuh dimana mana…..bingung saya juga…..

  • Guest

    Yealah gan,

  • Ardodo

    Yaelah gan, kan udah ada instruksi untuk berdoa menurut agama masing-masing. Kenapa masih diributin sih gan? kurang toleran ya itu?

  • simon

    Terimakasih TUHAN, Kau jadikan negeri ini berbeda.. dan terimakasih Kau telah mengampuni umat Mu yang menindas, memaki, menganiaya, sesama umat Mu dengan mengatas namakan agama Mu.

    • airiRin

      Hahaha… Sedih ya.
      Toleran pakai embel-embel *(syarat dan ketentuan berlaku)

  • Tanto Jasa Desain Web

    Curhat orang bingung yg gak sadar agamanya telah di injak injak. sebaiknya Anda belajar agama lagi

  • Victor Soehartono

    Intinya, ga ada Agama yg bener atau yang salah, cuma bagaimana setiap individunya atau instansi yang membawa nama agama tertentu itu berprilaku.

  • mariani

    Saya adalah kaum minoritas dan menurut saya agama tidak dpt diperdebatkan karena itu keyakinan dan hak asasi masing-maring orang. Agama harusnya tidak dijadikan perbedaan. Harusnya kita sebagai mahluk sosial bisa hidup harmonis dan lebih saling menghargai. Konsekwensi masuk sekolah yang agamais artinya kita harus mengikuti aturan yang ada. Jika masuk sekolah Islam ya harus ikut berdoa agama Islam, masuk sekolah Katholik ya harus ikut berdoa cara Katholik, tapi masuk sekolah negeri harusnya berdoa yang netral bisa diterima oleh semua murid yang agamanya berbeda-beda. Hanya ingin berbagi, saat perayaan Natal, Gereja tempat keluarga kami diledakan dan memakan korban. Sedih rasanya melihat hal ini terjadi, tapi tidak ada rasa benci atau ingin balas dendam dari kami ataupun korban. Sedih juga melihat beberapa saudara kami yang melakukan pembangunan Gereja dilarang ataupun jika sudah setengah jadi Gereja dibakar. Kami kaum minioritas berusaha mandiri, tidak mencari pendanaan pembangunan Gereja dengan minta sumbangan dipinggir jalan yang bisa mengganggu kelancaran pengendara kendaraan di jalan, kami galang dari sumbangan antar jemaat. Kami juga berusaha tidak mengganggu lingkungan sekitar harus dengan speaker keras-keras terdengar kemana-mana saat melakukan ibadah. Dan sekarang saya tinggal di Amerika, semua agama diperlakukan sama tidak ada perbedaan. Tapi ada aturan yang berlaku jangan sampai ibadah mengganggu orang lain. Tidak ada speaker dan suara keras-keras terdengar jika mereka melakukan ibadah. Seharusnya pemerintah lebih bijaksana terlebih pemuka agama harusnya lebih berhati-hati dan bijaksana tidak memberikan informasi atau komentar yang bisa menyesatkan. Semua agama baik dimata Tuhan harusnya kita saling mengasihi bukan saling menghancurkan. Yang sudah berlalu ya harus dimaafkan dan kita tidak akan maju secara rohani jika selalu mencari kesalahan dan perbedaan.

  • PENULISNYA LIBERAL, SEKULER, JIL! FENTUNG!! KEBIRI!! SUNTIK EBOLA!

    JK. You’re awesome. Mencari orang waras di negeri ini lebih susah daripada nemu 100 ribu di jalan.

  • Hendra

    Sebagai seseorang yg dibesarkan di lingkungan multi-religi (Hindu, Buddha, Katolik, Protestan, Islam, dan Shinto), saya bingung dengan jalan pikiran mereka, para ‘Pembela Agama*’ yg menginjak-injak rasa kemanusiaan atas nama ‘Agama*’.

    Satu hal lagi yg saya membuat saya heran dari komentar-komentar sebelumnya:
    menggeneralisasi populasi dalam suatu wilayah berdasarkan sampel yg BUKAN sampel acak, yg jumlahnya hanya segelintir, bahkan kurang dari nol koma sekian persen dari nilai populasi…. anda pernah belajar statistik?
    Bila anda ingin memanipulasi informasi untuk mendukung argumen anda, setidaknya lakukanlah dengan cara yg sedikit lebih…. cerdas.

    PS :
    *interpretasi pribadi berdasarkan ilmu Cucoklogi

  • Run

    sebagai muslim saya mau komen, “nah ini!” tapi saya takut sama beberapa orang muslim yang pintar yang bakal mencap saya sebagai penganut Islam liberal. ehe~

  • harismo

    begini emang, percuma pada argumen sok paling pinter, paling nasionalis. terang indonesia bukan negara islam, sekuler. kalo dikasih warna islam, ga bakal nyambung. yg islam juga sok islami, dikira begitu cara dakwah yg bener.. sekuler ya sekuler, islam ya islam. emang banci dari awal kan?

  • safar

    Banyak yang mengaku muslim secara teologis (hablumminallah), tapi kafir secara sosiologis (hablumminannas). Hanya bersyahadat pada tataran lisan, namun ingkar dalam praktik sosial. Tuhan melalui Nabi berpesan: Orang yang mengasihi akan dikasihi Allah. Kasihilah semua yang ada di bumi, maka semua yang di langit akan mengasihimu.
    Saya hanya khawatir: jangan-jangan kita sedang beragama tanpa bertuhan. Mari bertabayyun !!!

  • MN

    Sayangnya di indonesia sudah terlalu byk org yg menganggap diri lebih tinggi, lebih pantas, lebih mulia dari org lain, yang maunya selalu didahulukan dan dibela atas nama “mayoritas”. Tuhan maha tau, apakah yg kita lakukan semata2 untuk-Nya atau hanya membela harga diri dan gengsi.

  • viju always

    islam dgn eksistensinya,…
    semua masyarakat Indonesia udah tau, bahkan anak kecil non muslim udah pd pinter ngucap.
    koq bisa,….?
    ya ialah,setiap hari pagi sore malam dengar suara azan yg berkumandang dgn kuatnya dihampir seluruh wilayah indonesia.
    belum lagi suara dakwah / ceramah yg sengaja dikuatkan pakai pengeras suara ( toa ) Kegiatan perwiritan yg dilakukan dirumah2 aja pakai toa.
    sy sering menyaksikan anak2 bermain pedang2an sambil menyerukan allah hu akbar, allah hu akbar…., ngucap kalimat syahdat,
    koq bisa,…?
    ya ialah, terlalu mubazir dikumandangkan,ngga sakral lagi lah maknanya.

  • danking

    Kuncinya adalah toleransi beragama di bangsa kita yg sudah mulai luntur yg antara lain disebabkan sedemikian mudah menyebarnya paham2 dari negeri ali baba yg lebih memupuk kebencian bukan toleransi di masyarakat kita. Dan semakin kurangnya para pemimpin, pejabat, ulama, dan tokoh masyarakat yg mampu meng-edukasi dan memberi teladan bagaimana bersikap tenggang rasa, bertoleransi terhadap umat beragama lain. Jadi rindu Gus Dur hidup lagi..

  • Erawan Sutirto

    Harus diingat bahwa dimanapun kita tinggal, Sumatera, Kalimantan, Papua maupun Maluku, kita adalah orang Indonesia dengan berbagai agama. Jangan terjebak pada frasa mayoritas maupun minoritas. Kalau beragama Islam masuk sekolah Katolik atau Kristen, atau beragama Budha masuk sekolah Islam atau sekolah Katolik, santai sajalah. Agama berbeda tapi kita kan satu bangsa, satu negara dan satu bahasa. Kalau disekolah Katolik sedang berdoa, padahal kita beragama Islam, ya kita diam menghormati yang sedang berdoa, bisa sambil berdoa dalam hati dengan cara Islam, begitu juga sebaliknya. Jangan terjebak pada cara-cara berpikir yang bukan cara berpikir Indonesia, jangan menghianati amanah para pendiri bangsa dan negara kita ini.

  • ucok

    yaelah gan

  • dindonk

    Saya rasa kebijakan memimpin doa tergantung agama mayoritas yang ada di daerah itu. Di jawa mayoritas, maka wajar doanya Islam. Doa di papua juga umumnya nasrani dan tidak ada masalah dengan itu. Toh, sebelum berdoa si pemimpin biasanya mempersilahkan penganut keyakinan lain untuk menyesuaikan sesuai dengan agamanya masing-masing. Yang penting ada toleransi antar sesama agar tidak muncul konflik.

  • dewi

    Tetap waspada dan selalu menjaga keimanan adalah kewajiban seorang muslim . Untuk mewujudkan hal itu setiap muslim harus berjuang untuk menanamkan nilai2 ini baik pada diri sendiri maupun generasi penerus. jalan untuk itu tentunya sudah dicontohkan oleh rasul kita dan juga ada dalam firman Allah, dimana cara islam dalam bergaul dengan pemeluk agama lain pada zaman rasulullah adalh contoh yang terbaik pengamalan toleransi beragama di seluruh dunia . Pantaslah kalau dalam beberapa dekade agama islam telah menyebar ke penjuru benua. Di masa kini, hal itu tentu masih tetap diperjuangkan dan cara-cara islami dalam bernegara dan bergaul dengan pemeluk agama lain tetap diupayakan sesuai dengan apa yang dicontohkan rasul kita. Seandainya ada yg kurang setuju itu wajar. Akan tetapi acuan kita tetap dan tidak berubah. Yang mungkin perlu sangat kita khawatirkan dan sudah tampak di depan mata adalah terjadinya kehancuran moral anak-anak kita yang semakin menyedihkan . Dimana pergaulan bebas dan pemalaian narkoba sudah semakin banyak dan semakin muda pelakunya . Bahkan anak2 SD banyak tercemar kerusakan moral ini. Saya kira untuk itulah kita selalu berupaya dan waspada

  • logika

    loh mas, kan komentarnya @ida lumintu buat @tungky:disqus . dia cuma
    nyeritain versi dia kayak gimana..nggak tau mana yang bohong atau emang
    semua benar, yang jelas kalau dari cerita @ida lumintu, memang sesuai
    dengan kondisi teman saya yang juga pernah masuk sekolah non muslim, dia
    jadi ngerti agama non muslim juga beberapa isi kitabnya..

  • YogYog Sukha Sukha

    Saya Copy kan ke sini jg, sebuah surat pembaca untuik anies baswedan dari pak Abdullah Muadz Pendiri dan Pengasuh Ma’rifatussalaam Kalijati subang dan Ketua Umum Assyifa Al-Khoeriyyah Subang, Jawa Barat. Email:[email protected]

    Langsung ke poin penting nya saja:

    Sedikit fakta sejarah berikut ini mudah-mudahan bisa kita jadikan gambaran, bahwa Umat Islamlah yang paling banyak tolerasi, mengalah serta paling mengerti masyarakat yang heterogen dan majemuk.

    Fakta-fakta itu sebagai berikut :

    Penghapusan tujuh kata dalam Piagam Jakarta, karena ada isu ancaman dari Indonesia Timur akan memisahkan diri dari Indonesia. Hingga saat ini isu itu masih misterius siapa oknum yang mengancam itu. Umat Islam pun menerima.

    Kalender Nasional dan Kalender Pendidikan memakai kalender Masehi (Nasrani), bukan kalender Islam (Hijriyah) sehingga sangat susah dan ribet ketika menentukan libur ramadhan dan libur hari raya… terutama mengatur liburan sekolah, umat Islam pun dapat menerima.

    Hari libur pekanan hari Minggu (Nasrani), bukan hari besar Islam (Jum’at ), Umat Islam pun Mengalah.

    Tahun Baru Imlek dan Tahun baru Masehi peraayaannya jauh lebih besar dan lebih gebyar dari pada Tahun Baru Islam. Lagi-lagi umat Islam tidak iri hati.

    Pemaksaan asas tunggal terhadap organisasi apa pun pada zaman orde baru, yang direkayasa oleh kelompok “Tanah Abang” (CSIS) otak utamanya adalah non-Muslim, lagi lagi Umat Islam sangat terpojok pada saat itu, sampai meletusnya Peristiwa Priok. Para aktivis HAM bungkam, karena korbannya Umat Islam.

    Pemecatan siswi berjilbab, dari SLTA Negeri selama 12 Tahun (1980-1992 ) sampai banyak korban gadis berjilbab yang diusir dari sekolah negeri. Dan kita tahu siapa Dirjen Dikdasmen waktu itu yang mengeluarkan surat edaran pelarangan, adalah seorang non- Muslim. Orang-orang tidak ada yang teriak HAM, termasuk aktivis HAM-nya juga diam saja.

    Nama-nama gedung-gedung besar terutama di Jakarta, sangat kental dengan bahasa yang digunakan oleh non-Muslim. (Contoh: Arthaloka, Graha Purna Yudha, Manggala Wana Bhakti dan sebagainya).

    Lebih dari 30 jenis Penghargaan Presiden, semuanya memakai nama-nama yang juga sangat kental dengan bahasa yang digunakan oleh non-Muslim. Berikut ini sebagian contoh kecil penghargaan di Bidang Militer:

    Bintang Kartika Eka Pakçi, terdiri atas tiga kelas:

    Bintang Kartika Eka Paksi Utama

    Bintang Kartika Eka Paksi Pratama

    Bintang Kartika Eka Paksi Nararya

    Bintang Swa Bhuwana Paksa, terdiri atas tiga kelas:

    Bintang Swa Bhuwana Paksa Utama

    Bintang Swa Bhuwana Paksa Pratama

    Bintang Swa Bhuwana Paksa Nararya

    Umat Islam pun tidak pernah mempermasalahkannya…

    Peristiwa Ambon sangat Jelas, yaitu pembantaian terhadap orang-orang yang baru selesai shalat Id. Saksinya jutaaan manusia, tetapi sampai di luar negeri beritanya jadi sangat terbalik, bahwa Umat Islamlah yang mendahului… (sudah jatuh, tertiban tangga pula, sudah dibantai, difitnah pula).

    Komposisi PNS dan Pejabat berdasarkan Agama di beberapa provinsi tidak proporsional jika dibanding dengan komposisi agama penduduknya. umat Islam tidak mempermasalahkan.

    Bicara korban pembantaian terlebih lagi, siapa yang paling banyak korbannya? Peristiwa Priok, Lampung, Cicendo, Woyla, Aceh, Ambon, dan lain lain, siapa korbannya? Memang, Umat Islam sudah terbiasa jadi Korban Pembantaian. Lagi-lagi, ke mana para aktivis HAM?

    Rekayasa global dengan isu “terorisme”, yang sangat memojokkan Umat Islam, sangat berimbas di Indonesia, sampai-sampai pesantren pun jadi korban sebagai “tertuduh”. Kita harus menerima bahwa seolah-olah kalau bicara “terorisme”, itu konotasinya Umat Islam. Jadi, “Teroris” sama dengan Umat Islam, begitulah opini yang dimainkan. Betapa baik hati dan tolerannya Umat Islam di Indonesia. Ternyata masih juga dianggap kurang, masih pula dianggap intoleran. Jadi apa sih yang sebenarnya diinginkan?

    dan ini sumber lengkapnya: http://www.islampos.com/surat-terbuka-untuk-anies-baswedan-151518/

  • liko

    beribadahlah sekuat kemapuanmu dan taatilah perintah pemimpinmu selama tidak maksiat

  • Ismi Laila Wisudana

    Semua tergantung di niat, pada kenyataannya masih byk muslim yg ga berniat utk buat ketidaknyamanan kok dg hrs pukul beduk keras2 ddpn rmh non muslim.
    Kalo ingin buat peraturan berdoa di sekolah, mmg lbh bijak agar semua agama berdoa dg cara msg2 kan? Skr semua berpulang pada apa yang menjadi pegangan dan apa yg dipahami dalam memahami toleransi sprti apa. Tnpa memaksa, trmsk pndpt satu sama lain yg hrs diiyakan. Saya sbg muslim tetap pada lakum diinukum waliyadin dan KBBI mengenai toleransi. Saya kira sebuah sikap, apapun itu.. jika sudah punya pagar akan sulit menyeleweng keluar, kecuali keinginan sendiri yg ingin keluar.

  • Soni Rahadian Sobar

    smoga kita bukan termasuk orang-orang yg munafiq

    Di antara manusia ada yang mengatakan: “Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian”, padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman QS. al-Baqarah (2) : 8

    Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar QS. al-Baqarah (2) : 9

    “Akan keluar di akhir zaman suatu kaum yang usia mereka masih muda, dan bodoh,
    mereka mengatakan sebaik‑baiknya perkataan manusia,
    membaca Al Qur’an tidak sampai kecuali pada kerongkongan mereka.
    Mereka keluar dari din (agama Islam) sebagaimana anak panah keluar dan busurnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

  • Rio sang berkah

    ..bu ida salah klo membandingkan sekolah katoliknya dengan sekolah
    negeri… harusnya bu ida membandingkan sekolah berbasis agama ya dengan
    sekolah yg berbasis agama juga…. bu ida mw ngotot seperti apa jg
    namanya sekolah negeri orang ya tau nya sekolahan itu menampung anak2
    semua agama, semua suku, semua ras, semua bangsa dan guru2 nya pun beragam agama juga…kecuali dia anak cacat disarankan anak itu sekolah di SLB krn dpt memberikan pengajaran yg ‘lebih’ dan khusus dgn guru yg punya keahlian khusus pula pun disekolah negeri maupun slb negeri tidak bisa mengeneralisir SARA .. klo sekolah berbasis agama ya ortu dr awal sudah tau pasti
    ada ajaran2 agama yg akan diajarkan.. kalo kasus seperti bu ida lantas setelah bu ida besar terus menyesal yg harus disalahkan bukan negara tapi ortu anda…karena ortu anda yg memasukan anda kesekolah berbasis agama yg notabene berbeda dgn keyakinan anda…..mungkin ortu anda dulu memang kepingin bu ida pas dewasanya bisa ‘toleran’.. who knows…. heheh

  • Abd. Hamid Hamdah

    Kalau sekolah swasta baik yg Islam atau non Islam jika sudah berani membuka pendafataran bagi calon siswanya yg selain dengan agamanya maka dia wajib menyediakan guru agama sesuai dg agama si siswanya itu, contoh : SMA Islam Khodijah dia mau menerima siswa non muslim maka dia wajib menyediakan guru agama non muslim tsb kalau tidak mau maka itu adalah sebuah pelanggaran, atau sekolah SMA Kristen Petra dia berani menerima siswa Muslim maka dia harus menyediakan guru agama Islam kalau tidak mau maka itu juga sebuah pelanggaran UU sisdiknas, kecuali kalau memang sekolah tsb tidak menerima siswa diluar agama dari sekolah itu, SMA Islam Khodijah hanya menerima siswa Muslim, SMA Kristen Petra hanya menerima siswa Kristen, beres…nggak perlu ada masalah…

  • Adiba

    Ada 2 anak sy, di skolah katolik jg berdoa menurut agama katolik, tapiiii kami diam aja. Kan dalam hati siapa yg tauk…..jg saudara2 kami jg di suruh pimpin doa, kan lbh gawat…. Tp untung pendidikan agama Islam dari rumah sdh OK.

  • Adiba

    SD dan SMP katolik di tempat kami, alhamdulillah sdh ada pemisahan sesuai agama msg2,( jika ada pelajaran agama) tapi ttp wajib berdoa sesuai ag. katolik jk jam pertama ,di ruang kelas anak kami tdk memakai AC seperti yg lainnya. Setelah msg2 tammat kami pamit mundur. Kami memilih sekolah tsb, karena dekat dari rumah gmpg di kontrol.

  • gdgom

    Mau tidak mau, saya bersama dengan penulis. Bukannya saya nggak menghargai pendapat Ustadz YM, saya rasa masuk akal dengan yang diutarakan pak Anies. Dulu saat saya masih SD (sekolah umum), ada seorang teman saya yang non muslim harus ikut pelajaran PAI bahkan shalat Jumat bersama kawan2 laki2 yang lain karena tidak disediakan guru utk agama selain Islam pada saat itu (SD saya SD Negeri). Saat dia pernah berniat tidak ikut sholat, teman2 yang lain akan mengerutkan kening seakan men-judge. Hingga akhirnya saat SMP, dia baru bisa kembali beribadah sesuai agamanya karena pelajaran agama terpisah dg yang muslim.
    Saya senang melihat Islam diajarkan dengan sungguh2 karena negara kita mayoritas penduduknya adalah muslim, tapi bukan berarti kita harus memaksa mereka yang non muslim untuk ikut. Bukankah Islam mengajarkan untuk saling toleransi? Untukmu agamamu, dan untukkulah agamaku? Jika ingin pendidikan Islam anak diterapkan sejak dini, sekolahkan di sekolah Islam.
    Saya juga punya kawan non muslim yang membela saya dan teman-teman muslim saya ketika saya berada di tengah-tengah komunitas non muslim. Saya bertanya pada dia, “kenapa kamu nggak ikut mencela aku karena jilbabku yang lebar? Kamu beneran nggak kepikiran aku ikut organisasi teroris?” Dia menjawab “jilbab lebar kamu itu kan perintah Tuhan kamu. Teroris itu orang lain, bukan kamu. Aku cukup menilai Islam dari kamu dan teman-teman kamu untuk tau kalau nggak semua Islam itu teroris dan radikal.”

    Jadi daripada berprasangka buruk, lebih baik kita sendiri berupaya jadi agen Islam yang baik, yang menunjukkan pada orang lain bahwa muslim pun bisa bertoleransi.

  • nusantara jaya

    Anda sudah mendapat pencerahan sebagai umat beragama, melalui perenungan suci dan bertanyalah kepada batin karena batin itu adalah kebenaran. Oleh karena itu sesuatu yang bertentangan dengan batin janganlah dilakukan. Sikap kekerasan dan menyakiti sesama mahluk hidup bukanlah ajaran dari Tuhan, Tuhan maha penyayang dan cinta kasih kepada ciptaanNya

  • awwlieur

    makanya kalau mau komentar islam harus ngaji? jangan asal ngomong, INGAT!!! kita diperintah Tuhan hanya mendirikan dan menjalankan serta meniru apa yg dilakukan Rosul tetapi jangan sekali kali menilai hasil apalagi memvonis, itu hak mutlak Tuhan, hanya menjalankan saja sesuai aturan yang disampaikan melalui guru, ulama dan Rosul saja kalian sudah ribut mengenai hasil, BODOH amat kalian!!!

  • Abdullah Yusuf Hadiantomo

    biar ga bingung.. ga usah mikirin negara ini, sekolah2 negeri atau apalah itu. segala sesuatu kita mulai dari diri sendiri aja, mas..perbaiki aqidah dan akhlak inshaa Allah kita bisa bersikap lebih menghargai yang lain dengan lebih baik

  • lala

    jadi muslim jaman ini tuh susah ya, jadi mayoritas salah, jadi minoritas salah, pas ada oknum yang berbuat keliru, trus seluruh umat muslim digeneralisir keliru semua, semestinya kalau mengkritik itu ya jangan nggebyah uyah, gak semua muslim perilakunya urakan, dan gak semua nonmuslim perilakunya selalu santun, gak semua muslim itu bajingan dan gak semua non muslim itu malaikat. muslim atau nonmuslim keduanya manusia, tempat salah dan lupa, harusnya yang namanya toleransi itu dua arah, yang mayoritas menghargai minoritas, yang minoritas menghormati mayoritas, jangan mentang-mentang minoritas berarti selalu jadi pihak yang terdzalimi, ingat jaman orba mayoritas muslim Indonesia ini dikerjai habis2an oleh kaum minoritasnya, jaman awal negeri ini berdiri, umat islam rela membatalkan piagam jakarta yang sejatinya sudah paripurna, demi keberlangsungan bangsa ini,,,,,, jangan sampai toleransi hanya jadi tunggangan minoritas untuk menekan mayoritas, Indonesia ini bisa dibilang sudah over toleran!!!!

  • Agatha Ria Susanti

    ndak apa2 kok kami mas.. kami didasari dengan hukum saling mengasihi.. di tempat kami (katolik), juga tdk diwajibkan untuk membaca doa keras2 dengan sengaja di depan umum, jdk ndak apa2.. itu tugas kami untuk mengajarkan arti toleransi dan saling mengasihi pada anak2 kami.. 🙂

  • Sakti Duta

    imam dan intelegensi tidak berbanding lurus. Buktinya, kolom komentar ini ramai.

  • chantiks

    mas Iqbal lagi pusing? bisa senderan ditembok dulu.. :))

  • Pingback: Manunggaling YZR-M1 dan VR46 di MotoGP | Mojok()

  • jauza bayernn

    tolong saya =,saya sudah mencicipi semua hal di dunia ini minuman keras zinah dll (kecuali drugs) saya ingin bertaubat dengan allah apakah allah memaafkan saya? saya ingin membanggakan orang tua saya,yang telah membiayai dan menafkahi saya,saya masih kuliah di semester awal,apakah allah masih merima taubat saya? saya berdoa dengan malu kepada allah memohon maaf,saya malu karena saya tidak suci lagi di mata allah,saya malu karena saya tidak pernah solat,saya malu karena baru sekarang saya memohonmaaf kepada allah,apakah allah masih memaafkan saya? bantu saya saya butuh pertolongan saya ingin berubah saya bosan dengan kehidupan saya,tolong jawab pertanyaan saya diatas dan kirim ke email saya :[email protected]

  • Pingback: Bosan Pacaran Lama tapi Tak Bisa Memilih | Mojok()

  • Pingback: Pilihan Karier Agus Yudhoyono Setelah Kalah Pilkada |()

  • Pingback: Subsidi Pukpuk untuk Kak Riyanni Djangkaru |()

  • Pingback: Subsidi Pukpuk untuk Kak Riyanni Djangkaru – UP Station()

No more articles