Assalamu ‘alaikum, Ustadz Yusuf mansur. Mohon maaf mengganggu, di tengah kesibukan Ustadz yang tentu berjejal-jejal itu. Semoga Ustadz sehat, dan selalu dalam lindungan Allah SWT. Amin.

Ustadz Yusuf Mansur yang terhormat, hiruk pikuk beberapa hari terakhir mengingatkan saya akan sesuatu.

Dulu waktu masih bujangan, saya tinggal di kampung orangtua saya di Jogja. Kampung kami sangat islami. Masjid tak pernah sepi, pengajian dilangsungkan sering sekali. Pada hari-hari besar Islam, kami kompak bersama ketiga kampung tetangga. Tak terkecuali tiap kali takbiran keliling digelar menjelang Idul Fitri maupun Idul Adha.

Kami takbiran bukan macam orang-orang kota, Ustadz. Cukup berpawai jalan kaki membawa obor (atau kalau sekarang ya lampion), dengan sound system seadanya yang ditaruh di atas becak kayuh. Tapi semua tetap bersemangat mengikutinya, melantunkan takbir sekencang-kencangya. Terutama… ketika melintasi jalan di depan sebuah rumah, yang selalu menjadi rute wajib kami.

Rumah itu milik sebuah keluarga yang beragama lain. Meski keluarga itu orang-orang baik dan tak pernah mengganggu kami, namun bagi kami mereka seperti duri dalam daging, mengurangi karakter islami perkampungan kami.

Maka, tiap kali pawai takbiran melintasi depan rumahnya, kami berteriak lebih kencang, tetabuhan kami pukuli lebih keras, dan, ah, bahkan kadang kami berhenti sesaat sambil meneriakkan kalimat-kalimat Allah sekeras-kerasnya.

Saya tak tahu, apa yang sebenarnya ada di hati dan otak kami waktu itu. Mungkin kami berharap dia mendapatkan hidayah Allah dengan cara-cara itu. Mungkin kami sekadar ingin pamer kekuatan dengan sikap begitu. Entahlah.

Yang jelas, seiring waktu, saya menyesalinya. Saya sedih melihat diri saya sendiri. Saya kadang membayangkan, apa yang dirasakan oleh keluarga itu, oleh anak-anak mereka, tiap kali malam takbiran tiba. Sesedih apa mereka dengan kondisinya? Sesakit apa hati mereka? Seberapa tebal perasaan sebagai orang yang “berbeda” menancap di hati mereka?

Dan sekarang saya bertanya-tanya, seberapa islami perbuatan kami itu? Seberapakah derajat ittiba’ kami pada akhlak agung Rasulullah SAW tercinta? Benarkah yang kami lakukan itu adalah berdakwah, atau malah jangan-jangan…

***

Ustadz Yusuf Mansur yang terhormat,

Kasus yang kemarin hangat di media mungkin ada kemiripannya dengan cerita saya di atas. Iya, betul, tentang aturan berdoa di sekolah-sekolah itu. Setelah membaca informasi mulai twit-twit Ustadz, hingga tabayyun dari Ustadz dan klarifikasi dari Pak Menteri Pendidikan, saya menelusur ke banyak teman yang anaknya sekolah di SD negeri.

BACA JUGA:  Iman dan Pilihan Sayang

Ternyata benar. Meski tak semua, banyak sekolah menerapkan tata cara itu. Membuka pagi dengan bersama melantunkan Al-Fatihah dan doa “Robbi zidni..”, dan menutup jam belajar dengan Surah Al-‘Ashr. Indah sekali.

Indah, bagi yang muslim. Sebab, meski di tengah anak-anak itu ada murid non-muslim, berdoa ala Islam tetap dilakukan. Surah-surah dibaca keras, sementara di sudut-sudut beberapa anak terdiam.

Saya membayangkan, anak-anak yang masih polos itu pulang ke rumah, lalu bertanya ke orangtua mereka. “Ibu, kenapa semua teman di kelas berdoa dengan cara Islam? Padahal kan aku bukan Islam, Bu? Kenapa hanya mereka yang boleh berdoa dengan suara keras dan beramai-ramai? Kapan aku juga boleh lantang membaca doa? Bapak dan Ibu Guru menyuruh aku berdoa menurut cara kita. Tapi tetap saja aku cuma disuruh diam, berdoa dalam hati, setiap hari berada di tengah doa teman-teman yang keras sekali..”

Ah, Ustadz. Saya juga punya anak, umurnya masih 5 tahun. Entah bagaimana andai anak saya yang ada di posisi itu. Ia pasti akan merasa berbeda. Merasa dibatasi jarak tebal dengan teman-temannya. Merasa sepi. Dan, mereka masih anak-anak yang suci dan lugu. Lalu apa yang sebenarnya bisa kita harapkan dari semua itu?

Pasti banyak orang akan menjawab bahwa itu adalah pendidikan agama untuk anak-anak kita. Iya, saya setuju pendidikan agama penting untuk dikondisikan setiap waktu. Tapi bukankah masih ada pelajaran agama, masih ada musala di sekolah-sekolah, masih ada masjid-masjid dan TPA di kampung-kampung, masih ada ceramah-ceramah Islam di hampir semua stasiun televisi, masih ada orangtua mereka yang wajib memupuk akhlak islami anak-anak sejak dini? Apa iya yang demikian itu harus di sekolah umum, sekolah negeri, sembari mengorbankan perasaan anak-anak yang berbeda, yang sesungguhnya hati mereka juga selembut hati anak-anak kita?

“Ini adalah hak umat Islam sebagai mayoritas! Jangan sampai kita dijauhkan dari nilai-nilai Islam!” suara-suara terdengar. Masya Allah, sekeras itukah kita?

Kepala saya acapkali pening dengan pertanyaan-pertanyaan tentang itu, Ustadz. Kenapa kita di Indonesia selalu bersemangat memperjuangkan dan membela Islam hanya dari sisi eksistensial saja? Martabat, marwah, kehormatan, derajat kaum muslim yang harus lebih tinggi di depan orang-orang agama lain, pengakuan mereka akan keperkasaan kita, ruang-ruang publik yang harus kita dominasi, dan sebagainya dan sebagainya.

BACA JUGA:  Cara Dakwah Nabi Itu Ramah, Lha Kalau Marah Itu Ngikut Dakwah Siapa?

Alih-alih menjalankan agama dan “beragama”, rasanya kita kok jauh lebih giat dalam “memperjuangkan eksistensi agama”. Saya bingung, Ustadz…

Dalam kasus kemarin, ketika ada indikasi cara berdoa mau disesuaikan biar lebih mengakomodasi murid-murid dari agama lain (meski kemudian dibantah oleh Pak Menteri), Ustadz Yusuf sendiri berkomentar bahwa ide begituan tak lebih dari sebentuk “alergi dengan Islam dan simbol-simbol Islam.”

Lantas muncul juga Ibu Wirianingsih dari PKS yang menyebut ide Pak Anies Baswedan sebagai “test the water”. Uji coba akan respons umat Islam, untuk menelurkan kebijakan-kebijakan anti-Islam. Jika umat tenang-tenang saja, kebijakan anti-Islam diterapkan. Jika terjadi keributan, yang melontarkan isu ngeles seenaknya.

Astaghfirullah, benarkah seorang Anies Baswedan anti-Islam? Dan benarkah ide untuk lebih menjaga perasaan semua anak didik (iya, mereka masih anak-anak lho, Ustadz) adalah ide yang tidak islami? Benarkah ide untuk mengajari anak-anak kita agar bisa hidup berdampingan dan saling menjaga hati satu sama lain adalah ide yang tidak islami?

Jauh di atas itu, saya bingung, kenapa ya Ustadz, kok kita selalu menghidupi agama mulia ini dengan tumpukan-tumpukan rasa curiga dan syak-wasangka? Setiap saat yang kita lakukan adalah menegakkan kepala, menajamkan telinga, membuka mata lebar-lebar, waspada. Waspada. Awas, Kristenisasi di mana-mana. Awas, ada konspirasi untuk melemahkan umat Islam. Awas, kekuatan orang-orang kafir pelan-pelan sedang menjauhkan kita dari ajaran agama. Awas. Awas. Awas.

Ustadz Yusuf Mansur yang saya hormati, betulkah dengan cara penuh curiga itu kita sedang membela Islam? Apa bukan malah sebaliknya yang terjadi: orang semakin takut, ngeri, dan jauh dari rasa simpati kepada Islam?

Kadang saya berpikir, membela Islam semestinya tidak dilakukan dengan cara-cara macam itu. Jika kita seorang muslim, bersikap baik kepada sesama makhluk Allah, murah senyum, anti-kekerasan, cerdas dalam pikiran dan perbuatan, menjunjung tinggi moralitas dan ilmu pengetahuan, berkontribusi positif bagi lingkungan, berspiritproblem solver untuk banyak persoalan, lalu kita bangga dengan segala identitas keislaman kita,… maka sesungguhnya kita adalah pembela Islam. Orang akan terpesona melihat keislaman kita, dan dari situlah Islam menemukan pembelaannya yang paling nyata.

Tapi, ah, tentu akan banyak orang mengatakan saya teracuni pikiran liberal. Sekuler. Lalu muncul tuduhan bahwa saya diam-diam sedang berusaha melemahkan Islam. Begitu, bukan?

Aduh, lagi-lagi saya bingung, Ustadz. Tambah bingung. Sudikah Ustadz memberikan nasihat untuk saya?

No more articles