Bagi yang pernah berkunjung atau sekarang menetap di Makassar, carilah apa bagian paling intim dari kota ini. Barangkali kau beranggapan bahwa itu kuliner, pemandangan alam, wanita, atau perpaduaan ketiganya. Makan Pisang Epe’ di Pantai Losari dan ditemani wanita Makassar. Ulala!

Namun ada fakta lain, bersifat arbitrer dan rahasia, tentang Kota Makassar. Karena ini saya anggap penting diketahui banyak orang, kecuali mereka yang masuk pengecualian, maka biarkan saya belajar menjadi Farhat Abbas – membincang apapun di mana hanya dia dan pangeran kodok yang tahu.

Jadi begini, lidah orang Makassar itu terbuat dari paku tindis dan balon ulang tahun. Selalu meriah, mudah meledak, dan keras tapi tidak kasar. Itulah keintiman sekaligus hal yang bisa menimbulkan ketakutan.

Lidah-lidah itu kemudian melahirkan berbagai umpatan. Namun tidak seperti di daerah lain, umpatan yang lahir kemudian memiliki banyak sekali kaitan, mulai dari sejarah, pendidikan, hingga mitos aneh. Berikut beberapa umpatan yang lahir dari lidah-lidah orang Makassar dan kisah mitos horor yang hidup di dalamnya.

Anak Sundala

Umpatan ini juga terkenal di beberapa daerah di Nusantara. Dalam sejarahnya, perlambangan anak haram ini dibawah oleh perompak Makassar yang meninggalkan tanah leluhurnya.

Sangat dahulu, umpatan ini dikenal dengan Anak Kapere, namun seiring kesediaan raja-raja di Sulawesi Selatan untuk bergabung dengan Indonesia, diseraplah istilah yang lebih sa’du terucap: Sundal. Atas nama nasionalisme, generasi selanjutnya memilih istilah ini.

Dari cerita nenek saya, di Benteng Sanrobengi, dulu tinggal I Botto – kacuping yang mengurus kuda raja. Suatu malam, Botto mempersiapkan kuda yang akan ditunggangi raja untuk berburu keesokan paginya. Karena lupa mandi, maka dia didatangi Longga – hantu yang tingginya mencapai pohon kelapa dan suka menyembunyikan anak kecil. Botto lalu mengambil kayu sambil lari terbirit karena ketakutan

“Apa kau Anak Kapere!”

Disebab pekerjaannya belum selesai, beberapa saat kemudian Botto kembali dan menemukan Longga itu jongkok dan menangis.

“Kenapa-ko menangis, Longga?” tanya Botto.

Dengan tersenguk, Longga itu menjawab, “Kenapa kau bilangi-ka Anak Kapere, padahal saya anak baik-baik-ji.”

Suntala.

Konon, kurun waktu 1990-an atau sebelumnya di Makassar, jika seseorang diumpat Anak Sundala, maka badiklah yang harus menebusnya. Namun seiring merayapnya waktu, istilah Anak Sundala mengalami asimilasi menjadi Nassundala, dengan pemaknaan yang telah berbeda. Ada beberapa hal yang menjadi alasan mengapa perubahan bunyi ini terjadi, salah satunya adalah karena tidak punya alasan.

Pada awal 2000-an kita semakin sering mendengar istilah ini diucapkan sebagai lambang kekerabatan. Nassundala memiliki beberapa varian rasa, Suntili, Suntala, dan Cumpala.

Tai Laso

Laso bagi orang Makassar bukan simbol kejantanan, melainkan simbol kejayaan. Dia tidak untuk dipamerkan, apa lagi ditunjukkan di tempat umum. Ini bagian penghormatan pada mereka yang impoten dan lemah syahwat.

Namun apa yang membuat penyimbolan itu bisa menjadi hinaan? Apapun yang didahului kata tai, pasti berkonotasi buruk. Tai cicak jatuh di wajahmu, buruk. Tai kucing melengket di sepatumu, buruk. Tai kambing bulat-bulat ikut di mangkok baksomu, buruk. Untung par-tai, tainya di belakang. Berarti buruknya tidak terjangkau maaf lagi.

Tai Laso juga mengalami afiliasi menjadi Telaso. Apa yang membuat perubahan bunyi ini terjadi?

Menurut cerita, suatu malam, ketika Daeng Kanang melahirkan, suaminya yang menunggu di kolong rumah mencium bau tidak sedap. Dia kemudian keliling rumah mencari sumber itu, namun betapa kagetnya dia ketika menemukan Parakang – hantu yang melayang dengan hanya membawa organ dalam tubuhnya. Karena takut istri dan anaknya diganggu oleh Parakang ini, dia kemudian mengambil api.

“Wo Tai Laso, apa kau kerja di sana? Jangan-ko ganggu istri dan anakku!” Mendengar itu, Parakang tersebut langsung lemas dan jatuh ke tanah.

Melihat gelagat aneh dari Parakang, calon ayah itu mendekatinya.

“Kenapa-ko jatuh, Parakang?”

Dengan wajah angker yang terseduh, Parakang itu menjawab:

“Kenapa kau bilangi-ka Tai Laso, padahal saya ini Parakang. Tidak ada laso-ku.”

Daeng Kadang yang sedih melihat Parakang itu kemudian memeluknya dan berjanji tidak akan mengucapkan kata itu lagi.

Nah, dalam kurun waktu yang sama dengan Nassundala, dianggap tidak sah persahabatan dua orang lelaki bila di antaranya belum saling sapa menggunakan umpatan ini. Namun karena Makassar mengenal budaya Sipakatau atau saling memanusiakan, istilah yang terdengar sangat maskulin ini kemudian dikembangkan juga ke ranah feminim menjadi Tai Telang dan Tai Combi.

Belakangan, kata ‘Tai’ dua umpatan ini lebih sering dihilangkan, dan Tai Laso menjadi Telaso.

Ka’bulamma

Di antara dua umpatan sebelumnya, Ka’bulampe yang memiliki paling banyak varian tutur.

Ketika jalan-jalan ke Pasar Terong, seorang ibu penjual pakaian cakar mengucapkan umpatan ini. Karena iseng, saya memutuskan bertanya. “Apa arti kata Ka’bulamma itu, Ajji?” Dengan tatapan sinis dan alis yang nyaris bersatu, dia menjawab:

“Dulu, waktu masih kecil, biasa-ka dengar orang tua bilang, Telanna Amma’nu. Dari sanami itu istilah, Cindopang.”

Konon, yang memprakarsai istilah ini adalah para Balanda Le’leng – pribumi yang tunduk dan bekerja di bawah kaki Belanda. Awalnya, ini diperuntukkan kepada keturunan dari wanita yang menjadi korban kekerasan seksual penjajah.

Umpatan ini terus hidup di tengah masyrakat, hingga suatu malam di tahun 1980-an, seorang perempuan ditemukan gantung diri.

Konon, dia salah satu wanita tercantik di kota ini, namun memilih bunuh diri karena hamil setelah diperkosa. Arwahnya gentayangan. Selain senang menakut-nakuti pria berbaju merah, karena menyayangi anaknya, ia juga akan menghadirkan sosoknya ketika ada yang mengucapkan umpatan Ka’bulamma.

Penuturan umpatan ini telah diperbaharui: Ka’bulampe, Blamma, Blampet, Bamma, Bampe, dan Blammake.

Setiap kata pada dasarnya memiliki struktur tulang sendiri. Huruf ‘r’ dalam sebuah kata bisa menimbulkan kesan keras dan kasar. Lalu huruf ‘m’ dan ‘l’ menimbulkan kesan lemah dan lembut. Perhatikanlah umpatan orang Makassar, nyaris tidak memiliki struktur kata yang mengandung tulang keras dan kasar.

Namun demikian, secara fungsi kata-kata dalam bahasa Makassar bisa membuat nyawa melayang dan para hantu bersedih.

Jika kau menemukan orang Makassar yang kasar, bisa jadi dia adalah generasi yang kelahirannya tidak dikarunia kesertaan otak oleh Batara Langi. Karena sejatinya, orang Makassar itu keras tetapi tetap mengedepankan kelembutan dalam tuturan.

Itu tadi buktinya, hantu yang bersedih saja juga ikut dipeluk.

Lidah orang Makassar itu rewa atau dalam tafsiran sederhananya, selalu sinis tapi penyayang. Tampakan ini dipengaruhi oleh keingin mereka untuk berterus terang dan apa adanya. Maka, kalau ada yang mengataimu dengan salah satu umpatan di atas, mungkin karena dia mencintaimu dengan tulus atau memang membencimu dengan serius.

Jika bukan karena dua alasan itu, barangkali kau dianggap hantu olehnya.

No more articles