MOJOK.COPertarungan gengsi pengendara Honda Supra X 125 vs Honda Karisma sempat memanas. Untung saja pertikaian itu cuma berlangsung singkat.

Bukan, ini bukan soal Bosman Mardigu. Ini soal “sontoloyo” di universe yang completely berbeda. Saya nggak lagi ngomongin soal si Bapak yang katanya pernah “magang” di Langley, markas besar CIA. Saya juga nggak lagi ngomongin soal ikan. Ikan langley dumbo. Hehe… maaf.

Maksudnya begini. Beberapa yang lalu, kerusuhan di Twitter sempat begitu intens. Nah, salah satu kerusuhan yang nyempil di situ adalah soal si Mardigu Sontoloyo. Wah, ramai sekali beliau diledek oleh netizen tercinta setelah muncul untuk kesekian kalinya di Youtube Deddy Corbuzier.

Rasa ingin ikut nimbrung di kerusuhan itu cukup besar. Namun, ketika lagi mikir soal punchline yang cocok biar viral, saya sadar kalau melucu bukan expertise saya. Kemampuan saya mentok di “langley dumbo”. Menyedihkan. Menurunkan level ke zonanya MLI aja.

Fokus saya malah menuju ke kata “sontoloyo”. Kata yang kini menjadi salah satu makian halus itu sebenarnya merujuk ke sebuah profesi.

Macam kata “bajingan” yang sebetulnya merujuk ke sopir gerobak, bisa sapi atau kuda, atau pengemudi cikar pada umumnya. Nah, kata “sontoloyo” sebenarnya menuju ke profesi penggembala bebek.

Iya, sebuah profesi yang kayak nggak punya dignity itu. Si sontoloyo kasih tanda ke kanan, eh si bebek ke kiri. Ganti kasih tanda ke kiri, eh si bebek belok kanan. Bebek saja nggak respect sama si penggembala. Saya curiga, ibu-ibu berjilbab naik Mio sein kiri belok kanan itu terinspirasi dari sontoloyo ini.

Nah, karena merujuk ke “penggembala bebek”, pikiran saya melayang ke satu dekade silam, ketika dua bebek legendaris seperti dibenturkan. Yang saya maksud adalah sontoloyo Honda Supra X 125 dan sontoloyo Honda Karisma.

Perdebatan singkat namun keras yang terlupakan ini bisa jadi makin panas kalau media sosial sudah seliar sekarang. Perdebatan yang mungkin bisa menyaingi panasnya kalimat “Kamu KTP mana?” kalau lagi bahas UMR Jogja.

Sebagai sontoloyo Honda Karisma, harga diri saya agak terluka ketika sontoloyo Honda Supra X 125 mulai sombong. Pertama, bisa dipahami kalau Honda Karisma memang lebih tua dibandingkan Honda Supra X 125. Ketika Karisma resmi tidak diproduksi lagi, Honda mulai memasarkan Supra X 125.

Apalagi saat itu, Honda Supra X 125 adalah motor Honda yang pertama punya sistem injeksi. Perpaduan tone untuk bodinya juga terlihat lebih segar dan modern. Saya masih ingat saat itu adik saya beli Honda Supra X 125 dan sudah merasa jemawa hanya karena motornya “lebih muda”.

Bahkan saya dianjurkan untuk menjual Honda Karisma 2002 saya untuk ganti ke Honda Supra X 125. Ya maaf saja, sebagai sontoloyo Honda Karisma, hati saya tak mudah goyah. Maklum, saya merawat dan memperjuangkan motor ini sepenuh hati. Bahkan di 2021 ini, mesin Karisma saya masih terasa “segar”, sementara Honda Supra X 125 adik saya dijual untuk ganti motor matik. Dasar bocil tua nggak setia.

Bukan cuma di circle keluarga, ledekan kepada sontoloyo Honda Karisma, khususnya saya, juga terjadi di lingkaran pertemanan. Saat itu, pengendara Honda Karisma diledek mirip bapak-bapak. Sudah CC-nya kecil, nggak bisa lari lagi. Sialnya, di dekat rumah saya, banyak tukang tarik iuran koperasi yang pakainya Honda Karisma.

Sementara itu, Honda Supra X 125 dianggap sebagai motor modern. Tampilannya ketika bagian shock dipendekkan memang lebih cantik ketimbang Honda Karisma, yang bagian pantatnya memang “berisi”. Ini kalau ibarat bebek pasti sudah disembelih duluan karena pantatnya yang tampar-able itu.

Iya, suatu kali, karena pengin terlihat mengikuti zaman, saya pernah menceperkan Honda Karisma. Celakanya, motor saya malah terlihat bantat dengan pantat yang turun dan sungguh menggoda untuk disepak itu. Mau modifikasi bodi, tapi saya sayang sama biayanya.

Akhirnya, karena nggak tahan sama ledekan soal “pantat bebek”, saya kembalikan modifikasi Honda Karisma ke bentuk default. Saya amati motor ini lekat-lekat dalam waktu lama. Saya lantas membatin, apa sih yang membuat kita “jatuh cinta” kepada benda mati?

Saya rasa, jawabannya pasti sederhana. Sama seperti proses jatuh cinta ke manusia. Ini semua soal kecocokan dan kenyamanan. Sebagai sama-sama produk Honda, Honda Karisma dan Honda Supra X 125 sama-sama menyodorkan kenyamanan berkendara. Lagipula, keduanya juga sangat irit. Poin ini saya rasa sangat penting untuk para die hard bebeknya Honda.

Buat gambaran, rumah saya ada di Jalan Kaliurang kilometer 14. Tempat kerja saya adalah sebuah sekolah swasta di Kota Yogyakarta. Setiap hari, sebelum pandemi brengsek ini merajalela, sekali jalan, saya menempuh 19 hingga 20 kilometer. Berarti, pulang dan pergi mengajar, saya melahap 40 kilometer. Kita bulatkan saja biar gampang.

Saya mengisi bensin setiap empat atau lima hari sekali. Pertamax Rp20 ribu saja. Untuk Sabtu dan Minggu, saya ada di rumah. Terkadang, saya perlu pulang ke rumah orang tua untuk mengantar dagangan istri saya. Jadi, dalam satu minggu, saya bisa enam kali bolak-balik 40 kilometer.

Ada yang bilang saya bisa irit karena jarang sekali ngebut. Nah, ini saya nggak tahu hitungannya gimana. Namun, kalau pakai motor Honda Karisma atau Honda Supra X 125 memang paling enak jalan 60 sampai 70 km/jam. Jalan santai saja.

Honda Karisma, dan semua produk Honda lainnya, terutama kelas bebek ya, paling enak buat jalan santai. Mesinnya halus, perpindahan gigi juga jadi lancar banget, suspensi enak. Dan yang pasti, semua komponen jadi awet. Syaratnya cuma satu: dirawat.

Nah, buat Pak Mardigu, ketimbang nama “sontoloyo” jadi terlalu lekat ke orang yang menyebalkan, lebih baik mari geser maknanya ke penggembala bebek dan pengemudi motor bebek. Setidaknya, perdebatan antar-fans Honda itu nggak lama dan nggak bikin publik jadi misleading. Dasar sontoloyo!

BACA JUGA Honda Karisma Produk Gagal? Bodo Amat, Ini Bukti Cinta Memang Perlu Diperjuangkan dan ulasan romantisme motor lainnya di rubrik OTOMOJOK.

Baca juga:  Sebaiknya sih Honda Air Blade 150 Nggak Dibawa ke Indonesia