Nokia E75: Niatnya Melawan Invasi Blackberry, tapi Malah Menyajikan Kemewahan Palsu
Nokia E75: Niatnya Melawan Invasi Blackberry, tapi Malah Menyajikan Kemewahan Palsu

Nokia E75: Niatnya Melawan Invasi Blackberry, tapi Malah Menyajikan Kemewahan Palsu

MOJOK.CONokia merilis Nokia E75 dengan sangat berani. Terlihat seperti ingin menantang invansi Blackberry. Namun sayang, kemewahan yang ditawarkan ternyata palsu.

Samsung Galaxy Fold. Hape lipat yang cantik banget. Ingin rasanya memiliki kemewahan yang dibawanya. Namun, ketika menengok harga jualnya, yang ada malah perut ini jadi mual. Untuk varian paling murah, harganya tembus Rp21 juta. Ya maaf saja, mending uangnya saya pakai buat DP rumah.

Lagian saya sudah lumayan kapok membeli hape karena tawaran kemewahan. Beberapa tahun yang lalu, saya sempat terpikat dengan sebuah hape keluaran Nokia. Nggak tahu kenapa, Nokia mengeluarkan hape ini tepat ketika dunia tengah diinvasi Blackberry. Hape yang saya maksud adalah Nokia E75.

Saya memang tidak terlalu suka pakai Blackberry. Jiwa saya sedikit mendidih ketika sedikit-sedikit ditanya PIN. Demam Blackberry waktu itu memang menyebalkan betul. Ada teman saya yang belum mampu beli Blackberry. Namun, demi terlihat “kekinian pada zamannya”, dia beli hape merek Mito.


Ya Cuma sekadar kelihatan “kayak pakai Blackberry”. Kalau ditanya PIN, dia akan ngeles. “Nanti, ya. Aku lihat dulu soalnya nggak hafal,” adalah kalimat yang biasa dia pakai buat menghindari permintaan PIN Blackberry. Saya sampai hafal. Sialan betul.

Saya ingin berbeda dari yang lain. Oleh sebab itu, ketika Nokia mengenalkan Nokia E75, ego saya seperti diberi makan oleh pabrikan dari Finlandia ini. Jadilah. Saya beli Nokia E75 di harga Rp2,5 juta. Cukup mahal untuk ukuran hape saat itu. Tapi tidak mengapa, asal saya bisa berbeda dan terlihat canggih sudah cukup.

Baca juga:  Membaca Karakter Perempuan dari Merek Lippen Pilihannya

Nokia E75 ini dianggap sebagai miniatur Communicator. Salah satu produk Nokia yang punya kelas tersendiri. Pakai hape yang ukurannya kayak pentungan kentongan pos ronda ini bisa bikin kamu kelihatan kayak eksekutif muda.

Sebagai hape bisnis, fitur unggulan Nokia E75 adalah fitur email yang lebih canggih dan lebih mudah diakses. Dulu, Nokia Indonesia mengklaimnya sebagai layanan paling mudah dipakai… pada zamannya.

Untuk pengaturan email, kamu cukup masuk ke menu membuat akun baru lalu mengisi nama akun dan kata sandi. Muncul pilihan pesan akan diterima secara push atau pull.

Jika memilih pull, proses aktivasi selesai. Jika memilih push mail, yang diberikan gratis oleh Nokia selama dua tahun, muncul pilihan pengaturan otomatis.

Nokia juga E75 fungsi attachment atau lampiran yang oke juga pada zamannya, termasuk membuka, mengunduh, menyimpannya, dan mengedit. Sudah ada dukungan Office 2007 dan Zip.

Layanan surat elektronik mendukung satu akun email korporat (Nokia Mail Exchange), Microsoft Exchange, serta lima akun berbasis web. Tampilan pesan dirancang supaya kelihatan kayak tampak Outlook di komputer.

Tingkat edgy bakal meningkat tajam kalau kamu pakai Nokia E75 ini ketika lagi nongkrong. Mungkin kalau sekarang mirip orang nongkrong di Starbucks sambil buka MacBook dan kelihatan sok sibuk nugas.

Namun, di balik kemewahan dan kecanggihan, saya rasa Nokia E75 ini butuh “obat kuat”. Gimana nggak, lagi asyik buat baca email atau Facebook, tiba-tiba baterai sudah berkurang separuh. Baterai hape ini masih pakai yang 1000 mA. Gimana enak buat “kerja” kalau baru satu jam pemakaian kita sudah harus celingukan cari colokan.

Baca juga:  Realme 5 Pro VS Vivo Z1 Pro: Lebih Penting Kamera Bagus atau Baterai Besar?

Dari sisi desain, sebetulnya, hape ini cantik juga. Nokia E75 adalah hape slider, bukan lipat kayak Samsung Galaxy Fold. Bayangkan kamu duduk di dalam kafe, memesan Americano, lalu menggeser slider E75 untuk membaca email. Orang-orang yang melihat pasti membatin, “Daaamn….”

Namun, sayangnya, jarak antara keypad dan ujung hape terlalu dekat. Jadi, rasanya nggak nyaman buat mengetik. Terutama untuk huruf-huruf di dekat susunan QWERTY. Sudah begitu, tombolnya agak melengkung ke dalam, tidak menonjol. Jadi, agak aneh rasanya. Bikin nggak betah.

Selain itu, ukuran hape ini memang lebih besar ketimbang hape batang Nokia lainnya. Jadi, kurang nyaman kalau kamu masukkan ke kantong celana. Sudah berat, terasa mengganjal pula.

Jadi, baterainya cepat habis, keypad tidak nyaman, bobot hape terlalu berat, hmm… apa lagi, ya. Oiya, karena sering terkoneksi ke internet, hape ini rentan kena virus juga. Pada zaman itu, hape kena virus udah nggak enak banget. Bingung harus ngapain.

Yah, mohon maaf buat Nokia. Kemewahan dan kecanggihan yang ditawarkan Nokia E75 nyatanya tidak tepat. Paling tidak, kalau memang ingin mendukung “kerja berat” seperti “cek email”, tanam baterai hape yang akan besar begitu. Gimana mau ngurus bisnis kalau penggunanya malah sibuk cari colokan.


Pengalaman terpukau dengan kemewahan dan kecanggihan itu membuat saya mikir puluhan kali kalau mau beli hape baru. Tapi, kok rasa-rasanya, Samsung Galaxy Fold itu terlalu cantik untuk dilewatkan begitu saja. Yah, beginilah manusia, sudah dikecewakan berkali-kali tetap saja mau membuka hati.

Baca juga:  Samsung Galaxy S 2010, Cikal Bakal Samsung Menguasai Dunia, Hape Favorit Buat Nobar Bokep Waktu SMA

BACA JUGA Nokia 5.3 dan Nokia 5310: Nokia Memang Paling Jago Bikin Hape Nostalgia dan ulasan hape lainnya di rubrik KONTER.