MOJOK.CO12 Desember didapuk sebagai hari belanja online nasional (harbolnas). Supaya harbolnas nggak berubah jadi hari dobol atau hari jebol nasional, simak tips belanja online dari Om Haryo berikut ini.

Sahabat Celengers yang dalam benaknya selalu ingin belanja tapi tabungan tetep utuh,

Dulu, sebelum inovasi disruptif menjadi wabah baru yang menguras tabungan, air mata, dan membuat kita selalu merasa kekurangan uang. Pilihan kita dalam berbelanja sangatlah terbatas. Itu masa menabung relatif mudah dilakukan. Kebutuhan bisa dikategorikan benar antara primer, sekunder, dan tersier.

Kekurang beranian dalam belanja yang tak terlihat oleh orang lain–kecuali malaikat–juga tidak membuat dompet kita rentan jebol. Satu contoh lingerie, karena sering kali malu jika ketahuan membelinya, “benda antik” tersebut dulu hanya menjadi angan-angan yang tersimpan di sanubari terdalam perempuan Indonesia. Tau dari majalah, tau kegunaannya, melirik saat dekat, tetapi urung mengambil dan melakukan transaksi di kasir.

Mau belanja ke mal tapi hujan deras? Itu sangat menyebalkan untuk orang yang dalam kesehariannya tanpa hujan pun jalanan sudah macet. Tapi walau sebal, sebagai manusia Indonesia yang penuh takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, mereka akan mengunduh hikmahnya dengan cepat. Umumnya begitu.

“Mah, senyum dong. Papah padahal sudah semangat banget mau belanja lho, tetapi Tuhan berkehendak lain. Ini sangat baik untuk keuangan keluarga kita. Bulan depan aja ya, momennya pas banget tuh. Ada perang favorit kita,”

“Hah, perang apa sih, Pah?”

“Perang diskon,”

“Yauda kalau mau Papah begitu. Berarti kalau bulan depan sekalian beli tas buatan Prancis dambaan semua perempuan di kolong langit, LEVI. Pleaseplease….”

Sementara itu di luar hujan sudah reda, cuaca cerah sempurna, dan Si Papah pingsan membayangkan harus jual sawah 2 petak di kampung untuk seonggok tas LEVI. Hahaha tragis.

Sekarang, kondisi sudah jauh berubah. Kita selalu kesulitan menentukan mana yang harus diprioritaskan terlebih dahulu kebutuhan atau keinginan. Serius, batas primer, sekunder, tersier lebih tegas mewakili kemampuan masing-masing pelaku ekonomi dalam membelanjakan uang. Kebiasaan dalam belanja sudah berubah. Toko, pasar, dan bahkan warung benar-benar ada dalam kuasa kita, dalam genggaman kita.

Cuaca dan waktu tidak dapat menghalangi lagi anda, anda, dan ya tentu saja anda untuk berbelanja kapan saja dan dimana saja. Tidak akan berguna lagi alasan Si Papah, “Waduh, Mah, hujan deras banget nih. Tokopedia tutup nih kayaknya. Mana petir menyambar-nyambar, ngeri banget. Pasti karyawannya pada tidak masuk.”

Lokapasar atau marketplace menjadi tempat berburu baru yang lebih efektif dan dinamis. Ada nama-nama besar seperti Tokopedia, Bukalapak, Shopee, Lazada, JD.ID, Bhineka, dan masih banyak lagi. Semua di bawah kendali kalian. Klik lihat, klik pindah, klik pilih, klik bayar. Kalian mencari “botol plastik” cukup masukkan kata tersebut dalam kotak pencarian. Daftar panjang barang yang dimaksud langsung terpampang.

Tidak perlu lagi masuk ke pasar atau toko fisik yang belum tentu ada, tidak perlu lagi malu membeli barang yang diinginkan, dan bahkan tidak perlu keluar dari rumah!

Shane Barker, seorang konsultan pemasaran digital, dalam satu artikel Three Disruptive Ecommerce Trends You Need to Know Right Now mengungkapkan adanya kecenderungan perubahan preferensi masyarakat terkait masifnya penggunaan gawai yang dapat dimanfaatkan pelaku ecommerce dalam menjalankan bisnisnya di era disruptif: belanja melalui ponsel, kemudahan belanja yang dituntun kecerdasan buatan dan penggunaan chatbot.

Tanpa mengutip apa yang dikatakan Pakde Shane, orang Indonesia juga sudah mampu membaca kecenderungan yang berlaku. Apalagi Generasi Milenial merupakan generasi yang tahu benar bagaimana memanfaatkan teknologi untuk memudahkan mereka dalam meretas segala urusan menjadi mudah selagi ponsel tidak jauh dari jangkauan tangan.

Kecerdasan buatan yang ditanamkan di berbagai sistem atau platform juga dapat dengan jelas membaca kecenderungan individu saat berselancar di belantara siber. Saat memasukkan kata kunci lipstik merk “Lambe Akrobat”, maka selain pencarian mengarahkan kita ke satu situs marketplace akan muncul juga di halaman media sosial kita dalam bentuk iklan.

Kita benar-benar seperti dikuntit oleh berbagai macam barang yang kita kehendaki, secara terus menerus selama si pengiklan masih memasangnya. Biasanya ada juga pemasang iklan yang menggunakan chatbot. Sistem digawangi oleh “robot” yang menjawab segala pertanyaan terkait barang tersebut. Karena masih generasi awal, terkadang jawaban dan pertanyaannya tidak nyambung. Biasanya barang-barang tersebut diiklankan langsung melalui facebook tanpa melalui marketplace.

Beberapa waktu lalu, dalam salah satu releasenya, IPSOS Indonesia, perusahaan konsultan bisnis mengungkapkan hasil riset pasar bahwa sebanyak 65% generasi milenial doyan belanja online. Separuh lebih merupakan lulusan perguruan tinggi, sudah berkeluarga dan mempunyai penghasilan di atas 4 juta. Sebanyak 72% dari responden menyatakan belanja online sebulan sekali.

Wah tinggi juga ya persentase milenial yang sebulan sekali belanja online, info penting sekali itu hahaha. Kalau kalian milenial dan tidak belanja online sebulan sekali, itu hanya ada 3 kemungkinan. Pertama, kalian termasuk pembelanja utilatirian, orang yang hanya berbelanja sesuai kebutuhan, bukan keinginan. Kedua, tidak mengalokasikan anggaran untuk belanja online. Ketiga, berjiwa tua. Belanja hanya kalau bisa pegang barangnya, periksa jahitannya, bisa dicoba terlebih dahulu dan tidak percaya pada transaksi yang tidak bertemu dengan orang.

Terus apa istimewanya belanja online?

Loh, masih kurang sudah disebutkan sekian keunggulan belanja online di atas? Tenang, jelas masih banyak lagi keunggulannya: tidak perlu bawa uang cash, tidak perlu antri, bisa sambil leyeh-leyeh tiduran sampe muka kejatuhan ponsel saking semangatnya ngincer barang promo. Udah cukup, itu aja?

Ini bulan Desember, dan tanggal 12 merupakan Harbolnas, hari belanja online nasional!

Hari yang ditunggu benar oleh para pembelanja online serta masuk kalender tahunan berbagai ecommerce di Indonesia unjuk barang diskon dan promo dengan berbagai dukungan mitra perbankan, telekomunikasi, logistik dan media. Benar-benar diskon dan promo atau seperti praktek selama ini, dinaikkan dulu baru disikon?

Itulah pentingnya memantau daftar harga mulai saat ini. Perhatikan betul pergerakannya. Jangan sampe harbolnas menjadi hari dobol nasional, harga bohong-bohongan, tidak beda dengan hari biasa. Banyaknya mitra yang terlibat biasanya mendatangkan juga manfaat berupa tambahan potongan harga dengan syarat transaksinya mengunakan bank tertentu. Juga adanya promo potongan ongkos kirim hingga bebas biaya kirim dengan perusahaan logistik tertentu.

Kemudian berapa dana yang kita anggarkan untuk keperluan tersebut?

Nah, itu pertanyaan penting. Jangan sampai harbolnas menjadi hari jebol nasional. Kita kesetanan belanja sampai melebihi kebutuhan dalam satu bulan. Misal penghasilan kita satu bulan 4 juta, 1,6 juta atau 40% dari penghasilan merupakan nilai untuk mencukupi kebutuhan dalam satu bulan. Nilai maksimal per bulan yang dapat kita gunakan untuk belanja online jangan lebih dari 300 ribu.

Sahabat Celenger yang sudah kebelet ngeklik tokopedia, bukalapak dan teman-temannya,

Wah, masa momen yang ditunggu-tunggu selama setahun Cuma menganggarkan 300 ribu sih, nggak keliru?

Harbolnas memang merupakan momen menarik yang terlalu sayang kalau dilewatkan begitu saja. Kalau menghendaki anggaran belanja lebih dari nilai tersebut tentu saja dapat diambilkan dari tabungan. Dengan catatan, rekeningnya ada isinya. Ada kan?

Loading...



No more articles