Virus bukan benda hidup. Tapi sulit juga untuk disebut benda mati. Ia memiliki berbagai sifat makhluk hidup. Khususnya, ia berkembang biak. Yang membedakan dengan makhluk hidup ialah virus bukan sel. Ia tidak bisa memproduksi protein bagi dirinya sendiri. Karena itu ia harus membajak sel pada makhluk hidup agar bisa bertahan. Artinya, virus tidak akan bertahan kalau ia tidak berada di sel. Jadi bagaimana cara membunuh virus?

Meski tidak sedang berada dalam sel, virus masih dapat bertahan aktif selama waktu tertentu. Berapa lama? Itu tergantung pada jenis virus serta lingkungan tempat ia berada. Meski masih belum jelas benar, virus SARS-CoV-2 yang menyebabkan penyakit Covid19 dikabarkan bisa bertahan cukup lama. Rentangnya dari beberapa jam sampai berhari-hari. Ada banyak faktor yang menentukan virus bisa bertahan atau tidak, mulai dari kelembapan, temperatur, cahaya, dan sebagainya. Untuk memahami bagaimana virus bertahan di luar atau di permukaan, kita perlu mengenal strukturnya.

Inti virus ada pada DNA atau RNA. Kedua molekul ini semacam program cerdas yang memberi perintah kepada sel untuk melakukan kegiatan-kegiatan untuk menopang hidup. Inti virus ini dibungkus oleh lapisan protein yang disebut capsid. Di bagian lebih luar ada envelope, yang merupakan membran yang diambil dari sel yang ditumpangi virus.

Kita bisa membayangkan virus seperti sebuah telur rebus. Di bagian luar ada kulit telur, ini sama dengan membran tadi. Kemudian ada putih telur, lapisan capsid tadi. Inti virus berada di dalam, kita bisa bayangkan sebagai kuning telur. Untuk menghancurkan virus, kita perlu menghancurkan dua lapis pelindung tadi. Apa saja yang bisa membuat lapisan-lapisan itu hancur?

Tentu saja kita tak bisa menghancurkannya dengan cara-cara mekanis karena ukuran virus sangat kecil. Pukulan, gilasan, gerusan, dan sebagainya tidak akan membunuh virus karena skala gerakan mekanis seperti itu ribuan kali lebih besar dari ukuran virus. Satu-satunya cara adalah melalui proses kimiawi.

Apa itu proses kimiawi? Semua bahan pada dasarnya adalah atom-atom yang berikatan, membentuk sambungan satu sama lain. Ikatan-ikatan itu terbentuk oleh elektron-elektron yang berada pada kulit terluar atom. Bila konfigurasi elektron pada atom-atom cocok, mereka akan berikatan dengan berbagai mekanisme. Ikatan ini membentuk molekul. Ada molekul sederhana, yang hanya terdiri dari 2 atom, melibatkan hanya satu jenis ikatan kimia. Ada molekul raksasa, yang terdiri dari ribuan atom dan berbagai jenis ikatan secara kompleks. Tapi apa pun jenis molekulnya, bagaimana pun rumit strukturnya, ia dapat diubah menjadi molekul lain, atau diurai menjadi molekul-molekul yang lebih kecil.

Baca juga:  Kolom: Guru Fisika yang Menginspirasi

Capsid maupun membran virus tadi adalah molekul belaka. Lebih spesifik lagi, keduanya tersusun oleh ikatan antara atom-atom karbon, hidrogen, nitrogen, dan oksigen, yang membentuk struktur yang sangat kompleks. Kalau ikatan kimia antaratom penyusun molekul itu berubah, maka molekul tadi akan berubah. Virus akan mati kalau lapisan pelindungnya tadi terurai menjadi molekul-molekul yang lebih kecil, atau sekadar terputus saja sehingga menjadi bocor. Yang diperlukan untuk mengurainya adalah sebuah proses kimiawi yang dapat memutus ikatan-ikatan kimia penyusun molekul capsid dan membran tadi.

Apa saja yang bisa memutus ikatan kimia? Pertama, bila ada potensi kimia yang lebih “menarik”. Atom-atom selalu mencari rekan untuk berikatan. Yang ia pilih adalah yang memerlukan energi terendah bagi dirinya. Jadi, meski sudah berikatan dengan atom lain, bila ada pilihan yang lebih “menarik”, atom-atom akan mengubah rekan untuk berikatan. Ini adalah prinsip dasar reaksi kimia.

Untuk menghancurkan lapisan pelindung virus tadi harus ada molekul-molekul lain yang dapat membuat atom pada bagian tertentu dari membran dan capsid tadi yang tertarik untuk mengubah ikatannya. Apa saja yang bisa mengubah ikatan tersebut? Salah satunya adalah alkohol, atau lebih spesifiknya, etanol. Molekul etanol adalah molekul yang bersifat polar. Artinya, ada “tumpukan” muatan negatif di satu bagian dan muatan positif di bagian lain. Molekul yang bersifat polar akan gampang menarik molekul lain yang bersifat polar juga. Ditambah lagi, ia juga mudah menarik molekul-molekul ionik. Sementara itu ada bagian dari etanol, yaitu grup etil yang bersifat nonpolar. Keseluruhan sifat ini membuat etanol bisa melarutkan berbagai jenis molekul. Ingat, melarutkan itu maksudnya adalah memutuskan sebagian ikatan kimia tadi, untuk membentuk ikatan kimia baru.

Saat molekul-molekul etanol berinteraksi dengan molekul protein, bagian-bagian polar tadi akan menarik bagian sejenis pada molekul protein, untuk diajak pindah, membentuk ikatan baru. Bila itu terjadi, maka struktur protein akan berubah. Protein tak lagi utuh bekerja melindungi bagian dalam virus.

Deterjen bekerja dengan prinsip yang sama dengan alkohol, yaitu memutus ikatan kimia. Deterjen adalah molekul yang punya bagian polar, yang bekerja serupa dengan cara kerja etanol tadi. Selain itu ada bagian yang menjadi “perantara” antara minyak/lemak dan air. Lemak dan air yang tadinya tidak bisa berikatan, jadi bisa berikatan dengan perantara molekul deterjen. Deterjen adalah bahan utama yang dipakai dalam berbagai jenis sabun rumah tangga. Ketika kita mencuci peralatan, mandi dengan sabun, atau mencuci tangan, yang terjadi adalah dua hal. Pertama, deterjen melepas berbagai kandungan minyak/lemak yang mengikat virus, melarutkannya ke dalam air, dan tentu saja air itu kita buang menjauhi tubuh dan peralatan kita. Kedua, deterjen juga berfungsi mengurai membran dan protein pelindung virus tadi, kemudian menghancurkannya.

Baca juga:  Ganja Fariz RM dan Riwayat Lima Teman

Untuk urusan melawan virus, deterjen sebenarnya lebih efektif dibanding alkohol. Deterjen punya fungsi melepaskan virus yang menempel pada bagian berminyak baik pada badan maupun peralatan kita. Fungsi itu tidak dimiliki oleh alkohol.

Atom-atom penyusun molekul, semua molekul, tidak diam. Atom-atom itu bergetar. Simpangan getarannya tergantung pada temperatur. Makin tinggi temperatur, makin besar simpangannya. Kita bisa bayangkan ikatan kimia antaratom itu seperti sejumlah bola yang dihubungkan dengan batang-batang sehingga membentuk struktur tertentu. Kalau bola-bola tadi digetarkan dengan simpangan yang besar, bola-bola itu akan terlepas dari batang-batang tadi.

Hal yang sama akan terjadi pada ikatan kimia dalam molekul. Pada temperatur rendah simpangan getaran molekul kecil saja. Bila temperatur dinaikkan, simpangan getar makin besar, lalu ikatan kimia tadi akan putus. Sama dengan proses yang dijelaskan di atas tadi, protein dan membran pembungkus virus akan hancur. Jadi, pemanasan adalah suatu cara untuk membunuh virus. Seberapa panas? Daya tahan virus pada umumnya mati bila dipanaskan sampai 100 derajat Celsius. Memasak makanan hingga temperatur air mendidih secara otomatis membunuh virus-virus yang ada pada bahan makanan. Demikian pula membersihkan peralatan dengan siraman air panas cukup efektif untuk membunuh virus. Di berbagai tempat, termasuk dalam dunia medis, sterilisasi peralatan dilakukan dengan menempatkan peralatan dalam uap air bertemperatur 100 derajat Celsius.

Hal lain yang dapat membunuh virus adalah sinar ultraviolet. Sinar ultraviolet adalah cahaya yang tak tampak, panjang gelombangnya 10-400 nanometer. Bagaimana cahaya bisa membunuh virus? Cahaya adalah energi. Yang mengikat atom-atom pada molekul juga energi. Bila ada energi yang lebih kuat dibanding energi ikat dikenakan pada molekul, maka ikatan antaratom penyusun molekul akan putus. Sinar ultraviolet dapat memutus ikatan pada molekul DNA dan RNA. Virus yang bagian utamanya kedua molekul itu akan hancur bila kena sinar ultraviolet. Tentu saja ada syaratnya, yaitu intensitasnya mencukupi.

Sinar matahari sebenarnya mengandung sinar ultraviolet. Sayangnya intensitasnya tak cukup tinggi untuk bisa membunuh virus. Untuk membunuh virus biasanya dipakai sinar yang dihasilkan oleh lampu ultraviolet.

BACA JUGA Teknologi Pembuatan Alat Pelindung Diri dan esai sains Hasanudin Abdurakhman lainnya di kolom TEMAN SEKELAS