fbpx

Temuan atau rumusan sains sering kali membuat manusia terguncang. Khususnya ketika temuan itu menyinggung soal-soal yang sudah lebih dahulu dibahas oleh kitab-kitab suci dan menjadi kepercayaan banyak orang.

Ada banyak contohnya. Yang legendaris sampai sekarang adalah teori evolusi. Selama belasan abad orang percaya bahwa makhluk hidup diciptakan langsung oleh Tuhan. Sederhananya, Tuhan menciptakan ayam, kambing, sapi, kerbau, dan sebagainya. Sama seperti Tuhan menciptakan tanah, gunung, sungai, langit, bintang, matahari, dan sebagainya. Kitab suci menggambarkan alam semesta ini sebagai sesuatu yang sejak awal sudah seperti yang kita saksikan saat ini, dan orang mempercayainya.

Ketika sains menyodorkan sesuatu yang menggambarkan adanya proses dalam pembentukan suatu benda atau makhluk, maka itu menimbulkan sebuah guncangan. Teori evolusi menyodorkan gagasan yang luar biasa, mendobrak apa yang sudah dipercayai orang selama belasan abad tadi. Orang yang terbiasa percaya bahwa Tuhan menciptakan makhluk-makhluk hidup, tiba-tiba dihadapkan pada gagasan lain, bahwa makhluk hidup itu adalah sesuatu yang dihasilkan dari perubahan dari makhluk yang sebelumnya ada.

Konsekuensi dari gagasan baru ini adalah Tuhan tidak menciptakan sapi, kambing, dan sebagainya tadi. Puncaknya adalah gagasan bahwa manusia hanyalah keturunan dari makhluk yang ada sebelumnya, yang bukan manusia. Dalam bahasa awam, yang sebenarnya tidak pernah dinyatakan oleh teori evolusi, manusia adalah keturunan monyet.

Kalau manusia itu adalah keturunan dari makhluk yang ada sebelumnya, bagaimana status rumusan yang selama ini dipegang tentang gambaran proses penciptaan oleh Tuhan? Tidakkah dengan rumusan sains tadi para ilmuwan sedang mengatakan bahwa cerita proses penciptaan oleh Tuhan itu salah? Inilah yang mengguncangkan.

Sama halnya dengan teori Big Bang. Orang telanjur percaya alam semesta ini sejak dulu begini adanya, diciptakan oleh Tuhan seperti ini. Teori Big Bang menyodorkan gagasan sama sekali berbeda, yaitu alam semesta yang berproses, dan ada awalnya. Lebih jauh lagi, awalnya adalah ketiadaan, dan terjadinya secara spontan.

Baca juga:  Ketika Iman Islam dan Sains Bertemu

Ini lagi-lagi merupakan sebuah guncangan keras. Sepanjang sejarah itu terus terjadi. Generasi paling awal yang menghadirkan guncangan itu adalah generasi Copernicus, Galileo, dan Giordano Bruno. Mereka menghadapi serangan yang luar biasa, termasuk hukuman mati yang diterima oleh Giordano Bruno. Tapi seperti yang kita saksikan dalam sejarah, serangan itu tak menyurutkan langkah para ilmuwan. Perlahan mereka menyodorkan berbagai bukti yang tak bisa dibantah.

Tak cuma itu. Mereka juga menghadirkan manfaat dari gagasan tadi. Diterima atau tidak gagasan itu tak lagi penting ketika orang-orang yang menolaknya kini menerima manfaatnya. Hingga kini pun masih ada orang yang menganggap Bumi ini datar atau Bumi sebagai pusat tata surya. Tapi orang-orang itu ikut menikmati hasil dari gagasan tentang Bumi dan tata surya yang mereka tentang. Mereka memakai hape yang didukung oleh satelit, yang memakai gagasan Bumi tidak datar dan bukan pusat tata surya sebagai basis berpikir untuk menggerakkannya.

Para penolak gagasan sains biasanya hanya menolak. Mereka tidak menyajikan gagasan tandingan. Kalaupun ada, tidak didukung oleh fakta atau kegiatan riset yang valid. Ada misalnya Institute for Creation Research yang bertujuan mengumpulkan bukti-bukti ilmiah yang mendukung gagasan bahwa alam semesta ini diciptakan dan diatur oleh Tuhan. Tentu saja produk-produk riset mereka ditolak oleh para ilmuwan karena tidak akurat atau mengabaikan kaidah-kaidah ilmiah.

Namun, ada lebih banyak lagi pihak yang menolak tanpa melakukan riset tandingan. Mereka hanya meramu argumen berbasis pada temuan-temuan sains yang ada, yang mereka beri tafsir yang cocok dengan konsep mereka. Lebih banyak lagi yang membantah dengan argumen berbasis kepercayaan belaka, disertai kecaman terhadap para ilmuwan.

Baca juga:  Super Junior, BTS, sampai EXO dan Gejala Bandingkan Kpop Zaman Dulu Lebih Baik

Tidak mungkinkah sains dibantah? Itu sebenarnya pertanyaan yang tidak perlu. Sains terus dibantah, diperbaki, dikoreksi, lalu dibuat rumusan baru. Membantahnya tentu saja dengan sains pula. Tunjukkan bukti-bukti yang meruntuhkan teori yang sudah ada selama ini.

Sejak zaman dulu begitu prosesnya. Konsep geosentris dikoreksi oleh heliosentris. Lalu heliosentris pun dikoreksi lagi, karena matahari ternyata juga tidak diam. Teori atom Dalton dikoreksi oleh Thomson, kemudian dikoreksi lagi oleh Rutherford, kemudian oleh Bohr. Rumusan gravitasi Newton dikoreksi oleh Einstein. Tidak ada ceritanya sains itu tidak bisa dibantah atau diubah.

Jadi, kalau mau membantah teori evolusi atau Big Bang, para pembantah cukup menyodorkan bukti-bukti riset. Misalnya, sodorkan rumusan bagaimana terjadinya berbagai spesies, tunjukkan bukti-bukti yang menunjukkan bahwa berbagai spesies yang ada sekarang sudah dari dulu ada dan tidak berubah. Dalam hal Big Bang, tunjukkan bukti bahwa galaksi-galaksi tidak bergerak saling menjauhi. Atau jelaskan apa yang membuat galaksi-galaksi itu saling menjauhi.

Sayangnya, sekali lagi, hal itu tidak terjadi. Kenapa? Karena memang tidak mungkin. Meski mencoba memakai rumusan dan metode sains, para kreasionis itu mengandalkan kepercayaan. Sudah banyak terbukti dalam sejarang bahwa hal itu tidak berlaku. Mereka sebenarnya tidak sendiri. Newton dan Einstein sendiri pernah berpegang pada kepercayaan. Tapi akhirnya mereka menyingkirkan kepercayaan itu, dan menerima rumusan sains, karena fakta mendukungnya.

Ringkasnya, sains tidak bisa dibantah dengan kepercayaan.

Artikel ini adalah rilis perdana kolom TEMAN SEKELAS yang akan rutin diisi oleh HASANUDIN ABDURRAKHMAN. Tayang saban Rabu selama internet nggak diskonek, rubrik ini niatnya sih konsisten membahas topik-topik sains. Yang pengin nanya seputar ilmu pengetahuan alam, silakan tuliskan keresahan Anda di kolom komentar. Pertanyaan paling menarik akan Kang Hasan jawab di edisi selanjutnya.



Tirto.ID
Loading...

No more articles