• 128
    Shares

MOJOK.CODalam hal karya Saramago, ada Tuhan yang lebih ramah dan kasih. Namun sebelumnya, Tuhan yang tidak adil dan kejam itu harus disingkirkan lebih dulu.

Setelah membunuh Habel, Kain (dalam versi Islam disebut Qabil) dihukum Tuhan menjadi gelandangan dan buronan seumur hidup. Untuk menandainya sebagai penjahat, Tuhan memberinya tanda hitam di keningnya.

Sejak itu, Kain mengembara dari satu kota ke kota lain, dan dari satu zaman ke zaman lain. Ia bertemu Nuh, Abraham, Lot, Musa, dan bergabung sebagai anggota pelayan dukungan dalam pasukan Joshua yang berperang melawan Jericho, dan lainnya.

Kisah pembunuhan dua bersaudara anak Adam di awal sejarah manusia, Kain terhadap Habel, sangat dikenal, baik di lingkungan Kristen maupun Islam. Tentu dengan versi dan penamaan yang sedikit berbeda, meski alur dasarnya tetap sama. Tetapi kisah Kain yang dikutuk menjadi gelandangan dan buron, lalu mengembara dan bertemu para nabi itu jelas hal baru.

Ini merupakan versi Jose Saramago, pengarang besar Portugal dan penerima Hadiah Nobel Sastra 1998. Melalui Cain, Jose menulis ulang, dengan demikian juga, menafsirkan ulang, kisah Kain yang termuat dalam Bibel. Hasilnya? Kita tidak saja akan menjumpai Kain yang lain, tetapi juga gambaran tuhan yang lain.

Mengapa Kain membunuh Habel? Saramago mengikuti versi yang lazim. Dua orang ini memberikan persembahan kepada Tuhan, tetapi persembahan Kain tidak diterima. Ia meminta bertukar tempat dengan Habel, kembali persembahannya tidak diterima. Tentu saja ia heran, mengapa persembahannya tidak diterima.

Kejadian itu menimbulkan pertanyaan di hati Kain tentang keadilan Tuhan, meski demikian, itu sama sekali tidak mendorong Kain untuk membunuh Habel. Niat membunuh muncul setelah Habel yang congkak selalu mengejek Kain. Saramago tidak menyinggung sama sekali dan menyisihkan motif Kain ingin menikahi saudara kembarnya Iqlima, yang lebih cantik, dan merupakan jatah Habel.

Jelas sekali Kain adalah protagonisnya Saramago, dan bukan Habel, seperti lazim dikenal dalam kitab-kitab suci. Tapi tidak cukup sampai di situ, Kain, sang pembunuh awal itu, justru dalam episode-episode berikutnya menggagalkan dan rishi dengan banyak peristiwa pembunuhan.

Suatu kali Kain turut campur dalam peristiwa penyembelihan Isaac (versi Islam Ismail) yang akan dilakukan oleh Abraham berdasarkan perintah Tuhan. Ketika dalam hitungan detik, Abraham siap menggorok leher Isaac yang terikat pasrah di atas bukit, Kain tiba-tiba muncul menahan tangan Abraham.

Baca juga:  Makin Terisolasinya Jokowi dan Prabowo dalam Masyarakat yang Letih

Mengapa kau harus membunuh puteramu sendiri, hei Abraham? Itu perintah Tuhan, kata Abraham. Bagi Kain jelas itu ngawur. Jika logis, wajar, dan manusiawi harusnya Abraham menolak sejak awal perintah itu. Untung ada Kain, sehingga penyembelihan itu bisa digagalkan. Sementara malaikat yang disiapkan Tuhan untuk mengganti Isaac dengan seekor domba datang terlambat karena faktor teknis kerusakan di sayap kanannya.

Ada nada mengejek, mentertawakan, dan menolak, sekaligus membalik cerita dan citra yang telah termaktub selama ini dalam kitab suci. Ini pula yang terjadi ketika Kain bertemu Musa yang bertempur untuk menyelamatkan orang-orang Israel dengan mengorbankan tiga ribu pasukan. Demikian juga ketika Tuhan menghancurkan Sodom dan Gomorah, siksaan pada Ayub, dan Nuh dengan air bah gigantiknya. Mengapa tuhan gampang membunuh, tanya Kain?

Ketika bergabung dalam pasukan Joshua yang akan menyerang Jericho, Kain memutuskan untuk mengundurkan diri. Ia terbayang peristiwa penghancuran Sodom dan Gomorrah: “Aku pergi, aku tak tahan melihat begitu banyak kematian, begitu banyak darah yang tumpah, begitu banyak ratapan dan kertapan gigi…” Bagaimana bisa seorang yang divonis sebagai pembunuh pertama di dunia menggemakan suara yang sangat pasifis dan antikekerasan seperti itu? Itulah Kain dalam citra baru Saramago.

Cain adalah novel terakhir Saramago. Khas gayanya, novel ini ditulis dengan kalimat-kalimat yang panjang. Kadang lebih satu halaman tanpa alinea. Tokoh-tokohnya ditulis di huruf awalnya tanpa huruf besar, termasuk “tuhan”. Dialog-dialognya mengalir tanpa tanda baca yang jelas, sehingga pembaca harus menerka dengan cerdas, siapa mengatakan apa. Sudut penulisannya campur baur antara orang ketiga, Kain sendiri, atau kadang-kadang “kami” si penulis. Di luar itu, tentu saja adalah gaya menyindir, mentertawakan, mempertanyakan, dengam bumbu-bumbu humor dan detail-detail yang banal.

Dalam bagian dari novel ini dikemukakan suatu pernyataan yang mungkin bisa ditangkap sebagai salah satu motif penulisan Kain ini. “Yang kita lakukan hanyalah menempatkan dalam idiom modern berbagai misteri berlapis dan, bagi kita, tak terpecahkan dari bahasa dan pikiran pada masa itu…”

Baca juga:  Alay-alay Agnez Mo, Bangkitlah dan Lawan!

Apakah “menempatkan dalam idiom modern?” itu artinya memahami ulang, dan dengan demikian, merekonstruksi cerita ini kembali di dalam pemikiran rasionalisme dan humanisme modern? Di lain pihak ia juga mengklaim: “…kami tulis dengan ketelitian seorang sejarawan…”

Ketika Akademi Swedia mengganjarnya Hadiah Nobel Sastra tahun 1998, alasan yang disebut adalah “perumpamaannya yang ditopang oleh imajinasi, belas kasihan, dan ironi”, dan “skeptisisme modern” -nya terhadap kebenaran resmi. Apakah yang dimaksud kebenaran resmi itu? Apakah yang disandang oleh agama selama ini?

Apa yang dikatakan oleh Akademi Swedia tentang Saramago dalam hal novel ini ada benarnya, meski novel ini ditulis setelah penerimaan Nobel. Saramago memang punya reputasi dalam hal membikin kalangan agama gusar dan marah.

Novelnya The Gospel According to Jesus Christ, yang merupakan pengisahan kembali fiksi tentang kehidupan Yesus Kristus, yang menggambarkannya sebagai berwatak manusia dengan nafsu dan keraguan, bikin kalangan Gereja Katolik Roma geram. Mereka bahkan menuduh Saramago memiliki “pandangan yang secara substansial anti-agama”. Akibatnya pada tahun 1992, Pemerintah Portugal di bawah Perdana Menteri Aníbal Cavaco Silva memerintahkan penghapusan karya ini dari daftar penerima Hadiah Aristoteles, karena dianggap menyerang agama.

Mereka yang akrab dengan gambaran teologi memang mungkin akan tersengat dan marah. Tapi intisari yang hendak dikemukakan Saramago adalah bahwa narasi-narasi keagamaan selama ini penuh dengan adegan pembunuhan dan menolak legitimasi pada pembunuhan tersebut.

Seusai kegagalan penyembelihan Abraham terhadap Isaac, terjadi dialog antara Abraham dan Isaac. Isaac mempertanyakan keputusan ayahnya, tetapi penjelasan Abraham tidak memuaskan hatinya. “Aku tak memahami agama ini,” jawab Isaac. Tuhan yang dibangun dalam agama dengan narasi-narasi tersebut adalah tuhan yang tidak adil dan kejam. Sesungguhnya tuhanlah sang pembunuh terbesar.

Menurutku, selalu ada “tuhan tersembunyi” di dalam sebuah karya sastra. Dalam hal karya ini, itulah tuhan yang lebih ramah dan kasih. Namun sebelumnya, tuhan yang tidak adil dan kejam itu harus disingkirkan lebih dulu.

Rasanya itu yang dilakukan Saramago, tapi jelas itu tidak mudah. Di negeri ini, dibutuhkan nyali dan nyawa berlapis untuk melakukannya.