MOJOK.CODasar kultur lebaran online sudah dibangun sejak beberapa tahun lalu dan terus berjalan hingga kini. Bahkan “tradisi” ini udah dimulai jauh sebelum pandemi.

Pada akhirnya kita akan berlebaran sepenuhnya seperti yang kita harapkan dan bayangkan. Sekira tujuh tahunan lalu, saya mendengar seorang kiai yang dalam pengajiannya mengeluhkan ucapan “tahniah” yang hanya dilakukan lewat pesan SMS atau pesan Blackberry.

Tahniah adalah ucapan selamat selepas puasa Ramadan yang diiringi doa semoga amal ibadah selama Ramadan diterima dan diberkati Tuhan. Di Indonesia ucapan ini kemudian ditambahkan dengan permintaan saling maaf-memaafkan.

Ucapan ini tentu diiringi dengan silaturahmi, lazimnya dari yang status sosial, kultural, keagamaannya lebih rendah ke lebih tinggi. Misal dari yang muda ke yang tua, dari murid ke guru, anak ke orang tua, adik ke kakak, dan seterusnya.

Keduanya: tahniah maupun silaturahmi disunahkan pada idul fitri.

Beda dengan kewajiban puasa, yang bersifat individual, yang mendorong orang untuk suntuk di ranah domestik, maka tahniah dan silaturahmi yang gerbangnya dibuka idul fitri, merupakan amal kolektif, yang mendorong orang untuk masuk ke ranah publik secara luas.

Tahniah dan silaturahmi adalah usaha menghidupkan lagi kekeluargaan, menyegarkan lagi persaudaraan, menghangatkan lagi persahabatan. Ia merekatkan lagi yang retak dan menyambung yang patah.

Belakangan tahniah dan silaturahmi ini, seperti dikeluhkan si kiai itu, banyak dilakukan melalui media sosial. Efektif dan efisien. Tidak perlu repot. Murah meriah.

Tapi kata si kiai, hal itu, tidak afdhol. Karena ia kehilangan hakikat tahniah dan silaturahmi.

Rasa kekeluargaan, ketulusan dalam persaudaraan, kerendahhatian sebagai makhluk dan perhatian pada sesama. Media sosial telah mereduksi nilai tahniah dan silaturahmi menjadi sekadar basa-basi.

Kalau karena jarak yang jauh dan beda kota, masih bisa dimaklumi, lha ini masih dalam satu kota, kok ya cuma kirim SMS, kata si kiai.

Itu beberapa tahun lalu.

Sekarang ada ancaman pandemi COVID-19, dan orang dianjurkan untuk tidak melakukan tahniah dan silaturahmi secara langsung. Ini bagian yang dipandang sebagai “normalitas baru”. Namun jelas dari kasus ini, ia tidak baru-baru amat. Dasar-dasar kulturalnya sudah dibangun beberapa tahun lalu dan terus berjalan hingga kini. Jadi sudah sejak lama bagian dari tradisi lebaran kita dimediasi oleh teknologi komunikasi.

Baca juga:  Mudik, Makan, Memori: Euforia Kuliner dan Paradoks-Paradoksnya

Tanpa harus melewati pandemi, kita memang sebenarnya sudah tidak perlu lagi mudik. Kita tidak perlu tahniah dan silaturahmi lagi. Yang kita perlukan adalah pulsa, sinyal yang kuat, dan pilihan aplikasi meeting. Kita bisa silaturahmi melalui sekeping benda persegi empat yang tiap hari kita gotong sebagai benda terkasih.

Toh silaturahmi langsung sekarang juga sering terasa absurd.

Seorang kakek pernah mengeluh bagaimana kebahagiannya yang menyala dengan kedatangan anak-mantunya serta tiga cucunya meleleh perlahan ketika sang cucu masing-masing asyik dengan gadgetnya. Dan sang kakek terduduk sendu di hadapan cucu dengan dunianya itu.

Media sosial telah memudahkan tahniah dan silaturahmi, tetapi serentak dengan itu, ia mengabaikan keduanya.

Jadi tidak ada normalitas yang baru, yang mendadak dan bikin kaget sama sekali. Dasar-dasarnya sudah dibangun dan kita semua telah berpartisipasi dalam pengembangannya.

Dua puluh lima tahunan lalu (duh berarti sudah tua ya aku?), dengan dua teman asal Riau dan Bangka, saya berlebaran di Jogja. Di kantong cukup banyak duit untuk menyambut lebaran.

Celakanya, pada H-2 hingga H+2, hampir tak ada warung yang buka. Jogja pada hari lebaran saat itu seperti kota mati. Mahasiswa banyak yang pulang, dan tak ada warung makan yang buka. Mal saat itu juga belum ada.

Tak ada pilihan lain, kami mengetuk sebuah rumah yang ada kios sembakonya untuk membeli mi dadak, telur, dan beras. Si pemilik rumah yang sedang menikmati kebersamaan  dengan anggota keluarganya heran, tapi kemudian paham. Ia bahkan kemudian menawari kami makan.

Setelah agak setengah menolak, akhirnya kami menerima tawaran itu. Masing-masing sepiring lontong dan segelas teh panas, habis kami sikat, meski dengan agak malu sekali. Apa boleh buat. Hingga bertahun-tahun saya selalu ingat rumah dan penghuninya yang berhati sutera itu.

Sepuluh tahun terakhir ini, suasananya berubah drastis. Pada musim lebaran, justru Jogja sangat ramai sekali. Hotel-hotel penuh. Jalan-jalan macet. Mal padat.

Baca juga:  Beberapa Tren Menyebalkan di Bulan Ramadan

Kok bisa berubah demikian?

Kata teman yang antropolog, dulu orang pulang kampung, tidur di rumah kakek-nenek, sesak-sesakan tidak mengapa, makin sesak justru makin asik. Keruntelan malah membuat dekat dan akrab. Masak dan makan bersama. Jika kakek-nenek sudah tidak ada, maka saudara paling tua, Pak De misal, yang menggantikan. Anda bisa bayangkan betapa indah dan hangatnya silaturahmi itu.

Tetapi struktur keluarga batih (baca: inti) ini sudah lama berantakan. Ia ada, tapi maknanya telah melempem. Anggota keluarga memang mudik, datang silaturahmi, ziarah ke makam orang tua, kakek nenek, semua acaranya diringkas tak lebih dari dua jam. Lalu mereka kembali ke hotel tempat menginap, makan ke restoran dan berbelanja, atau pergi ke tempat piknik.

Sudah jadi pengetahuan umum, bahwa pada lebaran tempat yang paling ramai adalah mal, restoran, dan tempat wisata.

Sementara itu kenangan pada simbah, pada oma-opa, dengan dapur dan kulinernya yang khas, telah dipenuhi dan diromantisir oleh berbagai resto dengan berbagai nama simulakranya: “dapur simbah”, “selera simbah”, “lidah simbah”, dan lain-lain.

Tak ada yang menyebut perubahan ini sebagai “new normal” waktu itu.

Saya ambil Jogja sebagai suatu contoh kasus. Saya mencium bau anyir kota ini dan merasakan detak perubahannya. Tapi saya kok merasa pemandangan yang sama terjadi juga di kota lain.

Pertemuan “bani-bani” yang tren dirancang untuk merespons luruhnya ikatan keluarga. Tapi pertemuan offline dengan semangat online ini tak mampu lagi mengembalikan kehangatan dan solidaritas seperti yang dimiliki keluarga batih tempo dulu.

Jadi ratapan terhadap lebaran ini adalah hilangnya semacam pesta ini. Tentu tak ada yang keliru, karena hiburan dan pesta, sejauh tak berlebihan, juga dianjurkan pada hari lebaran. Namun jika yang tersisa hanya itu dari Ramadan dan idul fitri, maka mungkin di situ masalahnya.

Maka selamat menikmati lebaran online. Tak ada keistimewaan apa-apa, karena tiap hari kita memang sudah terus-menerus online.

BACA JUGA Sebesar Apa Dosa Manusia yang Diampuni pada Idul Fitri atau tulisan Hairus Salim lainnya.