MOJOK.COAda 3,5-3,8 juta orang yang pelesir ke Borobudur tiap tahunnya, tapi nggak banyak perputaran uang terjadi di desa-desa sekitar Borobudur. Ya gimana, wisatawan nginepnya tetep di Jogja.

Jutaan orang bahkan tidak menyadari efek kunjungan mereka ke Candi Borobudur tidak terlalu signifikan terhadap perekonomian warga lokal, demikian dilaporkan Tirto. Tiga desa di Kecamatan Borobudur masih dikategorikan miskin, yaitu Desa Giri Tengah, Ngadiharjo, dan Wringinputih. Terus, ke mana larinya pendapatan obyek wisata selama ini? Ya tentu saja ke kas daerah dan BUMN yang mengelolanya, PT Taman Wisata Candi Borobudur. Angkanya lumayan. Di 2015, Kabupaten Magelang bisa mendapat Rp96,49 miliar dari Borobudur saja.

Warga lokal seolah dituntut bisa memodali dirinya sendiri untuk turut ambil potongan “kue” objek wisata candi Buddha ini. Selama ini, warlok bukannya tidak usaha untuk menarik minat wisatawan. Rata-rata dari mereka adalah pengrajin pahat topeng kayu, batik tulis, anyaman bambu, dan kerajinan tangan lainnya yang cocok sebagai oleh-oleh untuk keluarga di kampung. Tidakkah itu indah dan mengandung kekhasan lokal?

Sayangnya, wisatawan yang berkunjung ke Candi Borobudur hanya fokus foto-foto di sana. Dokumentasi ini memang menu utama wisata untuk menandakan para turis itu sudah menjajaki salah satu dari tujuh keajaiban dunia. Setelah turun dari candi, mereka kecapekan. Naik-turun candi memang bikin lelah bagi sebagian orang. Bahkan ada yang mengeluh, rasanya kayak mau beranak. Supaya tidak capek, apa perlu dibangun eskalator atau tangga jalan? Kan nggak mungkin.

Baca juga:  Para Penjaga Mercusuar di Pulau Terpencil

Turis yang letih, jadilah mager dan langsung balik ke penginapan… di Yogyakarta. Mengapa orang-orang ini berkunjung ke obyek wisata Borobudur yang notabene terletak di Kabupaten Magelang, tapi nginepnya di Jogja? Apakah di Magelang tidak ada hotel yang proper untuk bermalam? Coba kalau nginepnya masih di Magelang, besoknya bisa melanjutkan wisata ke desa-desa di sekitar Borobudur.

Bisalah wisatawan itu main ke, salah satunya, Desa Giri Tengah yang punya nilai historis tinggi. Sebab, desa tersebut jadi medan peperangan Pangeran Diponegoro. Supaya desa ini bisa menarik wisatawan mancanegara seperti halnya lokasi syuting Game of Thrones, sepertinya perlu dibuatkan serial HBO yang mengangkat sejarah perang Nusantara.

Alasan lain dari terasingnya potensi wisata di sekitar Borobudur adalah karena pengelola masih kurang promotif terhadap wisata desa-desa selain Candi Borobudur itu sendiri. Jika pengelola bisa melakukan promosi dengan jitu, anak sekolah yang sering study tour akan memasukkan wisata desa sekitar ke dalam satu paket wisata edukasi Candi Borobudur. Begitu pula dengan para turis asing.

Mungkin Balai Ekonomi Desa (Balkondes) yang menaungi desa-desa ini perlu siapkan dana khusus untuk kebutuhan promosi. Salah satunya dengan cara kerja sama bersama influencer media sosial yang bayarannya lumayan mahal. Biar desa-desa di sekitar Candi Borobudur dapat exposure dari selebgram. Jika sudah viral di media sosial, adalah keniscayaan sebuah objek wisata bakalan diserang pemburu estetika feeds Instagram.

Baca juga:  Evakuasi Wisatawan di Gili Trawangan Pasca Gempa 7 SR Guncang Lombok

Contoh kasusnya adalah “Negeri di Atas Awan” Gunung Luhur di Lebak, Banten. Ketika seseorang mengabadikan momen indahnya panorama alam di sana dan mengunggahnya di media sosial, netizen langsung kepincut dan menginginkan pengalaman yang sama. Tak menunggu waktu lama, ketika weekend, orang-orang menyerbu ke TKP. Namun, karena akses menuju lokasi kurang memadai, akhirnya kemacetan yang terjadi. Bukannya dapat sensasi “Negeri di Atas Awan”, malah dapat sensasi “Macet di Atas Negeri”.

Nah, sebelum nanti diserbu wisatawan dan wisatawati, kondisikan desa-desa potensi wisata di sekitar Borobudur supaya cukup memadai untuk dikunjungi. Untuk berkunjung ke Borobudur, jangan lewatkan kuliner rasa surga khas magelang bernama mangut ikan manyung dagangannya Bu Ida. Duh, jadi lapar.

BACA JUGA Jan Ethes Jadi Nama Anggur, Menyusul Kaesang yang Sudah Jadi Pisang atau komentar lainnya di rubrik POJOKAN.



Tirto.ID
Loading...

No more articles