Pak Ogah, yang Mengakali Hidup Terbatas dengan Mengatur Lalu Lintas
Pak Ogah, yang Mengakali Hidup Terbatas dengan Mengatur Lalu Lintas

Pak Ogah, Mengakali Hidup Terbatas dengan Mengatur Lalu Lintas

Gerakkan tangannya cepat, memberikan instruksi berhenti atau lanjut bagi pengendara yang melintas di persimpangan atau hendak putar arah. Ia disebut Pak Ogah, masyarakat yang berinisiatif jadi pengatur lalu lintas di berbagai sudut jalan. 

“Bagi cepek dong Den,” adalah ungkapan yang sering dilontarkan Pak Ogah, bukan yang di jalanan, melainkan tokoh di serial televisi legendaris Si Unyil. Mungkin dari situlah sebutan Pak Ogah tersemat bagi para pengatur lalu lintas tak resmi ini. Mereka dianggap bekerja dengan meminta-minta pada pengguna jalan.

Namun, hasil pengamatan saya  di sepanjang Jalan Laksda Adisucipto, dari pertigaan revolusi UIN Sunan Kalijaga hingga pertigaan Janti, yang nampak adalah Pak Ogah yang jarang menadahkan tangan pada pengendara yang mereka bantu melintas.  Liputan ini sendiri saya lakukan sebelum Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) dilakukan.

Pada rute dengan panjang sekitar 1,7 KM itu Pak Ogah bisa mudah ditemui. Setidaknya ada enam titik di mana sosok yang biasanya berompi parkir dengan bendera semaphore ala Pramuka di tangan ini mangkal.


Tak hanya sekali, hampir setiap hari dalam enam bulan terakhir saya melintas, tak pernah sekalipun melihat tangan Pak Ogah meminta. Kecuali menerima setelah pengendara nampak mengulurkan tangan. Hingga akhirnya saya berjumpa dan membuka obrolan dengan beberapa pengatur lalu lintas ini.

Tak pernah minta meski pendapatan tak pasti

Siang itu, kala matahari panasnya kurang bisa dikompromi, saya menjumpai Anton (30), Pak Ogah yang mangkal di persimpangan masuk menuju Gowok. Ia bisa dijumpai di sana hampir setiap hari, kala terik maupun hujan, sekitar jam sembilan pagi hingga satu atau dua siang. Dalam empat atau lima jam kerjanya, terkumpul rata-rata 50 ribu rupiah.  

“Kalau lagi beruntung ya bisa sampai 80-an ribu Mas,  tapi paling sedikit ya 30 ribu lah,” tuturnya saat saya ajak menepi di emperan toko. Pemberi umumnya mereka yang menggunakan mobil. “Motor ada tapi jarang,” tambah Anton. Dalam sehari, ada dua sampai tiga orang bergantian menjadi Pak Ogah di titik Anton mangkal.

Pemasukannya tak pasti, karena ia tak bisa mematok tarif dan meminta ke semua pengendara yang lewat. Namun ada hari di mana ia beruntung, sebab seorang pengemudi mobil memberikan 50 ribu rupiah secara cuma.

Sebelum berbincang, Anton teramati sedang membantu orang yang hendak menyeberang ramainya jalan. Saat ditanya, Anton berujar bahwa jadi Pak Ogah bukan hanya urusan mengatur kendaraan dan dapat uang. “Ada tanggung jawabnya juga Mas, pokoknya urusan di jalan ini saya bantu,” ujar pria yang sudah setahun setengah jadi Pak Ogah ini.

Dalam menjalankan tugasnya, pria berbadan gempal ini sungkan tebang pilih. Tak masalah perkara rupiah,  saat jamnya bekerja dan ada yang butuh bantuan, ia selalu sedia. Namun,  Anton menekankan bahwa karakter Pak Ogah berbeda-beda. Tak semua bersikap sama sepertinya, karena kembali lagi, tak ada prosedur khusus bagi mereka yang menjalani profesi ini. Kesadaran masing-masing diandalkan di sini.

Seketika Anton mengacungkan jari ke seberang jalan, “Itu Mas contohnya, teman saya itu sering menghindari urusan ribet di jalan,” tuturnya sambil menertawakan rekan  sesama Pak Ogah. 

Anton memberi contoh ketika ada ambulan melintas, tak semua Pak Ogah berani terjun ke tengah jalan membantu. “Teman saya itu sukanya mlipir kalau ada ambulans,” katanya.

Syarat jadi Pak Ogah

Baca juga:  Proyek Galian Jalan yang Selalu Saja Menyebalkan

Tak berhenti di situ, untuk menjadi Pak Ogah di titik tertentu ada prasyarat yang harus dijalani. Anton misalnya, ia harus izin dengan warga setempat. Hal itu dipermudah dengan adanya kenalan yang sebelumnya sudah mangkal di situ. “Intinya perlu ada kulo nuwunnya lah Mas,” tambah pria asli Muntilan ini.

Meskipun izin dari warga setempat sudah dikantongi, tak jarang Anton menghadapi sengketa dengan sesama Pak Ogah. Persoalan ini biasanya terkait jam kerja hingga lahan. “Ya di sini kan banyak ya mas kelompok-kelompok orang yang butuh mata pencaharian, jadi ya sengketa begitu maklum lah,” jelasnya.

Anton bersyukur, semua persoalan itu bisa diselesaikan dengan damai dan cukup dicari jalan tengahnya. Baginya semua butuh uang, harus saling memaklumi, dan menguntungkan.

Sebelum menjadi Pak Ogah, Anton pernah menjadi seorang tukang parkir. Saya penasaran mengapa ia memilih jadi Pak Ogah yang tak bisa mematok tarif dan harus berdiri berjam-jam di tengah teriknya siang. “Tukang parkir lebih ribet Mas, harus setor ke atasan, ke pemilik lahan, dan ada urusan-urusan rumit lain,” katanya.

Selain itu, urusan mengatur lalu lintas bukanlah perkara yang bisa dibilang mudah. Salah instruksi, bisa kena marah. Hal itu sudah lumrah dihadapi Pak Ogah.

Pak Ogah sedang mengatur lalu lintas. Foto oleh Hammam Izzuddin/Mojok.co
Pak Ogah sedang mengatur lalu lintas. Foto oleh Hammam Izzuddin/Mojok.co

Belum lagi, menurut Anton, banyak pengendara yang tak mau diatur, sudah disuruh berhenti namun tetap bablas. “Nah yang begitu itu kan membahayakan to Mas, saya juga bisa disalahkan,” ungkapnya sambil geleng-geleng.


Selepas tuntas pembicaraan dengan Anton, saya melaju ke timur, titik putar balik kendaraan tepat sebelum pertigaan Janti dan menemui Dikin (51). Pria paruh baya ini sudah lebih dari dua tahun menjadi Pak Ogah di titik itu. “Dulunya saya jualan batik keliling di Palu Mas, gempa 2018 itu membuat saya harus pulang,” ungkapnya dalam Bahasa Jawa.

Lebih dari Anton, pria asal Boyolali ini pernah nyaris adu jotos dengan pengendara. Suatu hari ia harus menyetop pengendara dari Janti supaya yang dari arah sebaliknya bisa berputar. Nahasnya, ada pengendara motor yang telat berhenti dan kemudian menabrak motor di depannya. “Weeeeee…weee,” ucapnya menirukan teriakannya kala itu.

Teriakan reflek itu disalahtafsirkan sang penabrak sebagai sebuah gertakan. Alhasil sang penabrak berteriak balik sambil mengacungkan kepalnya. Saat bercerita, alisnya mengkerut seperti bingung, kemudian berujar, “Kok bisa itu lo sudah salah malah ngajak gelut, saya ini cuma kaget.” Demi menghindari pertikaian, Dikin mengaku memilih minta maaf kala itu.

Seperti yang sudah dijelaskan tadi, mengatur lalu lintas bukan perkara mudah, “Butuh waktu dua minggu mas saya belajar,” kata Dikin. Tak seperti Anton yang punya pengalaman jadi tukang parkir, Dikin belum pernah sama sekali berurusan dengan urusan atur mengatur kendaraan formasi kendaraan, apalagi lalu lintas jalan.

Disatukan oleh hidup yang serba terbatas

Baca juga:  Donasi Peti Mati yang Dibuat Relawan dengan Berat Hati

Pak Ogah di seputaran Yogya, berasal dari berbagai wilayah. Mulai dari warga lokal hingga pendatang dari berbagai daerah di Jawa Tengah, Nusa Tenggara Timur (NTT), Maluku, hingga Papua. Mereka saling berbagi teritori, sedangkan Anton dan Dikin beruntung sebab memiliki kenalan yang sudah lebih dulu aktif di bidang ini. “Kalau nggak diajak teman saya, nggak tau juga gimana caranya bisa jadi Pak Ogah di sini,” Kata Dikin.

Ragam perbedaan itu  memiliki satu benang merah, yakni kehidupan yang serba terbatas dari Pak Ogah. Selama di Yogya, Dikin tinggal di emperan ruko dan rumah kosong di sekitar Ambarukmo. Tak cukup katanya, jika harus menyewa kamar kos.  Sedang Anton masih cukup beruntung sebab bisa tinggal di kos di perkampungan seberang Ambarukmo Plaza.

Tak heran jika terik dan hujan tak menjadi penghalang bagi Anton untuk tetap bertugas di jalanan. Ada tanggungan yang harus ia penuhi. Hujan memang membuat orang sungkan mengulungkan uang recehnya ke Pak Ogah.  Namun, berapapun uang yang bisa dikantongi, ia harus tetap mencari. “Kalau hujan sedikit yang memberi, tapi gimana lagi, daripada nggak ada sama sekali,” kata Anton.

Sayangnya, kedua Pak Ogah yang saya wawancara ini mengaku belum pernah mendapatkan arahan maupun pelatihan dari pihak Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Kepolisian. Padahal mereka berdua berharap bisa dapat perhatian. “Pengen sih Mas kalau dikasih pelatihan dan arahan itu,” jelas Anton.

Sedangkan Dikin justru lebih berharap agar bisa diberi seragam layaknya petugas sungguhan. Menurutnya dengan seragam, Pak Ogah bisa nampak lebih rapi dan profesional membantu tugas polisi lalu lintas. “Pak Polisi pernah ngasih bantuan makanan pas korona ini, sama ngasih nasihat biar hati-hati juga. Kalau dikasih seragam kan tambah apik Mas,” tandas Dikin.

Keberadaan Pak Ogah ini sudah umum ditemui di berbagai kota besar. Bahkan Polda Metro Jaya pada 2017 lalu pernah menaruh perhatian pada Pak Ogah dan berniat untuk  menamainya Sukarelawan Pengatur Lalu Lintas (Supeltas).

“Banyak tenaga-tenaga yang bisa membantu polisi mengatur lalu lintas, tapi tidak sesuai. Maka, polisi akan mengkoordinir dan mengakomodir para Pak Ogah dan memberi mereka nama Supeltas,” tutur Direktur Ditlantas Polda Metro Jaya kala itu, Kombes Halim Pagarra, dilansir dari Detik.com.

Untuk Yogya, belum saya temukan publikasi tentang langkah pihak berwenang untuk meregulasi para Pak Ogah. Apapun kebijakan dan regulasi yang kelak diterapkan pada para Pak Ogah, semoga hidup berpihak pada mereka yang berjuang di jalanan.

BACA JUGA Cerita Sopir Ambulan yang Hampir Disabet Celurit Saat Mengantar Jenazah Pasien Covid-19 dan liputan menarik lainnya di Mojok.