Melakukan penelitian antropologi memang tidak mudah, tapi selalu menarik. Waktu yang lama memang kadang membuat peneliti bosan dan rindu tempat asalnya, tapi ada banyak pengalaman yang tidak bisa didapatkan jika hanya melakukan survei, sensus, atau membuat laporan jurnalistik.

Yang dialami salah seorang profesorku, misalnya. Saking lamanya meneliti di suatu dataran di Kalimantan Selatan, ia pernah membantu anak tuan rumahnya melakukan persalinan. Juga ada kisah antropolog yang dikejar-kejar polisi karena keseringan ikut sabung ayam. Antropolog lain ada yang diajak kampanye politik atau ikut tawuran menyerang kampung lain. Ini memang risiko tinggal lama dan ikut membaur bersama warga.

Sesudah penelitian, banyak kisah yang bisa dikenang. Entah sedih, lucu, bahkan berbahaya kalau diingat-ingat. Aku pernah memimpin sebuah riset kelompok di Karimun Jawa yang mana satu sub-kelompok hampir tenggelam karena perahu kecil yang ditumpangi terbalik dan banyak penumpang yang kakinya tersangkut jaring nelayan. Untung si empunya jaring datang dan segera menyelamatkan. Sialnya, banyak yang tidak bisa berenang. Dan lebih sialnya, dalam setiap riset kelompok, pasti ada saja anggota yang mudah kerasukan setan.

Lima belas daftar di bawah ini adalah pengalaman penelitian yang sering dialami antropolog di lapangan. Menurutku, banyak yang sebenarnya tidak lucu, malah cenderung menyedihkan. Namun, bukankah puncak dari kelucuan itu adalah sesuatu yang menyedihkan?

1. Pertama kali tiba, kamu dianggap mata-mata. Entah mata-mata kepolisian setempat atau bahkan agen CIA. Mata penduduk melihatmu seperti tembus sampai bagian belakang tengkorak kepalamu. Satu minggu pertama dalam penelitian adalah yang terberat. Kamu harus memperkenalkan dirimu berulang-ulang kepada orang yang berbeda. Dan banyak dari mereka yang tidak paham apa itu “penelitian” karena ini jenis pekerjaan paling asing buat penduduk desa.

2. Kamu harus berhadapan dengan tidak adanya pembatasan privat dan publik yang tegas. Mandi tanpa dinding dan kamar tidur yang terbuka dan tanpa kunci. Kamu diminta terbiasa mandi dengan posisi tuan rumah hanya membelakangimu dengan kondisi nyaris tanpa dinding pembatas.

3. Kamu diperlakukan seperti anak kecil. Tuan rumah yang kamu tinggali sering cemas setiap kali kamu keluar rumah dan jika belum pulang hingga pukul 8 malam. Mereka tiba-tiba menganggap daerahnya berbahaya dan tidak aman bagi orang kota yang baru datang seperti kamu. Mereka juga menunjukkan bahwa mistik dan kekuatan hitam sangatlah kuat di daerah itu, maka kamu sebagai orang baru dianggap rentan terhadap santet, suanggi, doti-doti, dan berbagai ilmu hitam lainnya yang bertebaran di malam hari. Jika kamu tidak jatuh sakit di tempat penelitian, tuan rumah sering yakin bahwa kamu memang punya ajimat sebelum masuk ke desanya.

4. Sinyal susah. Semakin susah sinyal, semakin terkesan antropolog sejati. Apalagi jarang posting di media sosial dan susah ditelepon. Setiap ditelepon selau dijawab dengan suara operator, “Maaf, nomor yang Anda tuju berada di luar jangkauan.” Teman-temanmu mengira bahwa kamu benar-benar melakukan penelitian, padahal kamu cuma sedang kehabisan pulsa.

Baca juga:  Pengalaman Bertemu dengan Pejuang Khilafah

5. Kamu mulai punya sahabat yg bertandang ke tempat kamu tinggal. Padahal ia jarang berkunjung sebelumnya ke rumah tersebut. Tuan rumah yang kamu tinggali biasanya terkenal arogan atau sangat disegani sehingga membuat orang sungkan untuk mampir ke rumahnya. Namun, berkat kehadiranmu, secara tidak langsung kamu membantu mencairkan hubungan tuan rumahmu dengan tamu-tamu yang juga menjadi teman barumu. Ingat, tidak semua kehidupan warga desa itu harmonis dan saling gotong royong seperti dalam bayangan eksotis kaum urban atau tayangan perjalanan wisata. Warga desa juga penuh intrik, iri hati, bahkan saling boikot.

6. Kamu pernah ditaksir atau naksir masyarakat setempat. Dalam level yang paling ekstrem, kamu pernah mendapatkan upaya pelet atau guna-guna dari pemuda setempat. Sangat berisiko jika antropolog berstatus lajang. Beberapa peneliti perempuan yang masih lajang bahkan harus menggunakan cincin palsu tanda ia sudah menikah. Atau di minggu pertama, ia mengajak pasangannya terlebih dahulu untuk memberi tahu ke publik bahwa ia sudah ada yang punya.

7. Kamu sebenarnya tidak suka dengan orang-orang di tempat kamu tinggal karena dalam beberapa hal mereka terbukti berbohong atau omong besar. Apa yang mereka bicarakan tidak sesuai dengan apa yang kamu lihat, apa yang mereka katakan tidak sesuai dengan apa yang ia lakukan. Mari berpikir positif, mungkin itu karena ingatan manusia pendek, tapi sering juga itu karena orangnya memang sedang membual. Misalnya seorang warga desa yang berkali-kali berkata kepadaku bahwa setiap kali bupati lewat depan rumahnya, pasti mampir dan memberi salam. Suatu kali bupati betul-betul lewat dengan iring-iringan mobilnya, dan ia tidak sama sekali berhenti, padahal warga itu jelas-jelas berdiri tepat di depan rumah.

8. Kamu pernah melakukan “dosa” seperti minum-minuman keras, berjudi, makan daging anjing, babi, penyu, bahkan biawak. Itu biasa. Bahkan sambil makan daging babi atau minuman keras, kamu merasakan ada gurat kepuasan di wajah masyarakat yang kamu bersamai. Dalam hati mereka berkata, Ia sudah jadi bagian dari kami.

9. Kamu mulai melakukan hal-hal di luar kebiasaanmu, seperti merokok atau makan pinang, begadang dengan penduduk, memancing, berburu, atau bertani.

10. Kamu mulai belajar bahasa setempat, dan yang pasti diajari teman-teman barumu pertama-tama adalah kata-kata jorok seperti alat kelamin, rambut kemaluan, seks, kemudian baru bahasa-bahasa mendasar seperti ayo makan, selamat malam, gula habis, dst. Ketika kamu dapat mengucapkan beberapa kata dalam bahasa mereka, wajah mereka tampak lebih puas daripada situasi di nomor 8.

11. Kamu mengubah gaya pakaianmu. Kamu mulai menggunakan sarung, tas kulit, dan celana pendek. Orang-orang yang kamu teliti tampak demikian gembira sekaligus ganjil saat menatapmu.

Baca juga:  Mengenang Danarto: Hidup Adalah Sebuah Ketika

12. Kamu mulai belajar membagi waktu dengan bijak antara nongkrong hingga larut malam, menulis laporan, dan membaca buku-buku laporan etnografi dan novel untuk mengasah wawasan dan kekayaan tulisanmu. Itu harapanmu.

Kenyataannya? Kamu jarang sempat membaca buku. Kesannya, itu pekerjaan orang kota dan akademisi yang sangat individualis dan kamu akan merasa berdosa mencueki tuan rumah dengan bacaan-bacaanmu itu. Dan jika kamu melakukan riset di Indonesia Timur seperti Ambon, Kei, Tual, Seram, juga kawasan Flores, siap-siap dengan budaya pesta joget memperingati wisuda atau pernikahan, yang sering kali berakhir sebelum subuh, namun lebih sering lagi sesudah subuh. Plus ditambah peserta joget yang pulang dalam keadaan mabuk semua. Ingatan-ingatan akan isi wawancaramu mulai banyak yang berkurang. Ini risiko yang harus kamu jalani. Ingat, prinsip dasar 101 metode riset antropologi: Jangan pernah menolak undangan meskipun itu tidak kamu sukai. Sebab, pasti ada peristiwa menarik di sana.

13. Kamu mulai terlatih menghafal. Ngobrol mulai pagi, siang, sampai sore tanpa membawa catatan atau perekam agar obrolan berjalan alami. Efeknya, di malam hari kamu harus mengingat keras semua hasil obrolan dan merangkumnya dalam catatan laporan yang detail dan menarik.

14. Kamu mulai diserang penyakit serius, mulai dari demam flu, meriang, demam berdarah, malaria, TBC, tifus, disentri, atau penyakit paling ringan seperti panu dan kutu air di telapak kaki. Kamu harus berhadapan dengan terbatasnya persediaan obat karena suplai alat kesehatan dan obat dikorupsi petugas-petugas kesehatan setempat. Beberapa orang akan menganggap bahwa kamu terkena “ilmu hitam” atau guna-guna atau kamu sakit karena mandi terlalu malam atau bangun terlalu siang. Ada banyak hal yang kamu anggap tidak berhubungan sama sekali menurut logikamu, tapi itu harus kamu terima. Misalnya, ketika kamu terkena gejala tifus, kamu diharuskan mandi air laut. Anggaplah penyakit ini sebagai berkah. Disiplin lain, semacam sejarawan, hampir tidak pernah tiba-tiba terserang malaria karena melakukan studi arsip di ruangan ber-AC.

15. Usai penelitian lapangan, kamu mulai sadar bahwa HP-mu dipenuhi kontak-kontak baru dari orang-orang di tempat kamu meneliti. Laptopmu mulai dipenuhi foto-foto daripada catatan lapangan. Orang-orang yang kamu tempati mulai meneleponmu dan satu per satu meminta dibawakan oleh-oleh, dari jaket, HP, bibit pertanian, hingga alat bantu seks dan pembesar kelamin.

Yang lebih serius, mereka meneleponmu untuk membagi berbagai persoalan di kampungnya. Jika sampai itu terjadi, kamu bukan saja sudah berhasil membangun keintiman dengan warga kampung, kamu bahkan telah dipercaya untuk berjuang bersama mereka. Dari sanalah maqam-mu sebagai antropolog sudah berbeda dengan wisatawan.

Komentar
Kirim Artikel
No more articles