Bulan April adalah bulan yang cukup merepotkan bagi orang tua yang punya anak usia TK. Pasalnya sebagian besar sekolah di Indonesia akan menggelar Kartinian, yang mana salah satu komponen kegiatannya adalah ‘parade berkostum’. Anak-anak, baik laki-laki maupun perempuan, mau atau tidak mau, harus hadir di sekolah dengan pakaian adat atau pakaian cita-cita. Itu artinya orangtua mereka harus siap berjibaku mencari kostum untuk putra-putri mereka.

Berbeda dengan hiruk pikuk jomblowati mencari busana kondangan manten mantan kekasih, hiruk pikuk mencari kostum Kartinian untuk ananda tercinta ini cukup pelik. Pertama, tentu saja kostum itu harus berukuran kecil. Kedua, harus menggambarkan cita-cita anaknya. Jika ananda terkasih berjenis kelamin perempuan, hal itu jauh lebih mudah. Apapun cita-citanya, gadis-gadis mungil ini harus pasrah dengan kewajiban utamanya yaitu berkebaya. Kan Kartinian. Sedangkan untuk anak laki-laki, ada beberapa alternatif kostum seperti surjan, seragam polisi atau tentara, sampai seragam pilot. Yang paling sulit tentu saja jika cita-cita si anak laki-laki adalah PNS, maklum, baju korpri berukuran anak memang sulit didapat.

Maka setiap bulan April adalah berkah bagi beberapa tempat persewaan kebaya karena beberapa orang tua yang logis sudah barang tentu akan segera nglarisi usahanya. Sisanya saya anggap tidak logis, karena para orang tua itu akan membeli pakaian baru atau order ke penjahit langganan. Mengesampingkan fakta bahwa baju-baju lucuk itu hanya akan menjadi artefak dalam beberapa tahun saja.

Terlepas dari pendapat para cendekia sejarah tentang betapa perayaan hari Kartini di negara kita adalah sungguh sebuah pendegradasian nilai-nilai subtil tentang perjuangan Kartini, saya pribadi mengenang Kartinian masa kecil saya sebagai sebuah momen yang indah. Saya tidak bisa menjelaskan kenapa kok bisa indah. Mungkin karena saya melihat beragam atribut pakaian kejawen yang selalu hadir dalam ukuran orang dewasa ternyata bisa di minimize, dan saya (waktu itu umur 5 tahun) tampak menggemaskan dalam balutan kostum kebaya meskipun cita-cita saya waktu itu adalah menjadi astronot.

Jika Anda pria dewasa, jomblo ataupun on the market, menikah atau belum menikah, cobalah pergi ke bank saat hari Kartini. Niscaya Anda akan menemukan kecantikan wanita Indonesia yang utuh ketika memandang embak-embak teller dan costumer service dalam balutan kebaya. Seksi dalam konteks yang mriyayeni tersaji lewat betis yang hanya tampak mintip-mintip malu di balik kain jarik. Percayalah.

Jujur, Saya pribadi iri melihat embak-embak itu. Mereka bisa punya alasan kuat untuk berkebaya tanpa harus berakhir di gedung resepsi. Apakah ada cara lain untuk bisa benar-benar merasakan sensasi berkebaya dan berkain untuk bekerja selain di bank? Mungkin ada di beberapa kantor pemerintah. Tapi masak iya mau berkebaya untuk kulakan bahan di pasar, kirim paket ke stasiun lalu pulangnya mampir swalayan beli susu. Lak yo malah wagu.

Di pasar, di kampung, dan di sawah, saya masih sering melihat simbah-simbah putri berkain dengan setagen yang membebat perutnya, dan jika udara gerah mereka masih menyisakan kutang sebagai penutup tubuh karena kebaya secara optional bisa dilepas. Sungguh cara berbusana yang hampir bisa dipastikan akan punah dalam 10-20 tahun lagi. Yang tersisa hanya kios-kios usang yang menjual kebaya dan kain batik bekas di sudut-sudut klitikan. Tragis.

Untuk itu, sebagai wanita Indonesia yang peduli busana Nasional, maka pada momen Kartinian kali ini, meskipun sungguh di luar konteks “Kartini” jika dipantau dari sudut pandang manapun, saya berharap pada pak Presiden Jokowi agar segera menggerakkan seluruh instansi terkait guna merespon kegelisahan saya mengenai hal ini. Saya mengusulkan agar pemerintah menyelenggarakan hari Kartini yang lebih masif dan terstruktur. Kalau perlu buat menjadi seminggu. Minggu Kartini.

Prosedurnya, buatlah kewajiban berkebaya di minggu Kartini bukan untuk dedek sekolah saja, tapi semua wanita Indonesia. Di pasar, di kantor, di rumah, di pusat perbelanjaan semua wanita harus berkebaya. Kalau perlu kerahkan satpol PP untuk mensweeping para wanita yang tidak melaksanakan anjuran pemerintah. Konde? Tidak perlulah, cukup sebagai optional yang sifatnya sunnah.

Jika perlu, selama seminggu itu pemerintah merangkul semua elemen masyarakat termasuk diantaranya para motivator, selebgram, hingga blogger, untuk mengkampanyekan kebijakan ini. Misalnya menghimbau semua selebgram yogis ternama untuk membuat yoga pose challenge dalam balutan kain kebaya, mewajibkan semua motivator agar memposting faedah berkebaya di semua lini masa mereka, menghimbau semua blogger fashion untuk mengulas tips berkebaya praktis sebelum minggu itu dimulai.

Sungguh tiada upaya yang tak mungkin untuk dilakukan jika tujuan dibaliknya adalah benar-benar baik. Saya percaya, walaupun akan terasa mustahil pada awalnya, tapi kebaya sebagai pakaian sehari-hari sangat mungkin untuk kembali membudaya. Program yang awalnya seminggu dapat ditindak lanjuti oleh beberapa pihak, seperti bank BUMN, bank swasta, pusat perbelanjaan, hingga kantor-kantor swasta nantinya akan menjadi sebuah program yang berkelanjutan. Yang awalnya kebijakan bisa menjadi kebiasaan. Yang awalnya terpaksa bisa menjadi terbiasa.

So, Jika masa itu tiba, bukan mustahil kita akan dengan mudah menemukan diskotik dan tempat dugem yang penuh dengan wanita berkebaya di dalamnya. Mereka ngebir, dan tetap berbudaya.

 

No more articles