Nama adalah doa. Benarkah demikian?

Kalau begitu, orangtua saya sudah salah memilihkan nama. Mereka memilih nama Fransisca hanya karena nama itu terdengar manis dan tidak pasaran. Mereka tidak tahu, Fransisca, Francesca, Franciszka, Franciscus, Françoise, Francis, Frankie, asal katanya adalah bahasa Latin, Frances, yang berarti French, atau orang yang bebas. Liberal. Jujur, apa adanya.

Hal kedua, saya dilahirkan pada hari kemerdekaan, 17 Agustus. Lahir normal. Kandas sudah harapan mereka memiliki anak perempuan yang anggun, manis, dan penurut. Saya ini tomboy, enerjik, dan suka tertawa keras-keras.  Tidak pintar berbasa-basi.  Senang duduk sambil mengangkat kaki ke atas kursi/meja/dashboard mobil.

Kalau habis makan ayam goreng, karedok, dan sambal terasi kegemaran saya, saya akan menjilati jemari saya satu-persatu. Jelas tidak bisa anggun, kecuali kalau hanya akting beberapa jam ketika saya sedang dinas manggung dan pakai ballgown.

Jadi, sekali lagi, nama menentukan karakter dan nasib kita?

Tapi tunggu, itu ada perempuan remaja bernama Gloria Natapraja Hamel. Tahu kan arti nama itu? Gloria, Glory. Popularitas dan kehormatan yang didapatkan dari prestasi.

Prestasi bagaimana, dipaksa kalah sebelum bertanding. Didiskualifikasi. Yang ada malah malu. Padahal sudah susah-susah ikut seleksi super ketat, kamp pelatihan keras bersama paspampres, plus bonus track tes keperawanan.

Di New York tahun 1958, juga ada kejadian seorang ayah berkulit hitam bernama Robert Lane yang menamakan anak keenamnya Winner. Ketika kemudian istrinya melahirkan anak ketujuh, entah mengapa ia menamainya Loser. Sepertinya bukan karena dia kesal. Lebih karena… salah mengeja. Bagaimana nasib kedua anak itu?

Loser mendapatkan beasiswa kuliah dan menjadi polisi. Kariernya semakin meningkat dan ia menjadi detektif dengan pangkat sersan. Rekan-rekannya memanggilnya dengan nama “Lou”, karena merasa tidak enak jika memanggil nama aslinya.

Sedangkan Winner? Pada usia 40-an saja ia sudah lusinan kali bolak-balik masuk penjara karena kasus pencurian, menerobos properti orang, bahkan KDRT.

Setelah para ilmuwan Amerika meneliti lebih dalam, ternyata yang lebih menentukan nasib anak bukanlah namanya, melainkan kondisi keluarga. Coba Anda bayangkan saja, bagaimana latar belakang sosial dan finansial orangtua yang mengisi akte kelahiran anaknya dengan nama:

Batman, Satria Baja Hitam, Pangeran Ganteng, Dono Kasino Indro, Aril Piterpen, Dontworry, Anti Dandruf, Royal Jelly, Selamet Tinggal, Selamet Dunia Akhirat, bahkan Minal Aidin Wal Faizin…

BACA JUGA:  Bosan Pacaran Lama tapi Tak Bisa Memilih

Anda tidak percaya ada orang-orang dengan nama demikian? Gugling saja sendiri. Orang dengan nama ‘Nama’ saja ada. Nama satu huruf? Adaaa…  Ada pria bernama Z dari Sumatera Barat, dan N dari Jawa Tengah.

Serius, di KTP mereka masing-masing nama yang tertulis memang hanya satu huruf. Kalau suatu hari dua orang itu keluar negeri (apalagi ke negara yang pernah kena serangan teroris), mungkin mereka perlu bakar menyan sembunyi-sembunyi. Mereka akan memerlukan semua kekuatan di dunia dan akhirat untuk bisa lolos melewati konter imigrasi.

Bagaimana dengan nama Anda? Anda tahu artinya? Apakah karakter dan jalan hidup Anda sesuai dengan nama Anda?

Nah, lain nama manusia, lain lagi nama negara. Anda tahu arti kata Nusantara? Nusa berarti pulau, antara berarti luar. Maksudnya pulau-pulau di luar Majapahit (Jawa). Bagaimana dengan asal nama Indonesia?

Bagi orang Eropa, semua wilayah di antara Persia dan Tiongkok disebut Hindia. Unit politik di bawah jajahan Belanda dinamakan Hindia Belanda. Surat kabar dan organisasi pergerakan kemerdekaan sempat menggunakan nama Insulinde yang digagas oleh Eduard Douwes Dekker alias Multatuli.

Insulinde, dari bahasa Latin insula yang berarti pulau. Kepulauan Hindia. Nama itu kurang populer.

Pada tahun 1850, seorang etnologi Inggris bernama George Samuel Windsor Earl yang bekerja sebagai redaksi majalah ilmiah tahunan Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia di Singapura menulis bahwa sudah tiba saatnya penduduk Kepulauan Hindia atau Kepulauan Melayu ini untuk memilih nama yang unik. Sebabnya, nama Hindia terlalu umum.

Earl mengajukan nama: Indunesia atau Malayunesia. Indu berasal dari kata Hindia, sedangkan nesos dalam bahasa Yunani berarti pulau.

Ia memilih Malayunesia karena bahasa Melayu yang dipakai di kepulauan ini. Nama Indunesia beliau sodorkan untuk Ceylon (Srilanka) dan Maldives (Maladewa) yang waktu itu belum punya nama resmi.

Adalah James Richardson Logan yang memungut nama Indunesia gagasan Earl, mengganti hurf u dengan o agar lebih enak diucapkan, dan menggunakannya secara konsisten dalam tulisan-tulisan ilmiahnya. Lambat laun kata Indonesia tersebar di kalangan ahli etnologi dan geografi.

Bumiputra pertama yang mengadopsi istilah Indonesia adalah Ki Hajar Dewantara. Beliau menggunakan nama Indonesische Persbureau untuk biro pers yang ia dirikan sewaktu dibuang ke Belanda.

Proklamasi kemerdekaan Indonesia dikumandangkan pada 17 Agustus 1945. Nah, bulan Agustus sendiri punya kisah lain.

BACA JUGA:  Seandainya Gal Gadot Menggantikan Ladya Cheryl di AADC 2

Dalam kebudayaan Tionghoa, bulan ketujuh kalender Cina adalah bulan Ghost Festival. Biasanya jatuh pada bulan Agustus.  Menurut kepercayaan, setiap Ghost Festival, ‘Pintu Akhirat’ terbuka dan selama sebulan semua jenis arwah, hantu, dan setan bebas berkeliaran di bumi untuk menjemput kenangan dan urusan-urusan yang belum selesai.

Di bulan ini, orang-orang melakukan sembahyang untuk para leluhurnya. Membakar banyak hio dan uang-uangan kertas, selain juga persembahan makanan. Ini bulan yang paling tidak baik untuk hajat, pindah rumah, dan membuat transaksi besar. Bahkan beberapa orang tidak mau berenang karena takut ditenggelamkan hantu.

Tapi, dari semua hari bulan ketujuh, puncak Ghost Festival adalah malam purnama tanggal 15. Dan pada tahun 2016 ini, jatuh pada tanggal… 17 Agustus.

Pada ulang tahun Indonesia yang ke-71 ini, begitu banyak urusan yang belum selesai. Dari persoalan korban kasus HAM, korban eksploitasi, korban pertikaian politik dan konflik dengan militer, dll. Belum lagi persoalan otonomi daerah dan  referendum.

Satu daerah meminta referendum dan berhasil memisahkan diri, kita hanya tinggal menunggu waktu sampai daerah otonomi satu-persatu meminta referendum. Tenggelam sudah sejarah makna kata Indonesia sebagai Kepulauan Hindia.

Bagaimanakan nasib Indonesia di masa depan?

“Orangtua” yang melahirkan dan merawat bayi bernama Indonesia dahulu adalah keluarga yang teguh dan pekerja keras. Puluhan tahun berlalu, kita berusaha tetap bertahan di dalam satu tubuh besar bersama. Kini, tubuh itu luka di sana-sini.

Maukah kita bersama-sama memperbaiki tubuh besar kita ini? Maukah tangan mengobati borok di ujung tumit? Maukah seluruh kaki mendorong supaya hidung tidak kemasukan air? Maukah mata, hidung, dan lidah menahan diri dari godaan makanan harum nan lezat yang penuh lemak dan kolestrol?

Maukah lambung dan usus mencerna nutrisi bukan hanya untuk dirinya sendiri, tapi untuk seluruh tubuh? Maukah ginjal dan hati bekerja keras membersihkan semua racun hasil dosa kongkalikong mata, hidung dan lidah?

Ataukah kita akan membiarkannya tewas tenggelam ditarik para hantu dan setan penasaran akibat banyaknya kenangan dan urusan yang berlarut-larut tidak juga selesai? Seperti bapak Menteri 3 minggu yang tenggelam karena hantu masa lalu dan angkara para pesaing yang makin penasaran menjelang puncak Ghost Festival 17 Agustus ini.

Selamat ulang tahun, Indonesia. Selamat menghafal sejarah namamu buat ulangan besok.

Komentar
Add Friend
No more articles