Socrates, mbahnya para filsuf, memiliki pandangan bahwa pengetahuan dan kebahagiaan adalah dua hal yang saling berkaitan. Bagi Socrates, semakin orang berilmu, semakin luas wawasannya, semakin terbuka jalannya menemukan kebahagiaan.

Socrates mengasumsikan, saat orang menemukan kebenaran, hidupnya akan semakin membaik dengan menghidupkan kebenaran itu, dan disanalah ia menemukan kebahagiaan.

Pandangan Socrates ini mungkin benar secara umum, namun dalam situasi tertentu yang khusus, kadang yang terjadi  sebaliknya, wawasan yang semakin bertambah ini justru menambah kegelisahan dan ketidaktenangan hidup.

Dalam kehidupan, apagi di era ekstase komunikasi masa kini, pasti kita pernah mengalami momen “lebih baik tidak tahu”.

Misalnya ketika hal-hal yang kita ketahui berciri membongkar aib orang lain yang tiada manfaat-maslahatnya sama sekali untuk kita maupun masyarakat; atau ketika yang kita ketahui adalah hal-hal yang sama sekali tidak penting untuk hidup kita, namun karena terlanjur tahu  akhirnya menjadi beban perasaan dan beban pikiran.

Salah satu bentuk ketidakbahagiaan yang mungkin belum dibayangkan oleh Socrates adalah keluhan banyak di antara kita hari ini tentang ketidakmampuan hidup secara lebih baik, lebih saleh, lebih mengutamakan yang rohani, lebih mengedepankan kasih sayang, dan lain sebagainya.

Padahal sudah tegas dan pasti kita tahu bahwa hidup dengan jalan-jalan keutamaan itulah yang terbaik.

Dalam banyak kesempatan sering saya temui anak-anak muda yang mengeluh, kecewa dengan dirinya sendiri. Mereka merasa telah hadir, mengikuti atau mendengarkan berbagai kajian dan pengajian, juga mem-follow banyak ustaz online, namun  mereka kecewa terhadap diri mereka sendiri yang tak kunjung mampu melakukan perubahan hidup secara signifikan atau tidak mampu meningkatkan kualitas hidup seperti ideal yang disampaikan dalam pengajian atau oleh para ustaz tersebut. Alhasil, semakin bertambah wawasan semakin gelisah dirasakan.

Baca juga:  Mari Mendukung Jokowi-Prabowo Duet di Pilpres 2024 Melawan Kotak Kosong demi Indonesia yang Lebih Kolosal

Menghadapi anak-anak muda ini, seringkali saya besarkan hatinya dengan menunjukkan bahwa hakikatnya hidup mereka sudah meningkat dan jauh lebih baik dibandingkan sebelumnya.

Kegelisahan mereka itulah tanda bahwa kualitas hidup mereka sudah mulai meningkat, atau setidaknya sudah bergerak menuju peningkatan.

Sebelumnya mereka mungkin tidak pernah memikirkan tentang peningkatan kualitas diri, namun sekarang mereka gelisah memikirkannya, itu berarti mereka sedang bergerak meningkat.

Sebelumnya mereka tidak menyadari bahwa selama ini hidup mereka hanya stagnan saja tidak mengalami perkembangan apa-apa,  namun sekarang mereka menyadarinya, itupun sejenis kenaikan dan peningkatan kualitas hidup.

Bahkan segala daya upaya mereka untuk tiada jemu menggali dan mengikuti beragam majlis ilmu, baik langsung di dunia nyata maupun melalui dunia maya, menunjukkan mereka sudah lebih baik. Banyak orang yang masih di level angin-anginan, kadang bersemangat belajar, kadang malas belajar.

Bahkan masih banyak pula orang yang “tidak mau belajar” karena “merasa sudah tahu” hingga merasa tak perlu belajar lagi, apalagi dari ustadz-ustadz online masa kini yang wawasannya dipandang masih rendah atau ilmunya ‘tidak murni’.

Kegelisahan yang dialami oleh anak-anak muda ini mungkin pula kita alami saat ini, ketika kita asyik menjalankan ibadah puasa dan bertekun mengikuti kajian atau ceramah yang isinya menuntut peningkatan kualitas puasa kita.

Sepenuhnya kita yakin dan percaya bahwa puasa membawa pengaruh signifikan dalam hidup kita, khususnya dalam aspek pengendalian diri dan penguasaan diri, baik lahir maupun batin.

Baca juga:  Tak Ada Yang Lebih Tabah dari Puasa di Bulan Juni

Ketika kita kemudian sadar betapa ternyata puasa yang kita lakukan tidak berdampak signifikan terhadap kehidupan atau pengendalian diri kita, akhirnya kita pun merasa rendah, tak berguna atau bahkan tak bernilai.

Jawaban yang sama sebagaimana yang saya sampaikan kepada anak-anak muda di atas dapat pula disampaikan kepada mereka ini, yang menjalankan puasa, namun digelisahkan oleh kualitas puasa atau dampak positif puasa dalam hidupnya yang tidak kelihatan.

Pengetahuan tentang manfaat puasa berkebalikan dengan kenyataan diri mereka saat puasa. Tentu saja ini menggelisahkan. Namun kesadaran bahwa puasa kita kurang berkualitas pun hakikatnya sebuah perkembangan yang positif, sebuah peningkatan yang patut disyukuri. Kesadaran itu adalah gerbang untuk bergerak menuju ke situasi  lebih baik dan lebih sempurna.

Banyak orang yang puasa dan merasa puasanya sudah baik, total dan penuh. Namun ini pun juga bukan tanpa masalah. Mereka yang sudah merasa puasanya baik pastinya tidak berkehendak lagi meningkatkan kualitas puasanya.

Padahal bukankah “kesempurnaan” itu hanya Allah belaka yang tahu dan mampu? Maka dalam konteks ini, kesadaran “kurang” sebagaimana dirasakan oleh mereka di atas harus dipahami sebagai sesuatu yang positif, tentunya jika dilanjutkan dengan upaya perbaikan.

Sementara kesadaran “sudah” itu berkonotasi negatif, apalagi jika ditambah dengan keyakinan pasti benar dan pasti beresnya diri.

Akhirnya, kembali ke pandangan Socrates di atas, benarkah pengetahuan ekuivalen dengan kebahagiaan?

Baca juga:  Jozeph Paul Zhang, Nabi Palsu yang Bikin Malu Umat Kristen dan Umat Manusia

Benar, jika pengetahuan tersebut diiringi dengan kesadaran dan dilanjutkan dengan upaya mewujudkan ideal dari pengetahuan tersebut. Kalau sekadar berhenti menjadi pengetahuan, maka pengetahuan ada kalanya malah membuahkan kegelisahan belaka.

Bertambah wawasan, bertambah kegelisahan.


Sepanjang Ramadan, MOJOK menerbitkan KOLOM RAMADAN yang diisi bergiliran oleh Fahruddin FaizMuh. Zaid Su’di, dan Husein Ja’far Al-Hadar. Tayang setiap hari.