Di setiap kota, pasti ada sebuah pasar yang khas dan menjadi ikon kota tersebut. Termasuk Bandung, sebagai kota yang dijuluki Paris van Java, pusat fashion di Indonesia ini pastilah punya sebuah tempat yang menjadi ikon tempat belanja. Sekarang ini mungkin ikon fashion di Bandung adalah deret ratusan FO yang membanjiri Bandung, atau seruas jalan Cihampelas yang penuh sesak toko pakaian.

Namun, jika kita bertanya pada orang-orang tua, icon tempat belanja fashion bukankah FO seperti sekarang. Bagi generasi di atas saya, ikon kota Bandung adalah Gang Tamim, sebuah gang kecil di belakang Pasar Baru, pasar tekstil yang katanya terbesar kedua di Indonesia setelah Tanah Abang. Gang Tamim di masa lalu kondang sebagai pusat kain dan bahan denim. Di Bandung, selain Gang Tamim, memang ada kawasan Cigondewah yang dikenal sebagai sentra kain. Namun secara spesifik, Gang Tamim lebih populer dengan pusat denim dan pembuatan jeans.

Meluncurlah ke Pasar Baru, lalu jalan kaki ke bagian belakang tempat Gang Tamim nyempil. Hampir semua orang di Pasar Baru tahu letek Gang Tamim, jadi pasti tidak akan tersasar. Untuk ke sana, kalau naik kendaraan pribadi sih mudah, bisa akses dari Jalan Jenderal Sudirman, atau Jalan Otista. Jika naik kendaraan umum bisa dengan angkot yang melewati Pasar Baru, seperti angkot jurusan Cicadas – Elang, St. Hall – Gedebage atau Damri Dago – Leuwipanjang.

Saya tidak tahu asal-usul yang jelas tentang Gang Tamim sebagai pusat denim, selain bahwa Gang Tamim adalah kawasan Pecinan di Bandung. Terus terang, di mata saya sebagai pecinta sejarah, Gang Tamim  memiliki heritage dengan banyaknya arsitektur rumah toko Tionghoa berusia tua. Memang kawasan Pasarbaroeweg sejak jaman walanda sudah menjadi pusat perdagangan cum tempat bermukim orang-orang Tionghoa di Bandung.

Gang Tamim mulai semarak sebagai tempat penjualan kain sejak era 60 – an dan kemudian menjadi populer dan menjadi jujugan orang Bandung untuk berbelanja kain. Dinamai Jalan Tamim karena konon ada pedagang sukses di Pasar Baru bernama Haji Tamim.

Walaupun sudah sejak era 60-an, namun Gang Tamim mulai moncer sebagai pusatnya denim urang Bandung sejak sekitar tahun 90-an awal. Mulanya Gang Tamim bukan pusat kain, apalagi denim, tapi justru pusat penjualan barang-barang kelontong. Adalah seorang ibu bernama Kanti yang pada awal 1980-an yang juga pemilik toko di Gang Tamim mulai menjual pakaian jadi di sana, dan rupanya disukai oleh pembeli. Lambat laun akhirnya menjadi seperti sekarang.

Bahkan di era 1990-an awal, ada idiom bahwa belum lengkap ke Bandung kalau belum belanja baju di Gang Tamim. Jauh sebelum Cihampelas populer sebagai pusat jeans atau menjamurnya FO, Gang Tamim telah meletakkan namanya sebagai pusat fashion. Tentang asal usul dari mana datangnya kain denim tersebut ke Gang Tamim, masih simpang-siur. Ada yang bilang ini adalah bahan sortiran pabrik, ada yang bilang selundupan, yang tahu hanya penjualnya sendiri. Dan ketika saya coba konfirmasi ke salah satu penjual, dia hanya tersenyum tak menjawab, mungkin itu rahasia dapurnya.

BACA JUGA:  Pejah Gesang Nderek KaFah, Hidup Mati Ikut Ridwan Kamil-Fahira Idris

Ada banyak toko di Gang Tamim dengan dagangan utama adalah kain. Kain apa saja, mulai dari katun, jeans, bahan sprei, bahan celana, batik, semua ada. Dan, yang membuat saya takjub, harganya luar biasa miring. Itupun masih bisa ditawar-tawar. Gang Tamim adalah one stop shopping jika ingin berbelanja kain. Tapi ada diversifikasi di antara toko-toko tersebut, misalnya ada toko yang berjualan bahan katun, ada yang hanya berjualan bahan denim, ada yang berjualan kain untuk sprei dan macam-macam lainnya.

Sebagai gambaran, bahan denim bisa didapatkan dengan harga Rp 55.000 – 70.000, potongan satuan denim yang dijual ini untuk bahan satu celana dengan ukuran 1,5 meter. Atau jika ingin motif atau bahan khusus, biasanya adalah denim kualitas bagus, dijual di kisaran harga Rp 40.000 – 50.000 / meter. Jadi ada 2 opsi yang ditawarkan oleh penjual, tergantung pembeli ingin membeli yang mana.

Ada banyak bahan denim, ada yang washed, raw denim, elastis, dan juga variasi warnanya bisa sangat banyak pilihannya. Jika Anda bingung ingin memilih bahan atau corak yang seperti apa, si penjual sudah hafal dan bisa menjelaskan karakteristik bahan denim yang diinginkan. Atau jika masih bingung tinggal bilang saja “Saya pengin bahan jeans Levis” atau “Saya pengin bahan jeans warna ini” nanti oleh si penjual akan mencarikan dan memberi alternatif.

Selain denim ada juga bahan celana outdoor sampai camo (bahan corak militer). Untuk bahan celana outdoornya relatif sama dengan yang dijual di toko alat outdoor. Bahan khaki untuk celana cargo juga tersedia. Sementara untuk camo pilihannya banyak sekali, mulai dari camo tentara dalam negeri, ormas sampai camo luar negeri ada disini. Tinggal pilih, bayar, dan angkut pulang.

Harganya relatif murah. Untuk bahan celana outdoor misalnya, jika belum naik, harga terakhir dibanderol antara Rp 27.000- 35.000 per meter. Rata-rata untuk celana cargo butuh 2 meter. Untuk denim sudah disebut di atas, bisa memilih bahan yang sudah potongan atau meteran. Sementara bahan non denim, seperti katun bahkan lebih murah lagi, bahan katun yang biasa dipakai untuk kemeja bahkan ada yang dijual hanya Rp 15.000,00 saja. Atau ketika saya tanya harga batik printing berbahan katun, oleh kokoh penjual hanya dibanderol semeternya Rp 20.000.

BACA JUGA:  Menjadi Cameo Adalah Jalan Ninja Ridwan Kamil

Jika ingin langsung menjahit, biasanya setiap toko/kios kain sudah mereferensikan penjahitnya. Pembeli tinggal membawa bahan yang sudah dibeli ke tukang jahit. Tukang jahit di Gang Tamim akan mengikuti pesanan pembelinya. Dan penjahit di Gang Tamim lumayan mengikuti trend mode, jadi bisa meng-custom jahitan sesuai keinginan. Ongkos jahitnya variatif, antara Rp 40.000 – Rp 100.000. Tergantung model pesanan dan lama pembuatan. Tarif normal adalah Rp 40.000 untuk model jeans normal dengan waktu pembuatan 10 hari. Jika ingin cepat, bisa sehari jadi, ongkosnya ya paling mahal Rp 100.000 tadi.

Tag jeans

Beberapa penjahit juga melayani jasa pemaketan apabila pembeli tidak sempat mengambil di tempat. Biasanya dikenakan biaya tambahan antara 10.000 – 20.000 per satu celana tergantung penjahitnya. Yang jelas, ketika order ke penjahit harus dijelaskan dengan detail, karena terkadang sering terjadi salah pembuatan karena order yang sangat banyak. Enaknya lagi, di sini customnya macam-macam, bahkan bisa sampai memasang tag jeans sendiri dan tidak sama dengan jeans-jeans yang ada di pasaran. Atau jika ingin lebih puas bawa saja contoh jeans yang dipunya atau contoh kainnya ke penjual, nanti penjualnya akan mencarikan. Kalau masih basic denim, atau bahan jeans yang ada di pasaran, di Gang Tamim semua ada.

Overall, belanja kain ataupun sampai membuat langsung di Gang Tamim akan menjadi lebih murah apabila dibandingkan membeli langsung jeans di pasaran. Katakanlah harga standar 1 jeans di pasaran antara Rp 250.000 – 300.000, di Gang Tamim dengan uang yang sama bisa mendapatkan 2 buah jeans, rinciannya adalah sebagai berikut : Kain potongan Rp 55.000 dan ongkos jahit Rp 40.000. Total Rp 95.000 untuk sepotong jeans baru. Lebih murah, bukan?

Toko favorit saya, antara toko 22 dan 23, yang penuh sesak.

Rata-rata toko kain Gang Tamim memberikan harga yang sama, tapi tidak usah terburu-buru membeli, datangi saja satu persatu, dan bandingkan kain yang dipajang satu sama lain. Saya sendiri sih tidak ada toko favorit, tapi saya paling sering berbelanja di kios kecil di gang antara Toko 22 dan 23. Di situ koleksinya denimnya cukup lengkap. Oh, ya, untuk yang tak bernama biasanya nama tokonya adalah nomor toko itu sendiri. Misalnya no. 22 nama tokonya adalah Toko 22 dan seterusnya.

Selamat berbelanja. Jangan sampai kalap sendiri, seperti saya, yang awalnya hanya berniat membeli 1 bahan celana, akhirnya bertelur menjadi 4.

Komentar
Add Friend
No more articles