“Jangan lupa oleh-olehnya!”

Di Indonesia, pulang kampung atau jalan-jalan ke luar kota tak pernah sederhana. Ada syarat tak tertulis berupa oleh-oleh yang mesti dibawa. Atau kadang ditekankan secara lisan maupun tulisan ketika teman-teman tahu kita sedang bepergian.

Entah sebagai simbol perekat kebersamaan atau jauh ke level advance sebagai peneguh status kesuksesan, mata anggaran oleh-oleh ini mesti disisipkan sebagai salah satu operational cost selain tiket dan uang bensin, akomodasi, dan jajan di sana-sini. Peliknya, anggaran oleh-oleh ini mesti dikalikan dengan dua variabel.

Pertama, variabel jumlah kerabat di kampung. Ini lebih mudah untuk dihitung karena cenderung jumahnya tetap. Sedangkan variabel kedua sifatnya lebih kompleks, yakni pihak-pihak di rantau. Mulai dari tetangga, rekan kerja, atasan, teman main futsal, sesama geng parenting, sampai teman satu gerbong di kereta komuter atau omprengan.

Variabel kedua ini jumlahnya cenderung bertambah. Repotnya, dengan kemajuan teknologi berpadu dengan hasrat eksis yang kelewat tinggi, dan rasa kekeluargaan (kalau ada maunya), permintaan oleh-oleh ini jadi satu paket dengan acara pamit untuk mudik.

Serba salah memang. Tak dipamiti rumah tak ada yang mengawasi, kerjaan tak ada yang bantu, gosip terbaru terlambat sampai di genggaman, atau tak ada yang mau berganti kursi tiap kereta komuter penuh sesak. Giliran dipamiti, bukannya mendoakan supaya selamat di perjalanan, malah sudah ditodong oleh-oleh duluan.

Panduan singkat ini setidaknya bisa membantu saat kesulitan mencari oleh-oleh kuliner dalam waktu dan dana yang mepet. Bisa dipraktikkan ketika mudik Lebaran Haji besok atau saat bepergian ke mana pun.

Fungsional

Kadang pilhan oleh-oleh hanya terbatas pada sektor makanan ringan. Padahal ada alternatif lain berupa bumbu dapur. Pilihan oleh-oleh ini direkomendasikan untuk mereka yang sedang dalam usaha merebut hati calon mertua. Niscaya akan selalu diingat setiap calon ibu mertua sedang memasak.

Baca juga:  Pemaknaan Oleh-oleh Khas yang Semakin Rancu

Di sepanjang jalur Pantura, yang pamornya mulai redup setelah kehadiran megaproyek tol Trans-Jawa, aneka pengisi rak bumbu dapur tersedia. Mulai terasi udang Cirebon, bawang merah Brebes, sampai petis dan olahan ikan asin dari Sidoarjo. Bila perlu lengkapi dengan sekarung beras menthik wangi dari Delanggu, Klaten. Bukan tidak mungkin proses menuju lamaran akan dimudahkan.

Pilihan lain adalah membawa kecap manis kebanggaan putra daerah. Bondan Winarno mengatakan kecap manis adalah bentuk keaslian tradisi kuliner Indonesia yang mesti dikenalkan ke penjuru dunia. Setiap region punya kecap yang jadi trade mark masing-masing.

Seperti kecap cap Zebra yang jadi bagian tak terpisahkan dari sajian toge goreng dan doclang khas Bogor atau Kidang Jantra dan Piring Lombok yang jadi pilihan bakul-bakul bakmi seputaran Yogya dan Magelang. Atau kecap Mirama yang jadi bumbu wajib babat gongso khas Semarang. Jika rute pulang melewati daerah tapal kuda Jawa Timur, kecap cap Orang Jual Sate layak jadi pilihan oleh-oleh. Begitu juga kecap cap Laron yang tersohor di daerah seputaran Tuban dan Lamongan.

Fokus pada Produk Lokal

Hitung-hitung menggerakkan perekonomian sekaligus memperpanjang nafas kuliner lokal. Selain itu memilih produk lokal akan memberikan unique selling point saat berbagai ragam oleh-oleh terpajang di meja kantor atau halalbihalal warga. Lapis Surabaya dan lapis talas Bogor punya kekhasan tersendiri. Atau saudara serumpun bakpia Pathuk Yogyakarta dan nopia Banyumas yang ternyata berbeda perangai. Sebuah contoh keragaman yang baik ketimbang invasi template kue bolu bongkar pasang topping, yang terpaksa mendompleng nama pesohor Jakarta karena tak cukup percaya diri head to head dengan jagoan lokal.

Baca juga:  Beberapa Tren Menyebalkan di Bulan Ramadan

Tahan dalam Perjalanan Panjang

Ini mesti diperhatikan jika mudik dan bepergian dengan menggunakan kendaraan pribadi. Dengan situasi jalan yang tak bisa ditebak, pilihan oleh-oleh perlu memandang faktor keawetan dan ketahanan performa. Ragam makanan kering seperti keripik dan kerupuk bisa dipilih, namun pastikan tidak ada anggota tim yang iseng menjadikannya camilan saat terjebak macet. Bisa juga membawa olahan makanan manis seperti jenang/dodol yang tahan lama lewat proses pengawetan alamiah zat gula.

Tidak Menyinggung Perasaan

Niat hati ingin menunjukkan rasa kekeluargaan, apa daya malah kena damprat karena dianggap melecehkan. Penting untuk melihat latar belakang pihak yang akan diberi oleh-oleh.

Tentu riskan untuk memberi satu besek moci Kaswari khas Sukabumi yang labelnya berwarna merah menyala bertulis aksara Tiongkok kepada rekan yang jadi buzzer seumur hidup kampanye anti-aseng dan komunis. Juga bukan pilihan bijak memberi dendeng sapi Seulawah khas Aceh kepada kawan nge-gigs yang menghayati lahir batin lagu “Meat Is Murder” milik The Smiths. Membawakan sekantung emping melinjo dari Pandeglang untuk atasan yang sering mengeluh asam uratnya kambuh juga tidak direkomendasikan bila ingin segera naik jabatan.

Lantas bagaimana jika waktu dan duit sudah semakin mepet, sementara oleh-oleh mesti segera diberikan untuk kemaslahatan hidup bermasyarakat? Pergi saja ke toko brownies Amanda dekat rumah dan bungkus beberapa buah. Katakan saja, brownies Amanda khas (masukkan nama daerah asal) terigu dan gulanya beda, wajib dicoba!

Komentar
Kirim Artikel
No more articles