Ciri kuliner sebuah kota tak bisa lepas dari karakter kota. Kota-kota pesisir seperti Semarang, Surabaya, atau Makassar misalnya, memiliki signature sajian kuliner hasil laut. Magelang, merujuk ke wilayah kota dan kabupaten, adalah kota di tengah jalur utama Semarang—Yogyakarta. Kontur daerah yang dikelilingi lima gunung, termasuk the infamous Gunung Merapi, membuat Magelang berhawa sejuk dan nyaman untuk berwisata, bobok, dan tinggal bersama, bahkan menghabiskan hari tua.

Karakter-karakter ini yang membuat ragam kuliner Magelang identik dengan varian comfort food. Resep masakan rumahan, sederhana dan ringan, tapi selalu berhasil membuat rindu. Lima tempat makan pilihan di Magelang ini akan membuat Anda “mati kenyang” secara perlahan.

Sop Senerek Pak Parto

Sebagai tangsi militer Belanda di Jawa, khazanah kuliner Magelang tak lepas dari pengaruh cita rasa Londo yang dibawa para meneer dan mevrouw. Sajian sop senerek adalah adaptasi Magelang terhadap snert soup atau sup kacang merah yang masyhur di Belanda. Jika menu asli snert soup berkaldu rebusan kaki babi, sop senerek kebanggaan Magelang berkuah kaldu sapi, disesuaikan dengan mayoritas penduduk yang beragama Islam.

Salah satu sop senerek Magelang yang otentik bisa Anda jumpai di warung milik Pak Parto. Lokasinya berada persis di lereng lembah Tidar, tepatnya di bekas terminal Tidar di wilayah Kota Magelang. Lokasi terdahulu berada di dalam los Pasar Rejowinangun sebelum terbakar hebat 2008 lalu.

Sop senerek Pak Parto disajikan dalam kuah kaldu sapi bening yang ringan tapi gurih. Ada permainan cantik antara bawang putih, merica, dan sedikit jejak pala dalam rebusan tulang iga dan daging sapi bebas gajih. Kuah ini mengguyur rebusan kacang merah, wortel, dan bayam. Wortel dan bayamnya cantik sekali kelirnya—sepertinya hanya direbus sebentar dalam air mendidih lalu diguyur dengan air dingin atau blanching untuk mempertahankan warna.

Jika beberapa potong daging dalam sop belum cukup, ada berbagai pilihan lauk. Mulai perkedel kentang yang mlenuk ginuk-ginuk, satu skuadron jeroan sapi goreng bumbu bacem dari paru sampai usus, sampai si primadona otak sapi goreng. Tentu seksi nabati juga tersedia seperti tempe goreng tepung dan tahu susur. Tak telalu istimewa, tapi cukup untuk teman menunggu pesanan.

Sop Empal Bu Haryoko

BACA JUGA:  Di Magelang, Bapak Saya Jauh Lebih Populer dari Saya

Sop disajikan bersama daging sapi goreng berbumbu. Sesederhana itu. Tapi sulit untuk menolak tawaran bersantap di warung yang berada di dekat klenteng Hok An Kiong, Muntilan, kabupaten Magelang ini. Bayangkan daging sapi penuh substansi rempah dimasak sampai paripurna di tungku arang seharian sampai sepertiga malam terakhir. Sepertinya semua kebaikan yang ada di dunia meresap ke seluruh lapis demi lapis daging empal. Daging ini kemudian digoreng dalam minyak dengan suhu yang hanya Tuhan yang tahu. Menghasilkan kerenyahan di lapisan luar, namun begitu lembut dan juicy saat masuk mulut.

Pendampingnya adalah adalah sop yang kelewat bersahaja. Hanya berisi bihun goreng, rebusan kol, serta taburan bawang goreng. Bihunnya hadir dalam rupa terbaik. Tidak terlampu menor dengan pulasan kecap. Sedikit pucat, namun terlihat elegan. Sepertinya dimasak dengan semua saripati rebusan daging. Membuatnya lebih gurih dari bihun goreng kebanyakan. Sedangkan kaldu sopnya begitu ringan dan menyegarkan. Penutup paling sempurna untuk segala kelezatan empal.

Disarankan datang pagi jika tak mau kecewa karena kehabisan.

Mangut Rumah Makan Cindelaras

Dikelilingi sungai besar seperti sungai Progo dan Elo, serta sumber air pegunungan yang melimpah, membuat ragam masakan ikan air tawar menjadi salah satu menu wajib di meja makan wong Magelang. Ikan-ikan seperti gurame, nila, dan lele lazim diolah dalam langgam mangut.

Mangut secara sepintas mirip gulai, namun dengan kadar bumbu yang tak terlalu pekat. Rasanya lebih segar berkat andil kencur dan daun jeruk serta menihilkan kapulaga dan kayu manis yang untuk lidah Jawa dirasa lebih cocok untuk campuran jamu.

Mangut di Cindelaras hadir dalam rupa yang begitu artistik. Ikan digoreng setengah matang, lalu dimasak dalam bumbu mangut berwarna oranye pekat dan disajikan dengan bubuhan cabai rawit merah. Kepulan asap mangut yang selalu disajikan hangat bersama nasi putih memberikan tambahan efek di panggung orkestrasi yang bersahut-sahutan antara gurihnya daging ikan yang tak menyisakan bau tanah dan kayanya keanekaragaman rempah.

Rumah makan Cindelaras terletak di jalur wisata dari Yogya menuju Borobudur, tepat sebelum jembatan Pabelan yang jadi batas kota Muntilan. Sempatkan untuk memborong aneka kerajinan batu kali khas Muntilan seperti cobek dan ulekan berbahan batu vulkanis Merapi untuk menggiling aneka bumbu sampai melempar kucing garong.

BACA JUGA:  Kumbang Magelang, Jomblo di Kota Sejuta Bunga

Kupat Tahu

Jika makan nasi terlalu membosankan, sajian kupat tahu bisa dijadikan pilihan bersantap. Wujudnya adalah kupat atau ketupat, disandingkan bersama tahu putih goreng, lalu dikawinkan lagi dengan rebusan tauge dan kol. Pasangan poligami before Aa Gym was cool ini kemudian diguyur siraman rohani kuah manis berbumbu: Hasil campuran bawang, ketumbar, daun salam, lengkuas, yang dimasak berlumuran gula jawa. Sebelumnya penjual akan menumbuk kacang tanah goreng, bawang putih, dan cabai rawit merah di piring saji. Tingkat kepedasannya bisa disesuaikan selera.

Ada beragam pilihan warung kupat tahu di Magelang. Jika sedang di kota, silakan mampir ke Kupat Tahu Pojok yang berada di dekat Alun-Alun Magelang. Rumornya, warung ini jadi langganan seorang biduan saat meniti karir sebagai tentara di lembah Tidar. Siapa lagi kalau bukan Susilo Bambang Yudhoyono. Tapi tanpa gimmick tak substansial seperti itupun, warung ini layak dikunjungi. Kuahnya segar dan lebih ramah untuk lidah luar Jawa yang tak terbiasa dengan rasa manis yang dominan. Sementara jika ingin mendapatkan kupat tahu dengan kuah yang lebih pekat, gilingan kacang yang lebih kasar, dan manis kecap yang dominan, warung kupat tahu Dompleng di Blabak, kabupaten Magelang layak jadi jujugan.

Wedang Kacang

Namanya cenderung absurd. Kacang bukan varian populer untuk dijadikan sajian minuman keluarga Jawa. Kehadirannya tak lebih dari pelengkap dalam sajian seperti wedang ronde, yang bahkan sering tidak disertakan. Tapi di warung kecil yang menyempil di kawasan Pecinan kota Magelang, kacang hadir dalam rupa minuman hangat.

Kacang tanah yang sudah dikuliti dimasak sampai tanak dalam kuah gula jawa, gula pasir, dan sedikit bubuhan jahe parut. Butuh waktu lama untuk merebusnya. Legenda urbannya, kacang-kacang ini direbus semalam suntuk. Hasilnya adalah kuah manis dengan gurih lemak dari kacang. Semangkok wedang kacang ini lalu dibubuhi setangkup ketan kukus yang legit. Belum cukup, pilihan hidangan pendampingnya semakin menantang. Yang paling menonjol adalah sate pisang. Satu buah pisang kapok kukus, ditutup dengan adonan hunkwe, ditusuk dengan tusukan sate lalu dikukus sampai matang.

Magelang betul-betul kota yang tidak direkomendasikan untuk mereka yang punya komitmen menurunkan berat badan.

Komentar
Add Friend
No more articles