[MOJOK.CO] “Bagi generasi micin premium, tekanan hidup adalah ketika menyaksikan teman lebih berprestasi dan cemerlang.”

Salah satu syarat sah menjadi people jaman now adalah memiliki akun media sosial. Tentunya tidak hanya punya, tapi aktif menggunakannya. Liburan ke pantai, cekrek upload. Nongkrong di kafe, bikin story. Belanja di butik, siaran langsung. Semakin sering update, semakin eksis. Semakin eksis, semakin hits.

Kalau dulu stigma anak hits diasosiasikan hanya kepada generasi micin kebanyakan gaya minim karya, saat ini gerakan eksis digital dilakukan secara merata oleh hampir semua jenis pengguna medsos. Termasuk generasi micin berprestasi.

Untuk kategori ini, metodologi eksis yang dilakukan sedikit bervariasi. Materi postingan pencapaian mereka bukan hanya soal berlibur ke mana atau beli produk branded apa, melainkan menang kompetisi apa atau dapat penghargaan apa. Dengan caption inspiratif, maraton kegiatan prestatif terekam jelas di lini masa. Hari ini seminar di Sabang, besok workshop di Merauke. Pekan ini menang LKTI di Belanda, pekan depan pameran di Jepang. Ribuan pengikut generasi YOLO ini pun akan ramai-ramai berkomentar: Junjunganque! Idolaque! Panutanque!

Karena massa yang besar itulah, sering tekanan generasi micin premium untuk selalu tampak hits berprestasi di medsos lebih besar. Rasanya sangat meresahkan ketika postingan si dia sudah sampai ke Amerika, kita masih di Jogjakarta. Ketika si dia sudah jadi jutawan global, kita masih jadi relawan lokal.

Sedihnya, perasaan gelisah berlebih ini bisa mengarah pada gangguan mental kekinian bernama fear of missing out (FOMO). Istilah yang baru ditambahkan ke dalam kamus Oxford tiga tahun lalu ini merupakan perasaan gelisah karena melewatkan peristiwa hits di tempat lain.

Bagi generasi micin premium, peristiwa hits yang dimaksud tentunya agenda-agenda prestatif nan inspiratif. Sebab melewatkan kompetisi besar berarti melewatkan peluang postingan viral. Karena melewatkan momen prestatif akan berimbas pada FOMO, generasi ini seringkali begitu kreatif mengelola feeds mereka. Ketika lagi sepi prestasi atau kegiatan inspiratif, mereka akan mengisi lini masa dengan throwback momen-momen wow dalam hidup. Begitu terus sampai ada lagi yang bisa dibagikan. Tidak masalah jika nostalgia yang dipamerkan itu benar-benar terjadi sekalipun sudah bertahun-tahun lamanya. Tapi akan jadi masalah ketika stok momen throwback itu habis.

BACA JUGA:  7 News Maker Indonesia Paling Hits Sepanjang 2017

Karena selalu hidup dalam konstruksi prestasi, alam bawah sadar mereka pun terlatih membangun gambaran-gambaran kejayaan: riuh tepuk tangan, teriakan selamat, sorotan panggung, dst. Dengan kondisi seperti itu, beberapa orang bahkan jadi sulit membedakan mana yang benar-benar pencapaian di dunia nyata, mana yang hanya terselenggara di dunia imajinasi.

Dwi Hartanto, misalnya. Sekalipun kampus tempat Dwi S1 mungkin tidak terkenal, dia terbukti melanjutkan S2 dan S3 di Belanda alias di luar negeri yang berarti pintar dan berprestasi. Tahu sendiri kan, derajat mahasiswa Indonesia yang kuliah di luar negeri sampai sekarang masih sangat dikultuskan. Apalagi kalau aktif di medsos, mudah sekali menjaring follower dengan cerita inspiratif apa pun itu yang berlatar luar negeri.

Maka selayaknya mahasiswa hits berprestasi lainnya, Dwi rajin membagikan kabar pencapaiannya melalui laman facebook.com/nikolaus.kopernikus miliknya yang saat ini sudah nonaktif. Cerita-cerita Dwi mendapat like-comment- share oleh banyak orang hingga viral dan melejitkan namanya. Semakin baik tanggapan warganet, Dwi semakin bersemangat dan kreatif memamerkan pencapaian. Jangan sampai follower-nya hilang atau lapaknya sepi karena postingan remeh temeh keseharian yang tidak prestatif dan inspiratif. Seolah-olah orang berprestasi tidak boleh “biasa saja” dan citraannya harus selalu “wow” di medsos. Sayangnya, demi menghidupi citraan wow itu, beberapa pencapaian imajinatifnya turut dicitrakan di dunia nyata.

Warganet yang terjebak dalam pencitraan ekstrem seperti Dwi tentu tidak sedikit. Beberapa orang melakukannya karena tuntutan penilaian dari orang lain atas mereka: sebagai mahasiswa berprestasi, konten medsosmu harus penuh prestasi dong. Tapi, tidak sedikit yang melakukannya karena ingin meraih penilaian orang lain: wah, ternyata kamu berprestasi sekali ya. Keduanya sama-sama demi penilaian dan pengakuan orang lain.

Ada yang bilang generasi micin premium semacam Dwi ini pembohong yang gila pengakuan, tapi para psikolog menjelaskan mereka dengan istilah mitomania. Bahwa sebenarnya mereka tidak berniat membohongi, bahkan tidak sadar kalau melakukan kebohongan karena menganggap citra diri imajinatif mereka seolah nyata.

BACA JUGA:  Dwi Hartanto, Kebohongan, dan Kebutuhan Akan Pengakuan

Masih menurut psikolog, mitomania disebabkan banyak hal, di antaranya perasaan gagal dalam menghadapi tuntutan hidup. Apalagi di usia 20-an dan 30-an tahun di mana pemuda hits berprestasi pun bisa terkena quarter life crisis. Lebih-lebih ketika kondisi itu diperparah dengan FOMO di era eksistensi digital jaman now.

Merasa tertampar ketika teman memamerkan hak paten ketiganya di Facebook, sementara kita satu saja belum punya. Merasa terpukul ketika menemukan saudara naik jabatan di LinkedIn, sementara posisi kita masih stagnan. Tiba-tiba kita ingin menjadi mereka biar bahagia. Padahal kalau terus mengikuti maunya FOMO, tidak akan ada habisnya. Dia bikin startup apa, kita ikutan biar hits. Dia kuliah di negara mana, kita ikutan biar hits. Kita ngos-ngosan menyesuaikan diri dengan target dan standar bahagia orang lain biar hits tanpa benar-benar tahu apakah itu yang membahagiakan kita.

Padahal kalau mau bahagia lahir batin sebagai people jaman now, tipsnya mudah saja. Kita harus berani melawan “ketakutan menjadi tidak hits” dengan “kebahagiaan menjadi tidak hits” karena pilihan sadar kita. Bukan berarti lantas membenci segala aktivitas berbau prestasi atau apresiasi dan menjadi generasi micin pada umumnya. Tapi, kita perlu berlatih jujur menampilkan citra diri dengan seutuhnya, agar tidak terjebak dalam sindrom harus-selalu-tampak-sempurna.

Sekalipun kamu memilih menjadi generasi micin premium yang dibebani tuntutan image tertentu, bukan berarti kamu tidak boleh berbahagia pada hal-hal remeh non-prestatif apresiatif. Kalau memang kamu bahagia membaca komik Sailormoon di rumah sambil ngemil cantik, ya jangan memaksa diri mengisi liburan dengan diskusi Marxis biar tampak seksi, atau nonton musik indie biar sounds artsy. Sebab untuk bahagia, terkadang kita hanya perlu terbuka dengan standar bahagia kita. Pun ketika standar itu dianggap remeh oleh orang lain.

Komentar
Add Friend
No more articles