Dahulu kala, ketika bumi selesai diciptakan, Tuhan mengumumkan sebuah penawaran kepada semua makhluk laki-laki di langit, siapa saja diantara mereka yang ingin pindah ke bumi.

Saat itu, bumi hanya dihuni oleh tumbuhan dan para perempuan dari segala spesies. Bukan main indahnya kehidupan di bumi. Alamnya hijau, gadis-gadis semua spesies baik itu jenis berekor dan tidak, cantik-jelita seluruhnya. Para laki-laki semua spesies di angkasa langit pun berdebar dan serentak mengajuka diri kepada Tuhan untuk pindah ke bumi.

Melihat antusiasme para makhluk langit yang sangat besar, malaikat pun khawatir akan terjadi kekacauan. Pertama, dikhawatirkan tiap spesies akan kawin silang sehingga tidak ada darah murni. Kedua, dikhawatirkan terjadi perkelahian antar spesies karena memperebutkan spesies tertentu yang dianggap paling cantik. Maka, atas pertimbangan itu, malaikat pun menyampaikan kekhawatirannya kepada Tuhan.

Tuhan rupanya (dan tentu saja) telah memperkirakan tiap kemungkinan yang dikhawatirkan oleh malaikat. Namanya juga Tuhan.

“Jangan khawatir wahai Malaikatku, hal itu telah kupikirkan. Sebelum turun ke bumi, otak mereka semuanya sudah didesain untuk tidak menyukai spesies lain. Program ini akurat,” jelas Tuhan. Hati malaikat pun tenang.

Lalu, dimulailah persiapan migrasi spesies laki-laki ini ke bumi.

Sebelum mereka turun, Tuhan menjelaskan kepada semua spesies laki-laki apa tugas mereka di bumi. “Di tangan kalianlah berkembang biaknya kehidupan di bumi bergantung. Kalian akan menjadikan perempuan dari masing-masing spesies kalian sebagai pasangan tempat kalian memberikan materi genetik. Bagaimana cara kalian memberikan materi genetik itu akan Aku tunjukan lewat mimpi. Sedangkan alat pemberi materi genetiknya akan kusediakan dalam kotak ini,” Jelas Tuhan sembari menunjukkan sebuah kotak berisi bermacam tongkat dengan aneka bentuk.

Tuhan lalu menidurkan semua spesies untuk kemudian memberitahukan mereka pengetahuan melalui mimpi tentang bagaimana cara mereka memberikan materi genetik.

H-1 sebelum migrasi, dipanggillah para makhluk satu per satu untuk memilih tongkat yang sesuai.

Kucing memilih tongkat yang warnanya pink penuh gerigi dan dapat disimpan rapi dalam sebuah selaput jika tidak digunakan. Anjing memilih tongkat yang lebih besar, karena besar penyimpanannya tidak sepenuhnya tertutup seperti kucing, tapi anjing puas dengan cara kerjanya. Rata-rata spesies hewan menyukai jenis tongkat seperti itu, maka seketika, jenis tersebut menjadi populer.

BACA JUGA:  Tentang Komedi yang Relijius dan Betapa Sialnya Menjadi Perempuan

Di kejauhan, spesies manusia laki-laki mengamati tiap tongkat, dalam hatinya belum ada yang cocok. Dia sekali lagi memandang foto spesies manusia perempuan, melihat ukuran tubuh spesies perempuan, dan berpikir tongkat yang bagaimana yang tidak menyusahkan dirinya, menyenangkan perempuan, dan tidak merepotkan ketika disimpan. Mereka lantas berdiskusi dengan spesies simpanse dan bonobo, yang tanpa diduga, ternyata punya pemikiran yang sama. Mungkin karena mereka memang punya kesamaan.

“Yo man, jadi bagaimana menurutmu tongkat yang ideal buat kita? Kupikir spesies perempuan kita punya kemiripan,” ujar bonobo kepada simpanse dan manusia.

“Kupikir aku memilih tongkat yang memiliki tulang seperti lengan, jadi efektif digunakan,” kata simpanse.

Manusia laki-laki mendapat ide, nampaknya jika tongkat itu bertulang maka akan memudahkan dirinya. Dalam mimpi yang diperlihatkan Tuhan, pemindahan materi genetik itu butuh kerja keras. Hanya dengan tongkat bertulanglah maka dirinya tidak repot memasukkan tongkat dan mengeluarkannya saat selesai. Karena sedari awal mereka bertiga sudah sepemikiran, maka insting ketiganya segera berebutan menuju kotak. Saat itu hanya tersisa 3 tongkat.

Bonobo dan simpanse dengan gesit mengambil tongkat dengan tulang berukuran 8 mm. Tongkat dengan tulang di bagian tengah itu terlihat ideal dan pas untuk spesies ini. Menyadari dirinya kalah gesit, manusia laki-laki seketika ciut. Tongkat satu-satunya yang tersisa tergolek lemas di dasar kotak. Bentuknya bukan saja menyedihkan manusia, tapi juga memilukan para malaikat yang menyaksikan kejadian pemilihan tongkat ini. Merasa tak sampai hati, malaikat segera menghadap Tuhan.

“Wahai Tuhan, bagaimana makhluk satu itu akan memindahkan materi genetiknya dengan alat yang lemah dan tidak berfungsi seperti itu? Ini akan membuat spesies manusia punah dalam hitungan bulan!” kata malaikat dengan gusar.

Tuhan, demi mendengar keluh malaikatNya hanya tersenyum, lalu berkata kepada seluruh makhluk. “Kalian lihat, seluruh spesies makhluk disini telah memilih tongkat masing-masing. Aku ucapkan selamat. Bersyukurlah atas apa yang sudah kalian dapatkan. Dan khusus untuk kamu, manusia, kamu juga harus bersyukur walau tongkat yang kamu dapatkan mungkin tidak seperti yang kamu harapkan. Jika sekali-kali kamu tidak bersyukur, itu aku anggap sebagai bentuk penistaan terhadap ciptaan dan keadilanku.”

BACA JUGA:  Kalau Perempuan Jadi Korban Kekerasan Kenapa Malah Kalian Salahkan?

Manusia laki-laki semakin gundah-gulana hatinya, kata penistaan itu simpang-siur di benaknya sampai yang terngiang hanya kata penis. Jiwanya galau. Tapi bagaimanapun juga, ia tetap berusaha untuk mensyukurinya, sesuai dengan perintah Tuhan.

Hari yang ditunggu pun tiba, seluruh spesies riang-gembira diturunkan ke bumi dengan tongkat masing-masing, termasuk manusia laki-laki yang wajahnya begitu muram.

Ketika pesawat yang membawa mereka mendarat, para spesies jantan itu disambut spesies betina masing-masing dan semuanya menuju semak-semak guna melaksanakan tugas mulia memindahkan materi genetik. Tinggallah spesies manusia laki-laki yang memandang lesu tongkatnya yang lemas.

Dari kejauhan manusia perempuan mengamati itu, hatinya trenyuh terhadap masa depan spesies mereka. Sang perempuan memandang tongkat manusia laki-laki yang benar-benar terlihat tak berguna, tergantung lesu tiada daya apalagi upaya. Sang perempuan mendekati sang pria. Sang laki-laki pun menjauh, dirinya merasa malu.

“Sudahlah, dik, tak ada guna semua ini!” kata sang pria.

“Abang, lihatlah adik dulu. Kita hadapi ini berdua,” kata sang perempuan.

Dia berusaha meraih tangan sang pria, tapi ditepis. Saat ditepis itu, sang perempuan jadi salah pegang, lantas, tanpa sengaja, terpeganglah tongkat tak berdaya itu. Sang laki-laki terkejut. Lebih terkejut lagi sang perempuan, karena tiba-tiba, tongkat yang terpegang itu kemudian berubah bentuk menjadi gagah perkasa, berotot dan kekar. Demi melihat perubahan ini, sang laki-laki menjadi gembira hatinya.

Ini tongkat yang sama dengan yang ada di dalam mimpinya.

Sang laki-laki jadi bersemangat dan berterimakasih pada sang perempuan yang menerima dirinya apa adanya. Dia segera menggendong sang perempuan ke semak-semak untuk segera melalukan tugas mentransfer materi genetik kepada sang perempuan. Proses transfer genetik pun berhasil dilakukan dengan lancar, gemilang, dan juga menyenangkan.

Sebagai ungkapan rasa terimakasih, Sang laki-laki pun lantas mendirikan rumah yang memiliki tangga yang cukup tinggi. Rumah bertangga ini dibuat laki-laki agar ia bisa semakin dekat dengan langit, dan selalu merasa dekat dengan Tuhan yang telah memberikannya kebahagiaan melalui “tongkat” ajaibnya.

Kisah tersebut kemudian menjadi dongeng turun-temurun, betapa sebuah rumah tangga sejatinya berawal dari tongkat yang tak bertulang.

Komentar
Add Friend
No more articles