• 153
    Shares

MOJOK.COKekalahan Chelsea dari Manchester City seharusnya dibaca bukan dengan narasi kisruh Kepa saja. Pelatih dan kapten juga biang masalah.

Rasanya agak gimana gitu kalau langsung menganggap Kepa Arrizabalaga sebagai biang kerok kekalahan Chelsea atas Manchester City dalam final Carabao Cup tadi malam. Justru sebaliknya, dia menunjukkan sikap siap berkorban dengan motivasinya yang “berlebih”.

Betul bahwa sebagai pelatih, Maurizio Sarri yang memegang kendali penuh di dalam tim. Tapi, di lapangan, cuma pemain, dalam hal ini adalah Kepa, yang benar-benar paham kondisi mereka. Ketika wawancara usai laga, Sarri juga memahami sikap ngotot Kepa, kok. Meski, ya, memang sikap itu jelas tidak biasa.

Terlepas dari kondisi tersebut, mestinya harus dilihat juga bagaimana Chelsea (sebagai sebuah korporasi) memperlakukan pelatih-pelatih mereka selama ini tak ubahnya seperti “pegawai” belaka. Cara tersebut, suka atau tidak, turut membentuk paradigma di kalangan pemain bahwa pelatih tak penting-penting amat bagi mereka.

Sebesar apapun nama pelatih yang didatangkan, kalau tidak berhasil memberikan trofi, depak saja. Sebatas itulah standar respek terhadap pelatih yang secara tak langsung telah menjadi kultur di Chelsea. Sementara hal sebaliknya tidak mungkin menimpa pemain.

Lihat Fernando Torres atau Andriy Shevchenko, kurang jelek apa mereka sebagai striker ketika di Chelsea? Dari perspektif tersebut, posisi pelatih seperti berada di paling dasar sebuah piramid strata sosial. Proletarnya proletariat.

Situasi tersebut juga sempat dijelaskan dengan tepat oleh Sarri dalam wawancaranya dengan Sky Sports beberapa hari lalu. Membandingkan dirinya dengan Pep Guardiola, Sarri mengatakan: “Dia (Guardiola) beruntung. Saya pikir, kalau Anda memilih Guardiola, Anda harus menunggu karena klub tahu betul bahwa Guardiola butuh waktu. Sedangkan di pekerjaan saya, saya butuh hasil. Tidak ada yang lain.”

Baca juga:  Gas Setengah Kopling Arsenal dan Kejutan yang Disimpan Liga Inggris

Namun, Sarri juga bukannya tanpa cacat. Buruknya Chelsea musim ini juga tak lepas dari persoalan taktik racikannya yang lazim disebut “Sarri Ball”. Menjadikan pemain selambat Jorginho sebagai metronom permainan dalam liga yang cepat seperti EPL tak ubahnya menunggu kiamat.

Satu hal yang makin tragis lagi adalah bagaimana ia mengubah peran N’Golo Kante secara fundamental. Dari yang semula berperan sebagai destroyer serangan lawan, Kante di tangan Sarri adalah seburuk-buruknya pemain ofensif: tak tahu cara membaca dan membuka peluang, tak paham cara menembak tepat sasaran, dan tak mengerti cara membaca pergerakan rekan atau memancing lawan.

Racikan Sarri yang mengubah dua titik fundamental tersebut harus diakui turut menjadi salah satu biang kerok kerusakan Chelsea musim ini. Dia jelas bukan pelatih buruk, tapi pelatih yang baik mestinya juga memahami pendekatan taktikalnya. Tengoklah, misalnya, Carlo Ancelotti yang tak pernah gegabah memakai pendekatan deep-lying playmaker ala Andrea Pirlo seperti di AC Milan ketika ia mulai menangani The Blues.

Hal lain yang perlu dicermati dalam kasus Kepa adalah sikap Cesar Azplicueta sebagai kapten. Semestinya, ia segera berbicara, kalau perlu memaksa Kepa untuk segera menuruti perintah pelatih. Terlebih mereka berdua sama-sama orang Spanyol. Seusai laga, jawaban Azplicueta mencerminkan perangainya yang acuh dengan tim: “(Kenapa Kepa tak mau diganti) bukan masalah saya.”

Mungkin Azpilicueta terlau sering menyimak Pilpres 2019. Belagak bertingkah seperti salah satu calon presiden yang dulu pernah bilang “Bukan urusan saya.”

Tentu saja bukan masalahmu, Azpli. Tapi, kalau sikapmu sewoles itu saat anak buahmu bikin drama (yang mana kemudian berujung kekalahan untuk tim), seharusnya kamu segera meminta maaf kepada Paolo Maldini, Javier Zanetti, Carles Puyol, Patrick Vieira, Roy Keane, Stevan Gerrard, dan terutama kepada John Terry, karena ketidakbecusanmu menjadi pemimpin.

Baca juga:  Conte x Lampard, Sumur Nyali Untuk Inter Milan dan Chelsea

Setelahnya, sebaiknya mulai besok kamu juga sadar diri untuk tak lagi memakai ban kapten di lengan. Kamu jelas pemain paling penting (berdasarkan catatan waktu bermain) di Chelsea, tapi menjadi kapten yang baik tak ada urusannya dengan statistik.

Segala yang terjadi dengan Chelsea musim ini adalah kesalahan, bukan hanya masalah Kepa saja. Namun demikian, beberapa pekan dari sekarang kita bakal tahu apa penawar yang mereka gunakan untuk memperbaiki ini semua.

Betul: ganti pelatih dan datangkan pemain dari antah berantah dengan nilai transfer yang fantastis. Dengan begitulah sejarah Chelsea akan dikenang seorang pemuda keturunan cyborg 100 tahun dari sekarang.

Kelak, ketika pemuda cyborg itu mengetik nama Chelsea FC di mesin pencari, akan muncul ulasan seperti ini:

“Chelsea FC adalah sebuah klub sepakbola dari London Barat yang pernah membeli kiper dari Basque, itu tuh, nama daerah yang suka dikira Spanyol “coret”, bernama Kepa Arrizabalaga. Nilai transfernya tertinggi sejagat: Rp 1,33 triliun. Syahdan, dalam laga final piala nggak mutu melawan Manchester City, kiper itu akhirnya berhasil menunjukkan potensi terbaiknya sebagai pemberontak bernyali besar, namun bervolume otak kecil.”

Kini, Chelsea FC alias The Blues alias Sindikat Pesepak bola Roman Abramovich tengah membidik pemain muda berusia 12 tahun yang konon adalah hasil kloningan dari DNA Pele, Maradona, Cruyff, Beckenbauer, Cristiano Ronaldo, Messi, dan Tugiyo.”