MOJOK.CODari forum-forum pranikah yang saya ikuti, kami diajarkan konsep sekufu dalam jodoh. Setara. Sebagian melengkapi sebagian yang lain, Ukhti.

Seorang psikolog yang bertugas dalam konseling pranikah menyebutkan alasan menikah kebanyakan muslimah yang ditemuinya adalah untuk mendapatkan imam agar selamat dunia akhirat. Selain berkesan menempatkan dirinya (perempuan) inferior dibanding lelaki, jujur saya tidak bisa relate dengan para calon pengantin itu.

Meskipun juga tidak lantas desperately galau, “Apa karena hal ini aku nggak nikah-nikah? Karena aku nggak siap menurunkan ego untuk dipimpin lelaki?” Nggak gitu juga, Juleha~

Saya kesulitan memahami pola pikir para ukhti itu karena guru-guru mengaji tidak mendidik kami seperti itu. Dari forum-forum pranikah yang saya ikuti, kami diajarkan konsep sekufu dalam jodoh. Setara. Sebagian melengkapi sebagian yang lain.

Seingat saya, sebenarnya konsep sekufu ini kajian yang populer sekali. Justru menjadi aneh ketika muslimah menikah dengan tujuan: agar punya penyelamat. Alias agama dan hidupnya digantungkan pada orang lain yaitu suaminya. Ini mah konsep Cinderella. Sungguh tidak islami.

Saya tidak menolak kepemimpinan lelaki (qawwamah) dalam konsep keluarga Islam. Menurut saya justru sunnatullah dalam setiap struktur kehidupan mesti ada pembagian tugas. Tidak bisa ada dua matahari menyinari bumi. Tidak bisa ada dua sopir mengemudi mobil. Tidak bisa ada dua kepala memimpin rumah tangga.

Ketika Al-Quran menyatakan tugas kepemimpinan keluarga ada pada suami dengan segenap prasyaratnya, bukan berarti perempuan sebagai istri lantas tidak berdaya dan mengikut sepenuhnya pada si laki sebagai imam. “Surga nunut, neraka katut,” kalau kata orang Jawa. Padahal kalau versi syariat, ya nggak bisa begitu.

Visi umum keluarga muslim kan menjauhi api neraka alias ke surga bersama. Jadi pengupayaannya pun mesti kerja bersama. Tidak bisa hanya perintah satu arah dari suami sebagai pemimpin otoriter. Atau malah pembangkangan penuh waktu dari istri yang enggan dipimpin. Lagipula kalau dari awal memang nggak mau kerja sama, ngapain nikah sih?

Sebagaimana dalam organisasi, kerja sama hanya bisa dilakukan ketika tiap pihak sama-sama punya peran. Wujudnya kolaborasi kebaikan. Jadi nggak ada ceritanya istri hanya menengadahkan tangan nunggu pemberian suami.

Baca juga:  Karena Tanya “Kapan Punya Anak?” Lebih Berbahaya daripada Tanya "Kapan Nikah?"

Di mana fastabiqul khairat-nya? Memangnya nggak mau gantian berbagi pada suami? Nggak ada ceritanya juga istri hanya bisa pasrah ketika suami khilaf sampai melakukan kekerasan macam di sinetron.

Di mana watawashau bilhaq-nya? Memangnya dia ridho turut berdosa karena setiap pemimpinnya khilaf tidak berani mengingatkan?

Kalau para ukhti ini sebelum mendaftar ke KUA menyempatkan diri ikut kajian pranikah yang kredibel, yang tidak hanya jualan romantisme islami, yang nikahnya bukan hanya karena selebgram atau YouTuber motivator pacaran halal, insyaallah saya jamin mereka tidak akan lagi merasa inferior.

Mereka tidak akan merasa tidak utuh sebagai manusia sebelum mempunyai pasangan. Mereka tidak akan menjadikan pernikahan sebagai pelarian atas diri yang lemah untuk bersandar pada kekuatan orang lain. Tetapi mereka juga tidak lantas menjadi keras hati sehingga menolak belajar dan menerima nasihat kebaikan.

Mungkin ini akan terdengar sok heroik, tetapi berdasar kajian pranikah non-baperan, visi misi pernikahan dalam Islam adalah untuk membangun peradaban.

Plis nggak usah norak dengan berpikir membangun peradaban Islam sama dengan merebut Romawi atau membebaskan Palestina. Kamu membangun keluarga yang punya kesadaran cinta lingkungan sejak dini juga bagian dari mengurangi sampah peradaban.

Nah sebelum menikah, setiap muslim/ah idealnya sudah paham peran peradaban apa yang dia pilih. Sehingga ketika akan menikah, dia sadar betul partner ibadah seumur hidup macam apa yang bisa membantunya bekerja sama dalam kolaborasi peradaban itu.

Konsekuensinya ketika belum menemukan partner yang sevisi padahal teman-temannya sudah beranak-pinak, dia nggak lantas asal menikah hanya karena takut dibilang perawan tua yang nggak laku-laku.

Imajinasi pernikahan para ukhti ini juga semestinya berbeda dari romantisme-web-series-bucin-islami. Jangankan berpikir skenario manja-manjaan dengan pasangan, ukhti keluaran sekolah pranikah non-baperan justru disiapkan mandiri sejak dalam kesendirian.

Figur yang diteladankan adalah Bunda Hajar yang tetap berdaya membesarkan anak hebat meskipun LDM dengan suami. Atau Bunda Khadijah yang kemapanan finansialnya tidak membuat angkuh melainkan menjadi medium kolaborasi dakwah dengan suami tercinta. Atau Bunda Khanza yang dikenal sebagai ibu para mujahid yang tentu paham betul berdamai dengan kehilangan yang tidak sembarangan.

Baca juga:  Maulid Nabi: Alasan Saya Sebagai Umat Katolik Mengagumi Nabi Muhammad

Para perempuan teladan itu mewakili kualitas perempuan dari segi mental, intelektual, finansial, dan tentunya spiritual.

Jadi alih-alih bersandar pada angan dimanjain suami, para ukhti ini justru dilatih agar tidak saling merepotkan pasangan. Tugas sosial pasca-berkeluarga itu berat. Kalau urusan personal masing-masing saja belum selesai, bagaimana mau mikir umat? Bagaimana mau mikir peradaban?

Karena itu, syarat menikah dalam Islam mesti akil baligh. Bukan hanya secara fisik sudah baligh jadi siap ena ena demi menghindari zina, tapi juga secara akil sudah siap untuk mengurusi diri sendiri, keluarga, dan lingkungan. Bagaimana agar keluarga yang dimiliki kelak bisa memberi manfaat bagi lingkungan di manapun berada. Bukannya justru jadi keluarga muslim egois yang kaya sendiri, sehat sendiri, pinter sendiri, bahagia sendiri.

Apalagi doa rumah tangga yang diminta muslim/ah setiap salat sudah sangat jelas sebagai kisi-kisi berkeluarga: agar diberi pasangan dan keturunan yang menyejukkan pandangan serta menjadi pemimpin orang-orang bertakwa.

Kita tahu proses menjadi orang bertakwa saja sudah sulit. Apalagi melahirkan keturunan yang bertakwa. Apalagi menjadikan keturunan tersebut sebagai pemimpinnya orang-orang bertakwa. Jelas-jelas ini misi komunal, visi peradaban. Sehingga jujur saya nggak habis pikir, peradaban macam apa yang mau dibentuk dari sempitnya konten kampanye pacaran halal via kanal-kanal YouTube islami itu?

Kalau pada akhirnya masih ada ukhti yang berpikir, “mau cari imam saleh biar selamat dunia akhirat” sebagai tujuan pernikahannya, ya nggak sepenuhnya salah sih. Maksudnya, itu kalau perspektifnya adalah mencari partner untuk ibadah berjamaah. Tapi kalau pemikiran itu berarti agama dan keselamatan seseorang bergantung pada orang lain, ini tentu bertentangan dengan wahyu Allah. Sayang sekali.

Coba ngajinya jauhan dikit, Ukh. Kurang-kurangi juga nonton konten asmara halal islami macam itu. Malu lah sama buku-buku biografi sahabiyah, ditumpuk di rak terus jadi background video call tapi malah lupa buat disentuh. Kan katanya kita mau melahirkan generasi Rabbani, fiuh.

BACA JUGA Kenapa Sih Kalian Kebelet Sekali Menikah? atau tulisan Esty Dyah Imaniar lainnya.