Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Puasa Ramadan dalam Bayang-bayang Kapitalisme Religius: Katanya Melatih Kesederhanaan, Nyatanya Sarung Saja Dibungkus Narasi Hijrah Premium

Mizanul Akrom oleh Mizanul Akrom
16 Februari 2026
A A
Puasa Ramadan dalam Bayang-bayang Kapitalisme Religius: Katanya Melatih Kesederhanaan Nyatanya Sarung Saja Dibungkus Narasi Hijrah Premium MOJOK.CO

Ilustrasi Nyatanya Sarung Saja Dibungkus Narasi Hijrah Premium. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Puasa Ramadan sebenarnya jadi waktu untuk mengendalikan nafsu atau jadi kesempatan scroll promo berburu diskon yang nggak berkesudahan, sih?

Setiap Ramadan tiba, kita seolah memasuki sebuah negeri ajaib, semacam taman hiburan spiritual dengan tiket masuk bernama niat. Di pintu gerbang, seorang pemandu berkata lirih, “Selamat berpuasa, silakan menahan diri.” 

Namun, lima langkah kemudian, pengeras suara menyahut riang: “Promo Ramadan! Diskon iman hingga 70%!”

Di negeri ini, lapar dan haus diangkat sebagai slogan moral, sementara diskon dan cashback naik derajat menjadi rukun tambahan. Spanduk “Marhaban Ya Ramadan” berdampingan mesra dengan baliho “Beli Dua Gratis Pahala (versi member).” Puasa, yang sejatinya latihan asketisme, harus berbagi panggung dengan hasrat belanja yang tak pernah ikut berpuasa.

Kapitalisme Religius saat puasa Ramadan tidak anti-ibadah, asal ibadah bisa dikemas 

Puasa, kata alim ulama, adalah seni mengendalikan nafsu. Di pusat perbelanjaan, ia berubah menjadi seni mengendalikan saldo. Jam menunjukkan pukul empat sore. Orang-orang tampak lemas, bukan karena kekurangan energi spiritual, melainkan karena baterai ponsel hampir habis akibat scroll promo tak berkesudahan. 

Menahan lapar? Bisa. Menahan notifikasi “Flash Sale 15 Menit Lagi”? Itu ujian iman tingkat lanjut. Ada yang khusyuk menatap jam, menunggu azan. Ada pula yang khusyuk menatap keranjang belanja, menunggu ongkir gratis.

Kapitalisme religius bekerja dengan sangat santun, bahkan terkesan saleh. Ia tak pernah berkata, “Belanjalah tanpa batas.” Ia memilih bahasa yang lebih lembut: “Untuk menyempurnakan ibadah Anda.” 

Maka, sajadah hadir dalam lima motif limited edition, sarung dibungkus narasi hijrah premium, dan kurma diberi label “kurma sunnah plus”. Entah apa makna plus-nya, selain plus harga. Iman pun tampil rapi, berkilau, dan siap difoto, yang tak sempat difoto seolah belum sah.

Yang menarik, kapitalisme religius tidak anti-ibadah. Ia justru sangat mendukung, asal ibadah itu bisa dikemas. Buka puasa bersama menjadi ajang silaturahim dan validasi sosial: siapa datang ke mana, dengan menu apa, dan difoto dari sudut paling syar’i. 

Tadarus tetap jalan, tentu setelah unboxing mushaf baru yang kertasnya lembut seperti janji-janji diskon. Sedekah pun makin kreatif: tinggal klik, transfer, lalu bagikan tangkapan layar, amal saleh versi shareable. Niat baik tak dilarang, asal resolusinya HD.

Puasa Ramadan itu unik, diajak mengosongkan perut, tapi pikiran dijejali keinginan

Di titik ini, puasa seperti mengalami nasib unik: ia diminta mengurus batin di tengah hiruk-pikuk etalase. Kita diajak mengosongkan perut, tapi pikiran dijejali keinginan. 

Kita dilatih sederhana, tapi dirayu untuk tampil sederhana yang estetik. Bahkan zuhud pun tampaknya perlu strategi branding. Seolah-olah kesalehan harus punya logo, slogan, dan kampanye musiman agar tetap relevan di linimasa.

Humornya, kapitalisme religius sering kali lebih khusyuk daripada kita. Ia bekerja 24 jam tanpa kantuk, sementara kita baru semangat ibadah ketika masjid menyediakan takjil favorit. 

Ia menghafal kalender hijriah dengan presisi, tahu kapan harus menaikkan harga sebelum menurunkannya kembali. Ia paham betul psikologi pahala dan rasa bersalah, dua komoditas paling laku di bulan suci. 

Iklan

Ketika rasa bersalah meningkat menjelang maghrib, promo pun ikut naik, seolah berkata: “Tenang, belanja ini menenangkan.”

Tak berhenti di situ, bahasa religius dipinjam dengan penuh hormat. Kata “berkah” menjadi metafora elastis yang bisa memeluk apa saja. Diskon disebut berkah, cicilan nol persen disebut berkah, bahkan keterlambatan pengiriman pun kadang dimaknai berkah, agar kita belajar sabar.

Puasa yang menuntut kesunyian batin, tetapi dikerumuni kebisingan publik 

Di sisi lain, kesabaran yang diminta puasa Ramadan justru diuji oleh algoritma yang tahu persis jam-jam kita rapuh: menjelang berbuka, selepas tarawih, dan dini hari ketika mata setengah terpejam tetapi jari tetap lincah.

Puasa Ramadan pun terjebak dalam paradoks performatif. Ia menuntut kesunyian batin, tetapi dikerumuni kebisingan publik. 

Ia mengajarkan menahan diri, tetapi dipromosikan dengan pesta. Ia mengundang refleksi, tetapi disajikan sebagai konten. 

Kita berpuasa dengan niat tulus, lalu bertanya: “Sudahkah cukup menarik untuk dibagikan?”. Di sini, yang diuji bukan hanya perut, melainkan juga ego: apakah ia ikut berpuasa atau justru ikut pesta.

Tentu, tidak semua konsumsi adalah dosa, dan tidak semua kemasan adalah tipu daya. Manusia tetap perlu makan, berpakaian, dan berinteraksi. Masalahnya muncul ketika makna beralih fungsi: dari sarana menjadi tujuan. 

Puasa yang paling revolusioner sekarang bukanlah yang paling viral, melainkan yang paling sunyi

Ketika ibadah dipakai untuk membenarkan hasrat, dan hasrat dipoles agar tampak ibadah. Ketika puasa lebih sibuk mengatur jadwal konten daripada jadwal kontemplasi. Ketika pertanyaan “Apa makna Ramadan bagiku?” kalah oleh “Apa yang paling laku Ramadan ini?”

Di baik itu semua, sebenarnya ada cermin yang menatap kita tanpa menghakimi. Puasa sebenarnya sedang bertanya dengan suara lirih: “Masihkah aku tentang menahan diri, atau sekadar menahan diri dari belanja yang belum gajian?”

Ia mengajak kita tertawa kecil, lalu merenung: jangan-jangan kita terlalu sibuk mempercantik ritual, sampai lupa merawat maknanya. Jangan-jangan kita telah mengganti sunyi dengan sorak, dan mengganti cukup dengan lebih.

Barangkali, puasa yang paling revolusioner hari ini bukanlah yang paling viral, melainkan yang paling sunyi. Yang berani menutup aplikasi belanja saat azan maghrib, dan membuka ruang batin setelahnya. 

Yang memilih kenyang secukupnya, lalu berbagi tanpa perlu pengumuman. Yang menggeser fokus dari apa yang terlihat ke apa yang terasa. Yang menjadikan Ramadan bukan sekadar musim belanja religius, melainkan musim pulang ke diri sendiri.

Jika kapitalisme religius terus membayang-bayangi, biarlah puasa menyalakan lampu kecil di dalam dada. Tidak perlu terang benderang. Cukup agar kita tahu: mana kebutuhan, mana keinginan; mana ibadah, mana etalase. 

Sebab pada akhirnya, puasa bukan soal apa yang kita beli, melainkan apa yang berhasil kita lepaskan. Bukan tentang seberapa meriah buka puasa, melainkan seberapa jujur kita pada diri sendiri.

Dan kini, di tengah gemerlap promo dan kesalehan yang tampil rapi, pertanyaannya tinggal satu: masihkah puasa Ramadan kita menjadi latihan pembebasan, atau justru ikut terserap menjadi bagian dari katalog?

Penulis: Mizanul Akrom
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA Mistisisme Jawa dalam Bersih-bersih sebelum Puasa Ramadan dan ulasan menarik lainnya di rubrik ESAI.

Terakhir diperbarui pada 16 Februari 2026 oleh

Tags: diskonIslamKapitalismeMuslimPuasapuasa ramadanRamadan
Mizanul Akrom

Mizanul Akrom

Penulis adalah Wakil Sekretaris Pengurus Cabang GP Ansor Kabupaten Kebumen-Jawa Tengah

Artikel Terkait

THR belum cair, tapi sudah ludes dalam hitungan di kalkulator. Mudik lebaran memang tidak menyenangkan MOJOK.CO
Sehari-hari

THR Belum Cair tapi Sudah Jelas Ludes buat Dibagi-bagi, Yang Pasti Tak Ada Bagian untuk Diri Sendiri

23 Februari 2026
Takjil bingka dari Kalimantan
Catatan

Seloyang Bingka di Jogja: Takjil dari Kalimantan yang Menahan Saya agar Tetap “Hidup” di Perantauan

23 Februari 2026
Saya Nonmuslim dan Gemar War Takjil seperti Meme yang Viral Itu Mojok.co
Pojokan

Saya Nonmuslim dan Gemar War Takjil seperti Banyak Meme yang Viral Itu

23 Februari 2026
Kapok dan muak buka bersama (bukber) di restoran atau tempat makan bareng orang kaya. Cerita pelayan iga bakar Jogja jadi korban arogansi MOJOK.CO
Sehari-hari

Muak Buka Bersama (Bukber) sama Orang Kaya: Minus Empati, Mau Menang Sendiri, dan Suka Mencaci Maki bahkan Meludahi Makanan

20 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Alasan Kita Perlu Bersama Andrie Yunus di Tengah Pejabat Korup. MOJOK.CO

ICW: Usut Tuntas Kekerasan “Brutal” terhadap Andrie Yunus, Indikator Bahaya untuk Pemberantasan Korupsi

14 Maret 2026
Kuliner Sunda yang tidak ada di Jogja, seblak buat perantau ingin mudik Lebaran

Alasan Orang Sunda Ingin Mudik Bukan Hanya Keluarga, tapi Tak Tahan Siksaan Makanan Jogja yang Rasanya “Hambar”

10 Maret 2026
Orang Minang Merantau ke Jogja: Iman Kuliner Saya Runtuh karena Gula Jawa Membuat Rendang Asli jadi Terasa Asin Saja MOJOK.CO

Orang Minang Merantau ke Jogja: Iman Kuliner Saya Runtuh karena Gula Jawa, Rendang Asli jadi Terasa Asin Saja

13 Maret 2026
Mudik Lebaran naik bus murah berujung menyesal. MOJOK.CO

Habiskan Waktu 78 Jam di Bus untuk Mudik Berujung Kapok dan Frustrasi: Harus Tahan Bau Badan, BAB, hingga “Ditakuti” Teman Sebangku

11 Maret 2026
Ini Bukan Perkara Sunni vs Syiah, PKI Belapati dengan Iran karena Senasib sebagai Negeri Anti-imperialisme Amerika MOJOK.CO

Ini Bukan Perkara Sunni vs Syiah, PKI Belapati dengan Iran karena Senasib sebagai Negeri Anti-imperialisme Amerika

11 Maret 2026
lolos snbp, biaya kuliah ptn.MOJOK.CO

Senyum Palsu Anak Pertama Saat Adik Lolos PTN Impiannya, Pura-Pura Bahagia Meski Aslinya Penuh Derita dan Pusing Mikir Biaya

10 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.