Itu terjadi tahun 2002 hari Minggu di areal parkir TVRI Jogja. Lima belas tahun lalu ketika kali pertama saya mampu membeli sendiri sebuah mobil.

Ah, jangan ngeledek gitu dong, tentu saja itu bukan Avanza, Innova, Altis, apalagi CR-V. Juga mustahil soal MINI Cooper, Alphard, atawa Mercedes-Benz SLK250.

Itu tentang seekor Zebra. Ya, Anda benar, Daihatsu Zebra, adiknya Daihatsu Espass. Itu mobil sepantar dengan Suzuki Carry, tapi dengan marwah sedikit di bawahnya. Juga harganya.

Saya membelinya seharga 22,5 juta. Andai waktu itu saya punya uang 500 ribu lagi jelas saya memilih Carry. Sayangnya uang hanya tersisa 300 ribu. Rekening sudah zonk. Itu pun masih harus beli bensin dan jajanin teman yang mengantar beli mobil itu. Jadilah Zebra hijau beset-beset itu yang saya bawa pulang untuk kemudian kami bersama-sama mengarungi driving experiences yang menakjubkan dalam jagat permobilan.

Betul kata orang, apa-apa yang didapat dari hasil keringat sendiri lebih membahagiakan. Esoknya, Senin, saya membawa “mobil baru” itu melaju ke Madura. Mudik. Kata Ibu, pulang dulu, ya, nanti Ibu mintakan air doa sama guru ngajimu waktu kecil buat mandiin mobilnya agar membawa keberkahan.

Saya belum begitu piawai nyetir waktu itu. Saya ajak kawan yang kemarin menemani saya memilih mobil. Juga sama istri saya dan anak kami satu-satunya, namanya Diva, cikal-bakal DIVA Press. Eh, pada tahu DIVA Press nggak sih?

Sepanjang jalan kawan sayalah yang mengemudikannya. Mobil melaju lancar, AC dingin, bonus grudak-gruduk pertanda suspensinya tak lagi baik-baik saja. Maklumilah, itu mobil produksi 1991, sudah berumur sebelas tahun.

Masuk daerah Mantingan, Ngawi, tiba-tiba asap mengepul!

Jojok, kawan saya yang kini sudah almarhum itu langsung menepi. “Waduh, air radiatornya sat (kering),” katanya.

Saya panik, tak tahu sedikit pun perihal jeroan mobil. Jojok menenangkan. “Biasanya ini hanya karena ada kebocoran kecil. Tenang saja, hanya soal tambah air biasa kok.” Ia lalu meminta air sumur ke seorang penduduk pakai botol Aqua besar, memasukkannya ke tangki radiator, dan kembali melaju.

Beres?

Tidak! Nyaris setiap sepuluh kilometer kami harus berhenti,  nyari air sumur, mengisi lagi, lagi, dan lagi radiator itu. Subhanallah. Itu baru di Ngawi lo, dan saya tak bisa menghitung lagi berapa ratus kali kami harus menepi, mencari air, dan mengisi radiator hingga di waktu Subuh tiba di kampung. Jika Jaya Suprana membaca true story ini, anugerah MURI semoga dipertimbangkannya untuk dihadiahkan buat saya.

Perkara radiator panas sungguh menjadi kesan mendalam pertama saya tentang mobil. Atau tepatnya trauma. Tapi, tenang, Lur, itu bukan satu-satunya kesan yang dihadiahkan mobil pertama itu.

Siangnya mobil perjuangan itu dibawa ke bengkel di Sumenep. Berhubung saya tak pegang uang cukup lagi saat itu, segala urusan perbengkelan ditutupi sama Abah. Saya janji akan mengembalikannya, tapi Abah tenang saja berkata, “Ndak usah, nanti saja antarin kami semua ke rumah nenekmu di Jember.”

Beres?

Oh, jelas tidak!

Orang bengkel menyatakan bahwa masalah radiator itu hanya karena kebocoran kecil. “Cuma rembesan,” katanya, “Biasalah, mobil usia dinosaurus begini. Ini dijamin sudah kapok untuk rembes kok.” Bajigur, batin saya, ini ngenyek mobil saya sekaligus pongah sama kerjaannya.

Dua hari kemudian, setelah ada dana masuk ke rekening yang saya perkirakan lebih dari cukup untuk jajan bensin dan segalanya, berangkatlah kami ke Jember. Penuh banget. Mobil yang maksimalnya berkapasitas 7 orang itu diisi full. Belum termasuk barang-barang berjibun. Semua anggota keluarga ikut. Ini momen pertama sepanjang sejarah keluarga kami bisa bersama-sama semobil, bukan sebus AKAS. Tentu setelah dimandikan air kembang yang telah didoakan guru ngaji saya di kampung.

Segalanya berjalan lancar, manis, menyenangkan. Trauma soal radiator itu bablas sama sekali. Orang bengkel yang sombong itu cespleng juga ucapannya. Radiator tampak kapok untuk bocor.

Beberapa waktu di Jember, di suatu hari Minggu kami melancong ke Rembangan, puncaknya Jember. Bekal nasi rantang juga tikar-tikar. Mobil diisi 14 orang.

Ketika mulai menanjak, sekira setengah perjalanan Zebra tua itu ngeden. Suara knalpotnya gede banget, mesinnya meraung, tetapi jalannya terseok. Saya yang masih awam permobilan, terus saja bejek gas sambil melirik jarum radiator: titik episentrum trauma saya.

Tiba-tiba melesat asap dari jok tengah, di belakang sopir! Semua orang panik, apalagi saya. Mobil buru-buru ditepikan. Semua penumpang berebut turun. Seorang lelaki tak berhelm nyamperin kami dan bertanya ada apa dengan itu mobil. Saya cerita sebentar dia langsung menukas, “Wah, itu kampas koplingnya jebol. Ini bau kampas gosongnya luar biasa.”

Saya nggak ngerti maksudnya. Seorang sepupu menyusul kami beberapa jam kemudian, menjemput sanak kerabat yang telah menggelar tikar, makan nasi-nasi rantang, dan tiduran di tepi jalan sebelum sampai ke puncak Rembangan. Sepupu saya mengatakan hal yang sama dengan ucapan lelaki tak berhelm tadi: kampas koplingnya jebol.

Mobil Zebra itu dilajukan balik arah. Tenaganya benar-benar letoy! Gasnya besar, raungan mesinnya gahar, tetapi jalannya seumpama menggelinding. Macam orang impoten, nafsu segunung, tapi tak bisa “menulis”.

Baca juga:  Umur Panjang si Volkswagen, Mobil Rakyat dari Era Hitler

Besoknya mobil itu dimasukkan bengkel. Dengan bisik-bisik saya bilang ke saudara sepupu itu, kalau bisa tak usah ganti onderdil dulu, uang mepet. Diserviskan biasa saja, nanti di Yogya biar saya beresin benar-benar.

Entah apa yang diterapikan orang bengkel pada mobil perjuangan itu, dia menyatakan bahwa mobil itu siap kalau cuma untuk mengantar kami ke Yogya. Besoknya kami balik. Mobil melaju tenang dikawani suara-suara aneh pada mesinnya. Suara klitak-klitik tiap gas di-bejek.

Masih sekitar pukul enam pagi ketika tiba-tiba mobil hanya meraung dan tenaganya letoy icik-icik jelang masuk sekitar terminal Lumajang. Jalan sih jalan, tapi kayak siput beringsut. Oh, Tuhan, ini masalah kampas kopling lagi!

Saya memutuskan membelokkan mobil ke arah Kota Lumajang mencari bengkel. Di sebuah bengkel yang masih tutup, saya berhenti, menunggu. Kami keleleran macam ayam gering di parkirannya hingga pukul setengah sepuluh. Saya menelepon seorang kawan di Yogya, Mas Mahir, yang pernah bilang bahwa uangnya takkan habis sekalipun dibagikan ke seluruh anak IAIN Yogya, meminta bantuannya memberi pinjaman uang untuk servis mobil ini.

Mobil pun digarap, sekitar pukul dua siang kelar. Capeknya sungguh oh my God. Waktu itu belum ada Dek Nella Kharisma yang tubuhnya bisa goyang-goyang emez ena dalam lagu “Kelayung-layung” sehingga hiburan pengusir lelah pun tidak kafah.

Kami lalu melaju pelan-pelan menuju Surabaya. Kakak dan suaminya turun di Surabaya. Abah dan Ibu ikut membelah Krian di malam buta. Tujuan kami Yogya. Semuanya berjalan lancar, tepatnya dianggap lancar-lancar saja dengan cara diam, meski hati saya selalu hokyah-hokyah saat menangkap suara klitak-klitik setiap gas di-bejek. Betul ternyata ya, segala masalah takkan ruwet jika tak diungkapkan.

Yogya menyambut siang besoknya. Usai melepas penat sekujur lahir dan batin, sorenya saya panggil seorang tetangga yang kerja di bengkel mobil. Ia mulai mengecek dan vonisnya sudah saya duga: harus turun mesin untuk ganti kampas kopling. Jadilah mobil itu diistirahatkan dua tiga hari untuk operasi jantung. Jinguk.

Beres?

Ora, Dab! Sabar, bentar dulu, masih ada hikayat-hikayat tak terlupakan, yang kalau dituangkan dalam sebuah novel, bisa setebal 300-an halaman dengan judul Mobil yang Rewel Tak Pernah Membenci Bengkel atau Dikatakan atau Tidak Dikatakan, Itu Tetap Mobil Bangke.

Nyaris dua minggu sekali, sudah setara sunah puasa Senin Kamis, mobil perjuangan itu sowan bengkel. Ada saja yang dikeluhkannya. Pernah lampu seinnya mati tiba-tiba dengan kompak, pernah klaksonnya tak mau berhenti menyalak, pernah tiba-tiba mesinnya tak mau menyala meski percikan api busi baik-baik saja, pernah pula setirnya tak bisa memutar roda depan meski kemudi telah mentok muter-muter. Pokoknya, segala yang tak pernah terjadi pada mobil manusia umumnya bisa terjadi pada mobil saya.

Ini sungguh mobil yang memperlihatkan kepada saya akan betapa mahakuasanya Gusti Allah dan betapa kerdilnya manusia sehingga tiada sikap lain kecuali kudu pasrah, tawakal.

Pernah suatu hari ibu mertua main ke Yogya. Rencananya semingguan. Baru di hari ketiga kabar buruk menerpa. Bapak mertua sakit keras! Iya, suaminya ibu mertua, bapaknya istri, kakeknya Diva. Halah.

Ibu meraung-raung minta pulang saat itu juga. Berangkatlah saya mengantarnya ke Indramayu bersama istri dan Diva.

Trauma masa lalu seputar gangguan radiator dan mesin ngelitik membuat saya belajar banyak cara terbaik mengemudikannya. Semuanya berjalan normal, hingga saat mulai memasuki wilayah Kebumen, tiba-tiba spion kanan saya, yaaa, spion yang sangat penting bagi sopir, melipat dirinya sendiri. Saya dorong spion itu sambil mengemudi. Tak lama lagi, melipat lagi. Saya dorong lagi. Pokoknya setiap melaju agak cepat, empasan angin dari arah depan sukses membuat spion itu rukuk. Sungguh spion yang rajin ibadah.

Makin lama, makin rajinlah ia rukuk. Baut yang mestinya kencang menguncinya semakin dol. Ya sudah, akhirnya saya biarkan ia dengan kekhusyukan rukuknya. Sepuasmu ngibadah, spion!

Sudah hampir Isya, kami memasuki wilayah bypass Cirebon. Tiba-tiba terdengar suara knalpot meraung sangat keras padahal tak lagi ngebut. Kerasnya luar biasa. Knalpot King paling blombong pun dijamin kalah telak.

Saya menepi. Memeriksa knalpot. Oh, Tuhan, knalpotnya patah! Yap, tugel, Broh, hanya nyantol sebagian lasnya, buntutnya gasruk aspal.

Malam itu kami nginap di rumah kenalan ibu mertua. Besoknya, sowan bengkel las. Terbukti kan omongan saya tadi, apa-apa yang mustahil terjadi pada mobil orang umum bisa terjadi pada mobil perjuangan itu. Tawakal menjadi sikap terbaik untuk saya genggam di hadapan takdir knalpot tugel itu.

Tukang las itu mengingatkan bahwa ada kemungkinan usai dilas akan terdengar suara-suara tak normal dari knalpot. “Sebab dalemannya sudah babak belur karatan semua, jadi pas dilas bisa pada rontok semua.”

Baiklah, mari ingat dengan sempurna: “dalemannya sudah babak belur”—semoga dalemanmu baik-baik saja ya, minimal nggak karatan kayak knalpot saya.

Sudah gitu saat masuk daerah Kandanghaur mobil saya diserempet bus Bhinneka pula. Allahuakbar, Mahabesar Engkau dengan segala keputusan-Mu. Sekali lagi hamba yang tak punya uang banyak pasrah tawakal kepada-Mu.

Usai Bapak dinyatakan sehat oleh dokter kami sekeluarga besar berangkat piknik ke Bandung di hari Minggu. Mobil melaju lancar melintasi wilayah Subang dan mulai masuk ke daerah yang penuh tanjakan jelang Lembang. Jalanan macet menjadi momok luar biasa buat saya setiap akan melahap tanjakan.

Baca juga:  Umur Panjang si Volkswagen, Mobil Rakyat dari Era Hitler

Pengalaman mengajarkan kepada saya bahwa cara terbaik melahap tanjakan ialah ngebut dari bawah, jangan ganti gigi di pinggang tanjakan. Apa daya, jalanan macet menyulitkan realisasi taktik tersebut. Dan terjadilah apa yang pernah terjadi di Rembangan. Asap mengepul, penumpang berebut turun, mobil ditepikan, lalu kami memutuskan menggelar tikar di tepian, membuka nasi rantang, dan makan bersama dengan penuh nikmat, syukur, dan bahagia di antara kampas kopling yang kembali gosong. Subhanallah la haula wa la quwwata illa billah.

Bolak-baliknya kampas kopling gosong itu kian meneguhkan iman saya pada satu hal: Allah takkan menguji hamba-Nya di luar kemampuannya dan setiap ujian-Nya merupakan pintu gerbang bagi anugerah lain yang akan datang.

Bisnis saya di perbukuan berjalan tsakep. Tradisi sowan bengkel bukanlah masalah yang berat lagi. Santai saja, uang ada, sudah takdirnya ….

Ada satu takdir luar biasa lain yang saya ingat selalu soal mobil perjuangan itu. Sebagai satu-satunya mobil yang saya punya, mobil itu jelas saya pakai untuk kerja. Itu tugas utamanya. Di antaranya ialah mengangkut cetakan-cetakan buku yang sudah siap dijilid ke percetakan Kota Kembang di Jalan Bantul. Saya sendiri yang mengemudikan.

Bersama kibaran rambut gondrong Cak Ruslani yang berotot kawat bertulang besi, di suatu siang saya mengangkut tumpukan cetakan. Sejak distarter di depan rumah kontrakan di Gowok akinya terseok-seok. Ngoak, ngoak, ngoak. Nyaris soak. Cak Ruslani pun mendorongnya, jreeeng, nyala. Saya bilang ke Cak Ruslani sambil melaju, “Cak, nanti tolong ingatkan ya, jangan matiin mesin waktu nyampe di Kota Kembang.”

“Beres, Cak,” sahutnya tanpa ngos-ngosan. Kan Gatotkaca.

Tibalah kami di areal parkir Kota Kembang tempat biasanya kami menurunkan tumpukan cetakan untuk dijilid. Mbah Gito yang kacamatanya setebal batok kelapa muncul dari balik ruangannya. Ia sudah hafal sama mobil Zebra hijau itu.

Cak Ruslani turun tanpa mengingatkan saya untuk tidak mematikan mesin. Saya juga lupa, dengan spontan memutar kontak ke kiri. Kami lalu menurunkan berjibun cetakan ke papan besar yang sudah disiapkan Mbah Gito. Dan gobloknya, dengan tenang kami menaikkan buku-buku yang sudah selesai dijilid untuk dibawa pulang.

Tahu kenapa saya bilang gobloknya?

Yaaa, mestinya mobil saya starter dulu kan sebelum menaikkan buku-buku itu untuk memastikan mesin mobil bisa menyala. Agar kalau gagal nyala dorongnya tak berat. Ini terbalik. Memang ya, benar sekali bahwa membalik-balik urutan bisa jadi pemicu masalah serius—misal, komentar dulu sebelum membaca, itu bisa memicu kesan bego-njelehi-hasyuh kan.

Dan terjadilah tragedi itu! Mesinnya tak sudi nyala, starternya tak ngangkat. Aki sempurna soak. Maka Cak Ruslani mendorong mobil penuh muatan itu ke jalan raya dengan kekuatan supernya. Rambut gondrongnya saya lihat berkibar dari spion. Alhamdulillah, jreeeng! Mesin pun hidup.

Saya kembali masuk ke parkiran Kota Kembang untuk membayar tagihan. Ini kegoblokan lainnya. Cak Ruslani saya lihat dari spion berjalan gontai di belakang mobil. Hanya tampak sedikit keringat, napas sedikit naik lalu turun. Ingat, dia Gatotkaca.

Celaka dua belas! Saking biasanya para sopir memutar kontak ke kiri sebelum turun, terjadilah peristiwa yang membuat Cak Ruslani memilih meminum air putih tidak melulu lewat mulut, tapi juga kepala. Mesin mobil spontan saya matiin lagi!

Usai mengurus tagihan, otomatis Cak Ruslani mendorongnya lagi. Mbah Gito muncul dan berkata penuh ketulusan yang mengharukan, “Lha, nek akine soak, yo ganti to, gampang kan, kayak wong susah wae (kalau akinya soak ya ganti aja, gampang kan, kayak orang susah aja).”

Nggeh, Mbah (iya, Mbah),” sahut saya dari balik kemudi. Cocote, Mbah, cocote, tak potel kacamata batokmu, nyasar tekan Bambanglipuro kowe.

Dengan kekuatan super Cak Ruslani mendorongnya lagi. Glek, glek, glek. Tak nyala. Didorong lagi. Glek, glek, glek, belum menyala. Dan pada dorongan ketiga yang tampak merupakan tenaga paripurna sang Gatotkaca, jreeeng. Alhamdulillah! Saya lihat dari spion Cak Ruslani telentang di tepi jalan: rambut gondrongnya tak lagi berkibar. Bhaaa, apa kabar, Cak Ruslani, masih ingat kan sejarah dorong-dorongan mobil yang subhanallah itu?

Itulah hikayat mobil perjuangan Zebra hijau yang penuh kenangan dan terutama mengajarkan langsung pada saya hakikat tawakal yang sebenar-benarnya tauhid lillahi ta’ala.

Kini, dengan nada satire pada diri sendiri, jika menyemukai tanjakan seterjal apa pun, misal jalan menuju Candi Ceto, Karanganyar, pas lagi ingat sejarah mobil perjuangan itu saya memekik dari balik kemudi Innova/Alphard/CR-V.

“Ayooo, mana lagi tanjakanmu! Segini doang? Ah, cemeeen, keciiilll …!!!”

Lain waktu satire saya wujudkan dengan cara menyalakan mesin All New Yaris, All New CR-V, All New Accord, dan tentunya Innova idola keluarga, lalu mematikannya, menyalakannya, mematikannya, menyalakannya.

“Ah, kok nggak soak, kok nggak soak, kok nggak soak ….”

Komentar
Add Friend
No more articles