• 1.1K
    Shares

MOJOK – Beragama kok cita-citanya cuma mau mati. Lha terus gunanya belajar tajwid, belajar ngaji, sampai belajar salat itu buat apa?

“Ayat-ayat polemis,” begitu istilah cakepnya Prof. Mun’im Sirry, seorang revolusioner pemikiran Islam pengajar Fakultas Teologi Universitas Notre Dame di negeri kafir Amerika Serikat.

Maksud Pak Prof Studi Islam yang kondyang itu, ayat-ayat dalam Al-Quran punya makna tekstual yang tricky, alias rawan bikin salfok (salah fokus) jika tidak disokong oleh seperangkat metodologi tafsir yang mendalam serta menyeluruh. Dan, salah satu buah salfoknya yang amat memprihatinkan ialah tafsir jihad mati dengan bam-bom-bam-bom itu.

Sangat bugil lho sesungguhnya untuk memahami dengan logika paling Upin-Ipin sekalipun bahwa segala bentuk pemikiran dan gerakan jihad mati konyol itu tak lebih dari buah tafsir salfok yang diheroikkan. Catet ya; “tafsir salfok”. Ini istilah saya dan dalam proses dipatenkan agar kelak saya dapat royalti dari siapa pun yang memakainya.

Baiklah kita mulai. Pertama, Al-Quran diturunkan kepada manusia sebagai pemberi kabar gembira (basyiran) dan pemberi peringatan (nadiran). Tentu saja maksudnya diturunkan ke manusia yang hidup, bukan jenazah yang udah modyar. Ya jelas tho ya, kalau dah mati, gak lagi guna basyiran wa nadiran itu. Jadi Al-Quran dimaksudkan untuk membimbing dan menuntun manusia menuju pada bangunan kebaikan dan kemanusiaan. Alias civilization. Alias peradaban.

Berangkat dari sini, jika kemudian berislam beneran hanya diarahkan untuk melahirkan gagasan cita-cita mati, ya gugurlah seketika tujuan utama diturunkannya Al-Quran itu. Ya kalau mau mati, mati aja, gak usah bawa-bawa Al-Quran. Lha wong tujuannya cuma sesempit mati. Demi surga yang melambai-lambai nun jauh di mato.

Kedua, seluruh ajaran muamalah dalam Al-Quran jelas semata ditujukan untuk memperbagus lelakuning menungso alias perilaku manusia. Dan, kita tahu, ayat-ayat yang berkaitan dengan perkara muamalah jauh lebih banyak jumlahnya ketimbang ayat-ayat keahiratan. Maka, dapat disimpulkan dengan logika paling dangkal bahwa Al-Quran sangat menghendaki manusia menata sebaik-baik kehidupannya di dunia berdasar aturan-aturannya. Menata sistem kehidupannya di dunia, bukan menata sistem kehidupan di akhirat.

Lagi-lagi, Al-Quran tak sejalan secara logis dengan cita-cita mati dengan cepat ala kaum paracetamolian itu.

Ketiga, semua tindak-tanduk Rasulullah Saw yang berfungsi sebagai tafsir, penguat, atau pelengkap terhadap Al-Quran menghamparkan cara hidup yang berakhlakul-karimah (adiluhung). Lagi dan lagi; cara hidup, bukan cara mati. Nah, benderang sekali bukan? Rasulullah Saw sebagai sentral paling benar dari implementasi Al-Quran dalam kehidupan ini menjadi pembantah nyata bagi cita-cita mati cepat itu.

Tapi, ya, biar layak tayang di Mojok, saya akan tambahkan hal yang paling mendasar dalam tradisi metodologi tafsir Al-Quran.

Begini. Memproduksi makna atas teks-teks Al-Quran itu tak bisa hanya dengan mengaduk-aduk bunyi teks. Sangat dilematis posisi tafsir bayani (tekstual) sejak zaman dulu, apalagi sampai zaman kita yang sangat kompleks ini. Jelas tafsir model begini kurang memadai. Sebab dari sana akan sangat rawan menihilkan dampak ahistoris alias ndak nyambung dengan konteks turunnya ayat itu sendiri, kemudian melupakan koherensinya dengan konteks historis pada situasi terkini.

Baca juga:  Jangan Sembarangan Memajang Hitler di Indonesia

Inilah yang oleh Prof. Mun’in Sirry itu disebut sebagai kerawanan konsekuensi ayat-ayat polemis yang dipahami dengan dangkal—dalam istilah saya: ayat-ayat rawan salfok.

Saya contohkan ayat 138 dan 139 dari surat An-Nisa ya? Ya masak Surat Al-Maidah ayat 51 terus.

Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapatkan siksa yang pedih, yaitu orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan dari orang-orang kafir itu? Sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah.

Secara tekstual, dua ayat ini memvonis kita yang berkawan, bersahabat, dan berkarib dengan orang kafir adalah munafik. Ngewri, Vroh! Munafik itu muslim yang kafir-kafir gitu, nasibnya sama buruknya dengan kaum kafir kelak di akhirat. Disate klatak dengan azab yang pedih di kerak neraka.

Jauhi non-muslim! Begitu hukumnya jika ditarik secara tekstual. Mau sebaik, seoke apa pun, atau sekompeten apa pun mereka sebagai gubernur. Misal lho ini, cuma misaaaaaal….

Pertanyaan kritisnya: apa benar dua ayat tersebut dimaksudkan demikian? Melarang muslim bergaul dengan non-muslim karena mereka kafir?

Bentar dulu.

Andai, sungguh ANDAI, kita mengenal metode tafsir tematik (maudhu’i) saja—misal, kita akan terperangah betapa penyimpulan tricky tadi tak komprehensif untuk diberhentikan demikian belaka. Coba ya kita praktikkan.

Pada ayat sebelum ayat tadi. Di nomor ayat 136, Allah berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang telah diturunkan kepada Rasul-Nya dan kitab yang telah Allah turunkan sebelumnya. Siapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari akhir, sesungguhlah itulah orang yang sesat sejauh-jauhnya.

Saya tambahin lagi ayat 163 di surat yang sama yang memaparkan bahwa Allah telah memberikan wahyu kepada Nuh, Ibrahim, Ismail, Ishak, Ya’qub, dan anak cucunya, Isa, Ayub, Yunus, Harun, dan Sulaiman. Kepada Daud diberikan kitab Zabur.

Lalu, di ayat 164, Allah menegaskan: “Dan (Kami telah mengutus) rasul-rasul yang sungguh telah Kami kisahkan tentang mereka kepadamu (Muhammad) dahulu dan rasul-rasul yang tidak Kami kisahkan tentang mereka kepadamu.

Melalui metode tematik ini, kita mengerti sekarang bahwa sebelum adanya Al-Quran dan kita-kita ini, Allah telah menurunkan banyak wahyu melalui utusan-utusan-Nya yang tak semua dikisahkan kepada kita sehingga kita tak tahu. Sebab semua wahyu itu bersumber dari Allah yang tunggal, sudah pasti ajarannya sama-sama memuat perintah keimanan dan kebaikan yang koheren dengan ajaran yang kita terima saat ini.

Sehingga, bakalan tak logis blas untuk mengklaim yang selain kita auto-kafir. Di Al-Maidah ayat 69, bahkan dijelaskan dengan sharih betapa orang-orang (termasuk Yahudi, Shabi’in, Nasrani) yang beriman kepada Alah dan hari akhir dan berbuat baik, mereka adalah kaum beriman, bukan kafir!

Jadi, pertiinyiiinnyi:

Siapa sebenarnya yang dimaksud kafir itu, yang dilarang untuk kita kawani itu?

Baca juga:  Berbahayanya Merasa Jadi Minoritas Muslim di Negeri Mayoritas Islam

Apakah semua kelompok di luar muslim karena “kebetulan” lahir di rumah yang tidak menganut Al-Quran, tapi Injil—misal?

Oh, kalau begitu parameternya, buat apa sih ya Allah menurunkan wahyu-wahyu selain Al-Quran dan rasul-rasul selain Nabi Muhammad Saw? Bukankah mendingan dari awal dulu Allah turunkan Al-Quran saja, tanpa wahyu-wahyu sebelum-sebelumnya kan?

Pusing ya?

Nah, agar bisa jernih, saya kutipkan dua ayat saja dalam surat Al-Baqarah di tema ini, yakni ayat 6 dan 7: “Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, apakah kamu memberikan peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman. Allah telah mengunci hati dan pendengaran mereka dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat.

Ternyata, dengan mengumpulkan sejumlah ayat secara tematik, kini kita mendapatkan produksi makna yang jauh berbeda dengan tafsir salfok tadi.

Bahwa; (1) lebel kafir tidak bisa serta merta dilekatkan pada semua umat selain Muslim karena umat-umat lain pun diberikan wahyu dan utusan oleh-Nya; (2) label kafir tampak lebih logis dimaknai sebagai karakter, yakni karakter bebal, karena mereka punya hati, mata, dan telinga tapi tak dipergunakan untuk menyerap keimanan dan kebaikan. Karakter bebal ini telah sampai pada kondisi yang tak lagi mempan dikasih tahu.

Tricky-nya ayat-ayat jihad mati juga berada di pusaran yang sama. Jika sekadar menukil dengan ugal-ugalan satu dua ayat jihad ala tekstualis tanpa sokongan metodologi yang gempal, buah takwilnya niscaya tak lain adalah perang, bunuh, perang, bunuh, bam-bom-bam-bom. Itu adalah ibadah terbesar seorang muslim, jihad fi sabilillah, hadiahnya surga plus para biadadari yang uwuwuwuwwu~ itu.

Imajinasi-imajinasi maha-merangsang dibangun sedemikian heroiknya. Bahwa nun di seberang sana, di alam akhirat, kalian telah ditunggu oleh para bidadari yang selalu perawan, tak pernah disentuh jin dan manusia.

Lalu, diakibatkan oleh skeptisme mendalam pada beratnya persolaan ekonomi dan politik di dunia ini, juga cinta yang bertubi-tubi ditolak, bertakbirlah kalian bak pahlawan menjadi pengantin-pengantin bom di sekujur tubuh, menyongsong mati, lalu surga, lalu yang-yangan di akhirat sana tanpa pernah PDKT yang baik dan benar kepada bidadari-bidadari itu.

Piye yo, Lur, pikiranmu?

Jika berislam cuma untuk bercita-cita mati begituan atas nama jihad, buat apa sih semua kaifiyat wudu dan mandi junub diajarkan?

Untuk apa ilmu waris diterangkan? Kenapa thaharah (bersuci) diletakkan di awal bab semua kitab fiqh? Kenapa pernikahan diatur sedemikian kudusnya? Ngapain sedekah dijanjikan balasan yang tak terbatas?

Untuk apa juga salat diwajibkan? Utang harus dibayar? Toh semua amaliah kaffah mukmin yang diajarkan Al-Quran ternyata selesai cuma dengan mati pake cara bunuh diri?

Buat apa coba kita dituntut untuk bisa ngaji Al-Quran, plus tajwid, tahsin, dan qiraahnya, bila cuma dengan ngembom kita dijamin masuk surga?

Buat apa coba diadakan semua syariat itu, buat apaaaaaa?

Jawab!

Tak kecup satu-satu lho kalian kalau masih mau ngebom-ngebom negeriku atas nama jihad.