Beragam analisis sudah banyak dijlentrehkan oleh para pundit sepak bola mengenai keterpurukan Inter. Ada yang menyebut, buruknya penampilan Inter saat ini dikarenakan kondisi finansial tim yang carut-marut. Ada pula yang mengatakan, Nerazzuri mengalami “kegalauan taktikal”pasca ditinggal Jose Mourinho ke Real Madrid.

Dari segi skuat tim, Inter sejatinya tak buruk-buruk amat. Pergerakan mereka di bursa transfer kemarin juga cukup impresif. Dua nama beken seperti Xerdan Shaqiri dan Lukas Podolski sukses didatangkan ke Giuseppe Meazza. Jika dibandingkan dengan tim tetangga–itu loh, AC Milan, tim dengan pemilik gelar internasional terbanyak sepanjang sejarah peradaban–, skuat Inter sejatinya relatif lebih baik.

Lalu apa yang menjadi masalah Inter sebenarnya? Sebagai penulis buku sepak bola best seller yang telah terjual sebanyak 13 triliun copy, tentu saya harus membuat analisis versi saya sendiri. Silakan dibaca, dan tentu Anda harus sepakat.

Mental Juara PlastikBahwa Inter adalah tim peraih trigelar pertama di Italia, tentu saja benar. Tetapi, apakah dengan demikian mereka otomatis memiliki mental juara? Jawabannya: jelas tidak.Kesuksesan Inter merengkuh gelar juara bersama Mourinho menempuh periode yang terlalu cepat, terlalu instan. Seperti popmie yang disantap dalam perjalanan di kereta: memang mengenyangkan untuk sesaat, tapi beberapa jam kemudian perut Anda pasti akan kembali keroncongan.

Dengan barisan pemain berkualitas yang pernah mampir di bench Giuseppe Meazza, seharusnya Inter berdiri sejajar dengan Real Madrid sebagai klub terbaik abad 21. Silakan sebut: mulai dari Ronaldo sampai Luis Figo, Roberto Carlos hingga Patrick Vieira, semua merupakan eks pemain Inter. Ironisnya, Inter selalu menjadi pecundang. Terlalu lama menyandang predikat pecundang membuat cerita raihan trigelar Inter tak ubahnya strawberry di atas kue tart: menggugah mata, tetapi tak menggugah selera.

Ini kenapa analoginya makanan semua, ya?

Kebebalan Para Pelatih

Seperti yang sudah dijelaskan sedikit di atas, untuk sebuah tim yang tengah terpuruk, skuat Inter jelas kelewat bagus.Di posisi penjaga gawang, nama Samir Handanovic merupakan salah satu yang terbaik saat ini, kecuali jika Anda kelewat bodoh membandingkannya dengan Manuel Neuer. Untuk posisi bek sentral, Nemanja Vidic juga merupakan sosok yang masih cukup dapat diandalkan.

Lini tengah sejatinya menjadi kekuatan utama Inter. Komposisi lini tengah diisi oleh pemain yang masih berada di usia 20-an, dengan yang tertua adalah Hernanes, 29 tahun. Itu artinya, sebuah potensi besar. Mateo Kovavic, misalnya, gelandang muda asal Kroasia yang sering digadang-gadang sebagai pemain masa depan sepak bola Balkan, masih berusia 20 tahun.

Sementara untuk lini depan, Inter juga lagi-lagi memiliki deretan nama yang cukup mentereng, ketimbang, misalnya, Sassuolo, tim yang tempo hari sukses membenamkan La Beneamata dengan skor cukup mencolok, 3-1.

BACA JUGA:  Habis Bacot Jose Mourinho, Terbitlah Bacot Antonio Conte

Lukas Podolski merupakan seorang juara dunia. Lalu ada nama Shaqiri, pemain terbaik Swiss saat ini–yang ketika di Bayern Munich hanya kalah bersaing dengan Arjen Robben dan Franck Ribery. Begitu frustasinya Shaqiri karena disia-siakan Pep Guardiola, maka ketika Inter mengajukan proposal ia langsung mengiyakan. Sebuah sikap yang kelak membuat dirinya akan semakin frustasi.

Dengan kualitas skuat semacam ini, semestinya para pelatih Inter pasca Rafael Benitez tidak kesulitan meracik taktik. Tetapi nyatanya, mulai dari Andrea Stramaccioni hingga Roberto Mancini, kelewat bebal untuk melakukannya.

Belum Memiliki Stadion Sendiri

Tidak seperti Milan yang telah merancang stadion barunya (terletak Portello – Fiera Milano City area), Inter masih akan setia menggunakan stadion Giuseppe Meazza yang sejatinya kepunyaan pemerintah kota Milan itu. Barangkali, ini barangkali saja, lantaran belum memiliki konsep mengenai stadion baru, sementara tetangganya sudah, mereka jadi makin minder. Sudah jumlah gelar kalah jauh, ealaaah, sekarang malah ketinggalan pula soal stadion baru. Keminderan inilah yang kemudian mungkin berimbas pada penampilan buruk mereka di lapangan. Mungkin lho ini, jangan dianggap tidak serius.

Presiden Baru

Dengan terpilihnya Erick Thohir sebagai presiden baru Inter, tentu itu menyenangkan bagi tiap warga Indonesia. Seperti jamak diketahui, warga Indonesia sangat hobi berbangga diri jika ada salah satu anak bangsa dapat meraih sukses di negeri bule. Tetapi, apakah hal tersebut juga menyenangkan bagi Inter sendiri? Sejauh ini, sih, tidak.Sepak bola di Italia didedah hingga tahapan mikroskopis. Obrolan mengenai taktik sepak bola sudah menjadi kudapan sehari-hari bagi setiap orang di mana saja. Bukan sebuah hal yang mengherankan jika dalam sebuah acara arisan, sekelompok ibu-ibu di Firenze tengah berdebat serius mengenai variasi formasi yang kerap dimainkan Vincenzo Montella di Fiorentina.

Hanya orang-orang yang menjadikan sepak bola sebagai iman sajalah yang dapat mengerti kultur sepak bola di Italia. Erick Thohir, dengan berat hati mesti saya ucapkan, sepertinya belum memahami hal ini. Itulah pula yang membuat mengapa ekspansi invenstor Arab belum menyentuh Serie A: masyarakat di sana kelewat serius memaknai sepak bola, sedangkan para pemburu rente berjanggut itu hanya mengerti fulus.

Inter Diidolai Seorang Bapak yang Sering Bercinta dengan Perempuan Bule

Ini cerita nyata yang saya dapati ketika menunggu kereta pada pagi hari di Stasiun Tugu, Yogyakarta. Ketika itu saya sedang asyik klepas-klepus mengisap udud di area khusus merokok. Duduk di samping saya seorang bapak yang usianya kira-kira 40-an tahun. Tak lama berselang, di saat rokok masih sisa setengah batang, si bapak yang rambutnya sudah ditumbuhi uban tersebut mengajak saya berbincang. Berikut petikan dialognya saya tulis utuh:

BACA JUGA:  Menjadi Milanisti itu Baik

”Bang, itu hp-nya bisa internetan?”

(Mungkin hp saya terlihat seperti telpon koin)

“Bisa, Pak. Kenapa deh?”

“Liatin Liga Italia semalem dong, Inter menang apa kagak?”

(Elaaah, mending bawa telpon koin beneran dah)

“Inter kalah, Pak, semalem. 1-3”

“Ah becanda ini Si Abang mah”

(Saya buka laman skor, terus saya culekin ke matanya sampai tembus ke kepala belakang dan otaknya muncrat kemana-mana)

“Nih, Pak.”

“Waaahh, bener. Kenapa kok bisa kalah ya, Bang?”

(Demi Allah, saya waktu itu ingin sekali menjawab: “Kurang sajen itu, ayam itemnya lepas,” tapi lebih baik tak usah)

“Yah emang segitu itu sih kelasnya Inter, Pak.”

Setelah hening sebentar, mendadak si Bapak ini bercerita pengalamannya yang, masyaallah, sangat monumental: (mengaku) pernah bercinta dengan banyak perempuan bule. Jika cerita tadi dijadikan kaki dashi sebuah novel, pastilah banyak pembaca yang tergugah, tergugah untuk membakar novel tersebut sampai habis. Dia mengatakan pernah berkunjung ke Italia (tentu juga mampir ke Giuseppe Meazza) pada 2005 silam. Begitu saja? Tentu tidak. Si Bapak itu juga mengaku sempat liburan ke Inggris, Prancis, dan Jepang. Dari sinilah absurditas yang begitu brutal itu dimulai.

“Italia cakep-cakep, Bang.”

“Apanya?”

“Ceweknya. Beuh, toketnya gede-gede.”

“Oh…”

“Saya pernah itu di telepon umum gituan waktu di sana.”

(((GITUAN DI TELEPON UMUM)))

“Emang kapan, Pak, ke Itali?”

“2005, Bang. Pake travel saya”

“Berapa lama?”

“Sebulanlah, kira-kira.”

Liburan selama 30 hari menggunakan travel, sungguh ajaib. Lain waktu beliau pasti akan hijrah ke Irak untuk ikut kursus singkat terrorism for dummies bersama ISIS.

“Kalo Inggris mah ceweknya galak-galak. Ga suka saya.”

(Lha iye muke lu kaya bemper Kopaja, Setan)

“Kok bisa?”

“Tapi saya sih tetep dapet. Di kereta itu juga. Ajak kenalan aja. Asik daaahh…”

“Oh..”

“Jepang mah, Bang, yang enak”

“Ceweknya?”

“Iya, kaya di pelem-pelem aja ude”

“Gimana tuh, Pak?”

“Saya ajak minum terus ke hotel. Beuh! Kaya Miyabih! (Bukan buat mendramatisir, tapi beliau memang menambahkan huruf h di belakang Miyabi)”

“Sedep, Pak?”

“Bukan maen! Mau nambah saya!”

“Full service dong?”

“Depan belakang, Bang!”

Hening lagi. Saya kemudian bertanya dirinya hendak kemana. Katanya mau balik ke Jakarta, dan sekarang lagi nunggu kereta yang jam 9 nanti. Beberapa menit kemudian, kereta saya pun tiba. Dengan sangat amat terpaksa saya harus berpisah dengan Bapak-bapak yang, jika dilihat dari samping, wajahnya agak mirip dengan komedian ternama asal Israel, Benjamin Netanyahu.

Nah, bayangkan jika, misalnya, 100 ribu dari sekitar 10 juta suporter Inter di seluruh dunia memiliki kebiasaan seperti bapak tadi, apa tidak runyam? Bahaya. Dosanya tujuh turunan jika seorang pembual tidak memahami estetika bualannya sendiri.

Sekian analisis komperhensif saya yang difasilitasi oleh Mojok Institute. Ingat, ini negara demokrasi. Jadi, jika Anda tidak sepakat dengan uraian saya di sini, cepatlah ubah penilaian itu.

Kembali kasih.

No more articles