Beberapa orang yang pernah saya tanya mengaku, kuliah di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) itu merupakan pilihan kedua lantaran mereka tidak diterima di kampus tetangganya: Universitas Gadjah Mada (UGM). Benarkah? Nanti dulu. Dilihat dari sekian aspek, memang harus diakui bahwa brand UNY belumlah sejajar dengan UGM. UNY itu apa, sih, cuma menghasilkan calon guru, tenaga pengajar, paling keren mentok ya sebagai pengambil kebijakan di Depdiknas. Dibandingkan dengan UGM yang sudah pernah memproduksi ragam hayati aktivis kiri-kanan-atas-bawah, penulis-penulis handal, motivator kawakan, hingga presiden, UNY tak lebih dari sekadar desas-desus. Jika kedua kampus ini adalah album musik, UNY barangkali hanya sampai pada level Unknown Pleasures milik Joy Division. Sementara UGM tentu saja adalah Sgt Peppers Lonely Hearts Club Band milik The Beatles, album yang dianggap Rolling Stone sebagai the most important rock & roll album ever made, an unsurpassed adventure in concept, sound, songwriting, cover art and studio technology by the greatest rock & roll group of all time.

Saya selalu melihat jurang antara UNY dan UGM melulu dari kacamata kelas sosial. Mahasiswa/i UGM, dalam benak saya, selalu tampak seperti anak-anak kompleks perumahan elit yang saban berangkat sekolah selalu sarapan dengan roti panggang isi telur ceplok dan irisan daging asap, meminum susu putih hangat, serta melengkapinya dengan sebuah apel merah segar. Sementara UNY, di mana saya sendiri adalah produk asli jebolan kampus tersebut setelah tujuh tahun kuliah, para mahasiswa/i-nya lebih mirip anak-anak kampung pinggiran yang sarapannya paling banter cuma nasi uduk campur semur jengkol tambah gorengan bakwan dua biji. Minumnya juga cuma air putih atau teh hangat tawar.

Disparitas kelas sosial ini akan kian tampak ketika Anda memperhatikan setiap detail fashion para mahasiswa/i masing-masing. UNY cenderung fundamental dan katrok, sedangkan UGM lebih liberal, dan, tentu saja, juga lebih modern. Lagi-lagi, inilah yang saya rasakan. Mazhab fashion UNY lebih didominasi kultur Arabian. Maka tak usah heran jika Anda menelusuri tiap fakultas di UNY, Anda akan banyak menemui gerombolan pemuda bercelana cingkrang, lengkap dengan perpaduan brewok hipster ala Raul Meireles dan jidat (di)hitam(-hitamkan) yang dipercaya sebagai salah satu syarat menuju surga, seliweran di mana-mana.

Tetapi, tenang saja, tidak ada bom di balik kemeja mereka. Saya pernah sangat berharap ada satu saja mahasiswa yang bergaya demikian datang ke kampus dengan mengendarai unta. Betapa monumentalnya bukan jika hal tersebut terjadi.

BACA JUGA:  Betapa Tidak Enaknya Jadi Mahasiswa Sastra Indonesia

Sayang, harapan saya tak pernah tercapai. Walau begitu, saya masih percaya suatu saat kelak pasti ada yang melakukannya. Sementara di UGM, mahzab fashion para peserta didiknya lebih variatif dan tidak terpaku hanya pada satu jenis saja. Di fakultas kedokteran, misalnya, Anda akan menemui pemandangan calon-calon dokter yang bergaya necis seperti Christian Grey, memakai kacamata berbentuk kotak sambil menenteng buku-buku tebal. Sementara para mahasiswinya, entah kebetulan atau tidak, cenderung berdandan layaknya Anastasia Steele, lawan tanding Grey di Fifty Shade of Grey.

Sebuah kontras akan Anda temui jika Anda melangkahkan kaki menuju Fakultas Ilmu Budaya dan Filsafat. Di sana tak pernah ada Grey dan Steele. Tetapi, jika Anda mencari pria model Ali Topan dan perempuan tipe Ine Febriyanti—cantik, cuek, cerdas—, maka  di kedua fakultas tersebutlah gudangnya. Tentu saja, pandangan saya yang cenderung overgeneralisasi ini merupakan suatu bentuk cacat logika yang, kalau tak silap, dikenal dengan istilah ‘non sequitur’: sebuah lompatan sembrono dari satu premis menuju kesimpulan yang pada hakikatnya tidak berkaitan dengan premis yang diajukan. Dengan kata lain, kesimpulan yang dibuat hanyalah berdasarkan asumsi, prasangka, atau klaim sepihak.

Nah, agar tak lagi terjebak pada kesesatan logika lainnya, maka saya akan mengajak Anda semua untuk menilai siapa-lebih-keren antara UNY dengan UGM, dilihat dari perspektif, ehem, lembaga pers mahasiswanya masing-masing: LPM Ekspresi (UNY) dan Balairung (UGM). Kendati tak pernah diakui secara terang-terangan oleh para pengawanya, kedua LPM ini memang sudah bersaing sejak zaman Ucok Homicide masih suka manggung bareng (almarhumah) Elly Kasim. Akan tetapi, menurut pandangan saya, justru karena persaingan inilah nama UNY bisa sejajar, atau malah melampaui UGM.

Persaingan keduanya bisa dilihat pertama-tama dari produk yang mereka hasilkan: Ekspresi dengan majalah dan bukunya, sementara Balairung dengan jurnal-jurnalnya. Lewat majalah dan bukunya, Ekspresi dengan pongah berani mengklaim bahwa merekalah yang terbaik secara teoritik. Sedangkan jurnal Balairung “hanya” berbobot sebatas pada jalur penelitian. Tidak lebih dan tidak kurang. Ekspresi juga merasa, secara kultur organisasi mereka lebih asyik, santai, dan penuh guyon ketimbang Balairung yang selalu merespons segala sesuatu dengan serius, bahkan ketika, misalnya, bermain futsal. Untuk hal ini, saya merasakan sendiri kebenarannya.

BACA JUGA:  Nostalgia di Kampus PNS

Pernah pada tahun 2011, Ekspresi dan Balairung sepakat bertanding futsal di sebuah lapangan sewaan yang lokasinya tak terlalu jauh dari kampus. Pertandingan dimulai selepas maghrib. Seperti biasa, para penggawa Ekspresi yang memang selo-selo datang lebih terlambat. Sebagian di antara mereka bahkan datang hanya dengan cekeran. Jangankan membawa sepatu, kaos kaki saja gantian. Di lapangan, rombongan anak Balairung, dengan perlengkapan bermereknya, sudah melakukan pemanasan. Ada yang cuma jogging biasa, ada yang latihan passing, ada pula yang berlatih shooting. Nyaris seluruh penggawa mereka menyapa kami dengan raut wajah datar dan senyum yang mirip Ali Moertopo.

Kami yang di Ekspresi tentu kaget melihat betapa serius mereka menganggap pertandingan ini. Terlebih, pasukan yang mereka bawa banyak sekali, sekitar 20-an orang. Sementara di pihak Ekspresi yang datang hanyalah sekitar 12-an orang. Itu pun hanya satu atau dua orang yang benar-benar paham bagaimana caranya bermain futsal, sisanya hanya tahu bagaimana cara jitu untuk kelelahan dalam waktu dua menit saja.

Melihat ketimpangan komposisi dan persiapan semacam itu, tentu Ekspresi kalah telak dari Balairung. Anehnya, kendati menang dengan skor yang begitu besar, yang justru lebih banyak tertawa adalah Ekspresi. Entah ini hanya perasaan saya saja atau memang di Balairung mereka memiliki cara tertawa yang telah diteliti sedemikian rupa agar berbeda dari orang kebanyakan, saya tak tahu.

Sejatinya antara Ekspresi dan Balairung sama-sama berada di garis yang sejajar. Baik intelektualitas maupun yang lain-lain, kedua kubu memiliki kekuatannya sendiri-sendiri. Akan tetapi, jika memang terpaksa harus memilih siapa yang terbaik di antara keduanya, tentu saya akan memilih Ekspresi. Bukan, pilihan ini tidak sesubjektif yang Anda kira lantaran saya hasil didikan sana. Persoalannya sederhana saja: Ekspresi memiliki kantor cabang di Jember yang bernama Tegalboto. Anda tidak tahu Tegalboto? Itu lho, lembaga pers Universitas Jember yang menelurkan makhluk macam Arman Dhani dan Nuran Wibisono Sang Bapak Airmata Nasional. Sementara Balairung, belum dan mungkin tak akan pernah memiliki kantor cabang di mana pun.

Nah, begitulah hikayat perbandingan UNY – UGM ditinjau dari perspektif fashion dan lembaga persnya masing-masing. Jika ada yang salah, limpahkan saja semua kepada Pemimpin Redaksi Mojok.co. Sebab beliaulah yang meloloskan naskah ini. Saya mah apa, cuma seonggok emas di antara lautan comberan.

No more articles