Dahulu saya mengira Agus Mulyadi hanya cerewet di media sosial. Sebuah perkiraan yang bukan hanya keliru, tetapi juga membuat saya seperti terkena tulah.

Agus memang cerewet. Tetapi kecerewetannya bukan jenis yang menyebalkan, hanya saja kerap bikin pekak telinga. Meski begitu, saya bersyukur perangai Agus tak ada bedanya ketika di dunia maya atau dunia nyata. Termasuk kelucuannya yang, bagi saya, nyaris selalu orisinil, menyegarkan, dan jarang membosankan.

Saya mengenal Agus belum terlalu lama, belum ada dua tahun. Mengetahui nama besarnya tentu sudah sejak lama, tetapi mengenalnya dengan dekat baru terhitung sejak ia resmi mendampingi saya mengelola situsweb ternama di Kazakhstan ini. Barulah kemudian saya tahu betapa ia punya tiga kebiasaan buruk yang selalu ingin membuat saya membakarnya hidup-hidup.

Apa saja?

Pertama: Kebiasaan Bernyanyi

Sejatinya ini bukan kebiasaan yang buruk jika suaramu semerdu Eddie Vedder atau minimal Ariel ‘Noah’ deh. Tapi jika pita suaramu hanya menghasilkan bebunyian yang lebih rombeng ketimbang kaleng biskuit Khong Guan, ada baiknya kamu pandai-pandai menahan diri untuk bersenandung.

Suara Agus memang tidak seburuk itu. Melainkan lebih buruk lagi. Dan naasnya, ia selalu bernyanyi keras-keras tanpa mengenal waktu. Termasuk jika ada tim lain yang tengah rapat atau mengerjakan sesuatu dengan serius, Agus tetap bernyanyi sekehendak hatinya. Kurang ajar betul memang.

Beberapa kali saya kebablasan memarahinya. Bahkan satu waktu saya ingin sekali melaporkan Agus ke Pak RT dengan tuduhan sering kumpul kebo dan gonta-ganti pasangan–satu kebiasaan Agus yang sedikit banyak ada benarnya.

Tapi manalah mungkin Pak RT percaya dengan laporan tersebut. Yang ada ia malah ketawa cekikikan setelah melihat perawakan si kampret itu.

Kendati sering mendampratnya, hobi Agus bernyanyi sepertinya sudah merupakan perkara genetik. Ia selalu bernyanyi, bernyanyi, dan bernyanyi. Kapanpun, di manapun, dalam situasi apapun. Ia seperti tak bisa menahannya. Dorongan bernyanyi itu seperti sudah terdesain sejak alam bawah sadar. Mengerikan betul.

Sebagai kakak pertama, saya pun akhirnya mengalah. Sambil diam-diam mendoakannya: semoga di neraka kelak ia dihukum menyanyikan lagu ‘Ganteng-Ganteg Swag’-nya Young Lex tanpa jeda.

Kedua: Berlama-lama di Kamar Mandi

Jika untuk urusan bernyanyi Agus cenderung tak tahu diri, pada kebiasaan yang satu ini ia ternyata lebih bisa bersikap selayaknya manusia beradab. Namun, tetap saja, siapa yang bisa menerima dengan wajar orang yang kerap menghabiskan waktu 15-30 menit tiap mandi?

BACA JUGA:  Manunggaling YZR-M1 dan Valentino Rossi di MotoGP

Ini serius dan Agus memang sadar betul jika kebiasaan itu sulit diterima manusia waras. Maka dari itu, tiap kami keluar kota untuk urusan pekerjaan dan berada di kamar hotel yang sama, Agus selalu memberi tahu saya jika ingin mandi. Secara tak langsung sebetulnya ia ingin bilang:

“Sana deh ngapain kek, coli dulu kek, gua mau mandi nih sejam.”

Pernah suatu waktu, saya gemas bukan main lalu membuka paksa pintu kamar mandi kantor saat Agus masih di dalam. Pintu itu rupanya tak terkunci. Agus pun segera teriak seperti penyamun yang digerebek Satpol PP saat tengah asyik esek-esek di hotel kelas tiga.

Untunglah ketika itu Agus tidak sedang bugil, berak, atau melakukan hal tak senonoh lainnya. Sebab jika iya, saya pasti akan segera merebahkan diri di atas rel kereta Lempuyangan demi menebus rasa menyesal.

Saya tak tahu sejak kapan kebiasaan biadab ini dilakoni Agus. Ia semestinya mulai menetapkan syarat khusus jika hendak mencari pasangan: orang yang dapat mengubah perilaku uncivilized-nya tersebut.

Ketiga: Menyalakan Alarm HP Setiap Hari dengan Volume Kencang Hanya untuk Dimatikan Kembali

Anda yang beradab pasti paham bahwa fungsi alarm adalah untuk memberi peringatan. Dan jika ada orang yang menyetel alarm di gawainya, maka itu berarti ia butuh terbangun pada waktu-waktu tertentu. Sementara Agus tidak. Ia memang selalu menyetel alarm dengan waktu yang sama, setiap hari, tetapi hanya untuk dimatikan kembali.

Itu artinya apa? Betul: Agus belum menjadi manusia beradab.

Cobalah Anda sesekali bepergian dengan Agus dan tidur sekamar dengannya. Alarm terkutuk di gawai keparatnya itu pasti bunyi dengan amat nyaring dan berulang-ulang. Rasanya seperti dipaksa mendengarkan suara orang Thailand yang sedang marah-marah: suara terburuk di alam semesta.

Jika kebiasaan nomor satu dan dua saya masih memahami kegunaannya, untuk kebiasaan ketiga ini, saya angkat tangan. Saya menyerah sepenuhnya.

Untuk apa seseorang menyalakan alarm jika ia terbangun hanya untuk mematikannya? Untuk apaaaaa??!! Terlebih, Agus tidak pernah mematikan alarm itu seutuhnya, ia hanya menunda sekian menit lalu kemudian bunyi kembali. Begitu terus, berulang-ulang, setiap hari.

Tentu saja saya sering kesal dengan kebiasaan ini. Pada mulanya saya sering membangunkannya. Mungkin ia ingin shalat subuh atau ada janji di hari itu. Baiklah. Oh, ternyata tidak. Agus sering bangun siang. Makin kesini, setiap alarm itu berbunyi, saya segera mematikan gawainya.

BACA JUGA:  Surat Curhat yang Tidak Dibalas oleh Agus Mulyadi

Demikianlah, tuan dan nyonya, Agus ‘The Lonewolf’ Mulyadi dengan tiga jenis kebiasaannya yang sukar dinalar.

Mungkin di belahan dunia lain atau di alam paralel sana ada orang yang memiliki hobi lebih aneh darinya. Siapa tahu ternyata ada orang yang gemar main adu mata tanpa kedip dengan ikan, misalnya. Atau ada yang suka memakan semut hidup-hidup, menghirup aroma upilnya sendiri, atau gemar menuntun motor berkilo-kilo meter hanya karena ingin belaka. Entahlah, tetapi saya tak peduli.

Sulit sekali memang menerima dengan dada lapang kebiasaan-kebiasaan Agus tersebut. Di beberapa malam tertentu, saya kerap menawarinya dengan lembut apakah ia bersedia jika saya daftarkan ke sekolah kepribadian. Agus, seperti biasa, hanya cengengesan. Sungguh menggemaskan.

Duh, Gus, seandainya kita ini berada dalam dunia Mortal Kombat, pasti saya sudah memberikanmu ajian animality. Lain waktu saya berencana akan membius Agus lalu membawanya ke bengkel ketok magic.

Apa boleh buat, memang begitulah dirinya. Semenyebalkan apapun Agus, saya kira, ia akan selalu dirindukan oleh siapapun yang mengenalnya. Agus merupakan tipe teman baik seperti dalam ucapan Graucho Marx: “When you’re in jail, a good friend will be trying to bail you out. A best friend will be in the cell next to you saying, ‘Damn, that was fun’.”

Agus mungkin akan menertawaimu ketika kamu menjatuhkan motor di parkiran atau meledekmu sepuasnya saat kamu ketahuan mendengar lagu norak. Agus bukan jenis teman yang akan mengelus punggung dan menyabarkanmu dengan petuah moralis basa-basi ketika kamu dirundung pilu.

Namun justru karena itu kamu akan menganggap Agus sebagai teman spesial yang selalu kamu ingat hingga menjelang akhir hayat.

Menjelang berakhirnya masa pengabdian saya di Mojok, saya bahagia dapat menuliskan catatan ini untuk Agus. Terlebih, menurut telik sandi kepercayaan dan bukti-bukti kuat yang saya lihat, Agus baru saja resmi jadian dengan perempuan berinisial TR dan sempat bulan madu ke… ah sudahlah, biar mereka sendiri yang mengabarkan. Tak amboi jika saya memberitahu duluan.

Semoga para sidang pembaca bersedia memberi ucapan ‘selamat jadian’ ke Agus Mulyadi.

Selamat jadian, Agus! Jangan jadi serigala lagi, ya!

Komentar
Add Friend
No more articles