Tak ada antidot paling ampuh untuk melawan modernitas selain bernostalgia. Hanya dengan laku nostalgik Anda bisa menjaga kewarasan jiwa dari zaman yang terus melaju. Pun demikian, adalah salah jika mengartikan nostalgia hanya sebagai laku bersedu-sedan. Bagi beberapa orang, sinisme adalah usaha paling suci dalam merawat kenangan.

Inilah yang tengah saya lakukan sekarang: merawat kenangan di Jogja dengan sinisme. Sinis dengan modernisasi yang melaju tanpa jeda di kota ini, sinis dengan para pendatang baru yang bermunculan.

Seolah-olah saya, yang sudah menetap di Jogja selama delapan tahun, lebih merasa pantas untuk hidup di sini dibanding mereka. Seolah-olah kota ini hanya dibatasi untuk mereka yang datang pada tahun 2006 seperti saya atau sebelumnya. Sementara yang datang setelah itu harus menyingkir.

Sepanjang delapan tahun ini, saya memang memiliki stok persediaan sinisme untuk Jogja. Tentang trotoar Malioboro yang kini menjadi museumnya para alay. Tentang kebiasaan ngopi yang tak lagi menyoal obrolan antar muka, tapi lebih kepada perkara aktualisasi diri.

Tentang lokalisasi Pasar Kembang yang kini jadi bahan olok-olok. Anda belum tahu saja berapa ribu kali tempat itu menyelematkan syahwat mahasiswa berkantung cekak.

Delapan tahun lalu, orang-orang di kota ini bisa menikmati senja selayaknya rombongan paderi yang tengah meditasi. Jalanan begitu sepi. Rombongan pelancong norak masih bisa dihitung jumlahnya dengan jari. Siapa saja bisa duduk di bangku-bangku beton di Vredeburg dengan keheningan yang intim. Anda tak perlu iri ketika melihat fragmen romantis di film Before Sunset, sebab pada tahun 2006, di Benteng Vredeburg, Anda bisa menjadi pemeran utamanya.

Jika Tuhan konon membuat Bandung ketika tengah tersenyum, maka yakinlah, Dia pasti membangun Jogja dengan hati yang berbahagia.

Delapan tahun lalu pula, menyaksikan warna kesumba dari srengenge yang mencuat dari arah barat Parangtritis adalah melankoli yang hanya bisa dihayati sendiri-sendiri. Hari ini, atas nama estetika dunia maya, senja tak ubahnya seperti mahluk aneh yang harus dipotret dan lantas dipertontonkan orang-orang dalam sebuah kandang bernama Instagram.

Dulu orang mengenal Jogja sebagai kota yang tepat untuk berdamai dengan kehilangan. Di kota ini banyak orang diam-diam membunuh masa lalu dengan kenangan baru yang dipahat di setiap sudut jalan. Dan Jogja seolah memang ditakdirkan untuk mengobati pesakitan yang demikian. Ia akan bekerja dengan sendirinya, membantu mengubur dendam yang berkarat.

Tak percaya? Coba tanyakan kepada begawan musik legendaris Nuran Wibisono, tentang bagaimana ia menangis di atas motor sepanjang jalan Solo selama satu hari penuh demi melenyapkan pedih cinta. Kelak, setelah mendengar penuturannya langsung, Anda akan lebih bisa memahami betapa mujarab Jogja menyembuhkan patah hati.

Dulu, ya, masih delapan tahun yang lalu, Anda bisa membayar es teh di angkringan dengan harga 700 perak. Tak jarang pula yang masih mematok harga 500. Dengan menambah nasi kucing dan beberapa gorengan, tak sampai 2000 perak, perut Anda bisa terisi penuh. Tentu saja hal ini tak berlaku bagi struktur perut Arman Dhani-esque. Begitu murahnya harga tersebut, sampai-sampai para pelancong menganggap angkringan sebagai salah satu mitologi Jogja.

Tetapi hari ini, Jogja hanyalah ladang bagi para investor pemburu rente. Pembangunan hotel di sana-sini, deretan kafe dibangun yang entah apa pula tujuannya, yang kemudian berujung pada kemacetan yang menggurita, perseteruan antar geng di mana-mana. Yang paling menganggu tentu saja ketika ritual keagamaan menjadi bahan jualan para pebisnis turisme.

Hingga derajat tertentu, (pariwisata) Jogja sudah terlampau memuakkan.

Kita bisa saja memperdebatkan lebih panjang program pembangunan di Yogya, penggusuran di sana-sini, atau kerinduan diam-diam akan militerisme. Tapi tak usahlah, percuma. Persoalan klise semacam ini memang menjadi diskusi menarik di permukaan, tetapi hanya akan berakhir menjadi lelucon. Tak lebih.

Saya pribadi mengakui adalah keanehan tersendiri jika seorang pendatang seperti saya bersikap  chauvinistik seperti ini. Akan tetapi, jika diperkenankan memberi alasan, barangkali seperti inilah cara nostalgia bekerja dalam ranah sinisme: ia ditatah oleh benci, ditujukan untuk rindu.

Dan bukankah Jogja memang begitu? Ia adalah rindu, ia adalah benci. Diam-diam, kita jatuh cinta kepadanya.

  • Oky Prista Viola

    Bagus tulisanmu…

  • Yenni

    Sebagai anak yang hampir sepuluh tahun lalu mengenal Jogja, saya sangat menikmati tulisan ini. Betapa Jogja sudah berubah, saya merasakannya juga. Makin banyak warung, makin gaduh. Namun, masih selalu saya rindukan, dan cintai mungkin. Terima kasih atas tulisannya.

  • rifqi

    Saya sedikit lebih lama tinggal di jogja, sudah 13 tahun lamanya saya tinggal di jogja, sampe sekarang saya masih sering berfikir bahwa saya saja yang selama ini tinggal di jogja sering merasa “pangling” dengan jogja yang sekarang, apalagi orang2 yang pernah tinggal disini dan melihat kembali jogja yang sekarang?. Jogja yang sederhana dan bersahaja sedikit demi sedikit berubah..

  • Selameth_Sastro

    bener,rumngsaku yo idem..

  • tayah lurun

    Pada setiap jaman jojga selalu melahirkan generasi2 seperti penulis;
    Jogjaku 10 tahun lalu, jogjaku 30 tahun lalu jogjaku 50 tahun lalu
    Jogja memang berhati nyah nyoh buat yang pernah tinggal

  • Icha Hadiqah

    Setuju! saya org Jogja asli.. ngikuti dan ngerasain banget perubahan Jogja dari taun ke taun :”)
    sekarang Jogja macet parah, mobil dengan satu penumpang bertebaran di sepanjang ruas jalan, mall makin menjamur, pohon makin berkurang, di beberapa tempat juga mulai banjir.. makin nJakarta aja.. sedih 😐

    • Ian Pratama

      luwih nJakartani timbang nJogjani mbak, sedih juga saya.

  • galang

    saya kira cuma saya yang merasakannya…ternyata buanyak to..huaye…..

  • Edo Wilfridus

    setuju saya. sejak SMP sampai kuliah kurang lebih 10 tahun lebih tinggal di Jogja, perubahan yg kali ini bikin saya heran. tapi mau marah juga gak bisa. jadinya saya cuma bisa berkoar2, share sana sini tentang jogja ora didol. tapi kalo penguasa maunya ngedol gimana? kita yang cuma rakyat ini ya cuma bisa koar2 aja. skrg udah banyak mall, hotel, pdhl dulu mall cuma galeria, malioboro mall, sama amplas aja gak ada yang protes. semoga tetap nyaman aja buat Jogja, kalo udah gak nyaman ya dinyaman2in. hehe..

  • dads prast

    Setiap jengkal tanah di jogja menyimpan sejuta kenangan…. #jogjaoradidol

No more articles