Tadi malam, ketika Persib Bandung akhirnya keluar sebagai juara Indonesia Super League, setelah mengalahkan Persipura, label rekaman Grimloc di Bandung langsung mengirim mention kepada almarhum Ayi Beutik, Sang Panglima Viking: “Mang @AyiBeutik_Asli, Persib juara mang!” 

Terlalu sulit untuk tidak sentimentil ketika membaca twit itu. Air mata saya nyaris tumpah saat membacanya. Ayi Beutik adalah salah satu sosok langka dalam persepakbolaan negeri ini. Bagi Persib, ia bukan sekadar legenda, ia adalah epos.

Nyaris semua cerita hidup Ayi adalah tentang Persib. Ketika ia mendirikan Viking Persib Club pada tahun 1993, Ayi seolah sudah menuliskan takdirnya sendiri untuk mati demi Persib. Bukan sesuatu yang berlebihan, sebab pada akhir hayatnya 9 Agustus 2014 lalu, Ayi masih memegang teguh apa yang ia yakini itu.

Menjadi suporter klub lokal di negeri yang persepakbolaannya begitu despotik seperti Indonesia sejatinya adalah perlawanan terhadap nihilisme. Anda bukan hanya butuh pengorbanan yang utuh, tetapi juga mental kokoh untuk memahami situasi di mana klub yang Anda dukung bisa jadi adalah korban mafia perjudian atau menjadi alat politik. Atau malah lebih parah: klub Anda sendiri yang merupakan pelakunya. Ayi paham betul hal itu. Tetapi ia tak sudi mengendurkan hasratnya.

Ayi Beutik lantas memilih mantap untuk tidak pernah sudi berkompromi dengan politik. Ia akan dengan mudah tinggi hati ketika Viking diseret ke dalam pusaran politik praktis. Baginya, politik dan politisi adalah daging busuk yang layaknya dibuang ke tempat sampah. Kompromi dengan mereka hanyalah membiarkan diri mati pelan-pelan.

Sikap anti komprominya bisa jadi tak selamanya tepat. Misalnya ketika ia dengan tegas menyebut bahwa permusuhan antara Viking dengan The Jak harus terus dipelihara, justru di saat resolusi perdamaian antar kedua kelompok suporter itu tengah dirancang. Ia bahkan dengan enteng menolak undangan Sutiyoso ke Jakarta, Gubernur DKI kala itu, untuk membicarakan resolusi.

BACA JUGA:  Bandung yang Mencekam

Alasan yang dikatakan Ayi pun cenderung “sepele”: “Sepak bola memang seperti itu, biarkan saja.”

Ayi memang dilahirkan sebagai manusia merdeka. Ia bukan pelacur intelektual yang baru akan diam jika disumpal fulus oleh penguasa. Misi kehidupan Ayi seolah hanya untuk Persib Bandung. Bahkan kedua anaknya pun diberi nama “Jayalah Persibku” dan “Usap Perning” (sebutan untuk Persib di tahun 80-an).

Tidak banyak orang “gila” seperti Ayi dalam sejarah sepak bola.

Bagi Ayi, sepak bola memang bukan urusan materi. Sejak awal, ia mempersetankan hal itu dan lebih memilih untuk memanjat pagar tribun setiap Persib bermain, bernyanyi kesetanan, atau berkelahi dengan suporter lawan. “Kalau tak pakai hati, tidak akan lama (mendukung klub). Apalagi kalau sudah menghitung untung-rugi, dukungan tak murni lagi,” katanya.

Anda bisa saja menudingnya sebagai suporter fanatik yang sudah menjerumuskan banyak anak muda Bandung ke dalam kedegilan yang sama dengannya. Tapi apa yang dilakukan Ayi Beutik hanyalah ketulusan otentik. Membicarakan Ayi Beutik adalah perkara mengaburkan batasan antara cinta buta dan fanatisme, kedegilan dan kemurnian, moralitas dan iman.

Rasanya tidak berlebihan jika menyebut Ayi Beutik adalah representasi nyata dari apa yang dikatakan Bill Shankly: “Someone said to me ‘To you football is a matter of life or death!’ and I said ‘Listen, it’s more important than that’.

Sepak bola memang bukan sekadar urusan hidup dan mati baginya, tetapi lebih dari itu: sepak bola adalah harga diri.

Saya tak mengerti bagaimana harus memungkasi tulisan ini. Pikiran saya hanya berkelana jauh tak tentu arah, membayangkan wajah Mang Ayi—yang tak pernah sekalipun saya lihat langsung itu—tengah tersenyum sambil menyeka air matanya, atau mungkin malah jejingkrakan bersama rombongan malaikat di akhirat—yang ikut menyanyikan hymne Persib Bandung. Saya tak tahu. Tak pernah tahu.

BACA JUGA:  Suara Ghaib yang Cereweti Pelanggar Lalu Lintas

Yang mungkin saya tahu, dan semoga ini tidak klise: dalam setiap sejarah Persib, akan selalu ada nama Ayi Beutik. Selamat juara, Mang Ayi! Selamat, Panglima!

No more articles