Mari pikirkan sejenak: apa yang salah dengan foto payudara Pamela Safitri?

Memang mudah untuk menyeret ‘Duo Srigala’ ke dalam pusaran kontroversi. Dua penyanyi perempuan, Pamela dan Ovi Sovianti, dengan payudara asli yang kelewat besar ukurannya, pandai bergoyang serta lihai menggoda, adalah sajian empuk bagi sekian jago selangkangan dan para moralis di negeri hipokrit ini.

Para jago selangkangan itu, misalnya, akan dengan mudah mendakwa Pamela sebagai biang kerok yang menyebabkan birahi mereka mau muncrat. Sementara para moralis itu, aduh, tak usah ditanya lagi. Merekalah alasan utama mengapa hipokrisi di negeri ini tak berkurang dosisnya.

Tapi mari kita pikirkan sekali lagi: apa yang salah dengan foto payudara Pamela Safitri sebenarnya? Ada bagian tubuh yang diumbar tak senonoh, norma sosial yang ditampar, ruang publik yang terancam, atau bagaimana? Ketidakpantasan seperti apa sejatinya yang muncul dari foto payudara?

34 tahun lalu, seorang fotografer legendaris berkebangsaan Jerman-Australia, Helmut Newton, diminta majalah Vogue untuk membuat foto serial tentang tubuh dan busana. Newton menyanggupinya dengan ide pemotretan yang tak terduga: menyandingkan foto model berbusana dan tidak berbusana.

Pertama-tama, Newton memotret sejumlah model yang mengenakan busana desainer ternama dalam posisi tertentu. Lalu di sesi kedua, ia mengulangi proses pemotretan dengan perempuan yang sama, ekspresi muka yang serupa, dalam tata cahaya yang persis, dan gestur tubuh yang juga mirip. Hanya saja, pada foto kedua, seluruh modelnya telanjang.

Salah satu pesan yang bisa ditangkap dari foto Newton yang berjudul Naked and Dressed itu adalah, bahwa ternyata, dengan atau tanpa busana, manusia memiliki esensi yang sama. Newton seolah-olah hendak berkata seandainya dulu Adam dan Hawa tak memakan buah keabadian, mungkin mereka tak perlu merasakan malu dan menutup aurat dengan dedaunan. Dan jika benar itu terjadi, fungsi pakaian pun jadi tunggal belaka: sebagai alat untuk bertahan hidup—melindungi tubuh dari terpaan udara ekstrem atau gangguan alam lainnya.

BACA JUGA:  Pamela Safitri, Potret Kartini Masa Kini

Foto-foto Pamela, Anda tahu, tidaklah memiliki filosofi semendalam Naked and Dressed. Sejauh yang tampak, foto payudara Pamela diambil dengan spontan, tanpa persiapan matang, apalagi gagasan yang brilian. Jika pun ada kesan yang didapat dari gambar dada Pamela, bagi saya hanyalah sesuatu yang banal.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, banal berarti kasar (tidak elok); biasa sekali. Dan bukankah foto Pamela memang terlihat buruk?

Oleh karenanya, adalah lelucon tak lucu jika menganggap foto payudara besar berputing hitam lebar milik Pamela dapat mengganggu stabilitas moral bangsa. Sebaliknya, foto itu sendiri justru komikal. Tak ada yang erotis dari foto payudara berbentuk buruk, terlebih jika dipotret menggunakan kamera beresolusi rendah. Alih-alih merangsang libido, foto itu justru menggelikan.

Repotnya, negeri ini tengah berada di puncak banalitas: kondisi pendangkalan di mana berbagai hal yang remeh-temeh, bernilai rendah, dan sama sekali tidak penting, justru menjadi bagian esensial dari sebuah wacana yang berkembang dan terus-menerus dieksploitasi. Itulah kenapa, misalnya, berita seorang seorang menteri yang ikut mengantre di sebuah pusat perbelanjaan menjadi lebih penting bagi Anda ketimbang aksi sewenang-wenang sebuah korporasi yang mendirikan pabrik semen.

Kembali ke foto Pamela tadi. Setelah capek sok serius, ada baiknya kita bermain-main dan membayangkan hal lain. Bayangkan jika ternyata Pamela sengaja mengunggah foto payudaranya sebagai upaya perlawanan (erotik) terhadap kesewenang-wenangan moral mayoritas yang kian hari kian konyol di negeri ini.

Bagaimana jika sebenarnya Pamela merupakan superhero dari antah berantah, dengan pusat kekuatan yang terletak di kedua payudaranya, dan hendak menyelamatkan negeri ini dari labirin hipokrisi tak berujung? Bukankah keren, ada superhero perempuan berpayudara besar yang dapat mengeluarkan sinar laser dari kedua putingnya?

BACA JUGA:  Al-Koruptor ar-Rajim

Akan tetapi, tak ada gading yang tak retak. Tak ada superhero yang tak punya kelemahan. Superman takut krypronite, Samson akan lemah jika rambutnya dipotong, Wolverine akan kabur begitu melihat magnet. Bahkan seorang Doctor Manhattan, yang kekuatannya nyaris setara Tuhan karena dapat menghentikan waktu dan berjalan di atas matahari, juga memiliki ketakutan aneh: takut terhadap kekuatannya sendiri.

Nah, kira-kira, apa yang akan membuat takut Pamela Safitri Sang Superhero Payudara kita?

Oh, iya: SENSOR!

No more articles