Ketika Nadiem Makarim menyebut bahwa GoJek buatannya merupakan “karya anak bangsa”, dan karenanya “pasti akan didukung” masyarakat, saya langsung teringat jargon Warkop DKI yang legendaris itu: “Tertawalah sebelum tertawa itu dilarang!”

Setelah dipopulerkan kembali oleh salah seorang komedian tak lucu hingga pentolan band punk rock yang benci pemerintah tapi ikut Pemilu, nasionalisme memang terbukti manjur sebagai bumbu untuk membuat dagangan laris manis tanjung kimpul. Anda boleh berdagang apa saja, beri sedikit sentuhan nasionalisme dengan corak modern dan trendi, niscaya akan ada banyak orang yang tertarik.

Apa yang kita lihat dari Nadiem adalah contoh terbaik dari pola tadi. Setelah mendapat kompetitor, Grab Bike, ia langsung membaiat diri sebagai “anak bangsa” yang berhasrat akan memajukan bangsa. Luar biasa, saya jadi kepingin minum air cucian kaki bliyo biar bisa ketularan aura kepahlawanannya.

Penetrasi yang digelar Nadiem melalui Go-Jek, dan tentu juga Grab Bike sebagai pesaingnya, memang terhitung sensasional. Dalam sekejap mereka berhasil meyakinkan publik, terutama warga Jakarta, betapa mereka menjadi jawaban atas buruknya layanan transportasi massal yang dibuat pemerintah.

Dan dari penetrasi itu pula, kita bisa memetik sebuah pelajaran sederhana dalam mengukur intelegensia suatu masyarakat. Salah satunya adalah dengan melihat fakta betapa bebalnya warga Jakarta, karena lebih memilih berisik menghebohkan pelayanan swasta ketimbang “menyerang” pemerintah yang selama bertahun-tahun gagal menyediakan sarana transportasi massal yang layak.

Jakarta dan kehebohan memang mirip borok (di mukamu) dan lalat: selalu intim dan saling melengkapi. Seolah-olah tanpa kehebohan kota ini mati. Mungkin karena kecenderungan itu pula, hal seremeh apapun di Jakarta bisa dianggap amat penting—sementara persoalan yang substansial bisa lenyap tak berbekas dari peredaran.

Menjadi pusat segalanya dari negara “fasis” bernama Indonesia, dengan sokongan fasilitas dan informasi yang berlimpah, toh tidak membuat (warga) Jakarta cukup cakap untuk memahami isu-isu primernya sendiri. Apapun isu yang populer, puluhan juta manusia di sana akan ikut nimbrung—tak peduli apa manfaatnya bagi kelangsungan hidup mereka masing-masing.

Mari kita mulai bertanya: Apa poin pentingnya meributkan Gojek versus Grab Bike, padahal commuter line masih suka ngaret, busway masih banyak yang mendadak terbakar di jalan, hingga monorail yang hanya jadi isu jualan tiap menjelang pergantian gubernur?

BACA JUGA:  Driver Gojek dan Intrik Japri

Dalam skala tertentu, keributan itu tak ubahnya rombongan alay memperdebatkan lebih enak mana nongkrong di Sevel atau CK, sementara mereka tak tahu bahwa harga cabai merah keriting naik hingga Rp 56-60 ribu/kg. Menyedihkan sekali.

Ada, sih, beberapa orang yang melihatnya sebagai isu serius yang tidak sesederhana konflik kepentingan bisnis. Mereka memunculkan perspektif lain, misalnya, bahwa struktur “usaha rakyat” seperti pangkalan ojek konvensional ternyata selama ini begitu militeristik dan premanistis yang lengkap dengan kantung komandonya masing-masing di berbagai lokasi. Oleh karenanya, maka bukan sesuatu yang mengejutkan jika banyak pelaku ojek pangkalan resisten terhadap Gojek dan Grab Bike.

Meski tampak “segar”, perspektif tersebut sebenarnya sudah rahasia umum. Maksud saya begini. Lahan parkir yang ada di tiap kota di seluruh Indonesia, sebagai contoh, hampir semua orang tahu bahwa semuanya dikuasai oleh jagoan-jagoan yang “dihormati” di sana-sini. Tentu masih ada ratusan contoh bidang “usaha” lain yang punya konsep serupa.

Oke, mari katakan bahwa fakta pangkalan ojek benar-benar baru bagi masyarakat. Substansinya toh tetap sama: semua terjadi karena kegagapan pemerintah menciptakan kondisi sosial yang memadai bagi semua orang. Dalam kasus pangkalan tadi, berjamurnya tukang ojek konvensional lantaran tak tersedianya lapangan kerja, penggusuran lahan si miskin yang dilakukan si kaya, dan sejenisnya. Persoalannya selalu seperti itu karena memang belum ada perubahan yang signifikan dan serius.

Lalu muncullah Gojek, sebuah konsep inovatif yang (konon) bertujuan membantu memecahkan persoalan transportasi Jakarta sekaligus memperluas lapangan kerja. Dengan citra modern, ramah teknologi, ongkos murah, dan tendensi nasionalisme yang didesain hingga tampak adiluhung, maka mudah saja khalayak norak terkagum-kagum. Terlebih, pemerintah dan media pun turut aktif memuji.

Tentu tak sekali dua Anda menemukan berita pengendara Gojek yang mendapat penghasilan sekian kali lipat setelah kerja di perusahaan tersebut. Atau ini: serbuan puja-puji dari para pejabat maupun presiden bahwa Gojek karya anak bangsa yang begitu sensasional dan karenanya patut didukung.

BACA JUGA:  Nabi Sulaiman untuk Jabar 1 demi Perdamaian Ojek Konvensional dan Online

Hueeeekkkk… Dongeng motivasi dan seruan nasionalisme memang oplosan paling tepat untuk meninabobokan masyarakat pandir yang hanya mau tahu beres dan cenderung individualis. Apalagi jika semua itu ditampilkan dengan jurus-jurus pencitraan “kerakyatan”, sempurna sudah untuk membuat jutaan manusia mengidap amnesia sejarah.

Gojek dan Grab Bike hanyalah sebuah inovasi, dan cukup sebatas itu. Dalam ruang pasar bebas seperti hari ini, tentu kita tak dapat melarang kemunculannya. Bahwa mereka menawarkan alternatif transportasi bagi warga, memang begitulah jualannya dan tak ada yang salah. Akan tetapi, menjadikannya sebagai sebuah topik esensial untuk diributkan sejatinya hanyalah kesia-siaan belaka.

Persoalan utama yang semestinya diributkan, diramai hashtag-nya, dibikinkan petisinya, adalah pertanyaan kapan pemerintah menyediakan sarana transportasi publik yang manusiawi, tepat waktu, aman, nyaman, dan bukan tampak apik hanya dari kulit luar saja. Sebab pengadaan fasilitas demikian adalah hak Anda sekalian setelah membayar pajak kepada negara yang didapat dari hasil kerja rodi tiap bulan.

Jika kesadaran semacam itu tak pernah muncul, percayalah, setelah Gojek dan Grab Bike tak lagi populer, suatu hari nanti bakal ada seorang pengusaha yang membuat bisnis transportasi baru yang lebih bombastis dan sensasional dan menggoda. Namanya: Grab Odong-Odong.

Didesain dengan warna merah putih, Grab Odong-Odong akan diluncurkan tepat pada tanggal 17 Agustus dengan membawa gerombolan pejabat yang berdadah-dadah kepada rakyat sambil memasang wajah semringah, seperti pawai menggelikan yang dilakukan Partai Beringin di masa Orde Baru.

Dan media pun akan memuat judul berita seragam: “Ini Dia Moda Transportasi Karya Anak Bangsa Sesungguhnya!”

Kawanku, jika itu yang memang Anda harapkan, mari bersulang martini untuk kemudian mengokang Kalashnikov di bawah tiang bendera lalu menembakannya ke kepala masing-masing. Saya kira, nasionalisme yang semacam itu jauh lebih puitis ketimbang bualan motivasi yang memenuhi hari-hari kita belakangan ini.

No more articles