Ketika tempo hari ada kasus seorang perokok meninju petugas keamanan stasiun kereta api, nyaris semua kaum antirokok mendakwa bahwa mayoritas perokok memang seperti itu tabiatnya. Entah bagaimana mengatakannya tanpa terjebak dalam sinisme, tetapi sikap tersebut rasanya bebal sekali.

Salah satu ciri kebebalan adalah kerap melakukan hal-hal lebay. Oh, sebelumnya maaf jika lebay dianggap sebagai istilah yang kurang menggugah intelektualitas. Mari kita ganti menjadi: overgeneralisasi. Masih terasa rendahan? Hm, bagaimana dengan Fallacy of Dramatic Instance? Modyar, Koen.

Overgeneralisasi adalah salah satu bentuk cacat berpikir yang mencoba untuk membuat simpulan berdasarkan data-data parsial. Sikap seperti ini biasanya terjadi jika Anda berasumsi bahwa entitas-entitas yang Anda dakwa identik satu sama lain dan tidak mungkin berubah. Padahal, jika Anda orang beriman, Anda semestinya paham bahwa semua ciptaan Tuhan berbeda satu sama lain. Tak pernah ada yang sama, kecuali Nuran Wibisono dan air mata.

Lagi pula, perubahan adalah satu-satunya hal yang statis dalam kehidupan. Meski memang, sebagaimana yang disebut salah seorang pakar inguistik, Alfred Korzybski, kebanyakan orang kelewat sering tidak melihat perubahan terhadap sesuatu. Terlebih jika asumsi sudah tersebar dalam skala massif, maka yang muncul ke permukaan hanyalah paradigma dangkal an sich.

Sikap overgeneralisasi bersumber dari kurangnya wawasan mengenai pluralitas kultur yang ada. Akibatnya, kultur yang berbeda nantinya akan dipandang dengan was-was dan hanya terdapat pemahaman tunggal (monolitik) untuk memaknainya. Etnosentrisme lahir dari cara pandang seperti ini.

Mari kita tinggalkan bahasan etnosentrisme dan beralih kembali ke cara pandang overgeneralisasi terhadap perokok.

Benarkah setiap perokok suka nampolin orang, kasar, arogan, galak, dan susah diatur? Tentu saja salah. Cerita Agus Salim (doi perokok berat, Men!) yang menggoda Pangeran Phillips dengan kreteknya bisa menjadi salah satu jawaban untuk merespons sesat pikir tersebut.

BACA JUGA:  Teori Netizen: Aidit Tidak Merokok di Rumah karena Istrinya Dokter

Pada tahun 1953, Agus Salim diundang ke acara penobatan Ratu Elizabeth II sebagai Ratu Inggris di Istana Buckingham. Ia datang mewakili Soekarno. Di sana, Agus Salim didampingi R. Brash, yang kelak menjadi duta besar Inggris untuk Indonesia periode 1982-1984.

Sebelum acara dimulai di Westminster Abbey, Brash sempat meminta Agus Salim untuk jangan merokok nantinya. Sebagaimana yang dilansir Merdeka.com, Brash mengatakan, “Karena beliau merokok kretek secara bersambung-sambung, saya minta ia berjanji bahwa beliau boleh merokok sepuas hati selama di mobil, namun harus berhenti merokok sebelum memasuki gedung Westminster Abbey itu.”

Agus Salim pun mematuhi permintaan tersebut. Namun ketika tiba di Istana Buckingham, ternyata aturan tanpa rokok itu tak ada lagi. Siapa saja bebas merokok. Maka merokoklah Agus Salim klepas-klepus ke mana saja. Hingga kemudian ia bersemuka dengan Pangeran Phillips dan mendapat kesan si tuan rumah agak canggung menghadapi para tamu.

Sebagaimana yang dikatakan Jojet, anak ketiga Agus Salim, dalam buku Seratus Tahun Haji Agus Salim, Si Paatje tersebut lalu menggoda Pangeran Phillips dengan cara memain-nainkan asap kretek di depan hidungnya. Pangeran Phillips tersenyum, meski tetap kaku. Dengan gayanya yang memang agak selengekan, Agus Salim menggoda Pangeran Phillips,

“Anda kenal aroma ini, kan?”

Belum sempat si Pangeran itu menjawab, Agus Salim langsung menimpali omongannya sendiri, “Inilah aroma yang membuat bangsa Anda rela mengarungi lautan demi datang ke negeri saya pada 300 atau 400 tahun yang lalu.”

Pangeran Phillips tertawa lebar. Ia pun jadi lebih rileks menghadapi tamu-tamu undangan.

Kini bayangkan seumpama Agus Salim seorang yang kasar, arogan, brutal, suka nampolin orang, dan kurang ajar seperti yang dituduhkan para pelaku overgeneralisasi antirokok, momen apa yang akan terjadi? Mungkin seperti ini:

BACA JUGA:  Saiful Jamil Harus Jadi Ketua MUI

Syahdan, akibat kretek yang dihisapnya, Agus Salim mendadak merasa wajah Pangeran Phillips terlihat sangat menyebalkan di matanya. Ia pun lantas menghampiri Pangeran Phillips yang tengah asyik berbincang dengan tamu lain di salah satu sudut ruangan. Dengan emosi yang meletup-letup, dan amarah yang mendidih, Agus Salim langsung berkata,

“Muke lu kagak enak diliat beud, ‘Nyet. Sinilah gua sundutin dulu!”

Tanpa ampun, Agus Salim langsung menyunduti setiap ruas wajah Pangeran Phillips. Keributan terjadi. Acara penobatan kacau-balau. Tak lama kemudian, Paatje si biang keonaran langsung diseret keluar oleh petugas keamanan Istana Buckingham. Ia dihajar di jalanan. Keesokan harinya, Agus Salim sudah berada di penjara. Beberapa minggu setelahnya, ia dihukum mati dan Inggris lantas berencana menyerang Indonesia sepekan setelah eksekusi dilaksanakan.

Bagusnya, semua itu hanyalah fiksi. Agus Salim, meski telah menghisap ribuan kretek sepanjang hidupnya, tak pernah sekalipun menyundut wajah orang lantaran merasa wajah si orang yang dilihatnya menyebalkan. Yang justru sudah lazim diketahui adalah, Agus Salim merupakan seorang diplomat ulung sekaligus pejuang cerdas yang menguasai sembilan bahasa.

Anda pasti akan bilang, kecerdasan tersebut bukan karena rokok. Oh tentu saja tidak. Akan tetapi, jika saya bilang bahwa rokok kerap menemani beliau dalam perjuangannya, apakah Anda percaya? Tentu juga tidak. Karena apa? Karena Anda lebay, gemar berprasangka, bangga telah melakukan overgeneralisasi, dan begitu senang menstigmatisasi siapa saja yang berbeda haluan dengan Anda.

Saya jadi ingat kata-kata bijak dari negeri antah berantah: jika kebodohan telah melewati batasannya, maafkan saja. Saya kira, memaafkan para lebay ini patut dicoba.

  • Saka Utara

    Ahh.. Tulisan yang lebay! *macak anti-rokok*

  • Dominico Zekhonya

    waaaa, pangeran siahaan lebay ya? waaa

  • qk

    tulisan yang lebay dengan perumpamaan dan analogi yang lebay disertai kisah imaginer yang super lebay…

  • disqus_yf9Ml4Jj0J

    Semoga Agus Salim bukan semacam overgeneralisasi. He he

  • uamirdejavu

    Overgeneralisasi
    adalah salah satu bentuk cacat berpikir yang mencoba untuk membuat simpulan
    berdasarkan data-data parsial…(lumayan…dapet istilah baru) makasih ya om

  • naff

    kalo kata temen saya si anon perokok itu ada 2 macam
    1. perokok yang bodoh
    2. perokok yang tidak pintar

  • Yusfi

    Dongeng yg Lebay

  • Muhammad Bagus

    haha.. niatnya membela perokok tapi..
    asudahlah.. kasian sekali kamu nak.. :3

  • Febriansyah Eka Maulana

    si Agus Salim nyimeng juga ga

  • Hamim Djazuli

    mantanku harus baca ini..agar dia menyasali perbuatannya yg tlh memtuskan saya gegara rokok.hahaha

    • Muhammad Rivana

      pacar kamu mutusin kamu bukan karna merokok, tapi cari kambing hitam, dan rokok adalah kambing hitam yang paling efisien sekarang ini..

  • Aaron

    “Benarkah setiap perokok suka nampolin orang, kasar, arogan, galak, dan susah diatur?” Benar, Agus Salim termasuk yang susah diatur.

  • Kaka Beruang

    Kalau sudah benci, jawaban apapun di benci

  • Ya semoga saja tulisan ini (juga penulisnya, juga pembacanya) nggak terjerumus jadi sama-sama “lebay, gemar berprasangka, bangga telah melakukan overgeneralisasi, dan begitu senang menstigmatisasi siapa saja yang berbeda haluan dengan Anda” terhadap kaum antirokok :3

  • HP

    Nah ada sesat pikir juga dalam tulisan ini:

    1. Di era Agus Salim dan Pangeran Phillip hidup, mungkin pasca PD II, merokok belum dilarang di muka umum. Di seluruh dunia termasuk Inggris dan Indonesia pada masa itu, rokok adalah sebuah etiket pergaulan yg bahkan berlaku di kalangan elit. Jadi wajar aja si Salim nyantai ngerokok. Kampanye anti rokok baru terjadi beberapa dekade terakhir.

    2. Tembakau itu tanaman asli Amerika men. Sama seperti kacang tanah. Sebelum Colombus tidak ada sebatangpun rokok di Nusantara. Makhluk bernama rokok baru eksis setelah Belanda menjadikan tembakau sebagai tanaman produktif selain kopi dan teh untuk menggenjot pemasukan lewat ekspor. Jadi tembakau itu bukan warisan leluhur. Warisan sejati nenek moyang bangsa Indonesia ya sirih. Gantilah rokok anda dengan sirih.

    3. Tanpa bermaksud lebay, saya curiga jika sesat pikir ini juga akibat rokok. Tapi entahlah, mungkin premis itu harus dibuktikan dulu lewat kajian mendalam serta survei dan abstraksi tingkat dewa.

    • Dudi

      Terkait nomor 2, yang dimaksud penulis itu aroma cengkeh mas bro yg merupakan campuran di rokok kretek.

  • waadooh,,, artikelnya juga lebay rek, saya jadi korban lebay,, hahaha

  • N A Amrulloh

    Para anti rokok tidak lebai, begitu pula perokok berat tidak lebai,
    yang lebai adalah jika salah satu dari keduanya menunjukkan aksi lebai nya.

    apa untungnya beraksi / berdemo / berunjuk rasa “anti rokok”,
    Apa iya nanti sidang di DPR bakal ada undang-undang baru merokok = pelanggaran,
    pikir lagi deh, berapa orang perokok yang ada di DPR??
    kalaupun iya (pastinya sih imposible) merokok itu larangan, bakal menjadi ladang baru permainan uang dari polisi, jaksa, hakim, sipir, bea cukai, pengedar rokok, pabri rokok, perokok,
    jangankan rokok yang belum dilarang, sabu-sabu yang jelas2 di larang dan hukumanna adalah hukuman mati pun masih lalu lalang di Indonesia, bahkan kata pengedar (wawancara ekslusif metro tv, youtube), selain ladang yang saya sebutkan di atas, sabu2 sudah menyentuh Istana.

    Kalau mau anti dirubah kalimatnya dikit,
    “Anti perokok sembarang Tempat”
    meskipun saya perokok, saya juga tidak suka kalau ada orang merokok sembarangan.
    saya jarang merokok dalam rumah, kalau mau merokok saya keluar ke lantai 3 atau ke teras, atau ke angkringan, karena saya tahu keluarga besar saya dari mbah cuman saya yang merokok.
    Tmn bapak saya merokok di mobil bpak, 2 hari baunya ga ilang dari mobil, sialan, padahal saya yang sering pake mobil, kena imbasnya, sialan.

  • Pingback: May Day -Mojok()

  • slamet gundono mc quin

    merokoknya orang ngarit, macul dan mbecak itu beda dengan rokoknya wong nyangkruk gosip dan clantu. rokoknya kaum petani, pekerja dan buruh itu seperti proses dialog antara dirinya dan ungkapan hati yang hanya bisa berucap “mbesok mangan opo seng penting ati ayem”

  • Antirokok

    Tulisan yang lebay dengan topik yang lebay dan pemikiran yang lebay, ditulis oleh orang yang lebay juga.
    Kalo pengen para antirokok nggak ngecap kalian para perokok lebay, merokoklah semaumu asal asapnya kalian telan dan habiskan, jangan disebar-sebarin ke org lain.

  • Kita tidak bisa menyalahkan orang berasumsi. Itu yang dilakukan manusia. Mereka lihat berdasarkan pengalaman mereka lalu membuat kesimpulan. Sama seperti tulisan diatas pun banyak yang merupakan asumsi. Asumsi (dan men-generalisasi) yang tidak merokok lebai anti-rokok.

  • sirotobi

    tulisannya bagus

  • Pingback: Memaafkan Para Lebay Antirokok | Nusagates()

  • Pingback: Sekali Lagi, Hukuman Mati – Anotasi()

No more articles