Tak ada yang mengejutkan ketika Kak Fadjroel Rachman ditunjuk sebagai komisaris utama Adhi Karya. Bahkan sebaliknya, kabar tersebut terasa amat wajar, mengingat Kak Fadjroel sudah bekerja keras selama bertahun-tahun menunjukkan dedikasinya sebagai aktivis—yang kritis terhadap pemerintah dan militan membela kebenaran. Jika kemudian sepak terjang Kak Fadjroel membuat Anda merasa terganggu, itu masalah Anda. Dasar HTRZ!

Serius deh, apa sih yang salah dengan Kak Fadjroel? Blio kan sudah menjalankan kewajibannya selama ini sebagai aktivis, sebaik-baiknya dan sehebat-hebatnya. Perjuangannya tidak sembarangan, lho. Waktu zaman Orde Baru dulu, Kak Fadjroel ini salah satu aktivis yang sempat ditahan di Nusakambangan karena berani menggugat pemerintah. Tahun 2011 silam, Kak Fadjroel sempat mencuit soal ini di akun Twitter pribadinya. Saya copy paste langsung kalau situ enggak percaya:

“1. Ditahan 11 orang di penjara militer kodam 3 siliwangi/bakorstanasda selama 1 thn tanpa pengacara, diperiksa BAKIN, TNI,Polri #5AgtITB”

Berhadapan dengan popor senapan dan suatu saat bisa “dihilangkan” itu butuh nyali ekstra loh, jangan salah. Dan hebatnya, nyali Kak Fadjroel memang tak lantas ciut pascakejadian tersebut. Pada masa pemerintahan SBY beberapa tahun silam, Kak Fadjroel juga menjadi tukang kritik paling galak di seantero Indonesia. Kira-kira sejurus dengan Jonru di masa pemerintahan Jokowi saat ini. Tapi Kak Fadjroel, seingat saya sih, belum pernah jualan cat tembok berlabel halal di laman fanpage-nya seperti Jonru. Dari sini saja sudah jelas bahwa blio bukan aktivis murahan. Catat, ya!

Ketika SBY mau menaikkan harga BBM, misalnya, Kak Fadjroel terus menerus melontarkan cuitan sinis di media sosial. Sebagai aktivis progresif pembela rakyat kecil, Kak Fadjroel berseru agar lebih baik SBY saja yang dipotong gajinya ketimbang harga BBM nanti bakal menyusahkan orang miskin. Sungguh sebuah teladan dari seorang keyboard warrior level makrifat yang amat layak diganjar Nobel Perdamaian. Nelson Mandela doang, sih, jauuuuhhhhhh!!!

BACA JUGA:  Sumanto dan Tidur Sebagai Perlawanan

Lalu ketika SBY berencana membeli pesawat kepresidenan yang baru, Kak Fadjroel dengan sigap menggagas gerakan “Sejuta Pesawat Kertas untuk SBY” sebagai bentuk kritik. Coba bayangkan, betapa dahsyat ide blio tersebut? Sampai pusing pala babi dibuatnya. Saya 100% yakin, seandainya air cucian kaki Kak Fadjroel dijual dalam botol kemasan, pastilah miliaran orang berebut membelinya.

Tapi itu belum seberapa. Bagi saya, ide Kak Fadjroel yang paling menunjukkan sikapnya sebagai negarawan bermartabat adalah ketika ia mencalonkan diri sebagai presiden dari jalur independen alias tanpa memakai jasa parpol. Ya Allah, Ya Rabb, Anda semua mesti tahu, saya langsung sujud syukur menangis sesengukkan saat mengetahui keberanian blio tersebut. Akhirnya muncul juga seorang superhero betulan yang dapat membenahi kebobrokan bangsa ini, teriak saya kala itu. Sayang tak ada saksi mata dalam momen sujud tadi, saya jadi maklum jika Anda lantas meragukan kisah ini.

Meski kemudian langkah progresif Kak Fadjroel tersebut ditolak Mahkamah Konstitusi karena tidak sesuai dengan UUD 1945 Pasal 6A ayat (2) yang menyatakan capres dan cawapres diusulkan oleh parpol, Kak Fadjroel tetap terus berjuang demi mewujudkan capres independen di Indonesia. Jika suatu hari bangsa ini terbebas dari kutukan parpol, tidak bisa tidak, Kak Fadjroel harus dibuatkan patungnya di depan Istana Negara.

Memang ada perubahan sikap dari Kak Fadjroel ketika Jokowi terpilih sebagai presiden. Kata banyak orang, kak Fadjroel tak lagi kritis terhadap pemerintahan. Malah sebagian lain mendamprat Kak Fadjroel sebagai pelacur intelektual atau penjilat pantat presiden. Astaga, kurang ajar betul mereka itu. Mereka lupa bagaimana perjuangan berdarah-darah Kak Fadjroel sebagai aktivis selama ini. Sungguh rombongan yang celaka.

BACA JUGA:  Panduan Mudah untuk Menjatuhkan Jokowi

Lagi pula, sekali lagi saya tanya ya, di mana sih letak kesalahannya Kak Fadjroel? Blio kan salah satu relawan Jokowi paling militan ketika pilpres 2014 kemarin. Jika kemudian Jokowi—melalui Kementerian BUMN—terkesima dengan sikap Kak Fadjroel, lantas menjadikan blio sebagai komisaris utama di salah satu perusahaan yang baru saja berhasil mengantongi kontrak baru Rp 7,8 triliun hingga akhir Agustus 2015, apanya yang salah? Toh bukan Kak Fadjroel yang memintanya.

Ini jelas bukan politik transaksional, sebab poinnya itu diberikan, bukan meminta diberi. Tentu ada beda yang amat signifikan antara pengemis yang memelas dengan orang yang berusaha keras meraih impiannya.

Berhenti deh menghujat Kak Fadjroel. Apa-apaan sih itu tagar #FadjroelMeroket? Sampah banget, kayak yang paling suci aja. Justru sebaliknya, Anda semua itu yang mesti belajar kepada kak Fadjroel tentang bagaimana strategi meniti karier politik yang cemerlang. Ini bukan sarkasme, tapi betul-betul saya sampaikan dari lubuk dubur yang paling dalam. Tolong dijadikan pembelajaran, jangan cuma bisa nyinyir kayak Arman Dhani.

Nah, untuk Kak Fadjroel Rachman idolaku, mungkin jika suatu waktu semesta merestui dan kita bisa bertemu, izinkan saya mengelus pipi Kakak, sambil berbisik lembut: tenang saja, Kak, saya akan selalu mendukung Kakak dalam semua SItuasi dan KONdisi, dengan penuh TOLeransi. Aku sayang Kakak.

No more articles